Konten dari Pengguna

Arkeologi Manifest Destiny Sebagai Sebuah Orakel Apokaliptik

Elkata Agustinus Batistuta Atua

Elkata Agustinus Batistuta Atua

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
doc.pribadi

PROLOG Tulisan singkat ini dirangkum sebagai bagian dari upaya saya dalam melakukan riset terhadap tugas akhir seminar proposal yang di dalamnya mengangkat variabel krusial yakni: Manifesr Destiny. Sekaligus akan menjadi penghubung terhadap tulisan saya berikutnya. Pertama kali di kenalkan oleh Arthuur Jeverson Maya, saya begitu berhasrat untuk menggali relung misteri dari hal ini lebih jauh. Memahami keberadaan Manifest Destiny adalah keliru jika hanya dipandang sebagai terminologi historis, paling tepat jika ia didefinisikan juga sebagai dispositif ideologis yang menubuhi manuver politik dan kebijakam luar negeri Amerika Serikat.

Di abad ke-19, ia mulai lahir dari rahim bangsa muda yang kala itu masih menata dirinya di dataran benua baru yang baru saja “dijarah” dari penduduk asli. Tentunya dalam filsafat, saya melihat keberadaan Manifest Destiny bukan sebagai narasi ekspansionisme teritori namun arkeologi wacana. Sebuah paradigma yang berkelindan dalam nalar sebagai diskusus, jaringan ujaran, dan episteme yang bersemayam di bawah alam bawah sadar Amerika tentang takdirnya.

Sebagai salah seorang Foucaultian, saya mempelajari Archaeology of Knowledge yang tentunya memberi ilham bahwa sejarah itu tidak berjalan linear. Ia bukanlah garis statis yang dapat ditelisik dengan sederhana, tapi ia adalah manuskrip yang ditulis kembali, dikikis, ditempa namun bekas tinta lamanya masih senantiasa terbayang. Manifest Destiny merupakan palimpsest itu, dimana tertera "kota diatas bukit", namun terselebung taknik dari endapan kolonialisme brutal bagi bangsa indian, lalu kemudian dimanipulasi dengan menorehkan mitos demokrasi bahkan ditimpa dengan jargin globalisasi neoliberal.

Selain mengawinkan arkeologi dengan psikoanalisis, tulisan ini akan menjadi gelanggang kritisisme dalam rasionalitas untuk melihat Amerika sebagai sebuah subjek historis, dapat hidup dalam kegelisahan dan kecemasan, namun tetap bercokol eksistensinya sebagai sebuah titan global. Dan kekuasaan yang absolut selalu berupaya untuk tunggal, hingga kerpa mengarahkan pandangan pada the Other, entah itu Inggris yang ingin ditandingi, Uni Soviet yang mau ditaklukkan, atau Cina yang kini menjadi refleksi obsesinya. Dengan begitu, Manifest Destiny merupakan fantasm politik, sebuah layar tempat Amerika memproyeksikan ilusi keutuhan dirinya, padahal ia retak di dalam. A. ARKEOLOGI PENGETAHUAN TERHADAP LAPISAN HISTORIS AMERIKA Jika menggunakan metode Foucault maka saya membagi keberadaan Manifest Destiny menjadi empat lapisan diskursus: a. Lapisan Teologis b. Lapisan Liberal-Demokratik c. Lapisan Imperal Global d. Lapisan Neoliberal Kosmopolit Manifest Destiny muncul pertama kali sebagai sebuah klaim teologis bahwa bangsa Amerika merupakan “chosen people” yang ditakdirkan Tuhan untuk menerangi terang di benua yang gelap. Namun retorika ini ternyata bersemayam sebuah paradoks bahwa klaim terhadap penyelamatan dipupuk diatas pembantaian. Sehingga sebagai bentuk kritik, diskursus regilius uni bukan sebuah kontemplasi reflektif tentang kebenaran, namun praktik kuasa-pengetahuan. Gereja dan negara kemudian membentuk suatu aliansi epistemik untuk memberi justifikasi secara legal formil (hukum) terhadap legitimasi ilahi.

