"ADA: Kekuasaan, Anugerah, & Postmodernisme"

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 13 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

PROLOG Di atas tumpuan keberagaman kita berdiri. Dalam riuhnya ruang sosial, ada kontemplasi yang saya lahirkan dari kata "ADA" yang bercakap dengan definisinya sendiri. Kalimat pertama, ADA BANYAK ADA. Itu gejala sosiologis. Ada yang timbul karena adat, Ada yang lahir karena aman dan masih banyak lagi. Masyarakat menjadi museum yang hidup, dikala keyakinan ideologis bertransformasi sebagai artefak yang saling menatap tanpa perlu kesepakatan. Inilah kebenaran sosiologis bahwa pluralitas bukan dosa namun pasar narasi dimana semua makhluk menawar kebenaran masing-masing. Kalimat kedua, HANYA ADA SATU ADA. Inilah jejak teologis yang mengubah lanskap pemikiran kita. Dimana filsafat ontologi bersujud pada dogma iman. Dalam ranah ini, konsep keber-ADA-an menolak gemuruh pluralitas: karena segala yang ADA, hanyalah pantulan cipta dari ADA yang sejati. Esensi tunggal, mutlak dan absolut. Iman adalah aspek fundamental dalam singularitas ini. Kalimat ketiga, HANYA BOLEH ADA SATU ADA. Ini kalimat kekuasaan. Disini ada perubahan ontologi menjadi instruksi bukan kontemplasi. Kekuasaan selalu alergi pada padatnya riuh keberagaman. Bagi mereka itu ancaman yang harus dikontrol jika perlu dipaksa tunduk. Dari sinilah muncul SKB, aturan, larangan yang disublimasi sebagai keteraturan. Pertanyaannya, manakah Konsep ADA yang menurutmu paling tepat? Perlukah menghapus yang jamak untuk memeliharan yang tunggal? Atau pluralitas merupakan etalase rasionalitas manusia yang harus terus di digdayakan? Dalam Matius 6:32: "Semua itu dicari bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah". Salah satu kritik epistemologi terbesar bagi mereka yang menyangka bahwa "kelihatan" itu "ada". Disisi lain, Rasul Paulus dalam pikiran kepada Jemaat korintus menyodorkan pikiran yang dekonstruktif: AKU BUKAN ORANG BODOH. -> Terjemahan filosofisnya: ia tidak dibelenggu dalam representasi semu, karena yang tampak (dalam logika iman) adalah ilusi.
Ia mengejar yang tak nampak (karena disanalah ADA YANG SEJATI). Kadang kita harus menjadi fenomenolog untuk menghancurkan keangkuhan emipirisme untuk menjelaskan bahwa esensi tidak selamanya bersinar di permukaan. Yang tak terlihat adalah ADA, karena yang kelihatan akan LENYAP. Logika modernisme yang bertaqwa pada "melihat adalah percaya" dibalikan diktum itu bahwa "percaya, maka engkau akan melihat". Wahh, kebijaksanaan yang melampaui sensorium. Memukau. Kebutaan sejati adalah mengira bahwa realitas berakhir di retina matamu.
Dalam Injil Yohanes 1:1 berbunyi: “Pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah.” Ini merupakan letupan metafisika yang mewartakan bahwa jauh sebelum waktu berjalan, sebelum sejarah ditulis dan politik mulai mengatur nafas manusia, ADA itu sudah ada. Proklamasi ADA. Eksistensi yang begitu absolut, tak bertumpu pada konsensus dan tidak terbelenggu dengan sejarah.
Tentunya dalam logika filsafati, ini adalah afirmasi bagi eksistensi yang tak lahir dari kesepakatan sosial atau kontrak politik bahkan pada algoritma elektoral. Firman tidak pernah dipilih, namun senantiasa berdaulat. Rasionalitas kekuasaan yang bertumpu pada premis bahwa mereka yang memegang sumber hukum akan mengontrol kendali atas realitas, dibalik logikanya oleh Injil Yohanes bahwa bukan manusia yang memberikan mandat pada ADA, tapi sebaliknya.
Jika ditelisik dari kacamata politik, ini layaknya pengakuan bahwa hukum yang sejati tidak diproduksi oleh Parlemen. Disisi lain, untuk memahami pengetahuan, ada tiga pasak utama: jiwa, tubuh, roh: -> Jiwa, ranah tafsir, merupakan parlemen batiniah yang merumuskan makna. -> Tubuh, ranah aksi, merupakan eksekutor yang mengeksekusi keputusan. -> Roh, ranah nilai, merupakan mahkamah agung yang menguji kebenaran.
