Fanatics (Fanatisme) dan Filsafat, Apa Hubungan di Antara Keduanya?

Mahasiswi Jurusan Psikologi Universitas Brawijaya
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Elisabeth Clara Lovensia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"Fanatisme" dan "Filsafat" merupakan dua kata yang sudah tidak asing lagi bagi kita. Namun apakah arti dari kedua hal itu sendiri? Menurut KBBI, fanatisme adalah keyakinan (kepercayaan) yang terlalu kuat terhadap ajaran (politik, agama, dan sebagainya). Sedangkan filsafat menurut KBBI adalah pengetahuan dan penyelidikan dengan akal budi mengenai hakikat segala yang ada, sebab, asal, dan hukumnya.
Ada banyak sekali tokoh yang mendefinisikan arti dari fanatisme dan filsafat. Fanatisme juga terdiri dari banyak jenis. Dan ternyata, ada hubungan erat antara fanatisme dengan filsafat. Lalu, bagaimanakah hubungan antar kedua hal tersebut?

Pengertian Fanatisme menurut Para Tokoh
Menurut Ali, fanatisme adalah rasa solidaritas yang terlalu kuat sehingga membuat seseorang atau kelompok tertarik secara berlebihan pada orang lain atau kelompoknya.
Menurut Orever, fanatisme adalah antusiasme tanpa alasan yang cepat. Dedikasi untuk teori, acara, atau aturan yang menjamin perilaku yang sangat emosional dan pragmatis.
Menurut Chaplin, fanatisme adalah perilaku yang memiliki kekuatan yang berlebihan terhadap perspektif tertentu. Definisi lain adalah bahwa perspektif tersebut dapat berasal dari pikiran dan pemahaman yang tetap atau tidak berubah terhadap perspektif tertentu.
Pengertian Filsafat menurut Para Tokoh
Menurut Aristoteles, filsafat adalah ilmu yang mempelajari kebenaran dan terdiri dari banyak hal, seperti ilmu politik, logika, retorika, etika, metafisika, ilmu politik, dan ilmu keindahan.
Menurut Kant, filsafat adalah dasar dari semua ilmu pengetahuan dan berfungsi untuk menjawab pertanyaan tentang apa yang diketahui manusia tentang dunia dan mencakup banyak hal.
Menurut Descartes, filsafat adalah kumpulan semua pengetahuan tentang Tuhan. Selanjutnya, fokus penelitian filosofis adalah manusia dan alam, yang menjadi subjek penelitian untuk menemukan jawaban dan pengetahuan baru.
Jenis-Jenis Fanatisme
Fanatisme Agama
Fanatisme agama dapat didefinisikan sebagai suatu cara untuk menutup diri terhadap perspektif yang berbeda dan kecenderungan untuk mempertahankan keyakinan tertentu tanpa mempertimbangkan perbedaan pendapat, yang sering menyebabkan konflik di masyarakat.
Salah satu contoh fanatisme agama adalah ujaran kebencian agama. Ini dapat dilihat dalam perilaku yang menghina atau mengutuk orang berdasarkan agama mereka, seperti ujaran kebencian agama yang menganggap orang yang beragama lain sebagai ancaman.
Fanatisme Idola
Fanatisme idola dapat didefinisikan sebagai sikap atau perilaku ketika seseorang terlalu tertarik terhadap sesuatu, terutama terhadap idola mereka. Ini dapat berupa keyakinan yang terlalu kuat terhadap ajaran tertentu, paham atau tindakan yang menunjukkan ketertarikan terlalu besar terhadap sesuatu, atau perilaku ketika seseorang secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan terhadap sesuatu.
"Sasaeng" adalah salah satu contoh fanatisme idola karena mereka adalah penggemar yang sangat setia terhadap idola mereka dan dapat melakukan hal-hal yang tidak rasional dan berbahaya, seperti mengikuti setiap gerakan idola dan ke mana pun mereka pergi.
Fanatisme Ideologi
Fanatisme ideologi adalah pengabdian kepada ideologi yang sangat kuat, tidak bersyarat, dan tidak rasional. Kelompok radikal dan ekstrim dapat menyebarkan fanatisme ideologi dengan menggunakan media internet yang mudah diakses.
Fanatisme komunisme adalah contoh nyata dari fanatisme ideologis. Ini dapat berupa penggemaran terlalu besar terhadap komunisme, seperti percaya bahwa komunisme adalah satu-satunya cara untuk mencapai keadilan sosial dan mengabaikan kemungkinan kelemahannya.
Fanatisme Etnis
Fanatisme etnis adalah ketika suatu etnis dianggap lebih penting daripada etnis lain. Mereka menilai orang berdasarkan warna kulit dan suku mereka. Hal ini menyebabkan orang cemas dan takut melihat orang asing, yang disebut xenofobia, dan membuat generalisasi tentang kelompok etnis tertentu, yang disebut stereotip. Fanatik terhadap suatu etnis dapat menyebabkan perpecahan bangsa.
