Batas Akal Semesta

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 43 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Memperbincangkan pergeseran kosmos adalah mendiskusikan kemustahilan logis. Bahkan "Tuhan" yang Maha Kuasa pun tak sanggup menimbulkan gerak yang memunculkan kontradiksi logis, sebuah batas epistemis di mana kemahakuasaan harus bersimpuh di hadapan prinsip non-kontradiksi.
Bila Entitas Mutlak diandaikan sanggup menciptakan batu yang begitu berat hingga Ia sendiri tidak mampu mengatangkatnya, atau memunculkan lingkaran yang bersudut empat, maka kita tidak lagi berada dalam domain pemikiran filosofis, namun terjerat dalam delirium rasionalitas yang bangkrut.
Gerak kosmik, baik itu muasal muatan kuantum maupun ekspansi galaktik, adalah demonstrasi kaku dari batas-batas keterpikiran manusia.
Disaat kita mencoba memproyeksikan kehendak Ilahi menggeser tatanan alam semesta, kita langsung berbenturan dengan dinding besi, apakah gerak tersebut mematuhi tatanan rasionalitas yang ada, ataukah kehendak itu merupakan tindakan arbiter yang menghancurkan struktur logika itu sendiri?
Berhadapan dengan bahasa sabda yang dogmatis dan hukum-hukum sains yang nampak pasti serta tak tergoyahkan, membuat saya berandai-andai menemukan sebuah ruang umpama, disitulah saya bebas.
...
Sejak manusia pertama kali mendongakkan kepala ke langit malam, kita telah terbelenggu secara permanen di dalam sebuah paradoks eksistensial yang teramat mengerikan. Kita adalah entitas kecil yang fana, organik, bahkan sarat dengan kerapuhan biologis, tapi entah bagaimana dibekali oleh kehendak kognitif yang tak berhingga untuk menyingkap rahasia kosmos yang membisu, dingin, dan impersonil.
Di dalam risalah ini, saya ingin menghamparkan pertarungan kekal yang tak pernah usai antara keangkuhan saintisme, keteguhan dogmatisme teologis, serta kegelisahan metafisika yang tak terobati.
Dari puing-puing kosmologi geosentris yang disakralkan oleh otoritas Abad Pertengahan, mekanisasi alam semesta yang dingin di tangan para rasionalis Pencerahan, hingga guncangan radikal mekanika kuantum, energi gelap, serta kosmologi inflasioner hari ini, manusia senantiasa merumuskan kembali posisinya di hadapan realitas.
Akan tetapi, dikala fisika modern hari ini dengan percaya diri memproklamirkan kematian filsafat dan mengklaim telah menguasai kunci asal-usul keberadaan, apakah ia benar-benar telah menyibak kebenaran ontologis, atau sekadar membangun delusi epistemik baru di balik benteng kalkulasi matematis yang jumawa?.
Saya akan memulai dedahan eksplanatif ini dengan membedah secara mendasar Deklarasi Stephen Hawking. Ketika Hawking secara terburu-buru berargumen "the death of philosophy" dengan dalih bahwa filsafat telah gagal mengejar akselerasi presisi sains modern, ia sejatinya sedang mempertontonkan sebuah kelalaian epistemologis yang amat naif dan infantil.
Dikala fisika klaim telah merebut hak milik tunggal atas kuriositas elementer tentang hakikat realitas dan asal-usul kosmos, sains sebenarnya sedang mengidap delusi destruktif.
Pandangan senada dari Steven Weinberg, yang mengkerdilkan fungsi filsafat sebatas sebagai tameng untuk melindungi sains dari "unreasonable effectiveness of philosophy in reverse, semakin memperjelas betapa komunitas saintifik acap kali mengalami kebebalan metodologis yang parah ketika diharuskan berhadapan dengan fondasi pemikirannya sendiri.
Komunitas saintifik hari ini mengidap kebodohan simetris: mereka sangat lihai dalam mengoperasikan persamaan diferensial dan manipulasi tensor, namun buta huruf secara total tatkala ditanya mengenai presuposisi ontologis yang mendasari instrumen kalkulasi mereka tersebut.
Ketika menguliti lembar demi lembar struktur kosmologis yang ada di hadapan saya, saya melihat sebuah proyek dekonstruksi yang mendalam pada keangkuhan saintisme positivistik yang secara dangkal hendak mendepak filsafat dan teologi dari panggung pencarian kebenaran.
Kosmologi bukan hanya tumpukan data kalkulatif, tumpukan foton yang tertangkap oleh piringan observatorium, atau simulasi numerik di dalam superkomputer. ia adalah medan pertempuran ontologis di mana akal budi manusia senantiasa bergulat dengan limitasi eksistensial dan horizon kepengamatannya sendiri.
Kosmologi adalah sebuah peculiar science, atau sebuah sains yang unik, aneh, dan penuh kejanggalan metodologis karena objek kajiannya hanyalah satu-satunya kosmos unik yang kita huni dari dalam, tanpa pernah memberikan kita kemewahan untuk mengambil jarak pengamatan ex nihilo ala Descartes.
Sejarah kosmologi kontemporee itu sendiri lahir dari keberanian Albert Einstein meninggalkan positivisme naif ala Ernst Mach. Walaupun positivisme Mach sempat membantu Einstein merumuskan relativitas khusus pada tahun 1905 lewat definisi operasional yang ketat atas konsep keterserentakan (simultaneity).
Einstein segera menyadari dalam kalkulasi relativitas umum pada tahun 1916 bahwa positivisme hanyalah alat sterilisasi yang tidak akan pernah melahirkan wawasan baru selain membinasakan kutu-kutu yang mengganggu.
Mach membayangkan sains hanya sebagai penghematan pemikiran (economy of thought) yang merangkum sensasi-sensasi indrawi. Bila Einstein tetap setia pada kedangkalan Machian ini, ia tidak akan pernah memprediksikan bahwa gravitasi merupakan manifestasi dari kelengkungan ruang-waktu. Sebuah entitas teoretis spekulatif yang melompati data indrawi langsung.
Sejarah penemuan elektron menunjukan dengan sangat benderang kepalsuan fetisisme empiris ini. Walter Kaufmann di Berlin melakukan eksperimen pengukuran rasio muatan terhadap massa elektron dengan presisi laboratorium yang jauh lebih tinggi dibandingkan J.J. Thomson di Inggris.
Akan tetapi, mengapa sejarah sains mencatat Thomson sebagai penemu elektron? Jawabannya terletak pada pilihan kerangka epistemis. Kaufmann terjerat oleh iklim positivisme Jerman yang mengharamkan spekulasi atas objek-objek terselubung (unobservable entities) serta menolak melangkah lebih jauh dari kurva data empirisnya.
Sebaliknya, Thomson diasuh dalam tradisi fisika Inggris Newtonian yang terbiasa melompati fakta teramati untuk mengajukan hipotesis spekulatif tentang eksistensi partikel dasar baru.
Di sini saya menegaskan dengan sangat radikal, bahwa tanpa lompatan imajinatif dan intuitionism yang menembus batas-batas fakta kasar, sains akan lumpuh menjadi katalogisasi data yang membosankan, sebuah buletin statistik yang steril dari pencapaian kebenaran.
Keserangan destruktif Herbert Dingle pada kosmologi modern menginsinuasikan betapa piciknya pandangan yang hendak membelenggu keilmuan dalam kurungan induktivisme mentah.
Dingle menuding kosmologi modern sebagai "kosmitologi" atau sains semu hanya karena kosmologi bersandar pada Prinsip Kosmologis (sebuah andaian a priori tentang homogenitas dan isotropi agihan materi-energi alam semesta pada skala besar).
Ia menuntut agar prinsip-prinsip sains mesti lahir dari generalisasi empiris murni dari bawah ke atas. Ini merupakan kebebalan metodologis yang sempurna. Prinsip Kosmologis justru menjadi tulang punggung metodologis yang memungkinkan para kosmolog meruntuhkan lokasitas egois manusia.
Dengan mengandaikan bahwa tidak ada posisi istimewa di dalam kosmos (non-privileged observer), hukum-hukum fisika lokal bisa diekstrapolasikan secara universal ke teritori ruang-waktu yang tak pernah terjangkau oleh mata telanjang dan instrumen observasi tercanggih.
Kebenaran Prinsip Kosmologis ini lalu mendapat konfirmasi historis yang gemilang melalui pendeteksian Radiasi Latar Gelombang-Renik Kosmik (Cosmic Microwave Background Radiation atau CMBR) oleh Arno Penzias dan Robert Wilson pada tahun 1965.
Fenomena ini membuktikan secara telak bahwa kosmologi modern hanya mungkin bertunas karena keteguhan para pionirnya untuk membebaskan diri dari jeratan skeptisisme positivistik yang dangkal.
Bila menjejaki akar konflik epistemologis ini lebih jauh ke belakang, kita menyaksikan bagaimana cosmos purba ditata di bawah naungan filsafat Aristoteles yang lalu dibingkai secara ketat oleh teologi Kristiani Abad Pertengahan.
Aristoteles membelah realitas menjadi dua domain yang terpisah secara ontologis dan hierarkis, diantaranya Bumi yang fana, rapuh, dipenuhi pembusukan, dan berada di bawah orbit Bulan (sublunary sphere), serta Langit yang abadi, sempurna, tidak berubah, serta tersusun atas elemen kelima yang tak tersentuh yakni eter (superlunary sphere).
