Beyond The Sex (BTS): Sebuah Obituari Filsafati terhadap Virilitas

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 25 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
"The labels of what being masculine is, is an outdated concept. We live in an age where we shouldn't have those labels or have those restrictions."
Kim Namjoon
Prologue
Dedahan Eksplanatif
Epilogue
PROLOGUE
Semua risalah punya genealogi intelektualnya sendiri. Sebagian dilahirkan dari ruang-ruang akademik. Ada yang ditetas dari laboratorium pengetahuan. Lalu tak jarang juga tumbuh dari gumulan panjang dengan teks, teori, dan tradisi pemikiran.
Namun risalah saya kali ini lahir dari sesuatu yang terlihat begitu simplistik namun sesungguhnya sarat akan kompleksitas, sebuah kegelisahan eksistensial. Saya pertama kali mengenal Bangtan Sonyeondan (BTS) pada tahun 2017.
Pada waktu itu, sebagaimana banyak orang lain, saya memasuki semesta mereka melalui pintu musik. Saya mendengarkan karya-karya mereka, mengobservasi perkembangan mereka, dan melihat transformasi mereka sebagai kelompok musik, dan secara perlahan menjadi bagian dari komunitas global yang oleh dunia dikenal sebagai ARMY.
Tapi seiring berjalannya waktu, saya mulai menyadari bahwa terdapat sesuatu yang jauh melampaui sekadar musik. Ada sesuatu yang mengusik kesadaran. Ada sesuatu yang mendisrupsi kenyamanan asumsi-asumsi yang selama ini dinormalisasikan sebagai kebenaran yang seolah final.
Ada sesuatu yang memaksa saya berkuriositas mengapa tujuh laki-laki dari Korea Selatan mampu memantik reaksi yang demikian ekstrem dari berbagai lapisan masyarakat di seluruh dunia. Mengapa sebagian orang demikian mencintai mereka? Mengapa sebagian lainnya demikian terusik oleh kehadiran mereka?nMengapa ekspresi emosional mereka diperlakukan sebagai ancaman? Mengapa kerentanan mereka dipersepsikan sebagai problematik? Mengapa kelembutan mereka dianggap mengganggu bangunan maskulinitas yang mapan?
Semakin saya melacak esensi esensi tersebut, semakin saya menyadari bahwa perdebatan tentang BTS sesungguhnya tidak pernah benar-benar berbicara tentang BTS. Dialektika itu bercakap tentang kita. Tentang cara manusia membaca dirinya sendiri, cara masyarakat mengonstruksi makna mengenai laki-laki, cara kekuasaan beroperasi melalui produksi identitas, dan cara peradaban mengonstruksikan kategori-kategori yang terlihat natural padahal sesungguhnya merupakan produk sejarah yang panjang dan politis.
Sebagai seseorang yang dalam perjalanan intelektualnya banyak bergulat dengan filsafat, teori kekuasaan, hubungan internasional, dan berbagai kajian kritis, saya sangat jeli melihat bahwa fenomena BTS membawa lanskap refleksi yang jauh lebih masif dikomparasikan dengan sekadar simptom kultural populer.
Saya menyaksikan bagaimana jutaan laki-laki di berbagai belahan dunia mulai berani mengartikulasikan persoalan kesehatan mental dan bagaimana kerentanan perlahan memperoleh legitimasi sosial yang baru. Begitu bangga sebenarnya melihat berbagai definisi-definisi usang tentang maskulinitas mulai memperlihatkan retakan-retakan epistemiknya dan itu semakin terlihat hanya dengan sekelompok musik yang mampu menghadirkan pergeseran makna yang bahkan gagal diwujudkan oleh banyak institusi politik formal.
Pada titik itulah saya menyadari bahwa BTS bukan sekadar objek konsumsi budaya. Mereka adalah fenomena intelektual, simptom sosial, peristiwa simbolik, bahkan tidak berlebihan bila dilabeli sebagai teks peradaban yang layak dibedah dengan pisau analisis filsafat.
Risalah ini tidak ditulis untuk mengagungkan BTS secara membabi buta. Ia juga tidak ditulis sebagai manifestasi kultus selebritas. Sebaliknya, risalah ini eksis dari keyakinan bahwa setiap fenomena sosial yang mampu menggugat cara manusia memahami identitas selalu layak ditelaah secara serius.
Dalam ritus pedagogik saya, banyak mendeklarasikan bahwa, Socrates pernah mengguncang fondasi Athena. Nietzsche pernah mengguncang arsitektur moralitas Barat. Foucault pernah mengguncang cara manusia memahami relasi kuasa.
Kali ini, dalam spektrum yang berbeda, BTS mengguncang cara manusia memahami maskulinitas. Oleh sebab itu, saya memilih membaca BTS bukan sebagai industri hiburan semata. Saya memilih membaca mereka sebagai medan kontestasi makna, gelanggang perseteruan identitas, arena tempat berbagai rezim pengetahuan saling memperebutkan legitimasi.
Sebagai titik temu di mana konsep-konsep lama tentang laki-laki, kekuatan, dominasi, kerentanan, serta kemanusiaan dipaksa bertatap muka dengan berbagai posibilitas baru yang sebelumnya tidak pernah dapat diproyeksikan. Mungkin sebagian orang akan menganggap upaya ini berlebihan. Tapi sejarah intelektual selalu mengajarkan satu pelajaran krusial, bahwa transformasi besar kerap datang dari tempat-tempat yang sebelumnya dianggap remeh.