Seiring berjalannya waktu, lapisan teologis itu mulai dibaluri oleu jargon liberal-demokratik. Amerika mulai melabeli ekspansinya dengan klaim "civilazing mission". Tindakannya berbentuk kolonisasi namun terartikulasikan sebagai pembebasan. Tentunya ini merupakan sebuah taktik eksklusi dimana ada narasi kebebasan yang diagungkan, namun disisi lain suara-suara bangsa indian dibungkam. Apa yang dirasa tidak sejalan dengan episteme liberal Amerika disingkirkan dalam jejak sejarah.

Ketika mulai masuk ke abad 20, Manifest Destiny bermetamorfosis. Tidak hanya berkelindan dalam pandangan definitif tentang ekspansionisme ke barat, namun ada hasrat untuk mendominasi kancah global. Perang Dunia II dan Perang Dingin merupakan gelanggang baru untuk menguji strategi ekspansionisme itu. Kini, ekspansi tidak lagi dalam bentuk teritori, namun episteme kapitalisme global. Dunia kemudian dibelenggu oleh narasi tentang pasar bebas, HAM, dan Demokrasi liberal versi Amerika.

Masuk ke era kontemporer, Manifest Destiny tetap diawetkan dalam operasi neoliberal cosmopitan discourse. Ada narasi yang menggambarkan bahwa Amerika merupakan "polisi dunia", yang bertugas menjada keamanan, perdagangan dan bahkan demokrasi dunia. Namun nyatanya, lapisan ini masih terus menutupi kekerasan struktural yang mereka lakukan, mulai dari Perang Irak, Intervensi Afganistan, dukungan pada Israel dan masih banyak lagi. Jadi bagi saya, Manifest Destiny bukanlah monumen tunggal, namun stratifikasi narasi. Sama seperti situs arkeologi, bila kita menggali maka ada reruntuhan, bekas retakan dan serpihan kontradiksi yang terkubur.

Hukum internasional pasti akan menempatkan Manifest Destiny sebagai diskrepansi normatif. Amerika serikan sering menempatkan dirinya sebagai pilar penopang dari hukum, tapi ia juga merupakan aktor yang paling sering mengabaikannya. Menandatangani berbagai piagam, namun melancarkan perang tanpa mandat. Ini merupakan kenajisan dan penelanjangan dari double standard. Hukum dan regulasi dipakai sebagai instrumen hegemoni, bukan komitmen komunal. Seni memanipulasi norma hukum untuk membelenggu dunia dalam genggaman secara sepihak. Dalam terminologi Lacanian, hal ini dikenal sebagai jouissance (kenikmatan berlebih) Amerika: klimaks patologis dalam mengelabui regulasi yang diproduksi sendiri, seraya menuntut kepatuhan dari yang lain. B. HASRAT & FANTASI MANIFEST DESTINY Dikala Foucault membongkar reruntuhan wacana, Lacan membeberkan psike Amerika. Manifest Destiny merupakan simtom psikoanalisis, tanda dari adanya kekurangan yang tak mampu diutarakan. Subjek selalu berkelindan dalam lack, degradasi ekesistensial. Dan Amerika, sejak awal kemerdekaannya, selalu ada dalam kekurangan itu. Selalu ada upaya pembuktian yang diciptakannya. Tidak ingin di cap sebagai koloni inggris, tapi sebagai bangsa mandiri. Sehingga, ia menciptakan the Other untuk mengisi kekosongannya. Di abad ke-19, the Other itu merupakan bangsa Indian. Di abad ke-20, the Other itu adalah komunis. Di abad ke-21, the Other itu adalah teroris dan Cina.

Memandang keberadaan Manifest Destiny sebagai mesin yang senantiasa memproduksi musuh, agar lack of eksistensialism bisa ditutupi. Kadang kala, hasrat dan fantasi tidak pernah meraih objek pemuasnya, namun hanya berputar dalam siklus sinkronik. Begitu juga Manifest Destiny, dimana setiap kali Amerika merasa telah mencapai takdirnya (misalnya, setelah memenangkan Perang Dunia II), selalu muncul kekurangan baru. Ia tak pernah merasa puas, karena yang dkejar bukanlah realitas, namun fantasm. Bukan dalam kenyataan ontologis, namun menjadi episentrum narsistik.

