Kedudukan Sosial Willem Walter dalam Novel Student Hidjo Karya Mas Marco

Mahasiswi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Konten dari Pengguna
20 April 2022 15:27
sosmed-whatsapp-whitecopy-link-circlemore-vertical
Tulisan dari Elis Susilawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Kedudukan Sosial Willem Walter dalam Novel Student Hidjo Karya Mas Marco  (14916)
zoom-in-whitePerbesar
(Sumber: Dokumen Pribadi)
ADVERTISEMENT
Pada hakikatnya, manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa adanya interaksi dengan orang lain. Keberhasilan interaksi antara satu manusia dengan manusia yang lainnya dipengaruhi oleh kedudukan sosialnya. Kedudukan sosial merupakan tempat seseorang dalam masyarakat yang berhubungan dengan orang lain, seperti lingkungan pergaulan, hasil pencapaian, dan hak serta kewajiban. Kedudukan sosial terbagi menjadi dua macam, yakni ascribed status (kedudukan yang diperoleh karena kelahiran, seperti ras,etnis, dan keturunan) dan achieved status (kedudukan yang diperoleh karena usaha yang disengaja). Setiap manusia tentunya memiliki kedudukan sosial yang beragam, sudah seharusnya kita saling menghormati antara satu dengan yang lainnya.
ADVERTISEMENT

Sejarah Novel Student Hidjo

Berawal pada tahun 1918, Mas Marco Kartodikromo membuat cerita bersambung di harian Sinar Hindia yang diberi judul Student Hidjo. Tulisan itu dibuat oleh Mas Marco ketika dirinya sedang diasingkan ke negeri Belanda. Cerita Student Hidjo ini mengisahkan suatu kehidupan di zaman pergerakan, dimana kaum priyayi lebih mendominasi dalam mengisi cerita. Mereka mendapatkan hak pendidikan dengan belajar di sekolah bentukan Belanda. Pembelajaran di dalamnya termasuk adat yang biasa dilakukan oleh bangsa Eropa dalam segala hal. Selain itu, cerita ini juga merupakan suatu gebrakan mengenai pandangan bangsa Belanda terhadap Hindia, terutama Jawa pada masa itu. Cerita ini dikemas dengan apik oleh Mas Marco dengan memasukkan kisah percintaan Hidjo, namun tidak lepas dari nilai moral yang ingin disampaikan olehnya, sehingga membuat pembacanya merasa terhanyut dan turut merasakan kehidupan pada zaman itu. Student Hidjo yang awalnya berwujud cerita bersambung diterbitkan menjadi sebuah buku pada tahun 1919 di Semarang oleh penerbit N.V. Boekhandel en Drukkerij Masman dan Stroink.
ADVERTISEMENT
Secara garis besar, novel Student Hidjo mengisahkan perjalanan seorang tokoh utama, yakni Hidjo yang diminta oleh ayahnya untuk melanjutkan pendidikan di Belanda agar mendapatkan gelar ingenieur. Hidjo yang memiliki sifat penurut serta kemampuan yang tinggi dalam cara berpikirnya menuruti kemauan Raden Potronojo (ayahnya), walaupun pada awalnya kemauan tersebut ditentang oleh ibunya. Di Belanda, Hidjo menumpang tinggal di rumah kerabat gurunya, yakni seorang direktur yang sudah memiliki dua orang anak gadis. Sikap Hidjo lama-kelamaan berubah dengan adanya pengaruh dari Betja, anak gadis direktur. Pada suatu malam, ia bersetubuh dengan Betja di salah satu hotel sepulangnya dari menonton pertunjukan Lili Green. Hidjo merasa menyesal dan perasaannya gundah karena ia tidak mengingat nasihat dari ibunya. Setelah beberapa waktu, akhirnya Hidjo kembali ke tanah Jawa dan menikah dengan Raden Ajeng Wangoe, putri dari regent Djarak.
ADVERTISEMENT