Dan sebagai manusia, saya merasa fenomena ini membawa probabilitas untuk mengajukan kembali kuriositas paling fundamental yang selama ini terlalu lama diasumsikan telah selesai. Apa arti menjadi laki-laki? Apa arti menjadi kuat? Apa arti menjadi manusia? Risalah ini adalah sebuah ikhtiar intelektual untuk menelusuri pertanyaan-pertanyaan tersebut. Tidak untuk menemukan jawaban yang final.
Namun untuk memverifikasi bahwa pertanyaan itu tetap eksis dalam ruang kesadaran. Karena peradaban tidak pernah bergerak maju karena manusia berhasil menemukan seluruh jawaban. Peradaban bergerak maju karena manusia memiliki keberanian untuk menggugat kembali jawaban-jawaban yang selama ini dianggap pasti. Risalah ini sekaligus merupakan bentuk penghormatan yang bersifat personal. Sebuah tribute sederhana dari seorang ARMY yang telah mengikuti perjalanan mereka sejak tahun 2017.
Tribute kepada Kim Namjoon yang mengajarkan bahwa intelektualitas tidak harus kehilangan empati.
Tribute kepada Kim Seokjin yang menunjukkan bahwa kedewasaan dapat berjalan beriringan dengan humor.
Tribute kepada Min Yoongi yang membuktikan bahwa luka dapat ditransformasikan menjadi refleksi.
Tribute kepada Jung Hoseok yang mengajarkan bahwa harapan merupakan tindakan politik yang konkret.
Tribute kepada Park Jimin yang memperlihatkan bahwa kelembutan bukanlah antitesis dari kekuatan.
Tribute kepada Kim Taehyung yang mengingatkan bahwa keunikan tidak pernah memerlukan izin untuk eksis.
Dan tribute kepada Jeon Jungkook yang menunjukkan bahwa pertumbuhan manusia selalu lebih bermakna dibandingkan obsesi terhadap kesempurnaan.
Tapi lebih dari sekadar penghormatan kepada tujuh individu tersebut, risalah ini merupakan penghormatan terhadap seperangkat gagasan yang mereka perjuangkan selama lebih dari satu dekade. Gagasan bahwa manusia tidak harus sempurna untuk dicintai, identitas tidak harus dibelenggu oleh definisi-definisi usang, kerentanan tidak menghapus martabat, dan bahwa mencintai diri sendiri adalah tindakan keberanian yang radikal.
Saya ingin menulis kegelisahan filosofis pada dunia yang terlalu menglorifikasi dominasi. Kepada maskulinitas yang terlalu lama dijerat oleh kultus virilitas.
Untuk manusia yang terlalu lama diajarkan untuk tampak kuat dibandingkan menjadi utuh. Dari kegelisahan itulah risalah ini ditulis. Dan apabila setelah menyelami relung tulisan ini setidaknya bila terdapat satu saja pembaca yang mulai menggugat lagi asumsi-asumsi primordial tentang maskulinitas, identitas, dan kemanusiaan, maka tujuan risalah ini telah menemukan legitimasi eksistensialnya.
DEDAHAN EKSPLANATIF
Selama saya berkutat sebagai penggiat rezim kekuasaan, bersualah saya pada konklusi bahwa dalam konfigurasi besar modernitas global, maskulinitas tidak pernah eksis sebagai fakta biologis yang otonom serta netral. Ia adalah konstruksi diskursif yang diproduksi lewat rezim pengetahuan, direproduksi oleh aparatus sosial, bahkan dinormalisasi oleh struktur kekuasaan yang beroperasi secara subtil di dalam kognisi manusia.
Dan dengan aspek itulah saya merasa, bahwa fenomena BTS mendapat relevansi filosofis yang begitu signifikan. Bagi mereka yang tentu sudah mengenal saya secara personal, para kolega dan rekan dialektika tentunya tahu bahwa saya merupakan penikmat setia Musik Bangtan Sonyeondan (BTS) sejak tahun 2017.
Sepanjang trajektori itu, saya merasa bahwa, BTS kini tidak hanya sebatas kelompok musik populer yang berasal Korea Selatan, namun sebuah intervensi epistemologis pada tata makna maskulinitas yang selama berabad-abad berada di bawah dominasi paradigma virilitas Barat.
Risalah ini berargumen bahwa BTS membawa bentuk resistensi simbolik pada toxic masculinity dengan pembentukan model maskulinitas alternatif yang melampaui dikotomi klasik antara kelembutan dan kekuatan, emosionalitas dan rasionalitas, kerentanan dan dominasi.
Saya mencoba mengaplikasikan pendekatan filsafat hubungan internasional, teori kekuasaan Michel Foucault, konsep hegemoni Antonio Gramsci, teori performativitas Judith Butler, dan perspektif konstruktivisme sosial dalam hubungan internasional, untuk mendedahkan bahwa BTS telah beroperasi sebagai agen normatif transnasional yang mendestabilisasi fondasi ontologis maskulinitas hegemonik, menjadi Beyond The Sex (BTS): Melampaui Kelamin.
Sebagai pembuka, barakali tidak ada mitologi modern yang lebih berhasil dikukuhkan oleh peradaban kontemporer selain keyakinan bahwa laki-laki harus senantiasa kuat. Genealogi peradaban manusia memantulkan realitas bahwa maskulinitas sudah direduksi menjadi semacam instrumen disipliner yang memaksa individu laki-laki bersimpuh pada standar keberanian, dominasi, agresivitas, dan kapasitas untuk menyembunyikan emosi.