Di Indonesia, fanatisme etnis dapat berupa sikap diskriminatif terhadap kelompok etnis lain, seperti menganggap kelompok etnis lain rendah dan tidak layak dihormati, atau menganggap kelompok etnis lain sebagai "bukan bangsa" dan tidak layak dihormati. Contoh lainnya adalah menganggap kelompok etnis lain sebagai "bukan bangsa", dan fanatik etnis seringkali menganggap kelompok etnis lain tidak pantas menerima penghormatan.
Fanatisme Olahraga
Ketika seseorang terlalu terpikat pada tim, klub, atau atlet yang mereka sukai, itu disebut fanatisme olahraga. Ini dapat berupa perilaku yang tidak rasional, seperti fokus pada kelebihan tim lain daripada kelemahan tim sendiri, atau menganggap tim mereka adalah yang terbaik tanpa mempertimbangkan pendapat orang lain.
Di Indonesia sendiri, Tragedi Kanjuruhan adalah salah satu contoh nyata fanatisme olahraga. Tragedi Kanjuruhan terjadi di Stadion Kanjuruhan di Malang setelah pertandingan lanjutan Liga 1 antara Arema FC dan Persebaya Surabaya. Suporter tuan rumah yang kecewa dengan kekalahan timnya masuk ke lapangan, dan terjadi bentrok antara suporter dan petugas keamanan. Dalam tragedi ini, ratusan orang tewas, menunjukkan fanatisme olahraga yang berlebihan dan berbahaya.
Hubungan antara Fanatisme dan Filsafat
Dalam filsafat, fanatisme dapat didefinisikan sebagai penutupan diri terhadap filsafat lain. Ini dapat terjadi karena seseorang cenderung mempertahankan keyakinan tertentu tanpa mempertimbangkan pendapat lain, atau karena seseorang cenderung mempertahankan keyakinan tertentu tanpa mempertimbangkan filsafat lain.
Sehingga, filsafat sering dianggap sebagai penangkal fanatisme karena memungkinkan kita untuk berpikir secara kritis dan logis serta mengevaluasi semua perspektif yang kita anggap salah atau benar. Dengan memperluas wawasan kita dan memungkinkan kita untuk berpikir secara kritis dan logis serta mengembangkan kemampuan untuk berpikir secara kritis dan logis, filsafat juga dapat membantu kita menghindarkan diri dari fanatisme.
Referensi
Firdaus, R. (2017). Fanatisme perspektif kematian subjek postrukturalisme. Universitas Gadjah Mada. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/115430
Kartika Adriani, -. (2021). Hubungan antara fanatisme dengan perilaku konsumtif pada penggemar K-Pop di kota Pekanbaru. Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau. https://repository.uin-suska.ac.id/47873/
Lesmana, R. P. D., & Syafiq, M. (2022). Fanatisme agama dan intoleransi pada pengguna media sosial. Character Jurnal Penelitian Psikologi, 9(3), 36–49.
Malfaid, I. (2013). Fanatisme suporter sepak bola untuk menanamkan solidaritas sosial (Studi kasus pada suporter Pasoepati Kartasura). Universitas Muhammadiyah Surakarta. https://eprints.ums.ac.id/26541/
Muttaqin, A. A. (2023). Perilaku fanatisme pada anggota Perguruan Pencak Silat PSHT di Desa Mlandangan Kabupaten Nganjuk. Undergraduate, IAIN Kediri. https://etheses.iainkediri.ac.id/8570/
Poedjiadi, A., & Al Muchtar, S. (2014). Filsafat ilmu (101; Vol. 1, Nomor 101, hlm. 1–29). Universitas Terbuka. https://repository.ut.ac.id/4144/
Qurrata ’Ayuna, & Nurdin, S. (2016). Fanatisme dalam tinjauan psikologi agama. Jurnal Suloh, 1(1), Article 1. https://jurnal.usk.ac.id/suloh/article/view/8309
Ramadhan, F. (2016). Makna fanatisme bagi fans fanatik klub sepak bola (Studi kasus Andie Peci sebagai fans fanatik persebaya 1927). Universitas Multimedia Nusantara. https://kc.umn.ac.id/id/eprint/260/
Rinata, A. R., & Dewi, S. I. (2019). Fanatisme penggemar K-Pop dalam bermedia sosial di Instagram. Interaksi: Jurnal Ilmu Komunikasi, 8(2), 13–23. https://doi.org/10.14710/interaksi.8.2.13-21
Safitri, D., & Hanifa, S. (2023). Fanatisme mahasiswa Universitas Inaba terhadap K-Pop: Indonesia. Journal of Digital Communication Science, 1(1), 22–32. https://doi.org/10.56956/jdcs.v1i1.181
Vigho Erawansyah, Q. (2024). Persepsi anggota Komunitas United Mansion terhadap fanatisme dalam sepak bola. Undergraduate, Universitas Pembangunan Jaya. https://doi.org/10/10.%20BAB%20III.pdf
