El Nino 2026: Menguatkan Ketahanan Ekonomi di Tengah Musim yang Berubah

Ekonom Senior Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kaltim
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Azhari Novy Sucipto tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ekonomi sering berbicara tentang modal, tenaga kerja, teknologi, investasi, dan konsumsi. Namun, ada satu variabel yang kerap dianggap sebagai latar belakang: musim.
Selama bertahun-tahun, pola musim menjadi bagian dari asumsi dalam berbagai aktivitas ekonomi. Petani menyusun kalender tanam, pelaku usaha mengatur pasokan, dan pemerintah merancang kebijakan berdasarkan pola cuaca yang relatif dapat diperkirakan.
El Nino 2026 mengingatkan bahwa asumsi tersebut perlu diperbarui. Ketika curah hujan berkurang dan kemarau berlangsung lebih panjang, dampaknya tidak berhenti pada persoalan cuaca. Perubahan ketersediaan air dapat memengaruhi produksi pangan, perkebunan, kualitas udara, transportasi, hingga distribusi komoditas.
Namun, kondisi ini tidak semestinya hanya dibaca sebagai ancaman. El Nino justru dapat menjadi momentum untuk memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia.
Ketika Cuaca Menjadi Variabel Ekonomi
Frank Knight membedakan antara risiko yang masih dapat dihitung dan ketidakpastian yang sulit diprediksi secara penuh. Perubahan cuaca berada di antara kedua kondisi tersebut.
Kita mungkin tidak selalu dapat mengetahui secara pasti kapan dan seberapa kuat sebuah fenomena iklim terjadi. Namun, dampaknya dapat dipetakan dan diantisipasi.
BMKG mencatat El Nino 2026 berada pada kondisi kuat dan berpotensi memengaruhi karakteristik musim kemarau di sejumlah wilayah. Situasi ini menunjukkan bahwa informasi iklim perlu diperlakukan sebagai bagian dari informasi ekonomi, bukan sekadar prakiraan cuaca.
Tantangannya bukan membuat musim kembali seperti sebelumnya, melainkan membuat perekonomian lebih siap menghadapi musim yang semakin dinamis.
Menjaga Ketahanan Pangan
Pertanian merupakan sektor yang paling langsung merasakan perubahan ketersediaan air. Guru Besar Pertanian UGM, Prof. Subejo, menyebut dampak utama El Nino berada pada menurunnya ketersediaan air yang dapat menekan produktivitas dan ketahanan pangan, terutama pada padi dan jagung.
Data BPS untuk Januari–Agustus 2026 memproyeksikan produksi padi nasional sekitar 43,89 juta ton gabah kering giling, atau tumbuh sekitar 0,06 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Angka tersebut menunjukkan bahwa produksi pangan tetap berjalan di tengah tantangan iklim. Di sinilah kebijakan adaptasi menjadi penting.
Penguatan irigasi, sumber air alternatif, teknologi pertanian, perbaikan kalender tanam, dan sistem peringatan dini dapat membantu petani menyesuaikan diri.
Ketahanan pangan bukan hanya tentang menghasilkan lebih banyak, tetapi juga memastikan produksi tetap berlangsung ketika kondisi alam tidak sepenuhnya ideal.
Dampak yang Datang Tidak Selalu Seketika
Tidak semua dampak El Nino muncul pada tahun yang sama. Industri kelapa sawit memberikan contoh penting.
Ketua Umum GAPKI, Eddy Martono memperkirakan dampak El Nino terhadap produksi sawit dapat lebih terlihat pada 2027–2028. Kekeringan dapat memengaruhi pembungaan dan pembentukan buah sehingga konsekuensinya baru terlihat beberapa waktu kemudian.
Hal ini menunjukkan pentingnya perspektif jangka panjang.
Ketika terdapat jeda antara gangguan iklim dan dampak produksi, informasi cuaca dapat menjadi dasar untuk menyesuaikan perencanaan sejak awal. Dunia usaha dapat memperkuat pengelolaan air, petani menyesuaikan praktik produksi, dan pemerintah menyiapkan kebijakan lebih dini.
Dengan demikian, prakiraan iklim tidak berhenti sebagai informasi meteorologis, tetapi dapat menjadi informasi untuk mengambil keputusan ekonomi.
Karhutla dan Ketahanan Mobilitas
Musim kering juga meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan. Dampaknya tidak hanya dirasakan di kawasan yang terbakar, tetapi dapat meluas melalui penurunan kualitas udara dan jarak pandang.
