Konten dari Pengguna

Segelas Kopi, Lagu Lama, dan Ide Riset yang Mencari Tuan

Linawati

Linawati

Dosen Universitas Pamulang dan Praktisi

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Linawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kadang inspirasi riset tak datang dari jurnal, tapi dari jeda—antara kopi yang pahit dan lagu yang tak sengaja mengerti isi kepala.

Ilustrasi : Mencari Ide Riset (sumber : AI-generated dengan DALL·E - bebas hak cipta.)
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi : Mencari Ide Riset (sumber : AI-generated dengan DALL·E - bebas hak cipta.)

Kadang, ide riset tak datang dari jurnal yang tebal atau ruang seminar yang formal. Ia muncul diam-diam dari bunyi air yang mendidih di teko, dari lirik lagu lama yang kebetulan memantul di kepala, atau dari rasa pahit kopi yang tak kunjung dingin.

Saya duduk berjam-jam di depan laptop. Draft bab satu sudah tersimpan, tapi masih terasa kosong. Saya tahu topik saya berkisar di bidang perpajakan. Tapi rasanya, belum ada pertanyaan riset yang benar-benar "milik saya".

Buku sudah dibuka. Jurnal-jurnal terbaru dari database internasional sudah saya tandai. Tapi tetap saja, tidak ada yang menggugah secara personal. Lalu, entah kenapa, saya membuka ChatGPT.

Awalnya hanya ingin mencari sudut pandang baru. Saya ketikkan satu kalimat sederhana: “Saya sedang buntu menentukan arah riset perpajakan.” Dan dari sana, percakapan pun bergulir. Saya ditanya ulang: fokus apa yang ingin saya gali, konteks negara, arah kebijakan, bahkan potensi integrasi teori yang bisa digunakan.

Saya tahu, ChatGPT bukan pengganti pembimbing akademik. Ia tak selalu update, terutama dalam konteks aturan perpajakan Indonesia yang cepat berubah. Ia juga tak paham secara mendalam nuansa teori fiskal yang berkembang secara kontekstual. Tapi obrolan itu memberi saya jarak. Memberi saya jeda untuk mendengar ulang suara saya sendiri dan bukan dari algoritma, tapi dari kejujuran.

Akhirnya saya menemukan satu celah yang sebelumnya tak saya pikirkan: bagaimana persepsi pelaku usaha terhadap perubahan regulasi Pajak berdampak pada kepatuhan mereka secara psikologis. Sebuah topik yang saya rasa lebih manusiawi dan relevan dengan latar belakang saya sebagai akademisi dan pengajar.

Dari situ, saya kembali membuka jurnal. Kali ini dengan arah yang lebih jelas. Saya menghubungkan teori ekonomi perilaku, regulasi fiskal, dan dinamika UMKM yang selama ini hanya saya amati dari jauh.

Kopi yang tadi hambar, kini terasa hangat. Lagu yang tadi hanya nostalgia, kini terasa seperti pelengkap refleksi. Dan AI? Ia bukan tuan yang memberi perintah, tapi meja diskusi yang sabar mendengar dan mendorong kita untuk berpikir lebih jernih.

“Kadang ide bukan datang dari hal besar, tapi dari jeda kecil yang kita izinkan hadir, termasuk ketika kita memberi ruang untuk bertanya, bahkan pada teknologi.”

Quote semangat untuk kamu yang sedang berjuang menulis:

"Kamu tidak sendiri. Banyak yang pernah merasa buntu. Tapi kamu beda—karena hari ini kamu tetap bertahan, meski pelan."