Konten dari Pengguna

Antara Uang Kiriman, Tanggal Tua, dan Belajar Mandi

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elfi Suryati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

cerita anak kos

Kehidupan menjadi anak kos tidaklah semudah yang terlihat. Bagi sebagian orang, menjadi anak kos mungkin terlihat seperti sebuah kebebasan karena dapat tinggal jauh dari orang tua dan mengatur kehidupan sendiri. Namun, di balik kebebasan tersebut terdapat tanggung jawab yang harus dijalani setiap hari. Anak kos harus mampu mengurus berbagai kebutuhan sendiri, mulai dari tempat tinggal, makanan, keperluan kuliah, transportasi, kebersihan, hingga mengatur keuangan agar dapat mencukupi kebutuhan selama satu bulan.

Masakan sederhana tapi rasa luar biasa
zoom-in-whitePerbesar
Masakan sederhana tapi rasa luar biasa

Bagi mahasiswa yang masih mendapatkan uang kiriman dari orang tua, mengatur keuangan merupakan salah satu tantangan yang cukup besar. Uang yang diterima setiap bulan harus dibagi untuk berbagai kebutuhan. Ada biaya kos, makan sehari-hari, transportasi, kebutuhan kuliah, pulsa atau internet, perlengkapan mandi, mencuci pakaian, dan kebutuhan lainnya. Jika tidak direncanakan sejak awal, uang yang sebenarnya cukup untuk satu bulan dapat habis sebelum waktunya.

Pada awal bulan, kondisi keuangan biasanya masih terasa aman. Keinginan untuk membeli makanan atau minuman tertentu mungkin masih mudah dipenuhi. Namun, pengeluaran kecil yang dilakukan berulang kali sering kali tidak terasa. Misalnya, membeli makanan di luar, membeli minuman, menggunakan transportasi online, atau membeli barang yang sebenarnya belum terlalu diperlukan. Jika pengeluaran tersebut tidak dikendalikan, jumlahnya dapat menjadi cukup besar ketika dikumpulkan dalam satu bulan.

Karena itu, anak kos perlu belajar membuat skala prioritas. Kebutuhan yang bersifat wajib harus didahulukan daripada keinginan. Setelah menerima uang bulanan, sebagian uang dapat langsung disisihkan untuk membayar kos dan kebutuhan penting lainnya. Selanjutnya, uang untuk makan dan transportasi dapat diperhitungkan sesuai dengan jumlah hari dalam satu bulan. Dengan cara tersebut, penggunaan uang menjadi lebih terarah dan risiko kehabisan uang sebelum akhir bulan dapat dikurangi.

Mengatur uang bukan berarti harus hidup dengan serba kekurangan. Yang lebih penting adalah mampu menyesuaikan gaya hidup dengan kondisi keuangan. Jika memiliki uang yang terbatas, seseorang harus memahami bahwa tidak semua keinginan dapat dipenuhi pada waktu yang sama. Keinginan untuk membeli pakaian baru, nongkrong bersama teman, mencoba makanan yang sedang populer, atau membeli barang tertentu terkadang harus ditunda jika masih ada kebutuhan yang lebih penting.

Ketika Berada di Titik Terendah

Saya sendiri pernah berada pada titik yang cukup sulit selama menjadi anak kos. Saat itu, kondisi keuangan sedang terbatas, sementara kebutuhan masih harus dipenuhi. Saya dan teman saya sama-sama berada dalam keadaan yang membuat kami harus memikirkan bagaimana caranya bertahan sampai mendapatkan uang kiriman berikutnya.

Ketika raga sudah tak mampu lagi berkata-kata tapi harus tetap makan untuk bertahan hidup sebagai anak kos yang jauh dari orang tua

Dalam keadaan tersebut, kami sampai bekerja sama untuk menghubungi orang tua dan meminta tambahan uang. Saya masih ingat bagaimana saya dan teman saya saling berdiskusi dan berusaha mencari cara agar dapat menyampaikan keadaan kami kepada orang tua. Bahkan, pada saat itu saya sampai berpura-pura sedang sakit agar ayah merasa khawatir dan memberikan uang.

Jika mengingat kejadian tersebut sekarang, saya menyadari bahwa tindakan tersebut bukanlah sesuatu yang seharusnya dilakukan. Saat itu, saya berada dalam kondisi terdesak dan belum mampu mengelola keuangan dengan baik. Saya lebih memikirkan bagaimana mendapatkan uang dalam waktu cepat daripada memikirkan cara yang lebih baik untuk menyelesaikan masalah.

Namun, pengalaman tersebut justru menjadi salah satu pelajaran penting bagi saya sebagai anak kos. Saya menyadari bahwa kesulitan keuangan dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru. Dari pengalaman itu, saya mulai memahami pentingnya mengatur uang sejak awal dan tidak menunggu sampai benar-benar kehabisan.

Saya juga belajar bahwa meminta bantuan kepada orang tua sebenarnya bukan sesuatu yang memalukan ketika memang berada dalam keadaan membutuhkan. Yang penting adalah menyampaikan kondisi dengan jujur dan belajar bertanggung jawab terhadap penggunaan uang yang diberikan. Pengalaman tersebut membuat saya berpikir kembali tentang bagaimana seharusnya saya mengelola keuangan agar tidak mengulangi keadaan yang sama.

Kondisi seperti ini biasanya semakin terasa ketika memasuki pertengahan hingga akhir bulan. Istilah "tanggal tua" menjadi sesuatu yang cukup dikenal oleh anak kos. Saat uang mulai menipis, berbagai pengeluaran harus dipertimbangkan dengan lebih hati-hati. Makan menjadi lebih sederhana, kegiatan yang membutuhkan biaya dikurangi, dan keinginan untuk membeli sesuatu harus ditahan.