Claudius Ptolemeus pada abad ke-2 memperparah dikotomi ini dengan mendepak fisika dari astronomi. Ptolemeus menganggap penyelidikan kausalitas fisis sebagai spekulasi kabur yang tak berujung, lalu mengkerdilkan astronomi sekadar sebagai alat komputasi matematis untuk "menyelamatkan fenomena" (saving the appearances) dan meramal posisi benda-benda langit lewat lingkaran deferen dan episiklis yang artifisial.
Implikasinya sungguh dahsyat. Kosmologi dikeluarkan dari risalah fisika empiris dan diserahkan sepenuhnya menjadi monopoli teologi dan metafisika spekulatif. Thomas Aquinas dan Dante Alighieri lalu menyusun arsitektur kosmos yang highly sacralized, di mana geografi fisik kosmos dipaksakan berhimpit secara sempurna dengan peta moral teologis.
Neraka ditaruh di pusat Bumi yang diam dan terendah, sementara Surga ditemparkan di balik kubah bintang-bintang tetap yang tak bergeming. Menggeser Bumi dari pusat tata surya dalam kosmologi geosentris ini tidak hanya masalah koreksi orbital atau komputasi geometris, tapi pembongkaran radikal untuk hierarki moral dan spiritual yang memposisikan manusia sebagai panggung utama dari pementasan drama penyelamatan ilahi (divine drama of salvation).
Menumbangkan geosentrisme berarti membuang doktrin bahwa manusia adalah pusat perhatian Sang Pencipta. Dekonstruksi tata kosmos sakral ini dimulai tatkala Galileo Galilei mengarahkan teropong teleskopnya ke langit malam pada musim dingin tahun 1609.
Melalui Sidereus Nuncius (The Starry Messenger, 1610) dan Letters on Sunspots (1613), Galileo menelanjangi cacat-cacat kasar berupa pegunungan dan kawah pada permukaan Bulan, serta bintik-bintik bergerak yang membusuk pada permukaan Matahari.
Penemuan ini secara mendasar mendekomposisi doktrin Aristotelian tentang kekekalan materi langit. Langit ternyata sama fananya, sama berubahnya, dan memiliki sifat fisis yang tidak berbeda sedikit pun dari Bumi. Langit dihilangkan sifat keramatnya (desacralized) dan diseret turun dari tahta metafisik menjadi sekadar objek fisika biasa yang dapat ditakar, dihitung, dan dibedah.
Gugatan Galileo pada otoritas Gereja dalam inkuisisi tahun 1633 sebenarnya bukan penolakan terhadap imannya. Itu adalah bentuk tuntutan rasional mengenai diferensiasi metodologis antara sains dan hermeneutika kitab suci.
Galileo secara brilian mengutip Kardinal Caesar Baronio bahwa "Kitab Suci mengajarkan bagaimana orang pergi ke Surga, bukan bagaimana Surga bergerak" (how to go to heaven, not how the heavens go). Namun, benturan itu menunjukan jurang epistemologis yang tak terjembatani antara sikap senantiasa meragu dan merevisi dalam sains dengan kehendak dogma agama untuk mempertahankan kepastian ontologis yang terberi secara absolut.
Kasus Galileo menjadi preseden historis bahwa krisis epistemologis selalu terjadi dikala sains menolak otoritas tekstual sebagai alat verifikasi realitas fisis. Di tengah turbulensi teologis atas gagasan Nicolaus Copernicus tentang heliosentrisme, muncul sebuah manuver epistemologis yang amat licik tapi berdampak penyelamatan secara pragmatis.
Andreas Osiander membubuhkan kata pengantar anonim tanpa seizin Copernicus dalam karya monumental De revolutionibus orbium coelestium (1543). Osiander menyuntikkan posisi instrumentalisme radikal.
Ia menegaskan bahwa hipotesis heliosentris Copernicus tidak perlu dipercaya sebagai kebenaran ontologis tentang realitas fisis yang sebenarnya, namun cukup dipandang sebagai alat kalkulasi matematis yang efisien untuk memprediksi posisi planet secara pragmatis.
Kebohongan intelektual Osiander ini berhasil menimang hierarki Gereja dalam ketenangan palsu selama tujuh puluh tahun sebelum buku tersebut akhirnya dimasukkan ke dalam Index Librorum Prohibitorum (daftar karya terlarang).
Namun, justru dalam rentang tujuh puluh tahun ketenangan artifisial itulah, instrumen matematis Copernicus ditelaah, dipelajari, dan dihidupkan secara realistik oleh pemikir-pemikir genial seperti Johannes Kepler dan Galileo Galilei.
Saya melihat Johannes Kepler sebagai sosok spektakuler yang berhasil menjahit kembali pecahan-pecahan empiris menjadi harmoni rasional yang megah. Mewarisi tumpukan data observasi yang sangat presisi dari Tycho Brahe, data yang menunjukkan adanya anomali gerak planet Mars sebesar 8 menit busur dari perhitungan lingkaran heliosentris.
Kepler tidak menanggalkan sistem Copernicus. Ia melakukan perombakan radikal dengan membuang prasangka dogmatis Aristotelian tentang kesempurnaan orbit lingkaran dan menggantinya dengan orbit elips.
Ketiga hukum gerak planet Kepler lahir sebagai bentuk generalisasi empiris yang menakjubkan, dikerjakan di sebuah observatorium berkabut tanpa bantuan teleskop maupun geometri analitik Modern. Bagi Kepler, nalar manusia mampu menterjemahkan "musik langit" (Harmonices Mundi) dan menangkap geometri ilahi yang terbentang di alam raya.
Puncak dari mekanisasi kosmos ini menjelma secara sempurna dalam sosok Isaac Newton. Melalui Philosophiae Naturalis Principia Mathematica (1687), Newton berhasil mengompilasi mekanika bumi (jatuhnya apel) dan mekanika langit (orbit bulan) ke dalam satu kerangka hukum gravitasi universal yang elegan.
Entitas-entitas metafisik Abad Pertengahan seperti causa finalis (sebab akhir) dan kualitatif entitas Aristotelian disapu bersih tanpa sisa, digeser oleh entitas-entitas mekanis yang terukur secara kuantitatif, seperti massa, gaya, percepatan, ruang mutlak, dan waktu mutlak.
Newton menyusun "Kaidah-kaidah Penalaran" (Rules of Reasoning in Philosophy) yang memadukan deduksi matematis yang ketat dengan induksi empiris. Alam semesta kini dipahami sebagai sebuah mesin jam raksasa (god as a watchmaker) yang beroperasi secara deterministik murni.
Di dalam horizon ini, sebagaimana diteriakkan oleh Pierre-Simon Laplace kelak, seorang demon yang mengetahui posisi dan momentum seluruh partikel saat ini akan mampu mengkalkulasikan masa depan dan masa lalu kosmos secara absolut tanpa cela.
Namun, saya harus membongkar paradoks internal dan kebohongan metodologis yang menghantui proyeksj kosmologi Newtonian ini. Gaya gravitasi yang diusulkan Newton sebagai daya tarik universal jarak jauh (action-at-a-distance) justru menyimpan kelemahan ontologis yang fatal.
Newton gagal total mengeksplanasikan apa mekanisme fisis sebenarnya yang menyalurkan gaya gravitasi tersebut melintasi ruang hampa.
Kritikus tajamnya, Gottfried Wilhelm Leibniz, menyindir keras bahwa gravitasi Newtonian tidak lain adalah sebuah "gaya gaib" (occult force) atau hipotesis spekulatif yang tidak mengandung penjelasan fisis murni, sebuah mukjizat tersembunyi yang bahkan Tuhan pun tak sanggup menyingkirkannya tanpa merusak tatanan mekanis.
Newton sendiri terdesak oleh kritik ini dan akhirnya mengaku secara jujur dalam General Scholium pada edisi lanjutan Principia serta karya Opticks-nya: "Hypotheses non fingo" (Aku tidak merumuskan hipotesis). Newton menyerah untuk mendedahkan mengapa gravitasi ada, dan memilih sekadar menjelaskan bagaimana ia bekerja secara matematis.
Lebih mengerikan lagi daripada kegagalan kausalitas ini adalah Paradoks Gravitasi Kosmik. Bila setiap materi di alam semesta saling tarik-menarik dengan gaya gravitasi yang berbanding terbalik dengan kuadrat jarak, mengapa alam semesta yang diisi oleh bertriliun bintang tidak runtuh seketika (gravitational collapse) menjadi satu gumpalan mampat yang hancur di pusatnya?
Ketika teolog Richard Bentley mendesak Newton dengan argumentasi destruktif ini lewat korespondensi mereka, Newton terpaksa melompati batas-batas keilmuan mekanisnya dan memanggil kembali "Tangan Tuhan".
Newton menyatakan bahwa alam semesta harus berukuran tak berhingga dan diatur secara presisi oleh Tuhan yang hadir di segala tempat (sensorium God). Tuhan secara konstan harus turun tangan mengintervensi, mengoreksi perturbasi orbital, bahkan mereintegrasi bagian-bagian alam semesta agar tidak ambruk oleh tarikan gravitasinya sendiri.
Di sini kita menyaksikan betapa sains fisika paling agung pada abad ke-17 pun pada akhirnya harus berlutut, mengemis, dan meminjam mukjizat teologis demi menutupi cacat logis dan ketidaklengkapan dalam teorinya sendiri.