Maskulinitas lalu akhirnya tersumbat menjadi identitas serta bermetamorfosis menjadi institusi pemenjaraan. Di dalam belenggu simbolik itu, laki-laki diajarkan bahwa tangisan merupakan kelemahan, empati adalah ancaman, kerentanan itu kegagalan, dan kelembutan merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kodrat yang diasumsikan alamiah.
Akibatnya, dunia modern menyaksikan sebuah paradoks peradaban yang mengerikan, dimana manusia diperintahkan menjadi kuat justru melalui amputasi sistematis atas sisi kemanusiaannya sendiri. Bagi mereka yang menggeluti teori-teori kritis, pasti tahu bahwa Toxic masculinity lahir dari paradoks yang senada.
Ia bukanlah perilaku individual, namun sebuah rezim epistemik yang mendikte bagaimana laki-laki harus berpikir, bercakap, beraksi, mencintai, dan bahkan mengalami dirinya sendiri sebagai subjek. Toxic masculinity lalu menjadi semacam teknologi kekuasaan yang beroperasi jauh lebih efektif dikomparasikan dengan represi langsung karena ia bekerja lewat mekanisme internalisasi norma.
Dalam istilah Foucault, individu pada akhirnya menjelma menjadi sipir sekaligus tahanan bagi eksistensinya sendiri. Pada momentum inilah fenomena BTS hadir sebagai anomali historis. Saya mengikuti trajektori Pop Culture sehingga saya sangat paham, bahwa pada saat industri hiburan global masih senantiasa memproduksi figur laki-laki yang diasosiasikan dengan dominasi fisik dan hiper-maskulinitas, tahun 2013 BTS justru tampil melalui ekspresi emosional yang terbuka, estetika androgini, narasi kesehatan mental, serta keberanian untuk mempertontonkan kerentanan di ruang publik.
Fenomena yang sama melahirkan kecemasan yang luar biasa di berbagai masyarakat konservatif. Kuriositasnya tidak lagi mengapa BTS populer? Akan tetapi, mengapa kehadiran BTS bisa mengguncang fondasi psikologis mereka yang percaya bahwa maskulinitas harus selalu identik dengan dominasi?
Dimensi ini akan coba saya kuliti untuk membawa anda memasuki teritori filsafat hubungan internasional yang jauh lebih dalam ketimbang sekadar studi budaya populer. Bagi saya, fatalitas terbesar dalam menelaab BTS adalah memandang mereka hanya sebagai grup musik. Pandangan semacam itu setara dengan melihat mesin cetak Gutenberg hanya sebagai perangkat reproduksi kertas. Ini sesungguhnya merupakan sebuah fenomena geopolitik.
Popularitas mereka memantulkan kapasitas mereka memengaruhi perilaku pihak lain tanpa menggunakan instrumen represif. Mereka mengekspor paradigma identitas. Yang bergerak bukan sekadar lagu. Yang bergerak merupakan norma. Yang melintasi batas-batas teritorial negara bukan hanya hiburan. Yang bermigrasi adalah cara manusia memaknai dirinya sendiri. Bila menautkan perspektif konstruktivisme hubungan internasional, realitas sosial dibingkai oleh ide, norma, serta identitas.
Negara tidak bertindak semata-mata berdasarkan kepentingan material, namun berdasarkan makna yang mereka konstruksikan terhadap dunia. Oleh sebab itu, dikala BTS berhasil memengaruhi jutaan laki-laki muda untuk mengekspresikan emosi secara terbuka, sesungguhnya yang sedang memutasikan bukan preferensi musikal.
Yang berubah adalah struktur normatif masyarakat global. Sebagai seorang Foucaultdian juga, saya sangat paham bahwa kekuasaan kontemporer tidak lagi terlihat melalui kelihaian membawa pedang. Ia bekerja dengan definisi. Siapa yang berkapasitas mendefinisikan realitas, dialah penguasa sesungguhnya.
Maskulinitas dalam konteks ini adalah hasil operasi diskursif yang berlangsung selama berabad-abad. Laki-laki tidak dilahirkan sebagai subjek maskulin. Mereka diproduksi menjadi maskulin. Itu perbedaan signifikan yang kerap diacuhkan. Sekolah, keluarga, agama, militer, media massa, dan industri hiburan difungsikan sebagai pabrik ontologis yang secara terus-menerus memproduksi subjek laki-laki sesuai kebutuhan struktur sosial.
Toxic masculinity lahir ketika konstruksi yang sama mengalami proses absolutisasi. Maskulinitas tidak lagi menjadi posibilitas eksistensial. Ia berevolhsi menjadi kewajiban normatif. Antonio Gramsci mengeksplanasikan bahwa dominasi tidak senantiasa dikokohkan melalui kekerasan.
Dominasi yang paling efektif justru dilangsungkan pada pihak yang didominasi menerima sistem tersebut sebagai sesuatu yang alamiah. Toxic masculinity bertahan karena ia berhasil mentransformasikan dirinya menjadi commonsense. Orang tidak lagi menggugat narasi publik tentang mengapa laki-laki harus kuat. Mereka hanya mengasumsikan bahwa demikianlah dunia seharusnya berjalan.
Dalam keadaan demikian, resistensi yang paling radikal tidak dari revolusi bersenjata. Perlawanan yang paling spektakuler adalah transformasi makna. Dan BTS melakukan tepat hal tersebut. Mereka tidak menyerang maskulinitas hegemonik secara frontal. Mereka membuatnya tampak usang secara historis.