Kedudukan Sosial Williem Walter dan Mimikrinya terhadap Tanah Jawa

Di balik cerita tokoh utama dalam novel Student Hidjo, ada hal yang tidak kalah penting untuk dibahas dalam pembahasan kali ini. Hal tersebut merupakan salah satu nilai utama yang ingin disampaikan oleh Mas Marco Kartodikromo kepada pembaca dalam novel Student Hidjo yang diwakili oleh tokoh Willem Walter. Willem Walter diceritakan sebagai seorang lelaki berkebangsaan Eropa yang diutus menjadi controleur di Kabupaten Djarak. Ia pertama kali muncul di dalam cerita ketika menjadi tamu undangan dalam acara ulang tahun regent. Dengan jabatannya sebagai controleur ia sangat dihormati oleh tamu undangan, termasuk anak-anak regent. Regent Djarak yang mengetahui usia Walter lebih muda dari dirinya tetap menggunakan sapaan “Tuan” kepada Walter ketika sedang berkomunikasi. Seperti dalam kutipan berikut.
ADVERTISEMENT

“Apakah Tuan bisa menandak seperti orang Jawa?” tanya R.M. Wardojo kepada controleur yang masih muda itu sambil tertawa. (halaman 80)

“Apa maksud Tuan kawin campur itu seperti Belanda dengan Jawa?” tanya regent. (halaman 117)

Selain dengan jabatannya sebagai controleur, tokoh Walter diceritakan sebagai orang yang mudah berinteraksi dengan siapapun, termasuk priyayi Jawa. Meskipun Ia berasal dari bangsa Eropa, tidak banyak orang Jawa yang memandang buruk dirinya karena Ia selalu memiliki keingintahuan yang tinggi terhadap budaya di sekitarnya. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya ucapan Walter pada malam perayaan ulang tahun regent sebagai berikut ini.

“Saya lebih suka melihat tandak daripada melihat orang berdansa,” (halaman 80)

“Saya suka sekali dengan adat istiadat orang Jawa, baik mengenai masalah kesenangan atau hal-hal yang lainnya.” (halaman 80)

ADVERTISEMENT
Sikap Walter malam itu, diapresiasi oleh semua orang yang ada di pendopo kabupaten Djarak. Ia membuktikan ucapannya dalam menghargai budaya Jawa dengan cara berganti pakaian adat Jawa dan mencoba menandak di hadapan para tamu. Mereka semua gembira karena Walter tidak seperti kebanyakan bangsa Eropa yang menutup mata untuk tidak melihat perilaku baik dari masyarakat timur. Seperti narasi yang dituliskan oleh Mas Marco Kartodikromo di dalam cerita sebagai berikut.

Sungguh semua orang yang ada di pendopo Kabupaten amat senang, sewaktu mereka mengetahui controleur sudah berganti pakaian adat Jawa. Mereka menduga bahwa pakaian adat Jawa itu seakan-akan menunjukan bila controleur itu berhati Jawa. (halaman 81)

Merdanga lagu Gambir Sawit sudah berbunyi dan tandak sudah menandak, lalu regent menyuruh berdiri priyayi-priyayi yang ada di situ dan tepuk tangan guna menghormati controleur yang baru menandak.
ADVERTISEMENT
Setelah acara ulang tahun regent, Walter terpikat oleh paras R.M. Wangoe meskipun ia sudah memiliki kekasih, yakni onderwijzeres. Ia memiliki tekad yang kuat untuk menaklukan hati putri regent itu. Akan tetapi, usaha yang dilakukannya tidak pernah membuahkan hasil, justru ia terlibat suatu masalah baru, yaitu adanya kabar yang tersebar seantero affdeling Djarak. Kabar tersebut terkait Walter yang tidak bertanggung jawab atas anak yang ada di dalam tubuh onderwijzeres. Regent Yang mendengar kabar itu merasa menyesal mengetahui kondisi Walter karena ia memandangnya sebagai orang yang mudah bergaul dengan banyak priyayi Jawa. Oleh karena itu, Walter berpikir untuk cuti satu tahun ke Eropa demi kesehatannya. Sebelum berangkat, Walter dikabari oleh rrgent bahwa ada kerabatnya yang sedang belajar di Belanda, Hidjo. Ragent berharap Walter dapat menyempatkan diri untuk mengunjungi Hidjo.
ADVERTISEMENT
Di waktu perjalanan menuju ke Eropa, Walter melihat ada orang yang sebangsa dengannya menunjukkan sikap sombong dan meninggikan diri kepada Jongos kapal. Walter menghampiri orang tersebut dan terlibat komunikasi panjang. Orang yang sebangsa dengan Walter memandang bahwa bangsa timur, terutama Jawa, tidak layak untuk dipercaya, pemalas, dan bodoh. Hal tersebut ditepis oleh Walter dengan pertanyaan dan pernyataan. Seperti dalam kutipan berikut.