Serupa peda epistemologi untuk menilik bagaimana kerangka yang dipakai manusia untuk memahami, menghidupi dan mengevaluasi realitas. Paradigma ini sengaja saya kawinkan dengan Trias Politica ala John Locke. Sehingga variabel yang ingin ditekankan juga adalah bahwa histori politik dan rohani punya satu kemiripan: korupsi dan degradasi nalar bisa merasuki nalar. Jiwa dapat korup dikala tafsir tunduk pada kepentingan. Tubuh dapat bertransformasi sebagai tirani saat aksinya diarahkan oleh keserakahan. Dan roh dapat menjadi munafik saat pengadilannya terbelenggu pada doktrin yang mengasuh kekuasaan, bukan kebenaran.
Dan diantara berbagai aspek kelemahan itu, muncullah sosok yang eksistensinya lebih maksiat daripada penguasa duniawi, yakni Penghulu Kedagingan. Ia tidak mengontrol dari istana, tapi dari dalam hasrat terdalam manusia. Tidak menandatangani regulaai, namun mendikte selera. Ia sangat paham bahwa yang paling efektif dari kekuasaan adalah bukan membelenggu tubuh dari agresi yang represif, tapi menjerat jiwa lewat kenikmatan. Yang belenggu dirasa sebagai kemerdekaan sebab ia dilancarkan dengan kenyamanan.
Kekuasaan modern tidak lagi berkelindan dengan rantai modern, namun dengan rantai halus berupa normalisasi. Penghulu kedagingan merupakan pakar normalisasi psikis. Mengkompromikan kebijaksanaan dan mewajarkan ketimpangan. Tentunya ini kontradiktif karena proses simulasi, sengaja dikonstruksikan yang mencoba untuk menggeserkan ADA sejati dengan yang palsu. Tapi tulisan ini mencoba untuk mendedahkan satu babak yang tak akan pernah bisa dihapus baik oleh sejarah bangsa maupun sejarah rohani yakni dengan hadirnya Anugerah Pembaharu.
Anugerah yang bukan implikasi dari lobi politik atau konsesi dari penguasa. Tapi intervensi dari ADA itu sendiri. Ia adalah distorsi bagi status quo. Ada intrupsi bagi kenyamanan yang selama ini dipupuk oleh banyak penghulu kedagingan. Itulah hal yang dapat digunakan untuk memutus rantai halus yang dikira perhiasan oleh para tawanan. Jika dalam fenomena politik, hal ini serupa dengan revolusi yang muncul karena kesadaran komunal. Tapi ada perbedaan fundamental: revolusi yang dibuat manusia sering hanya mengganti tirani lama dengan jeratan yang baru.
Namun Anugerah pembaharu yang saya tawarkan disini mengganti tirani dengan kebebasan sejati yang tidak bertumpu pada selera namun kebenaran. Momen spektakuler seperti inilah yang membuat ADA yang otentik merebut kembali tahta yang sempat digadaikan manusia pada ADA buatan. Lalu pertanyaan ontologi diri baik dalam pribadi, politik bahkan iman: Apakah kita hidup dari ADA yang sejati atau kita hanya menghidupi simulasi yang dikonstruksikan oleh kekuasaan?.
Tentunya sebagai manusia, kita kerapkali berjalan di tepi jurang antara Logika Keterbatasan & Ketidakterbatasan. Ini aspek yang selalu ingin saya analisis. Tentunya keterbatasan merupakan ruang dimana "ada" terbelenggu oleh dinding waktu, tubuh dan nalar. Kita hanya dapat menatapnya, namun sulit untuk menggenggam hal tersebut. Namun disisi lain, berdiri Logika Ketidakterbatasan dimana ia adalah sebuah paradoks: tak pernah mampu dibuktikan secara empiris, tapi bersifat provokatif untuk menghasilkan pikiran yang melampaui.
Disinilah hal yang ingin saya tekankan bahwa ADA bukan hanya keberadaan yang nampak, tapi proklamasi kuasa pada ruang yang kosong. Kekuasaan, merupakan cara untuk membeberkan arti yang "ada" sebagai satu-satunya realitas, sekalipun itu dikonstruksikan untuk membungkam kemungkinan "tak ada".
Indikator terakhir yang ingin saya pantik dalam prolog ini adalah tentang tiga sumber utama yang kerap diabaikan: jiwa, pikiran dan roh. Jiwa sebagai tempat emosional untuk menakar yang benar dan salah. Pikiran sebagai fasilitas logis yang dipakai untuk membuktikan kebenaran. Roh sebagai dimensi yang melampaui kalkulasi rasionalitas. Ruang ketidakterbatasan selalu memberi makna pada keterbatasan.
