Kumplus- Opini- Elisa Sutanudjaja- Banjir

Banjir yang Bukan Banjir

Pendiri dan Direktur Rujak Center for Urban Studies. Urbanis.
23 Desember 2021 11:14
·
waktu baca 7 menit
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Jelang akhir tahun, hujan ekstrem turun di Makassar. Seperti tahun sebelumnya, sejumlah wilayah Makassar pun kebanjiran. Namun Wali Kota Makassar, Danny Pomanto, menolak menyebutnya banjir. Menurutnya yang terjadi adalah genangan tinggi.
Ini bukan kali pertama kepala daerah menolak sebutan banjir ketika ada “genangan” tinggi melanda kawasan permukiman setelah hujan deras. Fauzi Bowo atau Foke, Gubernur DKI, mungkin memulai tren tersebut di 2010 dengan membedakan antara genangan dan banjir. Tentu saja pernyataan tersebut disambut dengan kemarahan dan kejengkelan publik terlebih di musim banjir. Sayangnya tradisi berlanjut dan berulang, hingga menjadi bahan sindiran dan meme yang beredar di media sosial—yang kemudian dilanggengkan oleh pernyataan Wali Kota Makassar.
Foke tidak sepenuhnya salah saat dia berupaya membedakan antara banjir dan genangan. Hanya, ya, mayoritas sudah keburu sebal terhadap kondisi banjir yang tengah melanda saat itu, sehingga cenderung menolak dan antipati terhadap perdebatan perbedaan istilah. Sebetulnya perbedaan banjir dan genangan hampir serupa dengan, misalnya, menggoreng dan mengukus. Keduanya sama-sama proses memasak, tetapi bibit, bebet dan bobotnya berbeda.
Lanjut membaca konten eksklusif ini dengan berlangganan
Keuntungan berlangganan kumparan+
check
Ribuan konten eksklusif dari kreator terbaik
check
Bebas iklan mengganggu
check
Berlangganan ke newsletters kumparan+
check
Gratis akses ke event spesial kumparan
Kendala berlangganan hubungi [email protected] atau whatsapp +6281295655814
Konten Premium kumparan+
Dengan mitos, mimpi, dan janji-janji, pembangunan ibu kota baru dengan segera terealisasi. Kota Dunia untuk Semua, katanya, sedikit mirip dengan Germania. Kolom Elisa Sutanudjaja, tiap Kamis, di kumparanplus.