Bila maskulinitas hegemonik dikonstruksikan di atas glorifikasi kekuatan, maka kita harus membangun narasinya di atas legitimasi kerentanan. Tidak ada salah bila anda berbicara mengenai depresi, kecemasan, kesepian, atau ketakutan. Secara filosofis, tindakan tersebut adalah bentuk pemberontakan epistemologis.
Karena selama berabad-abad emosi ditempatkan sebagai ancaman terhadap identitas laki-laki. Logika itu harus dibalik. Bagi saya, keberanian tertinggi bukanlah mengendapkan luka. Keberanian tertinggi adalah mengakui eksistensi luka tersebut.
Dengan begitu, kita dapat bergandengan untuk mendekonstruksi fondasi metafisik toxic masculinity yang menganggap kerentanan sebagai kelemahan. Sudah saatnya mentransformasikan status ontologis kerentanan dari sesuatu yang memalukan menjadi sesuatu yang autentik dan manusiawi.
Lapisan awal yang akan saya infuskan dalam risalah ini untuk memahami mengapa BTS layak diafirmasi sebagai suatu fenomena filosofis, terlebih dahulu kita harus mengidentifikasi antagonis konseptual yang tengah mereka disrupt: toxic masculinity.
Akan tetapi, toxic masculinity bukan sekadar ekspresi perilaku kasar yang diperagakan laki-laki. Definisi semacam itu terlalu simplistik. Ia tersumbat pada permukaan fenomena tanpa pernah menembus lapisan struktur. Toxic masculinity pada hakikatnya adalah endapan historis dari konfigurasi peradaban yang sejak lama mengorganisasikan tubuh laki-laki sebagai aparatus kekuasaan.
Peradaban manusia sejak semula tidak pernah dikonstruksikan di atas relasi egaliterisasi makna antara maskulinitas dan femininitas. Sejarah malah menunjukan berlangsungnya proses hierarkisasi nilai yang memposisikan karakteristik tertentu sebagai superior dan yang lainnya sebagai subordinat.
Rasionalitas dikonsekrasi di atas emosi. Kekuatan ditaruh melampaui kelembutan. Dominasi dianju di atas kerentanan. Agresi diberi nilai lebih ketimbang empati. Di dalam struktur bineritas, hal semacam itulah yang memperoleh legitimasi simboliknya. Ia tidak menjadi kuat karena secara inheren kua, tapi karena rezim pengetahuan secara konstan dan laten menghadirkan definisi tentang dirinya sebagai kuat.
Di titik inilah relevansi pemikiran Jacques Derrida bersua pada signifikansinya. Derrida menunjukan bahwa keseluruhan sejarah filsafat Barat dibangun di atas logika oposisi biner. Setiap konsep mendapat identitasnya melalui eksklusi terhadap konsep lain. Ada pusat dan periferi. Ada superior dan inferior. Ada rasional dan irasional. Ada maskulin dan feminin.
Lalu Maskulinitas hegemonik berdiri kokoh tepat di dalam fondasi metafisika tersebut. Ia memerlukan femininitas sebagai “yang lain” agar untuk mempertahankan klaim dirinya sebagai pusat. Akibatnya, laki-laki tidak pernah sungguh-sungguh bebas menjadi dirinya sendiri. Ia hanya mendapat kebebasan sejauh mampu memenuhi definisi yang telah diproduksi sistem.
Dengan kata lain, toxic masculinity adalah kolonialisme identitas. Bukan kolonialisme atas teritori geografis yang konvensional, tapi penjajahan atas probabilitas eksistensial untuk menjadi manusia. Dalam berbagai risalah saya, secara berulang kali mengingatkan bahwa tubuh bukanlah entitas biologis yang netral.
Tubuh adalah ruang politik dan locus tempat kekuasaan menginskripsikan perintah-perintahnya. Tubuh laki-laki sejak lama sudah menjadi objek disiplin sosial. Anak laki-laki diajarkan untuk tidak menangis, diajarkan untuk tidak memperlihatkan rasa takuk, dan untuk tidak tampak lemah.
Kalimat-kalimat seperti “Jangan cengeng.”, “Jangan seperti perempuan.”, “Laki-laki harus kuat.” terlihat simplistik. Tapi sesungguhnya adalah teknologi kekuasaan yang begitu efektif. Kalimat tersebut beroperasi sebagai mekanisme normalisasi yang mendikte dan mendisiplinkan bagaimana laki-laki seharusnya mengalami dan memahami dirinya sendiri.
Foucault melabeli proses ini sebagai produksi subjek. Manusia tidak dilahirkan sebagai subjek. Mereka diproduksi menjadi subjek. Oleh sebab itu, dikala seorang laki-laki merasa bersalah karena menangis, sesungguhnya yang sedang bekerja bukanlah kodrat. Yang bekerja adalah kekuasaan. Kekuasaan itu sudah begitu sukses bekerja di dalam nalar hingga tampil seakan sebagai suara hati.
Padahal suara hati itu tidak lebih dari gema norma sosial yang telah terinternalisasi. Toxic masculinity menurut saya, lahir tepat dari proses tersebut. Ia menjadi konsekuensi disaat disiplin sosial berjaya menyublimasi dirinya sebagai identitas personal. Fatalitas lain yang acap kali dilakukan dalam memandang toxic masculinity adalah menganggapnya semata-mata sebagai problematika kultural.