Kondisi tersebut dapat mengganggu penerbangan, distribusi, dan mobilitas masyarakat. Karena itu, pengendalian karhutla juga merupakan bagian dari menjaga kelancaran aktivitas ekonomi.
Sistem pemantauan titik panas, peringatan dini, kesiapsiagaan pemerintah daerah, serta koordinasi antara lembaga meteorologi, pemerintah, aparat, dan dunia usaha menjadi semakin penting.
Semakin cepat informasi tersedia dan respons dilakukan, semakin besar peluang untuk membatasi dampaknya.
Sungai sebagai Infrastruktur Ekonomi
Hubungan antara air dan ekonomi terlihat jelas di Kalimantan. Sungai Mahakam dan Barito bukan sekadar bagian dari ekosistem, tetapi juga jalur penting distribusi komoditas, termasuk batu bara.
Ketika debit air turun, kapasitas angkutan dapat ikut menurun. Di Sungai Mahakam, otoritas pelabuhan Samarinda membatasi muatan tongkang dari sekitar 7.000 ton menjadi 5.500–6.000 ton pada kondisi tertentu untuk menyesuaikan dengan kedalaman alur. Di Sungai Barito, kondisi yang lebih dangkal dilaporkan menyebabkan sebagian produsen mengurangi muatan secara signifikan.
Situasi ini menunjukkan bahwa infrastruktur ekonomi perlu dirancang dengan mempertimbangkan ketahanan terhadap perubahan iklim.
Pemanfaatan data hidrologi, pengaturan muatan secara adaptif, pemeliharaan alur, serta diversifikasi jalur logistik dapat mengurangi kerentanan.
Diversifikasi bukan berarti meninggalkan jalur sungai yang selama ini menjadi bagian penting perekonomian Kalimantan. Sebaliknya, diversifikasi memberikan pilihan ketika kondisi sungai mengalami keterbatasan.
Dari Respons Darurat Menjadi Investasi Ketahanan
Pengalaman 2026 memberikan setidaknya tiga pelajaran.
Pertama, infrastruktur air perlu dipandang sebagai investasi ekonomi. Irigasi, embung, waduk, dan sumber air alternatif dapat memperkuat ketahanan produksi pangan.
Kedua, sistem informasi dan peringatan dini perlu semakin terintegrasi dengan keputusan ekonomi. Informasi mengenai cuaca, curah hujan, kondisi sungai, dan titik panas akan semakin bernilai ketika dapat diterjemahkan menjadi tindakan secara cepat.
Ketiga, diversifikasi logistik perlu diperkuat. Ketergantungan pada satu jalur transportasi meningkatkan kerentanan ketika terjadi gangguan. Memiliki alternatif memastikan kegiatan ekonomi tetap memiliki pilihan ketika salah satu jalur mengalami keterbatasan.
Dengan pendekatan tersebut, belanja untuk mitigasi tidak semata-mata dipandang sebagai biaya. Ia dapat menjadi investasi untuk mengurangi risiko ekonomi di masa depan.
Mengubah Tantangan Menjadi Kapasitas Baru
El Niño 2026 bukan hanya cerita tentang kekeringan. Ia adalah pengingat bahwa alam merupakan bagian dari sistem ekonomi.
Kita mungkin tidak dapat menentukan kapan hujan turun atau seberapa kuat musim kemarau berlangsung. Namun, kita dapat menentukan seberapa siap sistem ekonomi menghadapi perubahan tersebut.
Daerah yang mampu membaca perubahan cuaca lebih cepat dapat menyesuaikan produksi. Perusahaan yang memiliki alternatif logistik dapat mengurangi risiko gangguan distribusi. Petani yang memiliki akses terhadap informasi cuaca dan sumber air alternatif memiliki ruang lebih besar untuk mempertahankan produksi.
Pada akhirnya, ketahanan ekonomi bukan sekadar kemampuan bertahan ketika krisis datang. Ketahanan adalah kemampuan untuk belajar, beradaptasi, dan menjadi lebih siap setelah melewati sebuah kejadian.
Jika pelajaran El Nino 2026 diterjemahkan menjadi investasi pada air, pangan, informasi, infrastruktur, dan logistik, maka fenomena ini tidak hanya meninggalkan catatan tentang biaya yang harus ditanggung.
Ia juga dapat menjadi momentum untuk membangun ekonomi Indonesia yang lebih tangguh, adaptif, dan siap menghadapi musim yang terus berubah.
