Konten dari Pengguna

Silsilah Keturunan Rasulullah Dalam Manuskrip Koleksi Abdul Mulku Zahari

Elita Sholichah

Elita Sholichah

Mahasiswi Bahasa dan Sastra Arab UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elita Sholichah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Rasulullah SAW adalah suri tauladan atau uswatun hasanah yang diutus oleh Allah SWT untuk menyempurnakan akhlak seluruh umat manusia, beliau adalah sosok yang paling sempurna, tidak akan cukup untuk mendeskripsikan bagaimana sosok kesempurnaan Rasulullah SAW. Sebagaimana telah disebutkan dalam Firman Allah QS. Al-Ahzab [21]: 21

لَقَدۡ كَانَ لَكُمۡ فِىۡ رَسُوۡلِ اللّٰهِ اُسۡوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنۡ كَانَ يَرۡجُوا اللّٰهَ وَالۡيَوۡمَ الۡاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيۡرًا

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah."

Sumber: https://eap.bl.uk/

Mari Mengenal Lebih Dalam Manuskrip Yang Ada di Koleksi Abdul Mulku Zahari

Sedikit membahas tentang naskah ini, saya menemukan naskah ini dari naskah digital yang bisa diakses melalui website https://eap.bl.uk/archive-file/EAP212-2-22 dan jika kalian ingin melihat manuskrip lebih lengkap lagi, kalian bisa menemukan naskah ini dari naskah digital yang bisa diakses melalui website https://eap.bl.uk/archive-file/EAP212-2-22 memiliki judul yakni Habl Al-Wasiq. Manuskrip ini ditulis pada abad Ke-19 hingga abad Ke-20. Penulis dan penyalinnya tidak disebutkan.

Kondisi naskah ini terlihat memudar, lengan dan penutup tidak terpasang. Naskah ini masih dijilid dengan benang putih. Namun, secara keseluruhan naskah ini masih terbaca dengan baik. Naskah ini ditulis menggunakan tinta hitam dan merah sebagai rubrikasi, naskah ini terdiri dari 50 lembar dan 11 baris di setiap halamannya ini ditulis di atas kertas Eropa dengan dengan cap air Lin medallion Concordia. Naskah ini tidak memiliki kolofon. Naskah aslinya saat ini berada di koleksi naskah Abdul Mulku Zahari yang berlokasi di Desa Baadi, Kecamatan Betoambari, Baubau.

Dalam kitab ini terdapat berbagai pembahasan yang berkaitan dengan sifat-sifat Allah yang 20, sifat wajib bagi rasul, dan keturunan keluarga Nabi Muhammad SAW, macam-macam dosa, dan rukun-rukun taubat. Namun pada tulisan pertama saya ini saya akan memfokuskan kajian saya tentang bagaimana silsilah keturunan keluarga Nabi Muhammad SAW yang terdapat pada manuskrip ini.

Mengetahui Silsilah Keturunan Rasulullah SAW Pada Manuskrip

Rasulullah SAW. Sebagai generasi islamiyah maka sudah sewajarnya kita selalu mengingat semua hal tentang Rasulullah SAW, dan jadikanlah Rasulullah SAW sebagai suri tauladan kita. Rasulullah SAW terlahir dari keluarga dan nasab yang paling mulia, ayahnya bernama Abdullah bin Abdul Muthalib dan ibunya bernama Aminah binti Wahab.

Terkait nasab Nabi Muhammad SAW dari ayahnya yang tertera dalam manuskrip ini yaitu Muhammad SAW bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushai bin Kilab bin Murrah bin Ka’ab bin Luay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadr bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas ‘Alaihi Sallam bin Mudlar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan. Para ulama ada yang berbeda pendapat, ada yang mengatakan nasab Nabi Muhammad SAW dari Abdullah sampai Nabi Adam AS. Namun, dalam manuskrip ini menyebutkan bahwa nasab Nabi Muhammad SAW secara lengkap dari Abdullah sampai Adnan.

Ilustrasi: halaman manuskrip tentang nasab dari ayah Rasulullah SAW

Sedangkan nasab Nabi Muhammad SAW dari ibunya yaitu Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab. Inilah kumpulan nasab Nabi Muhammad SAW yang tertera dalam manuskrip ini.

Selain mempunyai nasab yang mulia, Nabi Muhammad SAW juga dikelilingi oleh sahabat-sahabatnya yang setia kepada beliau, kemudian orang yang paling mulia setelah Nabi Muhammad SAW dan setelah para Nabi ialah Abu Bakar Al-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, ‘Utsman bin Affan, dan ‘Ali bin Abi Thalib, itulah para sahabat Nabi Muhammad SAW yang selalu setia menemani dakwah Rasulullah SAW dalam mensyi’arkan agama Islam, dan Rasulullah SAW juga sudah menjamin bahwa para sahabatnya itu akan masuk surga bersamanya.

Sifat-sifat Rasulullah SAW Yang Wajib Kita Ketahui

Mengimani adanya nabi dan rasul tidak sekedar hanya mengetahui nama dan keturunannya saja, tetapi wajib juga mengetahui sifat-sifat wajib yang dimilikinya. Sifat-sifat bagi rasul terbagi menjadi 3, yaitu: sifat wajib bagi rasul, sifat mustahil bagi rasul, dan sifat jaiz bagi rasul.

Pertama, sifat wajib bagi rasul itu terbagi lagi menjadi 4 bagian yaitu: sidiq yang berarti jujur, amanah yang berarti bisa dipercaya, tabligh berarti menyampaikan, fatanah berarti cerdas, sifat inilah yang pastinya sudah ada pada setiap utusan Allah SWT.

Kedua, sifat mustahil bagi rasul yaitu kebalikan dari sifat wajib bagi rasul yang tadi disebutkan, yaitu: kidzib yang berarti bohong atau dusta, khianat, menyembunyikan atau kitman yang merupakan lawan dari tabligh, dan bodoh atau baladah yang merupakan lawan dari fatanah. Sifat-sifat ini sudah pasti tidak ada pada rasul yang merupakan utusan Allah SWT.

Dan ketiga ada sifat jaiz bagi rasul yaitu sifat yang mungkin ada pada diri rasul sebagaimana layaknya manusia seperti menikah, makan, minum, sakit, dsb.

Dengan mengetahui silsilah keturunan Rasulullah SAW, dan sifat-sifat yang dimiliki, tidak dimiliki, dan mungkin dimiliki oleh Rasulullah SAW kita bisa meningkatkan keimanan kita kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.

Pentingnya Peduli Dengan Manuskrip Yang Ada Disekitar Kita!

Di Indonesia banyak sekali peninggalan manuskrip yang tersebar diseluruh Nusantara yang sudah digitalkan. Namun, masih banyak juga peninggalan manuskrip yang masih ada di tangan masyarakat yang belum diselamatkan atau belum didigitalkan. Sebagaimana perkataan Prof. Dr. Titik Pudjiastuti saat pengukuhan guru besar filologi " Kita sebagai generasi muda Indonesia untuk selalu melestarikan naskah lama, karena naskah lama itu memiliki nilai sejarah yang kuat dan juga naskah lama itu akan menjadi warisan paling berharga bagi generasi berikutnya. Jangan sampai naskah lama yang masih ada di tangan para pemilik naskah itu dijual kepada orang asing. Apabila para pemilik naskah menjualnya kepada orang asing maka akar budaya Indonesia akan tercabut dan generasi muda Indonesia akan kehilangan identitas budayanya."

Wallahu a’lam bisshawwab