Padahal kapitalisme memainkan peran yang sangat krusial dalam mereproduksi konstruksi itu. Kapitalisme memerlukan kecemasan. Karena esensi itu adalah pasar. Semakin seseorang merasa dirinya tidak memadai, semakin besar probabilitas ia membeli sesuatu untuk menutupi kekurangan itu. Industri maskulinitas modern tumbuh dengan logika tersebut.
Tubuh ideal diperdagangkan. Otot diperdagangkan. Kekuasaan diperdagangkan. Status diperdagangkan. Dominasi diperdagangkan. Laki-laki secara konstan diproduksi sebagai subjek yang merasa dirinya belum cukup maskulin. Dari sanalah lahir konsumsi tanpa akhir. Paradoksnya begitu ironis. Maskulinitas yang diklaim sebagai simbol kekuatan malah dikokohkan lewat produksi rasa tidak aman.
Semakin seseorang berupaya terlihat kuat, semakin ia terjerat menjadi konsumen. Dengan begitu toxic masculinity tidak hanya sekadar ideologi kultural. Ia adalah mesin ekonomi-politik yang menghasilkan surplus keuntungan bagi industri yang menjual fantasi kejantanan. Sehingga, fenomena seperti kehadiran BTS menjadi ancaman simbolik. Sebab mereka menawarkan model identitas yang tidak bertumpu pada hiper-maskulinitas.
Mereka memantulkan bahwa seseorang dapat dihormati tanpa menjadi agresif. Dapat berpengaruh tanpa menjadi dominan. Bisa dicintai tanpa harus menjadi sosok yang menakutkan. Dan bagi pasar yang eksis dari kecemasan maskulin, gagasan semacam itu bersifat subversif secara radikal.
Dalam disiplin hubungan internasional, mayoritas aktor dipahami sebagai entitas yang mengejar kepentingan. Negara mengejar keamanan. Perusahaan mengejar akumulasi keuntungan. Organisasi internasional mengejar stabilitas. Namun bagi saya, BTS menghadirkan fenomena yang jauh lebih kompleks. Mereka tidak sebatas mendistrupsi struktur kepentingan. Mereka mengganggu struktur makna dengan mengintervensi cara manusia memahami identitas.
Karena itu fenomena ini tidak cukup dieksplanasikan lewat kerangka ekonomi-politik kultural. Namun harus dipahami sebagai turbulensi epistemologis. Gangguan epistemik yang terjadi dikala sesuatu yang selama ini diterima sebagai naturalitas tiba-tiba digugat.
Dan BTS melakukan hal tersebut terhadap maskulinitas. Selama berabad-abad masyarakat global terbiasa memandang laki-laki ideal sebagai figur yang keras, dominan, serta mampu mengendalikan emosionalitasnya secara ketat.
Lalu hadir tujuh laki-laki Korea yang berkacap mengenai kesehatan mental, mengekspresikan afeksi secara terbuka, menggunakan estetika yang oleh sebagian kultur patriarkal dianggap feminin, dan pada dentuman yang senada, memperoleh penghormatan global.
Situasi ini lalu membuat saya menghasilkan disonansi kognitif. Bila laki-laki harus dominan untuk dihormati, mengapa BTS dihormati? Jika kelembutan identik dengan kelemahan, mengapa BTS memiliki pengaruh global? Kuriositas ini mengguncang fondasi asumsi usang yang kuno dan primordial.
Pada saat asumsi lama mulai mengalami retakan, hegemoni mulai kehilangan daya cengkeramnya. Perlu anda sadari bahwa dominasi sosial berlangsung lewat mekanisme kekerasan simbolik yang beroperasi disaat kelompok dominan berhasil membuat nilai-nilai mereka tampak universal.
Maskulinitas hegemonik merupakan salah satu bentuk kekerasan simbolik. Ia memaksa laki-laki mengafirmasi definisi tertentu tentang dirinya sendiri. Yang menarik, BTS tidak melawan kekerasan simbolik dengan kekerasan tandingan. Mereka melawannya melalui politik kerentanan, dengan bercakap tentanf depresi, ketakutan, bahkan ketidakpastian.
Dalam logika maskulinitas tradisional, aksi semacam itu seharusnya mendestruksi citra mereka. Tapi yang terjadi malah sebaliknya. Popularitas mereka meningkat. Di titik inilah revolusi simbolik berlangsung. Mereka menunjukan bahwa kerentanan bukanlah antitesis dari kekuatan.
Kerentanan merupalan konfigurasi kekuatan yang berbeda. Ia bukan absennya keberanian, tapi keberanian untuk hadir tanpa topeng. Secara filosofis tindakan ini sangat radikal. Karena trajektori sejarah modern dibangun di atas pemujaan terhadap citra. Manusia diajarkan untuk tampak kuat ketika rapuh, tampak bahagia ketika menderita, tampak sukses ketika runtuh.
BTS membalik logika tersebut. Mereka mengembalikan legitimasi kepada pengalaman manusia yang otentik. Namun bahkan hal ini tidak membentengi mereka juga dari kritik yang tidak hanya diarahkan pada musik mereka, juga karena representasi visual mereka. Rambut berwarna. Riasan wajah. Busana yang dianggap tidak kompatibel dengan standar maskulinitas konservatif.
Tapi saya memandang situasi ini sebagai signifikansi politik mereka. Estetika bukan persoalan permukaan, ia adalah politik yang telah menjelma visualitas. Cara seseorang berpakaian selalu membawa pesan mengenai identitas. Dan pada saat ada yang ingin menampilkan estetika dimana menolak batas rigid antara maskulin dan feminin, maka mereka sementara mendestabilisasi kategori-kategori lama.
