Konten dari Pengguna

Budaya Komentar: Ketika Bahasa Menjadi Senjata di Media Sosial

Elisa

Elisa

Saya seorang mahasiswa aktif yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang jurusan PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi budaya komentar: ketika bahasa menjadi senjata di media sosial sumber: Ai Generated via chat GPT
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi budaya komentar: ketika bahasa menjadi senjata di media sosial sumber: Ai Generated via chat GPT

Media sosial awalnya hadir sebagai ruang berbagi. Tempat orang menulis pendapat, mengekspresikan diri, dan membangun percakapan. Namun, seiring waktu, kolom komentar tidak lagi sekadar ruang diskusi. Ia berubah menjadi medan pertempuran, tempat bahasa kerap digunakan bukan untuk memahami, melainkan untuk menyerang.

Kini, siapa pun bisa berkomentar tentang apa pun. Dari isu ringan hingga persoalan sensitif, semuanya terbuka untuk ditanggapi. Sayangnya, kebebasan itu sering tidak diimbangi dengan kesadaran berbahasa. Komentar ditulis terburu-buru, dilandasi emosi, bahkan tanpa usaha memahami konteks. Bahasa pun kehilangan fungsinya sebagai alat komunikasi dan berubah menjadi senjata yang melukai.

Budaya komentar di media sosial menunjukkan bagaimana kata-kata memiliki dampak nyata. Satu kalimat sarkastik, satu ejekan sederhana, atau satu tuduhan tanpa dasar dapat memicu konflik panjang. Tidak sedikit orang yang merasa tertekan, disudutkan, bahkan kehilangan rasa aman hanya karena deretan kata di layar. Ironisnya, banyak pelaku merasa aman karena bersembunyi di balik akun dan jarak digital.

Di sinilah persoalan bahasa menjadi penting. Bahasa bukan sekadar rangkaian kata, tetapi cerminan cara berpikir dan bersikap. Ketika komentar ditulis tanpa empati, yang muncul bukan dialog, melainkan dominasi. Media sosial yang seharusnya memperluas wawasan justru mempersempit ruang saling memahami.

Fenomena ini juga menantang dunia pendidikan dan literasi digital. Masyarakat belajar menulis, tetapi belum tentu belajar bertanggung jawab atas tulisan tersebut. Kemampuan berbahasa seharusnya tidak berhenti pada aspek teknis, melainkan juga mencakup etika, konteks, dan rasa kemanusiaan. Tanpa itu, komentar hanya menjadi luapan emosi yang dikemas dalam kata-kata.

Membangun budaya komentar yang sehat tidak berarti membungkam kritik. Perbedaan pendapat tetap diperlukan. Namun, kritik yang disampaikan dengan bahasa yang beradab akan membuka ruang diskusi, bukan luka. Media sosial membutuhkan lebih banyak pengguna yang sadar bahwa setiap kata memiliki konsekuensi.

Pada akhirnya, cara kita berkomentar mencerminkan siapa diri kita. Di ruang digital yang serba terbuka, pilihan kata menjadi penentu apakah bahasa akan menjadi jembatan atau justru senjata. Dan di tengah derasnya arus komentar, kesantunan berbahasa adalah bentuk literasi yang paling mendasar, tetapi sering dilupakan.