Kekuasaan selalu berupaya untuk mengontrol ketiganya: jiwa dikendalikan propaganda, pikiran dipengaruhi wacana, dan roh yang sering dibisukan oleh ideologi yang diklaim absolut. Manusia akan mencapai kebenaran sejati atas realitas itu ketika ada keseimbangan dalam menguasai ketiga sumber ini. Hukum, regulasi, aturan, konstitusi dan sebagainya selalu memproklamirkam kebebasan yang dilindungi. Namun itu berdasarkan tafsir kekuasaan.
Kebebasan sejati hanya ada jika penguasa mengizinkan "ada"-nya. Maka logika keterbatasan dan ketidakterbatasan menjadi bahasa yang definitif-subjektif. Maka yang ada hanyalah yang terdefinisikan berhak ada, dan yang tidak ada merupakan larangan untuk menjadi ada. Kekuasaan menjadi wasit untuk klaim eksistensi itu. POST-MODERNISME Tulisan ini merupakan konsekuensi sosial dan kultural dari modernisme, yang dalam perspektif post-modernisme ditilik sebagai runtuhnya otoritas tunggal dan nilai yang terfragmentasi. Kebebasan menjadi tak berarah hingga pendekatan postmodernisme digunakan untuk mendekonstruksikannya. Ini tentunya menjadikan modernisme bukan sebagai suatu kebenaran mutlak, namun hasil konstruksi sosial yang bisa dianalisis bahkan digugat.
Memaknai terminologi Postmodern sebenarnya kita sementara menganatomi konsep waktu: "post" yang artinya sesudah, dan "modern" yang artinya kini. Sehingga konklusi diksinya yang dapat saya olah dan bagikan adalah postmodernisme bercakap tentang gugatan kepada apa yang selama ini dianggap sebagai kini. Ia merupakan narasi yang melampaui "kekinian", bukan untuk selebrasi masa depan namun untuk menggugat kepalsuan kontemporer yang dipuja sebagai kebenaran, ini disebabkan karena kita berkelindan dengan situasi dimana kebenaran versi kekuasaan dijual dalam etalase-etalase ideologis.
Dikala kita menyebut Postmodernisme, maka sebenarnya ada gugatan yang bersifat premis. Kita diajak untuk tidak hanya melihat sejarah, namun juga mencurigainya. Sebab seringkali bukti sejarah bukanlah jejak objektif, namun tafsir yang diberhalakan oleh mereka yang menang. Postmodernisme bukanlah bab berikutnya dari catatan peradaban manusia, namun penghapusan bagi ilusi bahwa peradaban itu bergerak maju secara linear. Secara etimoligis memang begitu subversif, karena ada variabel pembatalan bagi keangkuhan zaman yang merasa berada di puncak. Dikala hal seperti itu terjadi, maka dalam logika postmodern waktu bukan merupakan garis lurus, namun spiral dekonstruktif.
Jika kita menjejaki geneologi atau kemulaan Teori Post-Modernisme, bisa ditarik dari Perang Dunia II, dimana kapitalisme tidak hanya mendistribusikan barang, namun juga makna. Inilah pandangan definitif yang diutarakan oleh Jean Baudrillard, filsuf asal prancis yang begitu keras menentang ilusi realitas dinamakan hiperrealitas: keadaan dimana tiruan lebih menggiurkan ketimbang realitas.
Pasca banyak tragedi kemanusiaan global, terminologi Welfare state diciptakan negara barat bukan hanya untuk "menyejahterakan" namun untuk merawat ilusi. Karena manusia yang nyaman, cenderung mudah dikontrol oleh narasi hegemonik. Postmodernisme hadir sebagai sebuah intervensi intelektual bagi kemapanan pikiran kaum modernist. Variabelnya tidak baru, namun untuk menggugat fondasi dari banyak teori yang berupaya dikekalkan.
Dalam pandangan simplisitasnya, ia tidak hanya sebagai kritik bagi modernisme namun resistensi terhadap keyakinan bahwa semua hal harus sentralistik, searah dan satu tafsir. Sebagai pengagum postmodernisme, tentunya saya menolak determinisme: paradigma dimana hanya boleh ada satu kebenaran universal yang diterima oleh semua.
Dalam arena teoritikal, ini dikenal dengan logosentrisme, dimana keyakinan bahwa semua yang sahih harus sujud pada bahasa, teks, dan logika barat. Namun yang tidak kita pahami adalah ditengah pluralitas dunia, kepercayaan pada satu kebenaran tunggal merupakan bentuk kekerasan epistemik. Sifatnya begitu subtil hingga dijadikan normalisasi.