Judith Butler menyebut identitas gender sebagai performativitas. Gender bukan esensi, namun tindakan yang terus-menerus direproduksi. Karena terus direproduksilah, maka ia tampak alami. Padahal sesungguhnya ia adalah konstruksi. Tapi banyak yang tak ingin mengguncang reproduksi tersebut.
Terlalu cemas untuk mendeklarasikan bahwa laki-laki dapat tampil berbeda tanpa kehilangan legitimasi sosial. Dengan begitu, bagi saya BTS membuka horizon posibilitas identitas baru. Para aktor revisionis struktur sosial dengan setiap kemungkinan identitas baru yang selalu menjadi ancaman bagi sistem yang bertumpu pada definisi tunggal.
Joseph Nye mendedahkan soft power sebagai kapasitad untuk menginfiltrasi dengan pengaruh terhadal pihak lain lewat daya tarik budaya. Akan tetapi fenomena BTS melampaui horizon konseptual itu. Soft power pada umumnya mengubah preferensi. Mereka mengubah identitas. Diferensiasi keduanya sangat fundamental. Preferensi bisa berubah tanpa mengubah cara seseorang memahami dirinya. Identitas tidak.
Dikala identitas berubah, seluruh orientasi ontologis terhadap dunia ikut mengalami metamorfosis. Oleh sebab itu pengaruh BTS lebih tepat dipahami sebagai ontological power, yakni kemampuan untuk membingkai cara manusia mendefinisikan eksistensinya sendiri.
Kini salah satu filsuf yang kurang dijamah namun bernalar spekta yang sementara saya gali relung pemikirannya adalah, Axel Honneth yang berargumentasi bahwa konflik sosial acap kali berakar pada perjuangan memperoleh pengakuan. Manusia memerlukan pengakuan agar bisa mengembangkan identitas yang sehat.
Toxic masculinity melahirkan krisis pengakuan. Laki-laki hanya memperoleh pengakuan lada saat memenuhi standar tertentu. Ini bersua pada keadaan dimana banyak individu hidup dalam kondisi alienasi eksistensial.
Mereka tidak dicintai sebagai diri mereka sendiri. Tapi sebagai performa yang mereka pertontonkan. Tapi ada tawaran dalam bentuk pengakuan alternatif. Pesan-pesan yang secara konsisten mengajak individu menerima dirinya sendiri.
Di sini terdapat dimensi politik yang kerap diacuhkan. Karena menerima diri sendiri bukan sekadar tindakan privat. Ia merupakan aksi resistensi bagi struktur yang mendapat keuntungan dari rasa tidak aman manusia. Sehingga slogan “Love Yourself” tidak sesederhana yang tampak (IYKYK).
Ia sarat akan potensi revolusioner, karena menolak ekonomi-politik ketidakcukupan yang menjadi fondasi berbagai mekanisme dominasi modern. Lebih jauh, bila saya enskripsikan, salah satu kekeliruan epistemologis masif dalam menelaah genealogi maskulinitas adalah asumsi bahwa ia merupakan kategori yang stabil dan transhistoris.
Padahal, bagi saya maskulinitas selalu menjadi artefak historis yang mengalami mutasi mengikuti konfigurasi kuasa pada setiap horizon zamannya. Maskulinitas Sparta berbeda dengan maskulinitas Romawi. Maskulinitas Romawi berbeda dengan maskulinitas Kristen abad pertengahan. Maskulinitas abad pertengahan berbeda dengan maskulinitas industrial modern.
Dan maskulinitas industrial modern berbeda dengan maskulinitas digital kontemporer. Itu berarti, tidak pernah eksis suatu maskulinitas universal. Yang ada hanyalah rezim-rezim maskulinitas yang secara bergantian menempati tahta sejarah.
Problematikanya, setiap rezim selalu berupaya mempresentasikan dirinya sebagai sesuatu yang natural dan tak terbantahkan. Ia menyublimasi fakta bahwa dirinya tak lebih dari konstruksi temporer yang dikondisikan oleh sejarah. Inilah yang terjadi pada maskulinitas hegemonik kontemporer. Ia berhasil membius kognisi dunia bahwa laki-laki harus menjadi episentrum kendali.
Bahwa kekuatan adalah substansi, dominasi adalah kodrat, dan otoritas adalah identitas. Tali sejarah selalu mengendap ironi dialektisnya sendiri. Setiap bentuk dominasi pada akhirnya memproduksi kontradiksi yang menggerogoti fondasinya sendiri.
Imperium Romawi runtuh karena ekspansi yang melampaui kapasitas reproduksi kekuasaannya. Kolonialisme tak lagi eksis karena resistensi yang diproduksinya sendiri. Demikian juga maskulinitas hegemonik. Ia mulai mengalami patahan justru pada saat keberhasilannya mencapai titik totalitas. Ketika laki-laki dipaksa secara terus-menerus menjadi ikon kekuatan, mereka kehilangan ruang ontologis untuk menjadi manusia.
Maka lahirlah epidemi kesepian atau krisis kesehatan mental, bahkan keterasingan eksistensial. Dengan begitu, bagi saya, keruntuhan maskulinitas hegemonik bukan merupakan sebuah kecelakaan sejarah. Tapi menjadi konsekuensi logis dari kontradiksi internal yang dikandungnya sejak awal.
