Seminar Public Speaking Tapak Ilmu 2026: Belajar Percaya Diri Lewat Berbicara

Mahasiswi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Sebelas Maret
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elisabeth Kania Riyana Kaban tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Banyak mahasiswa baru merasa gugup ketika diminta berbicara di depan kelas. Rasa ragu itu juga dirasakan oleh sebagian peserta Tapak Ilmu 2026, seminar yang diadakan oleh Malam Koneksi 2026 pada 27 September 2026 di Ruang Aula FISIP UNS. Acara ini mengangkat tema "Menjelma Suara yang Berani Bicara" dan ditujukan untuk menyambut mahasiswa baru Ilmu Komunikasi UNS angkatan 2026. Bapak Muhammad Iqbal, S.Sos., M.M. hadir sebagai pembicara untuk membahas teknik public speaking dan pentingnya percaya diri saat menyampaikan pendapat.
Menurut saya, topik seminar ini sangat sesuai dengan kebutuhan mahasiswa baru. Di dunia perkuliahan, kita sering diminta presentasi, berdiskusi, atau menjawab pertanyaan dosen. Situasi seperti ini hampir pasti dihadapi setiap mahasiswa, sehingga kemampuan berbicara menjadi bekal yang tidak bisa diabaikan. Bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi, kemampuan ini bahkan menjadi bekal utama, karena nantinya mereka akan sering berhadapan dengan banyak orang, baik dalam tugas kuliah, organisasi, maupun dunia kerja. Pembicara juga menyampaikan materinya dengan santai dan mudah dipahami, sehingga peserta tidak merasa sedang digurui. Gaya penyampaian seperti ini membuat suasana seminar terasa akrab dan peserta lebih nyaman untuk menyerap materi.
Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah sesi praktik. Pembicara memanggil dua peserta ke depan untuk berbicara secara spontan tanpa persiapan. Tentu saja tidak mudah berbicara di depan banyak orang tanpa bahan yang sudah disiapkan. Namun, justru di situlah letak manfaatnya. Cara ini menurut saya sangat efektif karena peserta langsung merasakan bagaimana rasanya tampil di depan forum, mulai dari rasa gugup hingga usaha untuk tetap tenang menyusun kalimat demi kalimat. Peserta lain pun ikut memperhatikan dan belajar dari apa yang ditampilkan temannya, misalnya tentang cara membuka pembicaraan, menjaga kontak mata, dan mengatur suara. Dengan begitu, seminar tidak berhenti pada teori, tetapi benar-benar memberi pengalaman nyata.
Suasana pun semakin hidup ketika sesi tanya jawab dibuka. Hanya tersedia tiga kesempatan bertanya, tetapi banyak peserta yang berebut untuk mengangkat tangan. Pemandangan ini cukup menarik, sebab di awal acara sebagian peserta masih terlihat malu dan ragu. Hal ini menunjukkan bahwa peserta tertarik dengan materi dan tidak segan untuk berdiskusi. Antusiasme tersebut membuat ruangan terasa ramai dan jauh dari kesan membosankan. Bagi saya, sesi ini juga menjadi bukti kecil bahwa seminar tersebut mulai berhasil menumbuhkan keberanian peserta untuk bersuara.
Secara keseluruhan, Tapak Ilmu 2026 memberi pengalaman yang menyenangkan dan bermanfaat. Seminar ini tidak hanya menambah wawasan tentang public speaking, tetapi juga menumbuhkan semangat untuk berani bersuara. Setelah mengikutinya, saya merasa lebih termotivasi untuk mengurangi rasa malu dan mulai membiasakan diri berbicara di depan orang banyak. Saya berharap kegiatan serupa bisa terus diadakan, karena manfaatnya terasa langsung dalam kegiatan kuliah maupun kehidupan sehari-hari.