“Apakah Tuan sudah paham betul-betul adat orang jawa?” (halaman 154)

“Apa Tuan sudah menyelidiki bahwa adat istiadat orang Hindia itu sepuluh kali lebih sopan daripada adatnya orang Eropa kebanyakan?” (halaman 154)

“Tuan berkata, `orang Jawa kotor`, tetapi Tuan toh mengerti juga bila ada orang Belanda yang lebih kotor daripada orang Jawa?” (halaman 155)

ADVERTISEMENT
Mas Marco Kartodikromo mempertegas perkataan tokoh Walter dalam perdebatan itu dengan sebuah karangan yang digambarkan sebagai buku selebaran (brosur) berbahasa Melayu yang berjudul Bangsa Belanda di Hindia. Karangan itu berisi kritik sosial masyarakat Belanda yang tinggal di Hindia, yang memiliki sikap gila hormat, meminta untuk dihargai, namun tidak ada timbal balik, dan lain sebagainya yang dapat membuka pandangan pembaca pada masa itu. Karangan ini menjadi salah satu nilai moral yang penting dalam novel Student Hidjo. Oleh karena itu, orang yang sebangsa dengannya langsung bungkam dengan pernyataan yang diberikan oleh Walter. Tidak diragukan lagi, jika novel ini dikatakan sebagai buah perlawanan sastra di zaman pergerakan.
Sesampainya Walter di Belanda, Ia langsung mengunjungi Hidjo untuk bertukar kabar. Ia disambut baik oleh tuan rumah, bahkan diminta untuk sering berkunjung. Ia juga berkenalan dengan salah satu anak direktur, yaitu Betja. Dua tahun kemudian, Walter sudah kembali ke Tanah Jawa bersama Hidjo. Ia diberi kepercayaan untuk menjadi assistant residence di Djarak.
ADVERTISEMENT
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa kedudukan sosial Willem Walter dalam novel Student Hidjo berkategori ascribed status, yaitu dipengaruhi oleh ras, etnis, dan keturunan. Hal itu dibuktikan dengan kedudukannya sebagai controleur yang mudah bergaul dengan masyarakat, sehingga Ia dihormati, namun pada suatu waktu melakukan kesalahan yang membuat namanya menjadi kurang baik. Ia memutuskan untuk mengambil cuti satu tahun. Akan tetapi, ketika Ia kembali ke Tanah Jawa justru diberikan jabatan yang lebih tinggi, yakni assistant resident.
Objek Kajian
Kartodikromo, Mas Marco. Student Hidjo. Yogyakarta: Penerbit Narasi. 2022.
Daftar Pustaka
Ensiklopedia Sastra Indonesia - Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa. Student Hidjo diakses pada 13 Maret 2022 pukul 12.50 WIB.
Maniku, S.. dkk. “Hubungan Kebahagiaan dengan Status Sosial pada Keluarga di Kelurahan Tanjung Batu”. Jurnal e-Biomedik Unsrat Vol.02 No.03. November 2014.
ADVERTISEMENT
Baca Lainnya
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
·
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020
Sedang memuat...
S
Sedang memuat...
comment0 01 April 2020