Saya begitu terpukau, karena mereka tidak hanya menawarkan model maskulinitas alternatif. Mereka mengusulkan sesuatu yang jauh lebih radikal, yakni posibilitas suatu dunia di mana maskulinitas tidak lagi berperan sebagai pusat gravitasi kekuasaan. Maskulinitas sepanjang saya menjejaki lintasan historisnya, beroperasi seperti sebuah imperium simbolik.
Dengan mendefinisikan apa yang sah. Ia mendikte apa yang normal, memutuskan siapa yang diterima, dan mengontrol batas-batas identitas. BTS menginterupsi itu tersebut. Mereka tidak berupaya menggeser satu bentuk dominasi dengan dominasi yang lain. Namun justru mengaburkan logika dominasi itu sendiri.
Dalam terminologi post-strukturalisme, peristiwa ini dikenal dengan destabilisasi terhadap pusat produksi makna. Dengan memperlihatkan bahwa maskulinitas tidak harus identik dengan agresi, superioritas, kontrol, atau penaklukan.
Maskulinitas dapat menjadi ruang dialog. Maskulinitas dapat menjadi ruang refleksi. Maskulinitas dapat menjadi ruang kerentanan. Maskulinitas dapat menjadi ruang kemanusiaan.
Elkata A. B. Atua
Dengan kata lain, terjadi pergeseran maskulinitas dari paradigma imperium menuju paradigma relasional. Dan peristiwa itu sarat akan konsekuensi politik yang luar biasa. Karena dunia yang dibangun di atas relasi berbeda secara fundamental dari dunia yang dibangun di atas dominasi.
Jacques Lacan pernah mengeksplanasikan bahwa manusia pada hakikatnya adalah makhluk yang diindikasi oleh kekurangan. Kita sebagai manusia tidak pernah sepenuhnya utuh. Karena selalu merasa terdapat sesuatu yang hilang. Kekurangan inilah yang menggerakkan hasrat.
Akan tetapi masyarakat modern tidak memberikan ruang bagi laki-laki untuk mengakui kekurangan tersebut. Sebaliknya, laki-laki didorong untuk membenamkan otentisitas kekurangannya melalui simbol-simbol kekuasaan, uang.status, tubuh, otoritas, prestasi, atau dominasi. Seluruh simbol itu difungsikan sebagai kompensasi terhadap rasa ketidakutuhan.
Problematikanya adalah, kompensasi tidak pernah benar-benar menyelesaikan kekurangan. Karena kekurangan itu sifatnya ontologis. Ia melekat pada kondisi manusia itu sendiri. Akibatnya, semakin keras seseorang mengejar simbol kekuasaan, semakin besar posibilitas ia terjerat dalam siklus ketidakpuasan yang tanpa terminus.
Bagi saya, inilah tragedi maskulinitas modern. Ia menjanjikan keutuhan yang secara inheren tidak pernah mampu diberikannya. Slavoj Žižek mengeksplanasikan bahwa ideologi beroperasi melalui mekanisme fantasi. Manusia tidak tunduk pada sistem karena sistem selalu benar.
Mereka patuh karena sistem menyediakan fantasi yang memberi struktur makna untuk kehidupan mereka. Toxic masculinity eksis karena ia menawarkan fantasi. Fantasi menjadi laki-laki sempurna, menjadi penguasa, menjadi episentrum perhatian, menjadi sosok yang tidak pernah terluka. Semua itu tentu sangat menggoda.
Karena ia membawa ilusi sertanitas di tengah dunia yang dipenuhi ketidakpastian. Namun setiap fantasi selalu memiliki ongkos eksistensial. Harga dari fantasi maskulinitas merupakan penolakan terhadap humanisme itu sendiri. Padahal, manusia sejatinya rapuh, terbatas, dan rentan.
Maka dikala seseorang dipaksa menjadi sosok yang selalu kuat, sesungguhnya ia sedang dipaksa meninggalkan sebagian dari dirinya sendiri. BTS menarik karena mereka tidak menjual fantasi kesempurnaan. Mereka justru memantulkan ketidaksempurnaan. Dan secara paradoksal, ketidaksempurnaan itulah yang membuat mereka terasa lebih manusiawi.
Bila anda mendengar banyak karya mereka, terdapat tema yang terus berulang tentang ketakutan, keraguan, kesepian, kecemasan, ketidakpastian. Tema-tema ini tidak kompatibel dengan standar maskulinitas hegemonik. Tapi justru karena itulah ia menjadi krusial.
Dekonstruksi terhadap fantasi yang selama ini menopang toxic masculinity. Mereka menunjukkan bahwa manusia tidak harus sempurna untuk memiliki nilai. Bahwa seseorang tidak harus dominan untuk dihormati. Bahwa seseorang tidak harus menaklukkan orang lain untuk menemukan makna hidupnya.
Secara ideologis, pesan ini sangat berbahaya bagi sistem yang hidup dari kompetisi tanpa akhir. Karena manusia yang berdamai dengan dirinya sendiri jauh lebih sulit dimanipulasi dibanding manusia yang terus-menerus merasa kurang.
Sebagai seorang ARMY laki-laki, saya menyaksikan secara langsung bagaimana eksistensi BTS kerap memunculkan pertanyaan-pertanyaan yang hampir tidak pernah dialamatkan kepada fandom lainnya. Mengapa laki-laki menyukai BTS? Mengapa laki-laki mendengarkan lagu-lagu mereka? Mengapa laki-laki mengagumi mereka?
Pertanyaan-pertanyaan itu terlihat sederhana. Tapi di balik simplisitasnya, terselubung asumsi epistemologis yang jauh lebih besar, bahwa terdapat batas-batas tertentu mengenai bagaimana seorang laki-laki seharusnya menjadi laki-laki.
