Konten dari Pengguna

Kebijakan Berbasis Nilai Kemanusiaan: Skema Murur Inovasi Kementerian Agama

Evi Muafiah
Prof. Dr. Hj. Evi Muafiah, M.Ag., Rektor IAIN Ponorogo, lahir di Madiun pada tahun 1974. Saya menyelesaikan pendidikan sarjana (S.Ag) dan magister (M.Ag) di UIN Sunan Kalijaga, serta meraih gelar doktor (Dr.) dari UIN Sunan Ampel pada tahun 2016.
20 Juni 2024 14:37 WIB
·
waktu baca 3 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Evi Muafiah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ilustrasi kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI Foto: Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kantor Kementerian Agama (Kemenag) RI Foto: Shutterstock
ADVERTISEMENT
sosmed-whatsapp-green
kumparan Hadir di WhatsApp Channel
Follow
Kementerian Agama RI memperkenalkan skema “murur” yang artinya "melintas" atau "melewati". Langkah ini merupakan terobosan dalam upaya meningkatkan keselamatan dan kenyamanan jemaah haji, terutama mereka yang lanjut usia. Sebelumnya, ribuan jemaah harus berdesak-desakan dan bermalam di Muzdalifah, yang sering kali menyebabkan kepadatan dan ketidaknyamanan.
ADVERTISEMENT
Kini, dengan adanya skema murur, mereka bisa langsung menuju Mina tanpa harus berhenti di tengah jalan. Ini benar-benar inovasi yang patut diacungi jempol, karena memberikan solusi konkret bagi permasalahan yang selama ini dihadapi jemaah.
Tahun lalu, masalah kepadatan di Muzdalifah menjadi salah satu isu besar. Muzdalifah, dengan luas yang terbatas, menjadi penuh sesak saat semua jemaah harus berhenti dan bermalam. Lalu hadirlah skema murur ini sebagai solusi.
Jemaah, terutama yang lanjut usia dan berisiko tinggi, bisa langsung menuju Mina tanpa harus berhenti di Muzdalifah. Langkah ini tidak hanya mengurangi kepadatan, tapi juga mengutamakan keselamatan dan kenyamanan mereka. Ini benar-benar menunjukkan bagaimana kebijakan publik bisa harmonis dengan nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam.
ADVERTISEMENT
Nah, pelaksanaan skema murur ini tentu saja tidak mudah. Kerja sama antara Kementerian Agama, pihak maktab, dan ketua kloter sangat penting. Pihak maktab yang bertanggung jawab atas penyediaan tenda di Arafah dan Mina serta transportasi bekerja sama dengan ketua kloter untuk memastikan jemaah yang terdaftar dalam skema murur mendapatkan pendampingan yang diperlukan. Proses ini juga dibantu dengan pendataan yang teliti untuk mengidentifikasi jemaah yang kesulitan berjalan, memiliki risiko kesehatan tinggi, atau lansia.
Pendataan ini membantu memastikan bahwa mereka yang membutuhkan bisa mengikuti skema murur dengan pendampingan yang memadai. Jika tidak memiliki pendamping, mereka diarahkan untuk mengikuti safari wukuf yang penanganannya dimulai dari hotel oleh tim kesehatan. Dengan begitu, setiap jemaah mendapatkan perhatian yang diperlukan, dan perjalanan mereka menjadi lebih aman dan nyaman.
ADVERTISEMENT
Kendati ada beberapa tantangan seperti penyediaan bus dan kemacetan di jalur transportasi, dengan koordinasi yang baik dan komunikasi yang efektif antara Kementerian Agama dan pihak maktab, hambatan-hambatan ini bisa diatasi.
Ketua kloter memegang peran kunci dalam memastikan kelancaran pelaksanaan skema murur ini, dengan mematuhi jadwal yang telah ditetapkan oleh Kementerian Agama. Dengan begitu, skema murur dapat berjalan lancar dan memberikan manfaat maksimal bagi jemaah.
Inovasi ini hemat Saya bukan hanya persoalan teknis, tetapi juga menunjukkan dedikasi dan komitmen Kementerian Agama dalam meningkatkan pelayanan haji. Pelayanan khusus untuk lansia dalam skema murur tidak terbatas pada penyediaan kursi prioritas dan kursi roda, tetapi juga berupa pendampingan khusus yang memastikan mereka menjalani ibadah dengan tenang dan nyaman. Ini adalah manifestasi dari bentuk penghormatan sejati terhadap nilai-nilai kemanusiaan dalam Islam, memperlihatkan bagaimana agama dan kebijakan publik bisa berjalan seiring sejalan dalam harmoni​.
ADVERTISEMENT
Setiap penyelenggaraan haji tentu memiliki kekurangan, tetapi evaluasi dan peningkatan pelayanan harus senantiasa dilakukan oleh Kementerian Agama. Kritik membangun bukan untuk melemahkan, tetapi untuk memperkuat dan memastikan bahwa pelayanan haji di masa mendatang semakin baik.
Inovasi dan komitmen yang ditunjukkan dalam penyelenggaraan haji 2024 bukan hanya memastikan ibadah yang aman dan nyaman bagi lansia, tetapi juga menetapkan standar baru dalam manajemen haji global. Pendekatan yang berpusat pada ajaran agama, kebijakan pemerintah, dan nilai kemanusiaan menunjukkan bahwa pelayanan publik yang luar biasa dapat dicapai melalui dedikasi, inovasi, dan perhatian terhadap detail teknis penyelenggaraan. Ini adalah bukti bahwa ketika kebijakan dan kemanusiaan bersatu, hasilnya bisa sangat menginspirasi.