Pendidikan Karakter: Bekal Hidup yang Mulai Dilupakan?

Saya seorang mahasiswa aktif yang sedang menempuh pendidikan di Universitas Pamulang jurusan PGSD Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elisa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di tengah maraknya perubahan kurikulum, digitalisasi sekolah, dan tren pendidikan berbasis teknologi, ada satu hal yang pelan-pelan mulai hilang arah yaitu penanaman pendidikan karakter. Padahal, justru inilah inti dari pendidikan itu sendiri, membentuk siapa diri kita sebenarnya, membentuk manusia yang utuh, bukan sekedar pintar dalam pelajaran, tapi juga baik dalam sikap karena pada hakikatnya ada lebih tinggi dari pada ilmu.
Pada saat ini, banyak siswa pandai berhitung, lancar menjawab soal, dan jago teknologi, tapi mudah tersinggung, sulit bekerjasama, sulit peduli terhadap temannya sendiri, bahkan ada yang terbiasa curang demi nilai tinggi. Ini bukan kesalahan anak semata. Ini adalah cerminan dari sistem yang terlalu sibuk mengejar hasil, tapi lupa pada proses pembentukan kepribadian.
Sekolah seharusnya bukan hanya tempat belajar ilmu, tapi tempat belajar hidup. Namun tekanan untuk Unggul dalam akademik membuat ruang bagi pembinaan karakter semakin sempit. Jam pelajaran penuh teori, ujian bertumpuk, dan ekstrakurikuler yang sebenarnya bisa membentuk nilai-nilai sosial sering kali dipangkas karena dianggap tidak prioritas.
Di sisi lain, orang tua pun terjebak dalam paradigma lama bahwa, nilai rapor adalah segalanya. Tidak sedikit orang tua yang marah jika anaknya dapat nilai jelek, tapi cuek saat anaknya mulai kurang ajar, suka berbohong, atau egois. Justru karena itulah, mereka Jadi tidak memikirkan perasaan orang tua dan upacara menghormati dan menghargainya. Nilai-nilai seperti jujur, tanggung jawab, disiplin, empati dan toleransi seolah menjadi hal yang terserah saja asal anaknya lulus dan dapat sekolah favorit. Padahal, hidup bukan soal seberapa banyak kita tahu, tapi seberapa baik kita bersikap kepada orang lain. Di dunia nyata, orang yang paling berhasil bukan selalu yang paling pintar, tapi yang mampu membangun kepercayaan, bekerja sama dan bertanggung jawab atas pilihannya.
Kita juga tidak bisa berharap karakter anak terbentuk hanya dari pelajaran PPKN atau upacara Senin pagi saja, tapi anak belajar paling kuat dari contoh dan kebiasaan dari orang tua maupun gurunya. Jika guru dan orang tua tidak memberikan contoh dan kebiasaan yang baik kepada anaknya maka semua pemahaman dan pengetahuan tentang akhlak hanya akan menjadi hafalan kosong.
Yang dibutuhkan sekarang bukan sekedar mengganti kurikulum, tapi membangun budaya sekolah dan rumah yang sehat secara nilai. Memberikan ruang bagi anak untuk belajar gagal, belajar jujur, belajar meminta maaf, dan belajar membantu teman.
Pendidikan karakter bukan trend, tapi kebutuhan yang harus dimiliki oleh setiap manusia ini bukan proyek satu tahun, melainkan proses panjang yang harus dilanjutkan dari generasi ke generasi. Negara yang kuat tidak dibangun oleh orang-orang cerdas semata, tapi oleh orang-orang berkarakter yang tahu bagaimana menggunakan kecerdasannya untuk kebaikan bersama.
Jika hari ini kita terus melupakan pendidikan karakter, maka bersiaplah menghadapi generasi yang pintar, tapi tidak tahu arah. Generasi yang pintar, tapi sulit berempati. Generasi yang pintar, tapi sulit menghargai orang lain. Generasi yang berani menghina demi ingin trend di tik tok, tidak malu merendahkan orang lain demi terlihat unggul, dan tidak punya rasa peduli karena sejak kecil hanya diajarkan untuk bersaing, bukan berempati.
Mari kita mulai dari diri sendiri. Dari guru yang bersungguh-sungguh memberi contoh bagaimana seharusnya bersikap, terutama dari orang tua yang harus sabar menanamkan nilai pendidikan karakter seperti mencontohkan kebiasaan yang baik, serta dari sekolah yang berani meluangkan waktu untuk hal-hal yang tampaknya kecil, tapi berdampak besar terhadap karakternya. Karena kelak, ketika anak-anak kita dewasa, yang mereka ingat bukan rumus luas segitiga atau siapa penemu listrik tetapi bagaimana mereka diperlakukan, bagaimana mereka diajarkan untuk bersikap yang baik, dan bagaimana mereka menjadi manusia yang utuh.