Pembongkaran terhadap kedudukan manusia dalam kosmos tidak berhenti pada mekanisasi ruang angkasa Newtonian, namun berlanjut pada penghancuran martabat biologis dan psikologis manusia secara sistematis. Charles Darwin melalui On the Origin of Species (1859) dan The Descent of Man (1871) menyeret manusia keluar dari tahta istimewa sebagai puncak penciptaan ilahi.
Manusia didegradasi sekadar sebagai produk kebetulan (contingency) dari mekanisme acak seleksi alam dan variasi genetis yang tidak memiliki arah teleologis sama sekali. Rasionalitas yang diagung-agungkan manusia ternyata bukan pancaran citra ilahi (imago Dei), tapi hanya alat adaptasi biologis yang muncul dari permainan acak antara keniscayaan fisis dan kebetulan radikal.
Lalu Sigmund Freud datang melengkapi proses pengkerdilan manusia ini dengan mendekonstruksi ilusi kesadaran rasional Pencerahan.
Freud memperlihatkan lewat psikoanalisis bahwa di balik kesadaran rasional manusia yang bangga akan pengetahuan obyektifnya, terselubung samudera tak sadar (the unconscious) yang dikuasai oleh dorongan-dorongan irasional, libido, serta ketakutan bawaan yang tak terkuasai.
Kombinasi antara determinisme mekanis Newton, kontingensi biologis Darwin, dan irasionalitas psikologis Freud sudah mencabut seluruh kualitas spiritual dan makna intrinsik dari alam semesta. Manusia kini terlempar ke dalam sebuah kosmos yang asing, dingin, bisu, dan tidak peduli.
Seperti yang direfleksikan secara mendalam oleh Michael Polanyi, kita telah berhasil membangun sebuah sains yang luar biasa impersonil dan obyektif, namun harganya yang harus dibayar adalah terciptanya sebuah kosmos tempat manusia sendiri tidak lagi memiliki rumah atau tempat tinggal spiritual di dalamnya.
Di dalam konteks kebingungan kosmologi Newtonian yang mengandaikan alam semesta takterbatas dan statis ini, mencuat sebuah enigmatis epistemis yang begitu memalukan komunitas keilmuan selama lebih dari tiga abad.
Enigma tersebut adalah kegelapan langit malam, yang dalam literatur sains modern dikenal secara sangat tidak tepat sebagai Paradoks Olbers. Risalah ini mendedahkan sebuah dekonstruksi radikal pada kegelapan langit malam ini.
Ketika akal sehat yang dangkal menerima kepekatan malam sebagai rutinitas banal tanpa makna, benak para kosmolog dan astronom dari abad ke-17 hingga pertengahan abad ke-20 terjebak dalam belenggu epistemik yang mestinya tidak perlu ada bila mereka jujur pada premis teoritis mereka sendiri.
Paradoks Olbers, sebuah nama yang sejatinya menyimpan ketidaktepatan historis karena telah dipikirkan jauh sebelum Heinrich Wilhelm Olbers menulisnya pada tahun 1823, menjadi panggung di mana pretensi keilmuan secara laten terantuk pada ilusi matematik seeta kebingungan ontologisnya sendiri.
Eksistensi kegelapan malam adalah sebuah jejak retoris mengenai bagaimana rasionalisme Barat gagap mendamaikan ketegangan antara postulat teoretis dan fakta observasional yang paling telanjang. Substansi utama yang melandasi kebuntuan sains selama tiga ratus tahun ini berakar pada ketakutan metafisis yang infantil, sebuah horror infiniti.
Disaat Thomas Digges pada tahun 1576 membongkar tembok batas kosmos Copernicus untuk meluaskan sebaran bintang-bintang hingga takhingga ke ruang kosmik, ia tanpa sadar melemparkan manusia ke dalam ruang tanpa batas dan tanpa pusat yang mengerikan. Kengerian atas ruang takhingga ini lalu secara bertahap berkutat dengan benturan kalkulasi matematis sederhana.
Bila alam semesta takterbatas (infinite in extent), berumur kekal (infinite in age), dan bintang-bintang tersebar secara seragam (homogenous distribution) di segala penjuru ruang, maka setiap garis pandang (line of sight) pengamat dari Bumi niscaya dan tidak bisa tidak akan terdampar pada permukaan sebuah bintang.
Logika ini senada dengan seseorang yang berdiri di tengah hutan yang tak bertepi, ke mana pun matanya memandang, pandangannya akan terhalang oleh batang pohon. Implikasi fisis dari premis ini sungguh mengerikan. Langit malam, secara teoretis, mestinya berubah menjadi dinding radiasi yang membakar, silau, dan memiliki kecerlangan yang sebanding dengan piringan Matahari.
Namun, kebalikan dari kalkulasi teoretis ini, langit malam tetap gelap gulita dengan tenang. Inkonsistensi ini terjadi ketika Isaac Newton, demi menyelamatkan sistem mekanika gravitasinya agar tidak runtuh oleh tarikan materinya sendiri, terpaksa mengimpor "tangan Tuhan" ke dalam kosmologinya dan mempertahankan model alam semesta takterbatas yang statis.
Sains Newtonian di sini memamerkan kecacatannya yang paling telanjang, ia membangun sistem statik dan serbasama yang secara logis tidak konsisten, lalu menutup keretakan epistemis tersebut dengan apologetika teologis yang artifisial.
Di tengah inkapasitas para astronom kelas satu (termasuk Johannes Kepler, Edmond Halley, Jean-Philippe Loys de Chéseaux, hingga Olbers sendiri) untuk memecahkan ilusi teoretis ini, sebuah ironi sejarah yang sangat menggelikan mencuat.
Pemecahan teka-teki yang menghantui para rasionalis positivistik malah datang dari intuisi kognitif seorang penyair dan sastrawan Gotik Amerika, Edgar Allan Poe. Dalam sajak-prosa spekulatifnya yang berjudul Eureka: A Prose Poem (1848), Poe melompati kerumitan matematis yang menjerat para fisikawan dengan menegaskan dua variabel kunci yang secara konsisten diabaikan oleh positivisme sains masa itu, diantaranya kecepatan cahaya yang berhingga (finite speed of light) dan umur alam semesta yang terbatas (finite age of the universe).
Poe membedah logika alam semesta dengan kesadaran intuitif bahwa menatap kedalaman ruang adalah sama artinya dengan menembus rentang waktu (looking deep into space is looking back into time). Ia menulis dengan keindahan retoris yang menembus jantung kosmologi, dimana kegelapan celah di antara bintang-bintang merupakan pesan dari masa lalu bahwa berkas cahaya dari bintang-bintang di latar jauh belum memiliki cukup waktu sejak awal penciptaan untuk sampai ke mata manusia.
Bintang-bintang itu belum cukup umur untuk mengisi seluruh cakrawala pengamatan kita. Cakrawala foton kita terbatas oleh umur alam semesta. Secara kuantitatif dan formal, eksplanasi intuitif Poe itu kelak dikukuhkan secara ketat oleh William Thomson (Lord Kelvin) pada tahun 1901.
Kelvin membongkar hipotesis tua tentang serapan materi antarbintang yang kerap dijadikan kambing hitam penyelamat oleh para astronom seperti Chéseaux dan Olbers.
Hipotesis serapan tersebut sejatinya adalah sebuah absurditatis fisika, bila medium antarbintang menyerap radiasi dahsyat dari trilyunan bintang demi menyembunyikan cahayanya, termodinamika membuktikan bahwa medium itu sendiri akan terpanggang hingga temperaturnya menyamai piringan bintang dan memancarkan kembali radiasi yang sama silunya.
Dengan kalkulasi masa hidup kecerlangan bintang berdasarkan ketersediaan bahan bakar nuklirnya (skalawaktu Kelvin-Helmholtz), Kelvin membuktikan bahwa waktu transit cahaya dari batas alam semesta yang disyaratkan agar langit terang benderang jauh melampaui umur hidup bintang itu sendiri.
Bintang-bintang di ruang latar telah keburu padam, kehabisan energi, dan fana sebelum pancaran cahayanya sempat menyapa dan membakar Bumi.Gagalnya kosmologi modern dalam mencerna teka-teki nokturnal ini kian diperparah oleh kekeliruan metodologis pada pertengahan abad ke-20.
Ketika Hermann Bondi, Thomas Gold, dan Fred Hoyle mengibarkan bendera Steady State Theory. Bondi mengklaim bahwa efek ingsutan-merah (redshift), yakni melarnya gelombang cahaya akibat pemuaian ruang, adalah simptom utama yang menyelamatkan Bumi dari pendaran panas Paradoks Olbers.
Bondi secara sembrono memproyeksikan asumsi-asumsi ilmiah modern ke dalam teks-teks historis Olbers dan mengonstruksikan argumen yang secara konseptual mengecoh komunitas akademik. Edward Harrison lalu membedah kebohongan intelektual ini secara elegan dalam karyanya Darkness at Night.
Harrison memperlihatkan bahwa pemuaian kosmos dan ingsutan-merah akibat efek Doppler/Relativistik hanyalah jawaban sekunder yang tidak mendasar. Paradoks Olbers sejatinya gugur karena hukum kekekalan energi dan fakta termodinamika murni.
THE UNIVERSE IS CUT OFF BY LACK OF ENERGY
Kerapatan materi dan energi radiasi bintang yang ada di dalam kosmos kita tidak pernah memadai. Bahkan bila seluruh materi yang ada diubah menjadi radiasi murni dengan efisiensi seratus persen, untuk membuat kosmos berada dalam kesetimbangan termodinamika yang cerlang.