Pikiran baudrillard menyerukan bahwa sekarang banyak realitas yang dikloning, hasil rekayasa dan bahjan disimulasikan sehingga kita tak mampu membedakan mana yang asli dan palsu. Substansi dikesampingkan, hingga yang di dedahkan hanyalah tampilan dari tampilan lain. Manusiapun menjadi objek yang dikontrol oleh algoritma. Disinilah letak ironi modernisme bahwa diskursus tidak terjadi untuk melakukan perombakan total bagi fondasi epistemik yang disembah terlalu lama, namun ternyata berselubung kenajisan. Layaknya palu godam untuk menghancurkan berhala intelektual yang mencekoki dunia dengan satu kebenaran universal saja.
Postmodernisme sangat tepat untuk mengoyak logosentrisme yang selama ini selalu menjadi episentrum rasionalitas barat. Karena tak seorangpun dapat menyangkal kebenaran bahwa rasionalitas hanyalah kesepakatan yang diakui oleh kekuasaan. Pertanyaan ontologis mengenai kebenaran, salah satunya tentang siapa yang diuntungkan ketika sesuatu diklaim sebagai kebenaran menjadi begitu krusial untuk ditelisik. Pemahaman kita harus diradikalisasi bahwa pengetahuan bukanlah sesuatu yang sifatnya pure atau netral. Ia dibentuk, diperoduksi bahkan didistribusikan oleh mereka yang berada dalam matriks kekuasaan. Sehingga ada relasi yang terjalin antara keduanya.
Kebenaran tidak ditemukan, namun disepakati. Arena kognisi manusia merupakan medan tempur, dimana banyak ide bertarung dan kekuasaan akan menentukan siapa yang menang menduduki "takhta suci". Tidak selalu yang benar memenangkan pertarungan itu, sehingga seringkali saya sampaikan bahwa kebenaran adalah persoalan stratefi bukan sekedar substansi. Ranah inilah yang oleh Michael Foucault disebut sebagai field of power-knowledge.
Sebagai murid dari Arthuur Jeverson Maya, salah satu provokator agung yang juga mempelajari pikiran banyak pakar kekuasaan lainnya, saya percaya bahwa pengetahuan merupakan instrumen politik. Kebenaran merupakan implikasi dari adanya pertengkaran yang diskursif yang diklaim oleh kekuasaan. Tidak ada satupun pengetahuan di dunia yang terpakai saat ini yang sifatnya netral sehingga bebas dari relasi kuasa. Kekuasaan itu tidak berjalan secara vertikal semata, namun horizontal. Merembes dalam institusi, bahasa, norma, disiplin pikir dan lain sebagainya.
Pierre Bourdieu kemudian menganalisis secara tajam dengan mengenalkan konsep habitus dan doxa. Habitus merupakan siklus kognisi yang terasah akibat jejak sejarah sosial manusia, sementara doxa merupakan keyakinan yang tidak berani untuk digugat akibat selalu dinormalisasikan. Di dalam dunia yang kini banyak dikendalikan doxa, manusia tak lagi berpikir, namun dipikirkan. Kita tidak menjadi subjek otonom, namun objek dari sistem simbolik yang mengontrol nalar kita sendiri. Dengan begitu, dunia tidak lagi berkelindan dalam kebenaran, namun terjebak dalam siklus normalisasi yang disangka kebenaran.
Bourdieu dengan habitus dan doxa sebagai dua senjata utama menjelaskan secara komperhensif hal ini. Jangan lupa, bahwa dominasi tidak selamanya berwujud represif, namun justru akan lebih efektif dikala ia tidak disadari sebagai dominasi. Disaat relasi kuasa diterima manusia sebagai diktum yang alamiah, maka kekuasaan yang paling hebat adalah yang bersifat simbolik. Hadir untuk mengontrol makna. Ditengah kemerdekaan yang banyak dibanggakan oleh negara-negara, ada yang tidak sadar bahwa mereka sementara dipenjarakan oleh kekuasaan yang lebh masif.
Sementara itu, Jean Baudrillard mencoba untuk mendedahkan pikirannya dengan menyampaikan bahwa sekarang banyak realitas yang kini telah digantikan oleh simulasi. Dunia yang hiperreal, manusia semakin kesulitan dalam melakukan diferensiasi terhadap kenyataan dan kepalsuan. Semuanya telah bertransformasi sebagai pertunjukan di ruang digital. Standar manusia terdegradasi sebagai komoditas simbolik.
