Salah Sangka, Beginilah Nasib Prawira Dirja, Seorang Guru saat Melaksanakan PJJ

Mahasiswi Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Tulisan dari Elita Putri Pradipta tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Prawira Dirja (50), seorang guru disalah satu sekolah di Tangerang. Semenjak dilaksanakannya Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) di sekolah maupun universitas, semua aktivitas pembelajaran berlangsung dari rumah. Tidak sedikit pengalaman menarik terjadi, seperti salah sangka yang terjadi baik kepada guru atau dosen maupun para pelajaranya.
Minimnya fasilitas yang dimiliki oleh masing – masing pengajar dan murid juga menjadi kendala. Seperti yang diungkapanya bahwa tidak semua murid memiliki alat elektronik pribadi, seperti laptop maupun gadget, sehingga beberapa siswa menggunakan milik orangtua.
Namun, tidak semua anak memberikan informasi bahwa Ia menggunakan milik orangtuanya, sehingga guru tidak mengetahui dimana saat Ia yang menggunakan dan dimana saat orangtuanya yang menggunakan. Seperti yang dialami oleh Prawira Dirja.
“Jadi kita memanggil nama orangtuanya itu dengan sebutan anaknya, misal nak, nak kamu harus rajin ya. Padahal itu adalah orangtuanya. Jadi kita mengajak orangtuanya berbicara seoerti berbicara dengan anaknya.” ujar Prawira Dirja saat diwawancarai di kediamannya di Tangerang, Banten, Rabu (28/10/20).
Selain itu, sebagai guru Ia berpikir bahwa setiap anak yang di rumah, tentunya orangtua membersamai atau tinggal bersama. Tetapi ternyata tidak, ada salah satu muridnya yang ternyata orangtuanya tinggal di luar negeri.
“Bahkan ada yang komunikasinya itu orangtuanya bertanya bagaimana Pak kondisi anak saya? Terus saya bilang, kan ibu yang bersama anak ibu di rumah. Eh ternyata ibunya ada di luar negeri.” katanya.
Akhirnya untuk mengatasi permasalahan tersebut, Ia memberikan juga kepada orangtua file tugasnya tersebut, supaya orangtua juga dapat memantau, sesuai permintaan orangtua muridnya itu.
Metode yang diajarkan selama mengajar dari rumah itu tentunya beragam, seperti Whatsapp, Zoom, Microsoft Teams, dan Google Classroom. Semua itu dikembalikan kepada materi dan tujuan pembelajaran yang akan dilakukan serta kebijakan apa yang diambil oleh pihak sekolah.
“Untuk mengajar selama PJJ atau pembelajaran jarak jauh, kita menggunakan aplikasi yang memang sudah disediakan dan tergantung kebijakan sekolah juga menekankannya menggunakan aplikasi apa, ada yang Microsoft Teams, ada yang Google Classroom, ada Zoom Meeting, termasuk juga dengan Whatsapp, “ ucapnya
Sebagai seorang guru yang juga harus beradaptasi dengan kondisi saat ini, maka Ia memiliki berbagai cara agar anak muridnya mudah memahami dan merasa tidak bosan. Seperti yang dikatakannya bahwa Ia mengkolaborasikan metode dan aplikasi pengajaran supaya materi yang disampaikan bisa sampaik ke anak.
“Memang kita kombinasikan sih supaya materi bisa terserap dan materi bisa sampai ke anak. Sebab kalau tidak dikombinasikan, kadang – kadang menjadi terkendala ke anaknya, seperti kendala tidak pahan, kendala jaringan dan lain – lain.” tambahnya.
Prawira Dirja adalah seorang guru yang telah mengajar selama kurang lebih 23 tahun. Ia telah merasakan berbagai perubahan kurikulum yang terjadi, sehingga seorang guru harus bisa mengikuti perkembangan zaman. Tidak mengenal generasi muda ataupun tua, begitu ada perubahan, maka harus mengikuti perkembangan tersebut. Sebab apabila tidak dapat mengikuti perkembangan tersebut, maka akan tertinggal.
Seperti yang diungkapkan Prawira Dirja, bahwa seorang guru itu belajar sepanjang hayat. Guru harus terus – menerus belajar, karena akan terus menemukan perubahan – perubahan, baik dari sistem pendidikannya, materi pembelajarannya, dan juga murid – murid yang dihadapinya.
Sebagai seorang guru yang dapat dikatakan senior, tentunya Ia memiliki suka duka selama mengajar, terutama saat pandemi seperti ini. Mulai dari kendala jaringan sampai terkendala dalam memahamkan anak muridnya. Ketika dulu sebelum pembelajaran jarak jauh, guru dapat bertemu langsung dengan anak muridnya, sehingga dapat dipantau selama proses pembelajaran yang kedepannya guru juga dapat memahami berbagai karakter anak untuk dibantu dan diberikan bimbingan yang sesuai kemampuan masing – masing.
Terutama ketika mengajar di tahun ajaran baru, dimana anak – anak murid sejak awal belum bertemu dengan gurunya. Sehingga kemungkinan tidak mengenali murid ataupun guru itu terjadi.
Seperti yang disampaikan Prawira Dirja, “Biasanya kan kalau tatap muka kan kita absen terus kenalan, bisa melihat orangnya seperti apa dan wajahnya juga seperti apa, jadi kita bisa kenal. Kalau sekarang, karena mereka di rumah kita tidak kenal dengan murid kita sendiri gitu kan, mungkin kalau ketemu dijalan pun mereka tidak kenal dengan kita. Walaupun ada foto profile yang bisa dilihat, apalagi kalau kita mengajar lebih dari satu kelas, wah sangat sulit untuk menghafalnya. “ cerita Prawira Dirja.
Kendala jaringan pun dialaminya ketika mengajar online, seperti ketika pembelajaran belum selesai, tetapi sudah ada anak yang keluar forum karena kehabisan kuota atau terkendala sinyal.
“Ketika kita ingin menggunakan aplikasi misalnya seperti Zoom Meeting, Google Classrom dan Microsoft Teams itu kan mereka selalu bilang, Pak kuota saya sekarat Pak kuota saya sekarat, akhirnya ketika kita menjelaskan belum selesai mereka sudah kehabisan kuota, sehinnga left dari proses pembelajaran. “ tambahnya.
Keadaan seperti ini memang baru kita hadapi, semua orang harus beradaptasi agar tidak tertinggal. Pembelajaran jarak jauh tidak hanya pelajar yang mengalami kesulitan tetapi para pengajar pun mengalaminya. Oleh karena itu, kita harus tetap semangat dan selalu bersykur dengan kondisi yang sedang kita alami saat ini. Karena percayalah semua ini akan berakhir.
”Tidak hanya kalian sebagai murid yang kangen suasana sekolah, kamipun sebagai guru kangen dengan kalian dan suasana sekolah. Karena kita semua ingin kembali sekolah tatap muka, maka berdoa dan berharap semoga Covid-19 segera selesai. Kalaupun nanti kita harus hidup dengan sistem normal yang baru, tetap itu protokol – protokol tetap dijaga dan diterapkan.” Tutup Prawira Dirja yang juga merupakan pesan kepada kita semua.