Kegagalan berlarut-larut dalam mengurai teka-teki nokturnal ini menyingkap tabir habitus komunitas keilmuan yang sarat kecerobohan historis, pengabaian fakta, serta ketakutan sosiopolitik.
Banyak astronom abad ke-19 sengaja memalingkan muka dari fakta kecepatan cahaya yang berhingga karena implikasi temporalnya secara langsung meremukkan garis waktu literal Kitab Kejadian dan memantik perdebatan sengit mengenai skala waktu geologis serta evolusi.
Komunitas ilmiah terbelenggu dalam dogmatisme mereka sendiri, mengutip secara ceroboh karya-karya terdahulu tanpa membaca sumber orisinil, sampai menciptakan "paradoks di atas paradoks". Pada akhirnya, kegelapan langit malam menjadi cermin dari paradoks antropologi-kosmologis.
Manusia, demi mengamati kosmos secara objektif, mengasingkan dirinya dari alam dan berdiri menatap ketiadaan. Kegelapan malam adalah penanda mutlak bahwa kita mendiami alam semesta yang berevolusi dari satu titik awal yang terbatas di masa lalu, di mana di balik pendaran halus radiasi latar kosmik.
Sains senantiasa terbentur pada dinding batas pengetahuannya sendiri, lalu secara perlahan mengembalikan kosmologi menjadi pertanyaan antropologis tentang arti keberadaan manusia di tengah kesenyapan ruang..
Keterbelahan eksistensial ini mencapai puncaknya pada perdebatan abad ke-20 dikala kosmologi bertransisi dari spekulasi filosofis-astronomis menjadi sains observasional yang presisi.
Penemuan Edwin Hubble pada tahun 1929 mengenai hukum pemuaian kosmik (v = H_0 d) berdasarkan data ingsutan-merah (redshift) galaksi-galaksi jauh yang dikumpulkan dengan tekun oleh Vesto Slipher telah mentransformasikan lanskap bernalar manusia secara dramatis dan irreversibel.
Persamaan relativitas umum Einstein, yang sebelumnya coba dipaksakan oleh dia sendiri untuk menghasilkan model kosmos statis melalui penambahan konstanta kosmologis \Lambda secara tidak elegan, ternyata secara alami menuntut pemahaman tentang ruang-waktu yang dinamis, memuai, atau menyusut, sebagaimana dieksplorasi secara teoretis oleh Alexander Friedmann dan Georges Lemaître.
Georges Lemaître, seorang fisikawan yang juga seorang imam Katolik, secara berani mengajukan hipotesis "Atom Primordial" (Primeval Atom) di tahun 1931. Ia mengekstrapolasikan pemuaian kosmik secara terbalik ke masa lalu menuju satu titik asal konvergen tempat seluruh materi, energi, ruang, dan waktu terperas dalam kerapatan dan suhu tak hingga.
Penemuan radiasi latar gelombang-renik kosmik (CMBR) oleh Arno Penzias dan Robert Wilson pada tahun 1965 seakan memberi piala kemenangan mutlak bagi teori Big Bang atas model Steady State.
Namun, di sinilah benturan epistemologis dan teologis kembali meletus dengan sangat hebat. Para agamawan, apologet teologi, dan bahkan Paus Pius XII menyambut model Big Bang dengan euforia histeris. Mereka menganggap bahwa sains fisika akhirnya secara empiris telah membuktikan doktrin dogmatis creatio ex nihilo (penciptaan dari ketiadaan) dan berhasil menemukan titik waktu penciptaan oleh Tuhan.
Robert Jastrow dengan nada puitis-ironis menggambarkan momen ini dalam bukunya God and the Astronomers:
bagaimana para ilmuwan yang bersusah payah mendaki gunung ketidaktahuan dengan mengandalkan rasionalisme murni, saat berhasil merayap mencapai undakan batu teratas justru disambut oleh serombongan teolog yang telah duduk tenang di sana selama berabad-abad.
Namun, saya melihat bahwa euforia teologis atas Big Bang ini bersandae pada pemahaman yang teramat dangkal, naif, dan tergesa-gesa mengenai apa itu singularitas matematis.
Dalam kerangka teoritis relativitas umum klasik, singularitas titik nol (t = 0) merupakan sebuah kondisi di mana rapatan materi dan kurvatur ruang-waktu menjadi tak berhingga, yang mengakibatkan seluruh hukum fisika yang kita kenal mengalami degradasi total dan secara matematis tidak terdefinisi.
Bagi penganut epistemologi kritis dan anti-realisme sains, singularitas bukanlah sebuah peristiwa historis-ontologis di mana Tuhan menekan tombol penciptaan ruang-waktu, tapi penanda bagi batas konseptual dan kegagalan teoritis dari teori relativitas umum itu sendiri.
Singularitas menunjukan ketaklengkapannya kerangka teoritis Einstenian ketika dipaksa beroperasi pada skala Planck di mana efek-efek mekanika kuantum tidak boleh lagi diabaikan. Upaya-upaya kosmologi kontemporer untuk melompati rintangan singularitas ini malah semakin menjauhkan kita dari kebutuhan akan campur tangan ilahi.
Alan Guth merumuskan model Inflasi Kosmik pada tahun 1980 yang memantulkan bagaimana kosmos memuai secara eksponensial super-luminal pada detik-detik awal (10^{-36} detik setelah eksistensi). Inflasi ini meratakan kelengkungan ruang dan menghapus monopol magnetik, sehingga kondisi alam semesta saat ini menjadi sehingga tidak peka terhadap syarat batas awal (initial conditions).
Dalam bahasa Alan Guth yang sangat terkenal dan provokatif, seluruh alam semesta ini pada hakikatnya adalah sebuah "makan siang gratisan yang paling agung" (the ultimate free lunch), di mana energi positif materi diimbangi secara sempurna oleh energi negatif gravitasi sehingga total energi kosmos adalah tepat nol.
Sementara itu, Stephen Hawking bersama James Hartle merumuskan pendekatan Kosmologi Kuantum melalui proposal No-Boundary Condition. Dengan mengintroduksi konsep waktu imajiner (t \to it) dalam fungsi gelombang alam semesta melalui formulasi sum-over-histories Richard Feynman, Hawking secara brilian berhasil melenyapkan singularitas awal t=0.
Ruang-waktu diubah menjadi sebuah manifold mulus empat dimensi ruang tanpa batas waktu. Ruang-waktu menjadi berhingga namun tidak memiliki batas atau tepi fisis, persis seperti permukaan bola Bumi yang luasnya berhingga namun tidak memiliki ujung atau jurang tempat seseorang bisa jatuh.
Bila alam semesta tidak memiliki awal temporal dan tidak memiliki batas geometri, ia tidak pernah diciptakan dan tidak bisa dimusnahkan, ia ada begitu saja dari fluktuasi kuantum yang membeku.
Dengan dingin Hawking melemparkan kuriositas provokatif yang menelanjangi teologi tradisional: "Kalau demikian halnya, masih tersisakah peran bagi Sang Pencipta?" (What place, then, for a creator?).
Alexander Vilenkin melangkah lebih jauh dengan mengajukan model Quantum Creation from Nothing, di mana alam semesta tercipta melalui mekanisme penembosan rintangan kuantum dari keadaan geometri hampa tanpa ruang, tanpa waktu, dan tanpa materi klasik sama sekali.
Tantangan filosofis radikal dari model-model kuantum ini bukanlah ide bahwa kosmos berasal dari kehampaan fisis belaka, ia merupakan implikasi bahwa keberadaan alam semesta ini adalah konsekuensi matematis yang tak terhindarkan dari hukum-hukum fisika kuantum itu sendiri.
Tuhan, dalam skenario ilmiah modern ini, tereduksi sekadar menjadi God of the gaps, entitas hipotesis yang hanya dipanggil oleh rasa cemas manusia untuk mengisi retakan-retakan ketidaktahuan sains sementara waktu, lalu dibuang kembali tanpa penyesalan saat sains berhasil menyajikan penjelasan rasionalnya yang mutakhir.
Namun, apakah kosmologi abad 21 yang didominasi oleh konsensus Model Standar Cosmological, di mana alam semesta terdiri dari 5% baryonic matter, 23% cold dark matter, dan 72% dark energy, ini sungguh-sungguh telah berhasil memecahkan teka-teki eksistensi secara utuh?
Sama sekali tidak! Ini adalah titik di mana sains di era kontemporee kembali memamerkan ketelanjangannya. Energi gelap, yang kini diyakini bertanggung jawab atas percepatan pemuaian alam semesta sebagaimana ditemukan oleh tim High-Z Supernova pada tahun 1998, masih merupakan hipotesis hantu yang wujud ontologis konkretnya tidak diketahui sama sekali oleh para fisikawan.
Ia bisa jadi adalah konstanta kosmologis Einstein yang dihidupkan kembali tanpa pemahaman mendasar, atau penanda mutlak bahwa teori relativitas umum itu sendiri mengalami dekomposiai pada skala kosmik dan perlu direvisi total.
Bila energi gelap ini terus menguasai evolusi kosmos secara konstan, maka di masa depan yang sangat jauh (sekitar ratusan miliar tahun lagi), seluruh galaksi di luar Grup Lokal kita akan saling menjauh melampaui cakrawala pengamatan dengan kecepatan melebihi cahaya.