Ada pertukaran subjek, sehingga pembentukan identitas pun tidak melalui refleksi diri, namun tentang opini publik. Tidak dengan kontemplasi tapi hanya ingin memuaskan nafsu orang lain. Karena itu ada semacam unsur kegelisahan yang terbalur dalam postmodernisme. Ia tidak hadir memberikan jawaban absolut, namun mereinvensi banyak pertanyaan. Salah satunya dengan menolak oposisi biner: hitam-putih, benar-salah, Barat-Timur. Selalu ada kecurigaan bagi wacana besar yang mengklaim universalitas, sebab ada kesadaran bahwa dibalik setiap label kebenaran ada kepentingan yang partikular.
Inilah kenapa banyak orang yang menyampaikan pikiran mereka ke saya bahwa postmodernisme terlalu elitis dan subjektif. Namun bagi saya hal itu tidak lebih dari gonggogan entitas yang terganggu akibat gugatan terhadap monopoli makna yang mereka buat. Baudrillard menjelaskan bahwa subjek dalam hiperealitas dunia telah terdegradasi sehingga kita tak lagi menjadi satu "aku", namun kolase dari banyaknya identiras yang dibentuk oleh media, pasar dan wacana yang dominan.
Kerapkali kita hanya mengelola impresi hingga tidak otentik, padahal ini adalah bentuk pemberontakan paling baik. Postmodernisme selalu menekankan bahwa kebingungan adalah bentuk paling otentik dalam diri manusia. Sebab ketika semua orang mendiagnosa diri sendiri dengan kebenaran yang mereka pegang, maka satu-satunya kenyataan adalah kebenaran itu harus terus diperdebatkan. Dunia semakin dipersempit oleh pasar, algoritma dan propaganda, sehingga mazhab ini menyerukan kita untuk berpikir kembali.
Ia tidak mendedahkan jalan keluar, namun menawarkan keberanian untuk bertanya dan menggugat labirin yang sengaja dibangun oleh kekuasaan agar kita tetap bergerak namun selamanya terjebak. Postmodernisme tidak menjanjikan surga yang baru, namun membongkar klaim terhadap utopia itu. Bentuk kecurigaan sejati terhadap totalitas dan absolutisme. Pluralisme selalu dijunjung tinggi secara kontekstual. Bineritas dibongkar dan dikotomi terdekonstruksikan. Ini merupakan bentuk dari kerja etis yang radikal, bukan untuk relativisme namun bagi keadilan epistemik. Sebab, dikala hanya satu suara yang dianggap sah, maka suara lain akan menjadi gema yang disangkal.
Sehingga yang ingin saya sampaikan adalah, kita harus punya keberanian untuk ragu, karena inilah jejak pertama untuk bernalar. Karena kepastian hanya milik intelektualitas yang berkontemplasi mencari jawaban tanpa henti. Yang dogmatis tidak berkognisi. Tulisan ini juga undangan untuk terus menggugat: bahasa, sejarah, institusi dan pribadi. Ini gugatan untuk tidak percaya kepada yang tampak, karena seringkali hal itu dirancang untuk membius dan menipu. Karena bahkan politik saat inipun adalah politik estetika.
Banyak figur yang tidak memiliki visi, hanya pencitraan. Kebijakan tak perlu rasional, asal viral. Inilah masa dimana subtansi di duakan oleh simbol. Dan kritik postmodernist bagi kekuasaan tidak hanya pada isi, namun tentang bagaimana cara kekuasaan itu dipertontonkan. Logika yang tentatif, provisional dan kontigen. Tidak ada yang final. Inilah titik kebebasan tertinggi manusia. Tapi perlu diingat bahwa kebebasan yang dimaksud ini bukanlah nihilisme, tapi kritik bagi moralitas yang memonopoli. Sehingga saya tidak berjuang untuk relativisme liar, tapi ini tentang skeptisisme metodologi.
Ajakan untuk melacak jejak awal dari sebuah kebenaran, tentang yang membuat, yang diuntungkan, dan dirugikan darinya. Jadi anti tesis bahwa kami (postmodernist) membawa dogma baru itu tidaklah benar, sebab kami menolak dogma bahwa anti dogma sebagai paradigma baru. Kebenaran tak pernah muncul dalam kepolosan, namun selalu terbungkus, dibungkam atau dibentuk oleh variabel yang lebih masif: kekuasaan. Kebenaran inilah yang mengikat subjek - terkepung oleh dominasi hasrat. Itu berarti setiap klaim tentang cinta, kebenaran, nilai dan moral merupakan wacana hasil produksi pemegang kontrol. Konteks yang saya dedahkan ini bukan tentang pengalaman afektif, namun arena pertempuran epistemologis.
