Ketika Harapan Runtuh Lewat Satu Pesan Singkat: Menyelami "Nala" Tulus

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Elisabeth Kania Riyana Kaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pernahkah kamu sudah bersiap dengan sepenuh hati untuk sebuah pertemuan, tetapi berakhir mendapat kabar bahwa semuanya batal? Tidak ada pertengkaran, tidak ada kata-kata kasar, hanya sebuah pesan singkat yang masuk di waktu yang paling tidak tepat.
Perasaan itulah yang dirangkum oleh Tulus dalam "Nala", lagu dari album "Manusia" yang dirilis pada tahun 2022.
Setelah mendengarnya berulang kali, saya merasa lagu ini adalah salah satu potret patah hati paling jujur dalam diskografi Tulus, karena justru ia tidak berusaha tampil dramatis di lagu ini.
Ceritanya sederhana. Nala menunggu malam dengan hati berbunga. Ia memilih baju terbaik, menghitung waktu, dan merawat harapan kecil itu pelan-pelan sepanjang hari. Lalu tepat pukul tujuh, sebuah pesan masuk dan memberi kabar bahwa orang yang ditunggunya tidak bisa datang.
Yang membuat bagian ini terasa menyakitkan adalah betapa sederhananya kejadian itu. Mungkin pesannya hanya beberapa kata, tapi bagi Nala, beberapa kata itu sudah cukup untuk meruntuhkan semua harapan yang ia pupuk sejak pagi.
Sosok Biasa dengan Luka yang Dalam
Menurut saya, kekuatan terbesar lagu ini ada pada cara Tulus menggambarkan tokohnya. Nala bukan sosok yang istimewa, ia hanya perempuan biasa yang lahir di tahun 1992 dan tidak punya lingkaran pertemanan yang ramai. Liriknya juga menyebut bahwa sudah lama ia merasa sulit disukai orang.
Di titik inilah makna lagunya terasa lebih dalam. Kekecewaan Nala bukan hanya soal batal bertemu, pesan itu seperti membenarkan keraguan lama di dalam dirinya bahwa mungkin memang tidak ada yang benar-benar menginginkan kehadirannya.
Apalagi benih cinta bagi Nala adalah sesuatu yang langka.
Namun bagian yang paling menarik bagi saya ada di akhir lagu, di mana setelah semua kekecewaan itu, Nala tidak marah. Ia justru ikhlas dan masih mau mencoba peruntungan kedua dengan menanyakan kapan mereka bisa bertemu lagi di lain waktu.
Saya juga sangat mengapresiasi cara Tulus bercerita dalam lagu ini. Ia memilih menjadi pengamat yang lembut, memperkenalkan Nala dari luar seolah-olah sedang menceritakan seseorang yang ia kenal dekat.
Tidak ada kemarahan.
Tidak ada tuduhan.
Tidak ada yang disalahkan.
Kita hanya diajak untuk melihat dan ikut merasakan semua emosi yang Nala rasakan melalui lirik-lirik sederhana yang Tulus susun. Alurnya pun terasa seperti film pendek yang dibuka dengan semangat lalu dipatahkan oleh satu kabar pahit. Perubahan suasana yang cepat dan senyap itulah yang membuat pendengar ikut terempas bersama Nala.
Balada yang Memberi Ruang pada Kata
Musik yang dipakai di lagu ini mewakili malam itu sendiri. Pelan, tenang, dan sedikit dingin. Lagu dibuka dengan petikan gitar yang mengalir dan tidak terburu-buru.
Tidak ada aransemen yang berteriak, tidak ada ledakan emosi yang dibuat-buat.
Ruang kosong yang ada di antara nada justru menjadi bagian dari cerita. Bahkan ketika aransemennya memuncak menuju akhir lagu, menurut saya itu tidak berlebihan.
Hal itu terasa seperti perasaan yang selama ini ditahan oleh Nala.
Pada akhirnya, "Nala" mengingatkan kita bahwa sedih tidak selalu butuh alasan besar. Kadang cukup dengan menunggu sesuatu yang tidak jadi datang. Lagu ini sangat cocok untuk siapa pun yang pernah bersiap dengan sepenuh hati tetapi nahas, pulang dengan tangan kosong. Juga untuk mereka yang ingin belajar lebih peka terhadap perasaan orang lain, sebab bagi sebagian orang, satu pesan pembatalan bisa terasa jauh lebih berat daripada kelihatannya.