Fantasm Manifest Destiny merupakan gambaran Amerika sebagai “penyelamat dunia”. Tapi selalu digagalkan oleh realitas, mulai dari Perang Vietnam, Invasi kontradiktif ke Irak, Intervensi ke Timur Tengah yang membawa banyak kekacauan tambahan. Inilah fakta bahwa Manifest Destiny merupakan histeria kolektif dimana ilusi narsistik berpacu dalam gelanggang serupa. Saya sangat berhasrat mengawinkan pikiran Foucault dan Lacan untuk membongkar struktur diskursus dan hasrat. Keduanya membawa peta ganda dalam memandang dialetika Manifest Destiny bukan hanya sebagai arsip narasif, palimpsest diskursif namun juga mesin hasrat dan fantasm politik.

Dengan begitu, ada pemupukan lapisan-lapisan ujaran yang beroperasi karena mesin ketidakpuasan. Arkeologi hasrat ini merupakan situs ekspansi yang sejatinya menggali kekosongan diri sendiri. Salah satu gairah kuriositas hadir untuk menggugat: apakah Manifest Destiny dapat diadopsi sebagai etika universal? Jawabannya ironis. Walaupun melabeli diri sebagai misi moral, namun pada dasarnua uang diuntungkan hanya eksklusifitas Amerika.

Karena tidak berlandaskan pada imperatif kategoris kantian yang holistik dan universal, namun imperatif fundamental: apa yang berguna bagi Amerika merupakan yang tepat untuk dijalankan. Dengan begitu, Manifest Destiny menjadi moralitas partukular yang bersemayam sebagai etika universalitas. C. SUBJEKTIVITAS HISTORIS AMERIKA Kadang kala saya merasa bahwa Amerika sebagai sebuah bangsa yang besar, sangat piawai dalam menjual retorika demokrasi, namun begitu rabun pada hipokrisi. Layaknya penghotbah yang mewartakan kebenaran, namun dibalik mimbar menyimpan pedang kolonialisme. Manifest Destiny merupakan diksi lain dari imperialisme yang dimurnikan. Kebohongan yang dibalut dalam benang teologis, disulam dalam jalinan liberal hingga dilapisi pernis kosmopolitan. Tapi dalam arkeologi pengetahuan, jika semua hal itu digali kembali, kebohongan tidak pernah sirna, namun meninggalkan jejak.

Amerika berkelindan dalam paradoks itu. Dia memproklamirkan kebebasan, namun membangun Guantanamo. Ia mewartakan HAM, namun disisi lain membiayai rezim-rezim otoriter yang bersahabat. Ia mdngklaim diri sendiri sebagai pembawa damai, tapi menjual senjata lebih banyak dari siapa pun. Inilah tampilan visual yang menjadikan Manifest Destiny sebagai retorika dalam disonansi historis. Kini, memasuki babak baru di era kontemporer, khususnya di era kepemimpinan Donald Trump, Manifest Destiny diadopsi dalam agenda Make America Great Again mencoba menghidupkan kembali fantasm kuno untuk menjadikan Amerika sebagai orbit dunia.

Tapi kini, hal itu tidaklah mudah karena berinteraksi dengan Cina sebagai salah satu titan dunia dibawah kepemimpinan Xi Jinping dengan proyek Belt and Road Initiative. Dunia pun menjadi gelanggang baru bagi teater hasrat dimana dua hegemon berkontradiksi dalam manuver politik mereka. Konflik Israel dan Palestina menjadi salah satu arena dimana kedua raksasa ini menunjukan pengaruh secara simbolik. Amerika memberikan dukungan pada Israel bukan sekedar karena kepentingan geopolitik, tapi karena ingin memupuk fantasm identitas yang sejalan. Israel merupakan perpanjangan dari "bangsa pilihan Tuhan" yang sama. Dukungan yang diberikan pada Israel merupakan pantulan narsistik bagi Amerika, seakan dia masih memegang mandat ilahi.

Tapi, seperti yang dipaparkan oleh Lacan, fantasm selalu retak. Dukungan buta Amerika pada Israel saat ini telah menjadi sumber delegitimasi moralnya, dan semua itu bisa terlihat pada momen sidang umum PBB dimana dunia mulai mencekal hipokrisi Amerika. Disini, mulai muncul patahan dispositif Manifest Destiny sebagai agenda agung yang kini digugat, dipersoalkan dan dipertentangkan. Amerika memproduksi kebenaran subjektif tentang dirinya sebagai aspek historis yang unggul melalui Manifest Destiny. Ia mendeskripsikan eksistensinya bukan hanya sebagai negara-bangsa, namun entitas metafisis dengan mandat transenden.

