Konten dari Pengguna

Belajar Berjalan Bersama Diri Sendiri

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elfi Suryati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dulu, aku pernah berpikir bahwa aku tidak akan mampu berjalan

tanpa seorang teman. Untuk melakukan sesuatu yang sebenarnya sederhana, aku selalu merasa membutuhkan seseorang di sampingku. Sekadar pergi ke suatu tempat, mengikuti kegiatan, atau menghadapi sesuatu yang baru, rasanya akan lebih mudah jika ada teman yang menemani. Aku terlalu terbiasa bergantung pada kehadiran orang lain sampai lupa bahwa sebenarnya aku juga memiliki kaki untuk melangkah dan hati untuk menentukan arah.

Aku tidak pernah benar-benar meyakinkan diriku bahwa aku bisa berjalan di atas kakiku sendiri.

tiga wanita hebat dengan segala keunikan yang dimiliki

Mungkin karena aku terlalu takut dengan kesendirian. Aku takut ketika tidak ada seseorang yang bisa diajak berbicara. Takut ketika harus menghadapi sesuatu seorang diri. Takut jika suatu hari semua orang yang selama ini ada di sekitarku pergi dan aku harus menghadapi dunia hanya dengan diriku sendiri.

Namun, waktu terus berjalan tanpa pernah meminta izin.

Perlahan, aku mulai melihat bagaimana dunia berubah. Lingkungan pertemanan yang dahulu terasa ramai, perlahan menjadi semakin sempit. Orang-orang yang dulu sering hadir mulai memiliki kesibukan dan jalan masing-masing. Percakapan yang dahulu begitu mudah terjadi, perlahan berubah menjadi jarang. Ada yang tetap tinggal, ada yang hanya datang sebentar, dan ada pula yang akhirnya menjadi asing meskipun pernah begitu dekat.

Pada titik tertentu, aku merasa seperti tidak memiliki siapa-siapa.

Di tengah keadaan itu, banyak pertanyaan muncul dalam pikiranku.

Bisakah aku terus melangkah?

Bisakah aku menghadapi semuanya sendiri?

Bagaimana jika aku tidak mampu?

Rasa ragu bahkan sering kali terasa lebih besar daripada keberanian yang ada dalam diriku. Aku takut. Aku bimbang. Aku merasa belum cukup kuat untuk menghadapi banyak hal seorang diri.

Tetapi ternyata, hidup tidak pernah menunggu seseorang sampai benar-benar siap.

Waktu akan tetap berjalan meskipun kita masih takut. Hari akan tetap berganti meskipun kita belum menemukan jawabannya. Dunia akan terus bergerak meskipun kita masih berdiri di tempat yang sama.

Dari sana aku mulai memahami bahwa mungkin menjadi dewasa bukan tentang selalu mengetahui apa yang harus dilakukan. Menjadi dewasa terkadang hanya tentang berani melangkah meskipun kita belum tahu ke mana langkah itu akan membawa kita.

Aku pernah menyalahkan diriku sendiri berkali-kali.

Aku menyalahkan diriku atas keputusan yang salah. Menyesali hal-hal yang tidak bisa diubah. Bertanya mengapa aku tidak bisa menjadi seperti orang lain. Bahkan untuk memaafkan diriku sendiri, rasanya membutuhkan waktu yang begitu panjang.

Aku terlalu sibuk melihat kekurangan diri sampai lupa menghargai setiap langkah kecil yang sudah berhasil kulalui.

Padahal, aku sudah sampai sejauh ini.

Aku pernah takut, tetapi tetap mencoba. Aku pernah ragu, tetapi tetap berjalan. Aku pernah merasa sendirian, tetapi ternyata aku masih mampu melewati hari-hari yang berat itu.

Mungkin selama ini aku mencari kekuatan dari orang lain, padahal kekuatan itu perlahan tumbuh di dalam diriku sendiri.

Kini aku mulai memahami bahwa berdiri sendiri tidak selalu berarti sendirian. Ada perbedaan antara tidak memiliki siapa-siapa dan mampu menjalani hidup tanpa harus selalu bergantung kepada siapa-siapa.

sendiri bukan berarti tidak punya siapa-siapa melainkan cara saya untuk menikmati hidup

Aku tetap membutsuhkan orang lain. Aku tetap membutuhkan teman, keluarga, dan orang-orang yang menyayangiku. Tetapi sekarang aku belajar bahwa keberadaan mereka seharusnya menjadi bagian dari perjalanan, bukan satu-satunya alasan mengapa aku mampu berjalan.

Karena pada akhirnya, setiap orang memiliki jalannya masing-masing.

Ada orang yang akan berjalan bersama kita untuk waktu yang panjang. Ada yang hanya menemani beberapa langkah. Ada pula yang hadir hanya untuk memberikan sebuah pelajaran sebelum akhirnya pergi.

Dan kita tidak bisa memaksa siapa pun untuk terus tinggal.

Yang bisa kita lakukan adalah tetap melangkah ketika seseorang memilih jalan yang berbeda.

Kini aku tidak lagi ingin terlalu takut dengan kesendirian. Aku mulai melihat kesendirian sebagai ruang untuk mengenal diriku sendiri. Di sana aku belajar mendengar suara hatiku, memahami apa yang sebenarnya kuinginkan, menerima kekuranganku, dan perlahan berdamai dengan hal-hal yang dahulu sulit kuterima.

Aku tidak tahu dunia akan membawaku ke mana.

Aku tidak tahu siapa yang akan tetap tinggal dan siapa yang nantinya akan pergi. Aku juga tidak tahu apakah setiap langkah yang kuambil akan membawa pada sesuatu yang benar-benar kuharapkan.

Tetapi mungkin hidup memang tidak selalu meminta kita untuk mengetahui akhir dari perjalanan.

Terkadang, hidup hanya meminta kita untuk terus berjalan.

Pelan-pelan.

Satu langkah demi satu langkah.

Tanpa harus selalu terlihat kuat. Tanpa harus selalu memiliki jawaban. Tanpa harus membuktikan apa pun kepada siapa pun.

Karena aku mulai menyadari bahwa menjadi kuat bukan berarti tidak pernah takut. Menjadi kuat adalah ketika rasa takut masih ada, tetapi kita tetap memilih untuk melangkah.

Dulu, aku takut berjalan tanpa seorang teman.

Sekarang, aku sedang belajar berjalan bersama diriku sendiri.

Bukan karena aku tidak membutuhkan siapa pun, tetapi karena aku akhirnya mengerti bahwa aku juga berharga untuk diriku sendiri.

Aku mungkin tidak tahu ke mana perjalanan ini akan membawaku. Namun, untuk pertama kalinya, aku ingin percaya pada langkahku sendiri.

Jika suatu hari aku kembali merasa takut, aku akan mengingat bahwa aku pernah melewati banyak hal yang dahulu kukira tidak akan mampu kulewati.

Dan mungkin, itulah arti sebenarnya dari berdiri sendiri:

bukan tentang tidak membutuhkan siapa pun, melainkan tentang mengetahui bahwa ketika semua orang pergi, kita masih memiliki diri sendiri untuk terus melangkah.

semoga senyuman ini akan tetap ada dan selalu ada selamanya