Dari pengalaman tersebut, saya mulai menyadari bahwa mengatur uang bukan hanya persoalan menghitung jumlah pemasukan dan pengeluaran. Lebih dari itu, mengatur uang membutuhkan kedisiplinan. Kita harus mampu menahan keinginan, menentukan prioritas, dan memikirkan kebutuhan yang akan datang.

Selain belajar mengatur keuangan, menjadi anak kos juga mengajarkan saya untuk mengurus berbagai kebutuhan sendiri. Ketika tinggal bersama keluarga, beberapa kebutuhan mungkin sudah tersedia tanpa harus terlalu banyak dipikirkan. Namun, ketika tinggal di kos, semuanya menjadi tanggung jawab pribadi.

Pakaian yang kotor harus dicuci, kamar yang berantakan harus dibersihkan, kebutuhan mandi harus dibeli ketika habis, makanan harus dipikirkan sendiri, dan jadwal kuliah harus diatur. Hal-hal tersebut mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika semuanya harus dilakukan sendiri, saya mulai memahami bahwa kehidupan mandiri membutuhkan kedisiplinan.

Saya juga harus belajar membagi waktu antara kuliah dan kehidupan sehari-hari. Sebagai mahasiswa, tugas dan kegiatan perkuliahan tetap harus diselesaikan. Di sisi lain, kebutuhan pribadi juga tidak dapat diabaikan. Dari sini saya belajar bahwa waktu merupakan sesuatu yang harus dikelola dengan baik.

Tinggal jauh dari keluarga juga membuat saya lebih sering merasakan rindu. Ada saat ketika saya ingin pulang hanya untuk bertemu keluarga dan merasakan suasana rumah. Namun, pulang tidak selalu dapat dilakukan karena harus menyesuaikan dengan jadwal kuliah, tugas, jarak, dan biaya perjalanan.

Semakin lama tinggal jauh dari rumah, saya semakin memahami bahwa hal-hal sederhana yang dulu terasa biasa ternyata sangat berarti. Makan bersama keluarga, berbicara dengan orang tua, atau sekadar berada di rumah menjadi sesuatu yang saya rindukan. Kehidupan sebagai anak kos membuat saya lebih menghargai keberadaan keluarga dan segala sesuatu yang telah mereka berikan.

Pengalaman ketika hampir kehabisan uang menjadi salah satu pengingat bagi saya bahwa kehidupan anak kos tidak hanya membutuhkan kemandirian, tetapi juga tanggung jawab. Saya mulai memahami bahwa kesalahan dalam mengelola keuangan dapat memberikan dampak terhadap kehidupan sehari-hari.

Penyelamat tanggal tua makan seadanya sambal andalan

Dari sana, saya berusaha belajar memperbaiki kebiasaan. Saya mencoba lebih memperhatikan pengeluaran, membedakan kebutuhan dan keinginan, serta menyisihkan uang untuk kebutuhan yang tidak terduga. Saya juga belajar bahwa jika mengalami kesulitan, lebih baik menyampaikan keadaan sebenarnya kepada orang tua daripada mencari alasan yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Bagi saya, pengalaman tersebut bukan sesuatu yang perlu dibanggakan. Namun, pengalaman itu merupakan bagian dari proses belajar. Setiap orang bisa melakukan kesalahan, terutama ketika masih belajar mandiri. Yang lebih penting adalah bagaimana seseorang menyadari kesalahannya dan berusaha untuk tidak mengulanginya.

Menjadi anak kos akhirnya membuat saya memahami bahwa kedewasaan tidak hanya terlihat dari kemampuan hidup sendiri, tetapi juga dari kemampuan bertanggung jawab atas keputusan yang dibuat. Ketika mendapatkan uang, kita harus tahu bagaimana menggunakannya. Ketika menghadapi masalah, kita harus berusaha mencari solusi. Dan ketika melakukan kesalahan, kita harus berani mengakuinya serta belajar memperbaiki.

Kehidupan sebagai anak kos memiliki berbagai tantangan, mulai dari mengatur keuangan, memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjalankan tanggung jawab sebagai mahasiswa, hingga menghadapi rasa rindu kepada keluarga. Semua hal tersebut menuntut seseorang untuk belajar hidup lebih mandiri dan bertanggung jawab.

Tidak semewah makanan direstoran tapi ini nikmat ketika kita mengsyukurinya

Pengalaman saya ketika berada dalam kondisi keuangan yang sulit hingga harus meminta tambahan uang kepada orang tua menjadi salah satu pengalaman yang paling saya ingat selama menjadi anak kos. Dari pengalaman tersebut, saya belajar bahwa kesulitan dapat membuat seseorang mengambil keputusan secara terburu-buru. Saya juga belajar pentingnya mengatur keuangan, menentukan prioritas, dan menyampaikan keadaan dengan jujur ketika membutuhkan bantuan.

Dengan demikian, menjadi anak kos bukan hanya tentang bagaimana bertahan hidup jauh dari keluarga. Kehidupan tersebut juga menjadi proses untuk belajar mandiri, mengelola keuangan, menghadapi masalah, menghargai pengorbanan orang tua, dan bertanggung jawab terhadap diri sendiri. Berbagai pengalaman, termasuk kesalahan yang pernah dilakukan, dapat menjadi pelajaran untuk menjadi pribadi yang lebih dewasa dan lebih mampu menghadapi kehidupan di masa depan.