Ini subjektivitas Amerika yang tidak menjadi universalized subject. Ia tidak merasa cukup dengan hanya menjadi aktor hubungan internasional, namun menempatkan dirinya sebagai episentrum dari orbit peradaban. Dengan begitu, Manifest Destiny menjadi unsur ontologi politis yang senantiasa menghadirkan distingsi antara “dunia yang beradab” dan “dunia yang liar”. Sabagai pembaca Lacan, hal ini merupakan sebuah fantasm yang tidak netral secara etis. Ada semacam simulacra yang dilahirkan bahwa intervensi, ekspansionisme bahkan perang merupakan mandat moral.

Agresi yang begitu represif diselubungi Amerika dengan alasan yang etikal dalam pandangan mereka: “membawa demokrasi”, “menstabilisasikan keamanan global”, “memproteksi hak asasi manusia”. Nyatanya yang muncul adalah sublimasi kekerasan epistemik. Fantasi ini bekerja dengan menelanjangi kedaulatan menjadi tindakan luhur. Kita dapat menlacak kembali jejak cacat ini pada invasi Irak di tahun 2003. Dengan dalil yang dibuat terkair senjata pemusnah massal dan demokratisasi. Namun sampai perang berakhir, hal itu tidak pernah terjadi dan yang tersisa hanyalah kehancuran.

Saya telah mengeksplanasikan hal ini secara komperhensif dalam riset analisis yang begitu tajam tentang geneologi terorisme. Banyak yang menyebutnya sebagai keberadaan Rezim Kebenaran, tentang eksisnya konstruksi yang diskursif untuk memproduksi legitimasi, walaupun nilih fakta. Dalam studi kekuasaan ini adalah proses acting out dari histeria kolektif, dimana ada upaya untuk memendam kekosongan dengan memakai kekerasan. EPILOG Memandang Manifest Destiny dari kacamata Arkeologi pengetahuan merupakan bukti bahwa sejarah bukanlah narasi yang mulus, tapi reruntuhan yang harus digali dengan penuh kehati-hatian. Narasi bukanlah sebatas refleksi realitas namun didalamnya terselubung instrumen kuasa dan hasrat merupakan salah satu jalan menuju pemenuhan dalam siklus yang tak lekang oleh waktu. Amerika merupakan salah satu contoh paling konkrit dalam penggunaan narasi historis untuk menunjukan ekspansi simboliknya. Bangsa yang diasuh dalam fantasm kekuasaan dan menulis ulang sejarah bangsanya diatas palimpsest darah bangsa lain.

Subjek seperti ini tidak akan pernah kenyang. Mereka selalu bercakap tentang liberalisasi namun menutup telinga pada jeritan kolonialisme bahkan mempraktikan hal tersebut. Ironi ini menjadikan takdir sebagai histeria kolektif yang sinkronik dan tak final. Tulisan ini hanya gada awal untuk membongkar fondasi cacat yang beroperasi dalam Manifest Destiny khususnya pada bagian ontologi kekuasaan, narasi dan hasrat. Ia tidak hanya diamalkan dalam bentuk yang represif, tapi juga begitu produktif mulai dari melahirkan subjek, membentuk identitas bahkan mengontrol horizon kebenaran. Jadi mulai dari alat legitimasi ekspansi menjadi mesin ontologis yang memproduksi apa artinya "Amerika".

Inilah ironi takdir yang bersemayam dalam kultur sinkronik tak pernah usai. Ia bukanlah mandat ilahi, namun konstruksi kekuasaan yang ditumpuk atas palimpsest histori. Ekspresi histeria komunal ini tak akan pernah terobati. Cengkraman dominasi Amerika menghadapi delegitimasi niral, kebocoran etika, resistensi politik. Manifest Destiny semakin sukar dijual, karena lapisan-lapisan manipulasi sudah dibongkar oleh arkeologi historia dan psikianalisis kritis. Munculah pertanyaan penutup yang harus dikontemplasikan, apakah dunia membutyhkan Manifest Destiny sebagai narasi global yang sentralistik atau sudah saatnya wacana ini dikubur sebagai fosil dalam situs arkeologi historis?