Semua data empiris tentang radiasi latar kosmik, pemuaian galaksi, bahkan kelimpahan elemen ringan akan terhapus secara permanen dari langit malam.
Manusia atau makhluk cerdas di masa depan yang lahir di epoh tersebut tidak akan lagi memiliki bukti empiris apa pun untuk menyimpulkan bahwa alam semesta mereka pernah berawal dari Big Bang atau pernah memuai.
Mereka akan terjerat dalam ilusi bahwa alam semesta hanyalah satu galaksi statis yang terisolasi di tengah kehampaan abadi. Pengetahuan ilmiah kita ternyata sangat rapuh dan terikat secara absolut oleh epoh kosmologis di mana kita kebetulan hidup.
Sifat problematis dari kosmologi modern memaksa kita untuk menguliti kosmologi sebagai sebuah Peculiar Science. Tidak seperti ilmu fisika laboratorium seperti mekanika kuantum atau termodinamika yang bisa mengulang-ulang eksperimen dengan variabel terkontrol dan populasi sampel yang besar.
Beberapa waktu belakangan saya begitu terbenam dengan sehingga berkonklusi bahwa ia hanya memiliki satu objek kajian tunggal, alam semesta tempat kita berada di dalamnya. Logika induktif standar yang menjadi fondasi positivisme mengalami kelumpuhan total di sini.
Kita tidak memiliki sampel alam semesta lain untuk diperbandingkan. Di sinilah berlaku tesis epistemologis Duhem-Quine tentang Underdetermination of Theory by Data, sebagaimana dianalisis secara sangat mendalam oleh fisikawan dan filsuf seperti Pierre Duhem dan George Ellis.
Karena data observasional yang dapat dikumpulkan oleh manusia senantiasa terbatas oleh particle horizon dan diisolasi oleh batasan kecepatan cahaya, selalu ada jurang semantik yang tak terbratani antara data empiris yang diperoleh dengan konstruksi teoretis universal yang dibangun.
Berbagai model kosmologis yang secara ontologis saling kontradiktif, misalnya model kosmos tunggal dengan inflasi versus model Multiverse (akan saya eksplanasikan dibagian bawah, atau model relativitas umum versus teori gravitasi terdefleksi (f(R) gravity), dapat memiliki kesetaraan empiris yang sama persis pada korpus data observasional yang sama.
Ini mengindikasikan secara telak bahwa kosmologi sains tidak pernah menyajikan kebenaran ontologis absolut tentang kosmos ansich, namun sekadar konstruksi model rasional yang dibatasi oleh horizon kepengamatan kita.
Di sinilah kita berhadapan dengan Ciri Antropologis Pengetahuan yang paling mendasar dan tak terelakkan. Manusia adalah makhluk yang berada di dalam alam semesta yang sedang diselidikinya.
Kita tidak pernah memiliki posisi penonton independen (God’s-eye view) di luar ruang-waktu untuk mencermati kosmos sebagai objek netral yang terpisah secara jernih ala dualisme Cartesius. Kita merupakan bagian dari materi kosmos yang telah berevolusi hingga mampu berpikir dan mengamati dirinya sendiri.
Prinsip Antropik (akan saya paparkan dibawah), yang acap kali menimbulkan kontroversi dan kesalahpahaman di kalangan komunitas saintifik, sebenarnya menegaskan syarat batas eksistensial ini.
Diformulasikan pertama kali oleh Brandon Carter pada tahun 1973 sebagai peringatan metodologis (heuristic principle), Prinsip Antropik Lemah (Weak Anthropic Principle) berargumen bahwa posisi kita di dalam ruang dan waktu kosmik niscaya diistimewakan oleh syarat keberadaan kita sebagai pengamat.
Alam semesta yang kita amati harus memiliki sifat-sifat dan tetapan-tetapan fisis yang membuka posibilitas kehadiran pengamat cerdas berbasis karbon di dalamnya.
Tanpa penataan tetapan-tetapan dasar fisika yang sedemikian presisi seperti konstanta gravitasi G, massa elektron, rasio kekuatan gaya nuklir kuat terhadap gaya elektromagnetik, dan besaran konstanta kosmologis \Lambda, kehidupan berbasis kimia karbon tidak akan pernah lahir, bintang-bintang tidak akan memproduksi unsur berat lewat nukleosintesis, dan tidak akan ada manusia yang berdiri di atas Bumi untuk mempertanyakan asal-usul kosmos.
Sikap eksploitatif teologis serupa kerap nampak pada pembacaan atas Prinsip Antropik ini. Kebetulan-kebetulan matematis dari konstanta dasar alam ini acap kali dibajak secara teleologis oleh penganut Intelligent Design untuk mengklaim bahwa kosmos sengaja "dirancang" oleh Tuhan demi menghadirkan manusia sebagai puncaknya.
Prinsip Antropik Kuat yang ditafsirkan secara mistis-antroposentris merupakan sebuah kekeliruan epistemis. Prinsip antropik bukanlah bukti ontis akan adanya Sang Perancang Transenden, tapi hanya jawaban epistemologis-pragmatis
Kita mengamati kosmos bernilai demikian karena hanya dalam kosmos dengan parameter itulah makhluk berkesadaran seperti kita bisa hadir untuk mengajukan kuriositas.
Bila parameternya berbeda, kita tidak akan ada di sini untuk tertegun. Pengalaman spiritual dan pencarian makna manusia dalam berhadapan dengan misteri eksistensi pada akhirnya tidak bisa diberangus begitu saja oleh klaim-klaim reduksionis saintisme yang dangkal.
Saya teringat misalnya tradisi esoteris Nusantara seperti kisah penciptaan epik I La Galigo di Sulawesi hingga penelusuran metafisika Jawa tenrang Sangkan Paraning Dumadi (dari mana asal mula kita dan ke mana akhir tujuan keberadaan kita), manusia senantiasa berusaha merajut maknanya di tengah kemegahan kosmos yang membisu.
Menghayati kosmologi sains tidak harus berarti menerima keputusasaan nihilistik seperti yang diucapkan secara dingin oleh Steven Weinberg dalam The First Three Minutes, bahwa "makin alam semesta dapat dipahami, makin ia tampak tidak bertujuan" .
Sebaliknya, saya melihat bahwa keterbatasan fundamental sains dalam menyentuh hakikat awal dan akhir justru membuka kembali ruang kontemplasi filosofis yang dalam. Menerima cakrawala antropik berarti menerima kondisi dasar manusia, bahwa setiap langkah pengetahuan ilmiah yang berhasil kita capai pada hakikatnya adalah refleksi kritis atas ketaklengkapannya sendiri.
Samsara kosmologis ini menguji akal budi kita agar tidak terpenjara dalam dogmatisme agama yang tertutup maupun arogansi positivisme sains yang buta. Keindahan kosmologi tidak terletak pada pencarian jawaban dogmatis tentang Sangkan Paraning Dumadi, tapi pada keberanian intelektual manusia untuk terus menguji batas-batas rasionalitasnya di hadapan semesta yang hening, tanpa perlu memaksakan hadirnya entitas transenden untuk memuaskan kehausan spiritualnya yang primitif.
...
Kerap saya berkontemplasi bahwa kuriositad tentang kosmos dan keberadaan Entitas Mutlak yang meliputinya hampir selalu terjerat dalam dikotomi dangkal. Antara apologetika iman yang naif di satu sisi, dan positivisme saintifik yang kering serta reduksionistik di sisi lain.
Sehingga saya berhasrat untuk melalukan sebuah pembedahan ontologis yang tajam mengenai struktur rasionalitas manusia ketika ia berhadapan dengan totalitas ada.
Marilah kita menggeser pendulum perdebatan dari pertanyaan infantil “apakah Tuhan itu ada?” menuju sebuah argumen yang jauh lebih radikal, aporetik, dan subversif, bahwa“jika kosmos ini beroperasi di bawah kerangka keteraturan hukum alam yang niscaya dan matematis, di manakah letak kebebasan absolut Entitas Pencipta tersebut?”
Dan sebaliknya, “bila Kehendak Ilahi itu sepenuhnya bebas tanpa batas, kenapa kosmos yang dihadirkan malah memperlihatkan struktur formal-matematis yang ajak, kaku, dan dapat dihitung oleh rasio manusia yang terbatas?”.
Aporia ini saya temukan di persimpangan jalan epistemik tempat bertemunya metafisika Yunani antik, skolastisisme Abad Pertengahan, revolusi mekanistika Renaisans, hingga krisis bahasa dalam fisika kuantum modern.
Kita harus menyadari bahwa tatanan kosmik yang tampak indah dan teratur itu menyimpan sebuah kontradiksi internal yang secara historis justru menjadi motor penggerak lahirnya sains modern itu sendiri.
Ada semacam ilusi deterministik dalam cara manusia mengobservasi alam semesta. Kita cenderung memandang hukum-hukum fisika (mulai dari hukum gravitasi universal hingga mekanika gelombang) sebagai kebenaran objektif yang berdiri mandiri, seakan tatanan itu merupakan struktur absolut dari realitas itu sendiri.
Tetapi, bila kerangka ini dibenturkan dengan klaim teologis teisme Abrahamik mengenai Pencipta yang Mahakuasa (omnipotent) dan Mahabebas misalnya, keteraturan yang ajak itu mendadak bertransformasi menjadi penjara konseptual bagi Tuhan itu sendiri.
Sehingga bila Tuhan harus bersimpuh pada logika matematis dan konstelasi tetapan alam agar kehidupan dapat hadir, maka ia tidak lebih dari sekadar arsitek yang tunduk pada blueprint yang berada di luar dirinya.
