Konten dari Pengguna

Fenomena 'Blind Buy' Parfum Gen Z: Saat Ulasan TikTok Jadi Penentu Utama

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Reksi Halomoan Manalu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Perempuan Parfum. Foto: New Africa/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Perempuan Parfum. Foto: New Africa/Shutterstock

Pernahkah Anda membeli sebuah produk parfum tanpa pernah mencium keharuman aromanya sama sekali? Bagi generasi terdahulu, perilaku konsumsi seperti ini mungkin dianggap cukup unik, atau bahkan sebuah spekulasi yang berisiko. Bagaimana mungkin sebuah produk yang esensinya sangat bergantung pada pengalaman sensorik indra penciuman bisa dibeli secara acak hanya bermodalkan ketukan jari di atas layar kaca ponsel pintar?

Namun, di tangan Generasi Z (Gen Z), khususnya mereka yang tumbuh dan beraktivitas di kawasan urban dengan tingkat penetrasi digital tinggi, fenomena yang dikenal dengan istilah blind buy alias membeli tanpa mencium ini tampak bergeser menjadi salah satu kebiasaan konsumsi yang semakin lumrah dan modern.

Pergeseran budaya belanja ini tumbuh seiring dengan lini masa media sosial, khususnya di ekosistem TikTok Shop, yang semakin ramai oleh konten kreatif ulasan produk wewangian secara masif.

Klaim tingginya ketergantungan digital ini sejalan dengan laporan Digital 2025 Global Overview Report yang dirilis We Are Social bersama Meltwater. Laporan tersebut mencatat sekitar 143 juta pengguna media sosial aktif di Indonesia pada awal 2025, dan sekitar separuh dari mereka (51%) mengaku menggunakan media sosial untuk mencari inspirasi dan referensi produk sebelum mengambil keputusan pembelian.

Narasi pemasaran konvensional yang cenderung satu arah kini mulai banyak diimbangi oleh deskripsi yang lebih personal, jujur, serta subjektif dari sesama warganet biasa.

Menurut Teori Stimulus-Organisme-Respons (SOR), pola ini dapat menjelaskan fenomena tersebut secara sederhana. Ribuan ulasan positif yang membanjiri TikTok Shop bertindak sebagai stimulus. Stimulus ini kemudian diproses secara aktif oleh konsumen selaku organisme melek digital, sehingga melahirkan respons berupa rasa percaya yang langsung menggerakkan jempol mereka untuk bertransaksi.

Meskipun ulasan digital ini sangat membantu menjembatani keterbatasan fisik parfum yang tidak bisa dicium jarak jauh, ketergantungan yang tinggi pada opini kolektif di ruang digital juga membawa risiko tersendiri bagi sebuah merek.

Ketika persepsi individu mampu bergulung menjadi opini publik secara instan, satu video kritik yang viral dapat dengan cepat menggeser bahkan menghancurkan reputasi sebuah produk lokal di pasaran dalam semalam. Hal ini bahkan bisa terjadi sebelum pihak manajemen sempat melakukan klarifikasi resmi.

Oleh karena itu, dinamika fenomena ini sangat bergantung pada aspek pemenuhan ekspektasi kualitas produk yang nyata di tangan konsumen. Konsumen muda saat ini sangat peka terhadap keaslian (authenticity). Mereka cenderung langsung kehilangan kepercayaan jika mendeteksi adanya manipulasi informasi, seperti maraknya praktik ulasan palsu (fake reviews) di toko digital.

Pada akhirnya, ruang interaksi di kolom komentar kini telah bertransformasi menjadi arena sosial baru yang dinamis. Sebagai gambaran nyata mekanismenya, ketika sebuah brand parfum lokal rutin mengelola interaksi digital dengan merespons ulasan atau keluhan pelanggan secara terbuka, santun, dan solutif, kepercayaan publik justru dapat meningkat karena konsumen merasa keberadaan mereka dihargai.

Efeknya, saat menemui kendala pengiriman atau kecacatan botol, konsumen tidak takut untuk melapor secara privat terlebih dahulu, sehingga masalah operasional bisa beres sebelum menjadi viral secara liar.

Sebaliknya, jika ekosistem komunikasi digital cenderung tertutup atau hobi memanipulasi ulasan menggunakan fake reviews, akumulasi sentimen negatif warganet akan lebih mudah meledak dan membuat citra merek hancur total secara permanen di ruang publik.

Realitas digital ini menjadi pengingat pentingnya peningkatan kapasitas literasi digital bagi kita selaku konsumen. Menavigasi pilihan wewangian lewat ulasan digital memang sangat membantu, tetapi fleksibilitas tersebut jangan sampai menghilangkan sikap kritis hingga terjebak dalam arus kepanikan belanja massal (FOMO) atau perilaku konsumtif yang impulsif.

Bagaimanapun, ulasan terbaik tetaplah ulasan yang lahir dari kejujuran pengalaman riil, bukan sekadar gema tren yang kebetulan sedang ramai melintasi layar gawai kita.