Konten dari Pengguna

Kepercayaan Dikhianati: Saat Ruang Pelayanan Berubah Jadi Tempat Trauma

Elisabeth Ascania Manalu

Elisabeth Ascania Manalu

Mahasiswi Fakultas Hukum Prodi Ilmu Hukum St'24 Universitas Katolik St Thomas Medan Escribiendo para ver el mundo exterior:)

ยทwaktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elisabeth Ascania Manalu tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh : Elisabeth Ascania Manalu
zoom-in-whitePerbesar
Oleh : Elisabeth Ascania Manalu

Kasus dugaan pelecehan seksual yang dilakukan oleh seorang dokter di Klinik Pratama Universitas Riau terhadap puluhan mahasiswi, bahkan tercatat sudah mencapai 30 orang, menjadi kejadian yang sangat memilukan sekaligus menyayat hati. Tempat yang seharusnya menjadi sarana perlindungan dan pemulihan kesehatan, justru berubah menjadi sumber ketakutan dan luka batin bagi mereka yang seharusnya dilayani dengan baik. Yang lebih memprihatinkan, tindakan ini ternyata sudah berlangsung sejak tahun 2025 dan baru terungkap ke publik setelah para korban memberanikan diri bercerita melalui media sosial, seolah selama ini ada celah besar dalam sistem pengawasan sehingga perbuatan buruk ini bisa terus berulang.

Penyalahgunaan Wewenang Sebagai Modus Utama

Yang membuat kasus ini semakin menjijikkan adalah cara pelaku menjalankan aksinya. Ia memanfaatkan sepenuhnya jabatan, kepercayaan, dan kewenangan yang dimilikinya sebagai tenaga medis. Dengan berkedok prosedur pemeriksaan kesehatan, ia memanipulasi situasi dan memaksa atau membujuk pasien untuk membuka pakaian, lalu melakukan sentuhan pada area sensitif yang sama sekali tidak ada kaitannya dengan indikasi medis.

Modusnya pun terstruktur dan terencana: mulai dari menyuruh membuka kancing baju dengan alasan mengecek kesehatan, meminta membuka resleting celana tanpa dasar medis yang jelas, hingga berani menghubungi korban di luar jam kerja untuk kepentingan pribadi. Kondisi ini makin parah karena pemeriksaan dilakukan di ruang tertutup tanpa pendampingan pihak lain, sehingga pelaku leluasa berbuat semaunya dan korban tidak punya tempat berlindung maupun bukti awal yang kuat. Profesi yang seharusnya menjadi pengayom, justru dijadikan alat untuk menindas orang-orang yang sedang dalam keadaan lemah dan membutuhkan bantuan.

Keberanian Korban yang Menjadi Titik Balik

Selama berbulan-bulan perbuatan ini berlangsung, banyak korban memilih diam karena berbagai alasan. Ada yang merasa malu, takut tidak dipercaya, khawatir nama baiknya tercemar, hingga ragu apakah akan mendapatkan keadilan. Namun ketika satu per satu mulai berani bercerita dan membagikan pengalaman mereka di media sosial, ternyata banyak orang lain yang mengalami hal serupa ikut muncul ke permukaan. Inilah bukti bahwa diam hanya akan membuat kejahatan terus berlanjut, sedangkan suara yang disatukan memiliki kekuatan untuk membongkar segala bentuk ketidakadilan.

Langkah cepat yang diambil pihak kampus dengan segera menonaktifkan oknum dokter tersebut dan membuka proses penyelidikan adalah hal yang patut diapresiasi. Begitu juga dengan penyediaan pendampingan psikologis untuk korban, karena luka yang ditimbulkan bukan hanya fisik, tapi terutama luka mental yang butuh waktu dan penanganan khusus untuk disembuhkan.

Sistem yang Perlu Diperbaiki Secara Menyeluruh

Kejadian ini menjadi bukti nyata bahwa sistem yang ada selama ini masih memiliki banyak kekurangan. Klinik kampus yang dibangun untuk melayani kebutuhan ribuan mahasiswa, ternyata tidak memiliki aturan ketat terkait mekanisme pemeriksaan, terutama untuk pasien wanita. Tidak adanya kewajiban pendampingan tenaga medis lain, serta alur pelaporan yang tidak mudah diakses, menjadi celah yang dimanfaatkan oleh oknum tidak bertanggung jawab.

Ke depannya, perlu ada perubahan mendasar. Mulai dari membuat peraturan baku bahwa pemeriksaan pasien wanita harus didampingi oleh tenaga medis wanita, menyediakan kotak pengaduan yang aman dan rahasia, hingga memberikan sosialisasi kepada seluruh mahasiswa tentang hak-hak mereka saat mendapatkan pelayanan kesehatan. Tidak cukup hanya mengandalkan kejujuran individu, tapi sistem harus dibangun sedemikian rupa sehingga mencegah terjadinya penyalahgunaan kekuasaan dalam bentuk apa pun.

Hukuman Tegas Jadi Pelajaran untuk Semua

Selain perbaikan sistem, proses hukum terhadap pelaku harus berjalan secara tegas dan transparan. Ia tidak hanya harus dipecat dari jabatannya, tapi juga dipertanggungjawabkan secara hukum sesuai perbuatan yang telah dilakukan. Hukuman yang setimpal tidak hanya untuk memberikan keadilan bagi korban, tapi juga menjadi peringatan keras bagi siapa saja yang berniat menyalahgunakan posisi dan kepercayaan yang diberikan masyarakat.

Kasus ini mengajarkan kita bahwa di mana pun, termasuk di lingkungan pendidikan dan fasilitas kesehatan, kekerasan dan penyalahgunaan wewenang tidak bisa dibenarkan. Keamanan dan kenyamanan warga kampus adalah tanggung jawab bersama, dan setiap pihak harus berperan aktif agar tempat yang seharusnya menjadi tempat belajar dan berobat, benar-benar terbebas dari segala bentuk tindakan yang merugikan dan melanggar hak asasi manusia.

Kesimpulan

Pelecehan yang berkedok pemeriksaan medis ini adalah pengkhianatan terhadap profesi dan kepercayaan publik. Keberanian korban menjadi kunci pengungkapan kasus, sementara peristiwa ini mendorong perbaikan sistem dan penegakan hukum yang tegas agar lingkungan kampus dan fasilitas pelayanan menjadi tempat yang aman dan melindungi hak setiap orang.