Tuhan tidak lagi absolut, Ia menjadi agen yang terbatas oleh keharusan sistemik. Sebaliknya, bila kita mempertahankan doktrin kebebasan Ilahi secara radikal di mana Tuhan dapat membatalkan hukum alam kapan saja sesuai kehendak-Nya yang arbiter, maka dasar rasionalitas dari sains runtuh seketika.
Mengapa? Karena sains hanya dapat beroperasi di atas prasangka ontologis bahwa alam semesta ini ajak, teratur, dan dapat diprediksi. Dan tanpa keajakan itu, seluruh observasi ilmiah runtuh menjadi sekadar rentetan kebetulan tanpa hukum universal.
Paradoks inilah yang menjadi jantung dari seluruh debat kosmologis. Saya ingin menjejaki lintasN pemikiran manusia selama berabad-abad bergolak di antara dua kutub ekstrim ini, antara determinisme kaku yang mengorbankan kebebasan Ilahi, dan voluntarisme radikal yang mengancam rasionalitas alam semesta.
Untuk memaknai betapa dalamnya krisis ini, analisis harus ditarik mundur ke titik krusial dalam sejarah filsafat Barat, dimana ada perjumpaan antara kosmologi Aristotelian dan teologi Kristen Abad Pertengahan.
Dalam kosmologi Aristoteles, kosmos ditangkap sebagai sebuah keseluruhan yang tertata, terbatas secara spasial, memiliki tujuan imanen dan sempriternal. Kosmos Aristotelian merupakan dunia yang pejal, di mana setiap benda bergerak menuju tempat alamiahnya demi mengaktualisasikan potensinya.
Tidak ada ruang kosong, dan tidak ada momen penciptaan dari ketiadaan. Alam semesta Aristoteles adalah tatanan yang niscaya secara rasional, ia ada sebagaimana ia ada, dan tidak bisa ada secara berbeda.
Ketika korpus pemikiran Aristoteles diterjemahkan dan merembes ke dalam lanskap intelektual Eropa Abad Pertengahan pada abad ke-12 dan ke-13, terutama lewat perantara para komentator Arab seperti Ibn Rusyd (Averroes), terjadilah guncangan seismik dalam teologi Gereja.
Doktrin Aristotelian tentang keabadian kosmos serta ketiadaan ruang kosong secara langsung menggugat dogma teologis fundamental bahwa alam semesta diciptakan secara bebas oleh Tuhan dari ketiadaan pada suatu titik awal dalam waktu.
Saya berpikir, bila kosmos itu abadi dan hukum-hukumnya bersifat niscaya seperti yang diandaikan oleh Aristoteles, maka tindakan penciptaan oleh Tuhan menjadi redundan atau setidaknya kehilangan dimensi kebebasannya.
Tuhan versi Aristoteles atau Sang Penggerak Pertama yang Tak Bergerak (Primum Mobile) bukan Tuhan pribadi yang mengasihi atau memilih, namun sebuah prinsip rasional kaku yang menggerakkan alam melalui daya tarik teleologis.
Tuhan Aristotelian tidak bisa memilih untuk tidak menggerakkan kosmos. Ia tertaut oleh hakikat-Nya sendiri sebagai bentuk murni. Para teolog Abad Pertengahan segera menyadari bahaya ontologis dari Aristotelianisme ini. Bila keteraturan Aristotelian diterima secara mentah-mentah, maka kemahakuasaan dan kebebasan absolut Tuhan sedang direduksi menjadi sekadar pelayan bagi tatanan rasionalitas Yunani.
Klimaks dari perseteruan intelektual ini meletus dalam Peristiwa Kondemnasi Paris pada tahun 1277, ketika Uskup Etienne Tempier mengeluarkan dekrit yang melarang 219 proposisi filosofis yang dianggap membatasi kekuasaan Tuhan.
Di antara proposisi yang dilarang tersebut adalah gagasan bahwa Tuhan tidak bisa menciptakan lebih dari satu dunia, atau bahwa Tuhan tidak bisa menggerakkan seluruh kosmos secara garis lurus karena hal itu akan meninggalkan ruang kosong.
Dekrit Kondemnasi 1277 ini, walaupun lahir dari dorongan dogmatis otoritarian, secara tak terduga punya implikasi epistemologis yang revolusional bagi sejarah sains.
Dengan menegaskan bahwa Tuhan memiliki kebebasan absolut untuk melakukan apa saja yang tidak melibatkan kontradiksi logis, gereja secara tidak langsung menghancurkan klaim keniscayaan mutlak dari fisika Aristoteles.
Terbayang dalam imaninasi saya, bahwa bila Aristoteles mengatakan bahwa ruang kosong itu mustahil secara alamiah, teologi voluntaris menjawab bahwa Tuhan sanggup menciptakan ruang kosong jika Ia menghendakinya.
Maka, struktur alam semesta tidak lagi bisa dideduksikan semata-mata dari prinsip-prinsip rasional a priori ala Yunani, alam semesta harus diamati secara faktual-empiris untuk mengetahui struktur mana yang sungguh-sungguh telah dipilih oleh Kehendak Bebas Ilahi dari sekian banyak posibilitas yang ada.
Lalu, di tengah turbulensi intelektual pasca-Kondemnasi Paris itulah hadirlah sosok William of Ockham, seorang biarawan Fransiskan yang restrukturisasi konseptualnya mengenai teologi mengubah jalannya peradaban Barat.
Ockham mengajukan pembedaan teologis yang sangat krusial tapi berisiko tinggi, yakni pembedaan antara Kekuasaan Absolut Tuhan (potentia Dei absoluta) dan Kekuasaan Teratur Tuhan (potentia Dei ordinata).
Melalui potentia Dei absoluta, Ockham merujuk pada kekuasaan murni dan infinite dari Kehendak Ilahi sebelum Ia menentukan tatanan apa pun. Dalam domain ini, Tuhan secara potensial bebas menciptakan hukum fisika apa saja, moralitas apa saja, atau bentuk kosmos apa saja, tanpa terjerat oleh standar kebaikan atau rasionalitas eksternal.
Tidak ada konsep esensi abstrak atau "ide-ide Ilahi" Platonis yang mendikte kehendak Tuhan. Satu-satunya batas bagi potentia Dei absoluta adalah hukum non-kontradiksi formal.
Sementara itu, potentia Dei ordinata merujuk pada tatanan aktual yang sudah diputuskan dan diikat oleh Tuhan sendiri untuk beroperasi di alam semesta ini. Tuhan, melalui kebebasan absolut-Nya, telah memilih seperangkat hukum alam tertentu dan berjanji secara implisit untuk mempertahankan tatanan tersebut secara konsisten.
Tujuan utama Ockham membidani dikotomi ini adalah untuk menyelamatkan kebebasan Ilahi dari cengkeraman rasionalisme Yunani yang deterministik. Tapi saya melihat bahwa upaya radikal untuk membela kebebasan Tuhan ini justru secara tidak sengaja membidani lahirnya sekularisasi sains.
Bagaimana mekanisme paradoksal ini beroperasi? Ketika Ockham dan para pengikut aliran nominalisme memisahkan secara tegas antara kehendak bebas Tuhan dan tatanan aktual alam semesta, mereka secara efektif memutus rantai ontologis yang sebelumnya mengoneksikan alam dengan esensi Ilahi.
Alam semesta tidak lagi dipandang sebagai cerminan atau emanasi dari Struktur Rasional Ilahi yang dapat dideduksikan lewat kontemplasi teologis. Alam semesta kini dipandang sebagai sekumpulan entitas partikular yang kontingen, ia ada hanya karena Tuhan menghendakinya demikian, dan bentuknya bisa saja berbeda sama sekali.
Implikasinya sangat dahsyat bagi metode ilmiah. Bila hukum alam bersifat kontingen (hasil pilihan bebas Tuhan, bukan keniscayaan logis), maka manusia tidak bisa lagi duduk di dalam kamar untuk tertegun tentang bagaimana alam "seharusnya" bekerja berdasarkan logika murni.
Satu-satunya cara untuk mengetahui bagaimana alam semesta yang kontingen ini bekerja adalah dengan pergi keluar, melakukan eksperimen, mengukur, dan mengamatinya secara langsung. Sains empiris lahir dari puing-puing metafisika Aristotelian yang dihancurkan oleh voluntarisme teologis Ockham.
Namun, begitu sains empiris ini mendapatkan otonominya untuk mengkaji potentia Dei ordinata, para ilmuwan pelan-pelan sadar bahwa tatanan alam ini dapat dianalisis, dirumuskan, dan diprediksi secara mandiri tanpa perlu terus-menerus merujuk pada potentia Dei absoluta (kehendak absolut Tuhan).
Hukum alam yang tadinya dipahami sebagai "pilihan bebas Tuhan" perlahan-lahan mengkristal menjadi "hukum-hukum objektif yang mandiri." Tuhan, yang dipuji-puji oleh para teolog voluntaris karena kebebasan absolut-Nya yang melampaui alam, akhirnya terdorong keluar dari panggung operasional alam semesta.
Pembelaan atas kebebasan Ilahi berakhir dengan pengasingan Ilahi dari urusan empiris kosmos. Metamorfosis dari kehendak Ilahi menuju sekularisasi mekanistik bersua pada bentuk sempurnanya pada abad ke-17 melalui karya René Descartes dan Sir Isaac Newton.
