Konten dari Pengguna

Terlalu Sibuk Berdebat Dalil: Mengapa Umat Kerap Alergi Berpikir Logis?

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Damri Hasibuan (Uda) tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi orang berdebat. Foto: Alex Green/pexels.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi orang berdebat. Foto: Alex Green/pexels.

Buka saja kolom komentar di media sosial hari ini. Isunya bisa bermacam-macam, mulai dari vaksinasi, perubahan iklim, hingga tata kota. Namun, pemandangannya selalu sama. Perang dalil meletus seketika. Masing-masing pihak saling melempar kutipan ayat dan hadis.

Sayangnya, riuh dalil ini tidak melahirkan solusi jernih. Ujungnya justru caci maki dan tuduhan sesat. Dalil suci diubah menjadi senjata pemukul lawan. Diskusi sehat pun mati di tangan nalar yang beku.

Pangkal kekacauan ini adalah hipertekstualisme akut. Umat mengalami alergi berat terhadap logika sehat. Dalam filsafat Islam, ini adalah dampak dominasi nalar bayani yang berdiri sendirian. Teks suci ditempatkan sebagai poros tunggal kebenaran.

Kondisi makin parah saat nalar ini dipakai secara serampangan oleh warganet. Banyak orang merasa paham agama hanya bermodal salin-tempel teks. Mereka abai terhadap konteks sejarah ayat. Mereka menutup mata terhadap problem sosial nyata. Teks suci akhirnya diperlakukan bak mantera ajaib tanpa pemaknaan mendalam.

Bahaya Fobia Logika

Kondisi ini diperkeruh oleh doktrin keliru yang telanjur mengakar luas. Berpikir logis kerap dituduh sebagai kesombongan akal. Nalar kritis dicurigai sebagai pintu gerbang menuju kekafiran. Logika dianggap musuh bebuyutan dari teks wahyu.

Ungkapan dogmatis sering dipelintir untuk mematikan akal sehat. Publik dipaksa tunduk tanpa ruang bertanya. Akal budi akhirnya distigmatisasi secara sistematis. Padahal, memusuhi logika demi membela dalil adalah kekeliruan besar. Bagaimana mungkin kita memahami ayat jika akal sehat kita sendiri dimatikan?

Ulama klasik di masa keemasan Islam tidak pernah alergi terhadap akal. Imam Al-Ghazali bahkan menulis kitab logika formal Aristoteles berjudul Mi‘yār al-‘Ilm. Ia menegaskan bahwa:

"Orang yang tidak paham logika tidak bisa dipercaya ilmunya."

Para pakar fikih juga merumuskan kaidah penting: hukum berputar bersama sebab logisnya (‘illat).

Menetapkan fatwa hukum mutlak menuntut pembuktian fakta lapangan. Teks wahyu dan penalaran akal harus berjalan beriringan secara simetris. Membuang teks wahyu membuat moralitas kehilangan arah. Namun, membuang akal sehat membuat peradaban macet total. Keduanya adalah sepasang rel kereta api yang tak boleh dipisahkan.

Menjaga Kewarasan Beragama

Ketika masyarakat menolak logika, dampaknya langsung merusak tatanan publik. Masalah krusial seperti mitigasi krisis air dan penanganan wabah sering dimentahkan oleh tafsir dangkal. Program kemaslahatan bersama digagalkan oleh pemahaman teks yang lepas daripada sains. Kita menjadi masyarakat yang mudah terombang-ambing oleh narasi emosional.

Masyarakat yang tumpul nalarnya menjadi sasaran empuk populisme semu. Tokoh culas dapat dengan mudah memanipulasi sentimen massa lewat jubah agama. Kebijakan publik yang buruk akhirnya diamini begitu saja. Tanpa nalar kritis, umat rentan terjebak dalam pembodohan massal. Sikap taklid buta perlahan menggerogoti daya saing peradaban kita di pentas global.

Keberagamaan yang sehat tidak boleh berhenti pada riuh adu mulut di linimasa. Agama hadir untuk menyelesaikan sengkarut persoalan bumi. Bukan sekadar memenangkan ego kelompok. Menghidupkan nalar pembuktian adalah ikhtiar nyata untuk menyelamatkan kesucian teks dari pembajakan politis. Akal yang terlatih akan menuntut akuntabilitas data, transparansi kebijakan, dan efektivitas solusi publik.

Di sinilah letak ujian keimanan kita hari ini. Apakah dalil yang kita lafalkan mampu melahirkan perbaikan hidup yang konkret? Ataukah teks suci hanya kita jadikan tameng untuk menutupi rasa malas berpikir dan keengganan berbenah?

Keimanan sejati tidak pernah gentar diuji oleh nalar kritis. Justru di hadapan logika yang runtut, kebenaran wahyu akan memancarkan bukti kehebatannya secara benderang.

Berhentilah bersembunyi di balik tumpukan dalil jika logika kita masih compang-camping. Teks wahyu menuntut kita untuk bersikap jujur dan objektif. Beragama yang dewasa butuh perpaduan antara ketundukan hati dan ketajaman nalar pembuktian. Kita wajib menghormati teks wahyu. Namun, kita juga dituntut memakai nalar pembuktian untuk menjawab problem nyata di lapangan.

Al-Qur'an dan Sunnah berdiri terlalu agung untuk sekadar dijadikan tameng di balik keengganan merenung. Sejarah panjang peradaban telah memperlihatkan bahwa wahyu senantiasa berjalan beriringan dengan kejernihan akal budi.

Keimanan yang mengakar kuat pada akhirnya menemukan wujud terindahnya tatkala bersanding dengan kecermatan menimbang kenyataan. Dari titik temu antara ketulusan hati dan ketajaman nalar itulah, agama senantiasa menghadirkan kesejukan serta hikmah yang menerangi semesta.