Cantik Versi Siapa? Saatnya Perempuan Mendefinisikan Diri Sendiri

Mahasiswi Manajemen, Universitas Pembangunan Jaya
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Eliana Ratmawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Cantik ya Kamu, tapi... kalau kulitnya lebih putih pasti lebih cantik.”
“Cantik ya Kamu, tapi... kalau lebih berisi pasti lebih cantik.”
"Cantik ya Kamu, tapi...
Kita sering mendengar kalimat tersebut lebih parahnya sering dianggap biasa saja dan seringkali dianggap sebagai pujian. Padahal, di baliknya ada tekanan sosial tersembunyi yang telah lama membentuk cara memandang seorang perempuan. Kalimat tersebut seolah-olah mendefinisikan “cantik” hanya dari luar saja, cantik harus begini dan begitu, dan perempuan harus berjuang keras bahkan beberapa kali menyakitkan diri untuk memenuhi standar orang-orang.
Standar Cantik yang Sudah Ditanam
Sejak kecil, banyak dari kita yang dicekoki gambaran cantik yang seutuhnya. Kulit putih, badan langsing, rambut lurus badai, hidung mancung, dan wajah tanpa jerawat sedikit pun. Gambaran ini bukan hanya ada di lingkungan tetapi sering dipertontonkan secara terus–menerus di televisi, iklan, dan media sosial.
Lebih parahnya lagi industri kecantikan seakan menjual impian dan kita membelinya, bahkan dalam bentuk produk, prosedur kecantikan, maupun rasa tidak aman yang dipelihara setiap hari. Akhir-akhir ini sedang ramai ada produk pemutih kulit yang memiliki campaign jika memiliki kulit hitam adalah “kampungan”. Sama sekali tidak etis seakan-akan seseorang dilihat hanya karena warna kulit saja.
Yang lebih menyedihkan lagi adalah standar ini bukan hanya sempit, tapi juga rasis, kelasistis, dan patriakis. Banyak perempuan merasa harus mengubah dirinya agar “layak dipandang, diterima, atau dicintai di masyarakat." Jika tidak ini maka tidak cantik dan lain sebagainya.
Kecantikan Sebagai Kontrol Sosial
Seringkali kita menganggap kecantikan adalah urusan personal. Padahal dalam masyarakat, kecantikan digunakan sebagai alat kontrol terhadap tubuh perempuan. Perempuan diajarkan bahwa nilai mereka tergantung pada penampilan. Bahwa menjadi menarik adalah kunci untuk diterima dan dihargai
Sementara itu, laki-laki dibesarkan dengan narasi kepemimpinan, keberanian, dan logika. Akibatnya? Perempuan dipaksa sibuk mencocokkan diri dengan standar yang berubah-ubah, sementara kesempatan dan potensi mereka dibatasi oleh penilaian visual semata. Standar yang seharusnya tidak ada sama sekali.
Luka yang Tidak Terlihat
Ketika standar kecantikan menjadi tolok ukur nilai diri, banyak perempuan akhirnya tumbuh dengan luka yang tak terlihat. Merasa tidak cukup. Takut keluar rumah tanpa makeup. Malu dengan warna kulitnya sendiri. Takut memakai pakaian tertentu karena bentuk tubuh yang kurang ideal. Tak sedikit yang mengalami gangguan makan, kecanduan operasi plastik, atau kecemasan sosial karena terus merasa harus “sempurna”. Semua itu demi memenuhi ekspektasi yang sebetulnya absurd dan tidak jelas.
Saatnya Perempuan Mengambil Alih Definisi Cantik
Cantik tidak bisa diseragamkan. Cantik tidak hanya milik mereka yang sesuai standar iklan. Cantik bisa berkulit gelap, bisa punya tubuh besar, bisa berjerawat, bisa punya kerutan, bisa punya bekas luka, dan tetap bermartabat. Cantik adalah ketika perempuan merasa nyaman dan jujur dengan dirinya sendiri. Merawat diri itu penting, tapi bukan untuk menyenangkan orang lain—melainkan untuk mencintai diri sendiri. Cantik seharusnya membebaskan, bukan membelenggu.
Kita Tidak Butuh Validasi untuk Menjadi Cantik
Sudah waktunya kita sebagai perempuan berhenti meminta izin untuk merasa cantik. Tidak ada lagi "kalau saja kamu lebih langsing...", "kamu cantik, tapi...", atau " kamu terlalu kurus untuk disebut menarik." Karena perempuan tidak lahir untuk menyenangkan orang lain. Perempuan lahir untuk menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Cantik versi siapa? Sudah saatnya menjawab adalah cantik versiku, bukan versimu, bukan versi dunia, tapi versiku sendiri.
Untuk semua perempuan yang sedang belajar mencintai diri sendiri, kamu sudah cukup. Kamu sudah cantik.