Kedua filsuf alam ini berdiri di atas persimpangan jalan antara sisa-sisa teologi voluntaris dan fajar baru rasionalisme matematis. Descartes mencoba mempertahankan kebebasan absolut Tuhan dengan cara yang sangat ekstrim.
Baginya, bukan hanya hukum fisika yang diciptakan secara bebas oleh Tuhan, tetapi juga kebenaran matematis dan logika itu sendiri. Tuhan bebas membuat 2 + 2 = 5 bila Ia menghendakinya, atau membuat segitiga yang jumlah sudut dalamnya bukan 180 derajat.
Namun, setelah menetapkan kebebasan mutlak ini pada titik awal penciptaan, Descartes melakukan pemisahan ontologis yang sangat radikal antara substansi berpikir (res cogitans) dan substansi berluas/materi (res extensa).
Dengan mereduksi seluruh alam semesta materi (res extensa), Descartes memutasikan secara paeadigmatik kosmos menjadi sebuah mesin raksasa yang steril dari jiwa, tujuan, atau makna spiritual imanen.
Alam tak lagi organon yang hidup seperti dalam pandangan antik, ia menjadi sebuah instrumen mekanis yang tunduk pada hukum-hukum kekekalan gerak yang dapat dirumuskan secara matematis. Kebebasan Tuhan dikukuhkan pada aras metafisis transenden, namun alam materi diserahkan sepenuhnya pada determinisme kaku yang dapat dikalkulasikan.
Langkah ini disempurnakan oleh Isaac Newton melalui karya monumentalnya, Philosophiae Naturalis Principia Mathematica. Newton berhasil mematematisasikan seluruh dinamika kosmik di bawah satu hukum universal yang elegan, yakni hukum gravitasi.
Dalam kosmologi Newtonian, alam semesta merupakan mathematical clockwork universe. Bintang, planet, dan peluru kendali semuanya bergerak mematuhi persamaan diferensial yang sama. Namun, di manakah posisi Tuhan dalam mesin raksasa Newton ini?
Newton sendiri merupakan seorang penganut teisme yang taat, bahkan cenderung voluntaris. Bagi Newton, hukum-hukum fisika dan ruang-waktu absolut merupakan bentuk sensorium Tuhan di dalam alam.
Bahkan, disaat ia menyadari bahwa gangguan gravitasional antarplanet dapat menyebabkan ketidakstabilan pada orbit sistem tata surya dalam jangka panjang, ia mengusulkan bahwa Tuhan secara berkala akan turun tangan secara langsung untuk membenahi orbit-orbit planet tersebut, ada sebuah intervensi langsung untuk menjaga agar mesin kosmik tidak hancur.
Di sinilah kita melihat absurditas dari upaya mengintegrasikan kebebasan Ilahi dengan mekanika deterministik. Tuhan Newtonian dipaksa turun pangkat menjadi seorang "montir kosmik" (god of the gaps) yang harus mengintervensi ciptaan-Nya sendiri untuk membetulkan kekeliruan dalam kalkulasi atau dinamika sistemnya.
Ketika Laplace seabad kemudian berhasil membuktikan bahwa sistem tata surya dapat stabil secara matematis tanpa memerlukan intervensi ilahi, ia dengan terkenal menjawab pertanyaan Napoleon Bonaparte mengenai posisi Tuhan dalam teorinya: "Je n'avais pas besoin de cette hypothèse", bila dialih bahasakan berbunyi: Saya tidak membutuhkan hipotesis tersebut.
Transisi dari Newton ke Laplace mengindikasikan pergeseran epistemologis yang fundamental dalam hubungan antara manusia, kosmos, dan Tuhan. Alam semesta yang pada zaman Yunani antik dilihat sebagai tatanan sacred yang harus direnungkan melalui kontemplasi filosofis (bios theoretikos), kini bermetamorfosis menjadi sebuah objek matematis yang mesti didekonstruksi, diprediksi, dan dikuasai.
Saya merasa jargon Francis Bacon, knowledge is power, bersua pada artikulasinya yang paling ganas. Alam semesta menjadi laboratorium raksasa di mana manusia, armed dengan hukum-hukum matematika, mengambil alih tahta kontrol.
Kebebasan Tuhan ditiadakan bukan melalui pembuktian bahwa Tuhan tidak ada, tapi dengan membuat hipotesis tentang Tuhan menjadi sama sekali tidak relevan bagi operasi praktis sains dan teknologi.
Walaupun triumfalisme sains mekanistik sempat mencapai puncaknya pada akhir abad ke-19, perkembangan fisika modern abad ke-21 justru membawa kembali ghost paradox kosmologis ini ke meja perundingan ilmiah.
Fisika kuantum dan relativitas umum tidak hanya mendestruksi determinisme naif ala Newton, tetapi juga membongkar adanya kerapuhan dan kepresisian yang luar biasa menakjubkan pada parameter-parameter dasar alam semesta kita.
Inilah fenomena yang diangkat oleh Karlina Supelli melalui teka-teki bilangan 137 dan persoalan fine-tuning kosmos. Angka 137 (atau lebih tepatnya kebalikannya, yang bernilai sekitar 0,00729735) adalah besaran dari fine-structure constant (\alpha, konstanta struktur halus).
Angka ini bukanlah besaran bersatuan seperti meter atau detik, ia merupakan sebuah angka murni, sebuah rasio tanpa dimensi yang mengoneksikan tiga pilar utama fisika modern diantaranya muatan elektron (elektromagnetisme), konstanta Planck (mekanika kuantum), dan kecepatan cahaya (relativitas khusus).
Sebagaimana diungkapkan oleh Richard Feynman dan Wolfgang Pauli dengan nada frustrasi berkepanjangan, angka ini hadir di laboratorium eksperimental tanpa ada satu pun teori fisika yang mampu mengeksplanasikan mengapa nilainya harus bernilai sekitar 1/137, dan bukan 1/136 atau 1/138.
Bila nilai konstanta struktur halus ini bergeser sedikit saja dari angkanya yang aktual, ikatan molekuler tidak akan pernah stabil, atom hidrogen tidak akan mampu membentuk rantai kimia yang kompleks, bintang-bintang tidak akan memfusi karbon dan oksigen, dan akibatnya, kehidupan tidak akan pernah memiliki ruang untuk eksis di kosmos ini.
Persoalan fine-tuning tidak berhenti pada angka 137. Ada belasan konstanta fundamental lainnya, mulai dari rasio massa proton terhadap elektron, konstanta gravitasi universal, hingga konstanta kosmologis (\Lambda).
Semuanya itu berada dalam rentang nilai yang sangat sempit dan presisi. Perubahan sekecil pecahan persen pada salah satu dari parameter ini akan menghasilkan alam semesta yang steril.
Entah sebuah kosmos yang runtuh kembali menjadi singularitas dalam hitungan detik, atau sebuah ruang kosong yang mengembang terlalu cepat tanpa sempat membentuk galaksi satu pun.
Di hadapan fakta ketertalaan yang begitu presisi ini, pemikiran manusia kembali terdesak ke sudut aporetik. Bagaimana mengeksplanasikan kebetulan yang luar biasa fantastis ini? Menurut saya, secara historis dan konseptual, muncul tiga jalur penjelasan utama yang masing-masing menyimpan cacat epistemologisnya sendiri:
Pertama adalah Penjelasan Teologis Tradisional. Jalur ini mengklaim bahwa kepresisian parameter alam semesta merupakan bukti langsung adanya Intelligent Designer atau Kehendak Ilahi yang secara khusus memilih nilai-nilai konstanta tersebut agar manusia dan kehidupan dapat hadir.
Tetapi, sebagaimana telah kita bedah sejak awal risalah ini, penjelasan ini secara langsung memicu krisis kebebasan Tuhan. Bila Tuhan harus menyetel parameter alam semesta pada ketepatan 10^{10^{123}} demi menghadirkan kehidupan, maka tindakan penciptaan Tuhan tidak lagi mencerminkan kebebasan absolut, melainkan ketundukan pada syarat-syarat fisis kaku yang memenjarakan kehendak-Nya.
Tuhan tidak lagi Mahabebas. Ia terjebak dalam kalkulasi teknis yang deterministik. Sebagai reaksi pada infiltrasi aroma teologis dalam sains, para ilmuwan mengajukan Asas Antropik.
Dalam bentuk sederhananya (Weak Anthropic Principle), asas ini menyatakan: nilai-nilai konstanta alam yang kita amati haruslah bersifat cocok dengan keberadaan kita sebagai pengamat, karena bila nilai-nilai itu tidak cocok, kita tidak akan ada di sini untuk mempertanyakannya.
Namun, sebagaimana kritikan pedas dari banyak filsuf sains, penjelasan ini adalah sebuah post-factum tautology, sebuah penyataan melingkar yang tidak punya nilai eksplanatif nyata.
Mengatakan bahwa alam semesta ini cocok untuk kita karena kalau tidak cocok kita tidak ada di sini, sama bergunanya bila saya umpamakan seorang narapidana yang selamat dari regu tembak lalu berkata: "sebabnya saya selamat adalah karena semua peluru meleset dari tubuh saya."
Pernyataan itu mendeskripsikan kondisi kelangsungan hidup, namun sama sekali tidak menjelaskan mengapa peluru-peluru itu meleset.
Untuk keluar dari jebakan tautologi antropik dan sekaligus menghindari konsekuensi teologis mengenai Tuhan, fisika teoritis modern memproduksi hipotesis multiverse, atau jagat majemuk.
Diandaikan bahwa alam semesta kita bukanlah satu-satunya realitas, tapi hanya satu gelembung kecil di dalam matriks raksasa yang berisi laksa-laksa atau infinitas alam semesta paralel yang masing-masing memiliki set hukum fisika dan konstanta yang berbeda-beda.
Dalam skenario ini, keberadaan alam semesta yang "pas" untuk kita bukanlah hasil desain Ilahi yang ajaib, melainkan hanya konsekuensi statistik yang pasti terjadi. Dari triliunan keping kepingan dadu yang dilempar, pasti ada satu yang menunjukkan angka sempurna.
Namun saya kerap berkontemplasi, apakah multiverse sungguh-sungguh sebuah teori ilmiah empiris, ataukah ia merupakan bentuk metafisika spekulatif yang menyamar sebagai fisika teoritis?
Karena alam semesta paralel di luar kosmos kita secara prinsipil terisolasi oleh horizon kausal dan tidak dapat diuji, diamati, atau diverifikasi oleh eksperimen apa pun, maka hipotesis multiverse melanggar kriteria dasar falsifikasi ilmiah.
Multiverse bisa saja merupakan pelarian epistemologis dari para fisikawan yang begitu putus asa menghindari implikasi teologis dari fine-tuning, sehingga mereka rela mengimajinasikan infinitas alam semesta yang tak terbukti demi menyingkirkan satu Tuhan!
Dalam lanskap ini, perdebatan antara alam semesta tunggal ber-Tuhan versus multiverse tanpa-Tuhan mengungkap sebuah fenomena menarik. Fisika modern pada batas terluarnya tidak lagi murni bekerja sebagai eksperimen empiris, ia telah bergeser menjadi spekulasi mitologis berwajah matematika.
Gagasan ini lalu bersua pada resonansi estetiknya yang luar biasa dalam karya fiksi ilmiah Olaf Stapledon, Star Maker, yang disinggung secara intuitif dalam ceramah Karlina Supelli yang saya tonton beberapa waktu lalu.
Dalam narasi Stapledon, sang narator mengembara melintasi kosmos dan menyaksikan bagaimana Star Maker (Pencipta Bintang) bertindak bukan sebagai Bapa Yang Maha Pengasih ala agama Abrahamik, ia sebagai seorang Seniman Amoral yang dingin dan haus akan eksperimen estetis.
Star Maker menciptakan jagat demi jagat, mulai dari jagat yang hanya berisi tabuhan dan getaran tanpa ruang, jagat yang cacat secara struktural, hingga jagat-jagat yang dipenuhi makhluk-makhluk berakal yang akhirnya musnah dalam keputusasaan karena hukum entropi (Hukum Termodinamika Kedua) yang menghancurkan seluruh energi terpakai.
Star Maker tidak menangisi destruksi ciptaan-Nya. Ia hanya mengobservasi, belajar dari cacat rancangan sebelumnya, lalu membuang jagat yang runtuh itu ke tumpukan sampah kosmik untuk melanjutkan eksperimen menciptakan jagat berikutnya yang lebih seimbang.
Gusarnya C.S. Lewis terhadap visi Stapledon (yang menyebutnya sebagai "pemujaan setan belaka") memperlihatkan benturan mendasar antara teologi moral Kristen dan kosmologi estetis-eksperimental.
Dalam visi Stapledon, bila Tuhan itu ada dan sepenuhnya bebas seperti seorang seniman eksperimental, maka manusia dan seluruh peradabannya hanyalah ketombe kosmik.
Sebuah momen kebetulan yang sangat pendek dan tidak berarti dalam perenungan dingin Ruh Mutlak yang tidak peduli pada penderitaan moral ciptaan-Nya.
Kebebasan Ilahi yang radikal, jika ditarik hingga konsekuensi logis terujungnya tanpa diikat oleh dogma kebaikan moral, selalu berujung pada nihilisme kosmologis yang mengerikan.
Problematika kosmologis yang merentang dari teologi Abad Pertengahan sampai persoalan fine-tuning akhirnya membentur dinding tebal yang paling fundamental, yakni batas-batas bahasa dan kerangka konseptual manusia itu sendiri. Ini merupakan babak penutup dari risalah saya ini.
Dalam fisika teoritis kontemporer, ambisi tertinggi dari para ilmuwan terangkum dalam perburuan apa yang dilabeli sebagai Theory of Everything (ToE), sebuah teori tunggal yang diimpikan mampu mengintegrasikan dua pilar fisika yang saat ini saling kontradiktif secara ontologis, yakni Teori Relativitas Umum Einstein (yang menjelaskan gravitasi dan tatanan kosmik makro yang kontinu) dan Mekanika Kuantum (yang menjelaskan dinamika subatomik yang diskrit dan probabilistik).
Inkompatibelitas antara kedua teori ini meletus paling ganas disaat fisika mencoba menganalisis apa yang disebut sebagai kondisi singularitas, titik permulaan ruang-waktu pada momen Big Bang, atau titik pusat di dalam black hole.
Pada titik singularitas, massa serta kerapatan energi terkonsentrasi dalam volume yang bernilai nol, menghasilkan kurvatur ruang-waktu yang tak terhingga (\infty). Di hadapan singularitas, seluruh persamaan matematika fisika mengalami pembatalan. Hukum-hukum alam yang kita kenal mendadak bisu.
Mengapa? Karena matematika dan bahasa fisika kita dibangun di atas asumsi adanya latar belakang ruang dan waktu yang terdefinisi. Disaat ruang dan waktu itu sendiri menyusut menuju titik nol, maka konsep seperti "sebelum", "di luar", "sebab", dan "akibat" kehilangan seluruh arti operasionalnya.
Namun, saya tertegun, apa sesungguhnya arti filosofis dari kegagalan matematika di titik singularitas ini? Apakah ini berarti alam semesta itu sendiri misterius dan tidak rasional? Ataukah ini justru memperlihatkan batas epistemologis dari struktur konseptual manusia?
Di sinilah kita harus bersikap kritis terhadap ambisi triumfalistis sains. Ketika para fisikawan bermimpi menemukan Theory of Everything, mereka sesungguhnya sedang dijangkiti oleh keangkuhan ontologis. I
lusi bahwa bahasa formal matematika manusia mampu merangkum seluruh totalitas ada tanpa sisa. Mereka menyangka bahwa dengan menemukan satu persamaan sepanjang satu inci di atas kaos oblong, mereka telah berhasil membaca "pikiran Tuhan" (the mind of God).
Namun, filsafat bahasa, mulai dari Immanuel Kant hingga Ludwig Wittgenstein, telah mengingatkan kita akan batasan mendasar ini. Kant, melalui Kritik atas Rasio Murni, telah membuktikan secara meyakinkan bahwa kategorisasi konseptual kita tentang ruang, waktu, dan kausalitas bukanlah struktur objektif dari realitas itu sendiri (das Ding an sich), tapi hanya kacamata apriori dari rasio manusia untuk mengorganisir data indrawi.
Ketika rasio manusia mencoba melompat melampaui batas pengalaman empiris untuk membicarakan totalitas kosmos atau hakikat Tuhan, rasio itu secara niscaya akan jatuh ke dalam antinomi, paralogisme dan kontradiksi internal yang tidak terpecahkan. Wittgenstein merumuskannya dengan jauh lebih tajam dan lugas dalam penutup Tractatus Logico-Philosophicus.
"Wovon man nicht sprechen kann, darüber muss man schweigen"
Terhadap apa yang tidak dapat dibicarakan, orang harus diam. Bahasa manusia, baik itu bahasa verbal harian maupun bahasa simbolik matematika merupakan instrumen evolusioner yang tumbuh di atas permukaan bumi untuk membantu hominid bertahan hidup di dalam skala spasio-temporal menengah (mesocosmos).
Bahasa kita dibentuk untuk menangani objek-objek yang bergerak lebih lambat dari kecepatan cahaya dan lebih besar dari ukuran atom. Maka, disaat bahasa ini dipaksa untuk memuat realitas pada skala ekstrem kuantum, atau totalitas kosmos pada skala Big Bang, atau hakikat Kehendak Ilahi yang absolut, bahasa tersebut mengalami pendarahan konseptual.
Menyebut kata "Tuhan" di dalam persamaan fisika tidak otomatis menjadikan Tuhan sebagai hipotesis ilmiah, ia hanya memperlihatkan adanya kebingungan kategoris.
Tuhan, dalam artikulasi metafisis yang sahih, bukanlah sebuah sebab fisis di antara sebab-sebab fisis lainnya dalam rantai kausalitas kosmik. Tuhan bukanlah "objek terbesar" atau "agen pertama" yang berada dalam panggung ruang dan waktu yang sama dengan planet dan elektron.
Bila Tuhan dipahami sebagai objek fisis atau hipotesis ilmiah, maka Tuhan tersebut telah diruntuhkan menjadi conceptual idol, sebuah entitas partikular yang dapat diuji dan dikalkulasi. Tuhan yang demikian hanyalah salah satu komponen fisis di dalam alam semesta yang terikat oleh limitasi sistemik.
Namun pada akhirnya, aku yang terbatas, Engkau yang tak terbatas, hukum-Mu berlaku pasti. Mau aku lawan, mau aku bangkang, aku berandai-andai. Pada akhirnya, sabda itu pasti. Tapi ruang umpama membuat aku lega.