Dan justru batas-batas itulah yang saya interrogasi dalam risalah ini. Karena pertarungan terbesar dalam sejarah manusia tidak selalu berlangsung dalam bentuk aneksasi teritorial secara geografis. Bagi saya, itulah alasan mengapa BTS layak dibaca secara filosofis.
Sebagian besar analisis pada fandom berhenti pada dimensi konsumerisme kultural. Padahal ARMY tidak dapat dienskripsikan semata-mata sebagai kumpulan penggemar. ARMY lebih menyerupai sebuah komunitas imajiner global. Konsep ini mengingatkan saya pada formulasi Benedict Anderson mengenai bangsa, yang bukan komunitas yang seluruh anggotanya saling mengenal.
Bangsa adalah komunitas yang dibayangkan. ARMY beroperasi melalui mekanisme yang senada. Jutaan individu yang tidak pernah berjumpa dapat merasakan dirinya sebagai bagian dari komunitas yang sama. Yang menyatukan mereka bukan wilayah, ras, bahasa, agama, makna.
Bila negara modern dibangun melalui nasionalisme, maka ARMY dibangun melalui afeksi. Kami membentuk solidaritas lintas batas yang tidak bertaut pada identitas-identitas tradisional. Fenomena ini memperlihatkan bahwa globalisasi tidak hanya memproduksi pasar global.
Ia juga memproduksi bentuk-bentuk komunitas baru. Hubungan internasional tradisional poros pada negara. Namun dunia digital memperlihatkan bahwa emosi juga dapat berfungsi sebagai kekuatan geopolitik. ARMY memproduksi jaringan afeksi global yang mampu bergerak melampaui batas-batas negara. Mereka mengorganisasi kampanye sosial. Menggalang dana kemanusiaan. Menyebarkan pesan kesehatan mental. Mengangkat isu-isu sosial.
Semua itu dilakukan tanpa struktur birokrasi formal. Fenomena ini menunjukkan bahwa kekuasaan abad ke-21 semakin bergeser dari institusi menuju jaringan. Yang menentukan bukan lagi siapa yang memiliki wilayah terbesar.
Melainkan siapa yang mampu mengoneksikan manusia melalui horizon makna bersama. Dalam konteks tersebut, BTS dan ARMY menciptakan model diplomasi baru, yakni diplomasi emosional. Bukan diplomasi yang beroperasi melalui negosiasi antarnegara.
Melainkan diplomasi yang berjalan dengan resonansi kemanusiaan. Pada ujung konfigurasi telaah ini, signifikansi filosofis BTS sesungguhnya tidak terletak pada musik yang mereka produksi. Karena hal itu hanyalah wahana artikulasi. Yang jauh lebih fundamental ialah transformasi medan pertanyaan yang mereka hadirkan.
Sepanjang trajektori historis peradaban, setiap pergeseran besar dimulai oleh mutasi pertanyaan. Socrates tidak mengguncang Athena karena ia menawarkan jawaban yang baru. Ia mengguncang Athena karena ia memperkenalkan rezim pertanyaan yang berbeda. Copernicus tidak semata-mata merevisi astronomi.
Ia merekonfigurasi posisi ontologis manusia di dalam kosmos. Karl Marx tidak hanya melancarkan kritik terhadap kapitalisme. Ia mengubah cara manusia memaknai sejarah sebagai arena produksi makna. Michel Foucault tidak sekadar merumuskan teori kekuasaan. Ia merevisi cara manusia memandang dirinya sebagai subjek.
Demikian pula BTS. Kontribusi terbesar mereka bukanlah lagu-lagu yang mereka nyanyikan, namun kegelisahan epistemik yang mereka semaikan ke dalam kesadaran global. Mereka memaksa dunia untuk kembali mempertanyakan:
Apakah maskulinitas harus selalu berkorespondensi dengan dominasi? Apakah kekuatan harus selalu dimaknai sebagai agresivitas? Apakah laki-laki harus senantiasa menyembunyikan lanskap emosionalnya? Apakah kerentanan identik dengan kelemahan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tampak elementer. Namun hampir seluruh arsitektur kekuasaan sering kali berdiri di atas asumsi-asumsi yang tampak elementer. Karena itu, ketika asumsi tersebut mulai dipersoalkan, fondasi kekuasaan ikut mengalami turbulensi.
Dalam pengertian inilah BTS merupakan sebuah peristiwa filosofis. Mereka tidak meruntuhkan institusi. Mereka mendestabilisasi asumsi.
Dan sejarah berulang kali menunjukkan bahwa asumsi jauh lebih menentukan dibanding institusi. Institusi lahir dari asumsi.
Ketika asumsi berubah, institusi cepat atau lambat akan mengalami rekonfigurasi. Sejak era Yunani klasik, peradaban Barat membangun dirinya di atas metafisika kehadiran. Sesuatu dianggap bernilai sejauh ia mampu menghadirkan kepastian ontologis. Rasionalitas ditempatkan lebih tinggi daripada afektivitas.
Kontrol ditempatkan lebih tinggi daripada spontanitas. Dominasi ditempatkan lebih tinggi daripada kerentanan. Maskulinitas kemudian memperoleh legitimasi filosofis dari struktur nalar tersebut. Ia diposisikan sebagai simbol keteraturan. Simbol daya. Simbol otoritas. Simbol penguasaan. Namun abad ke-21 memperlihatkan konfigurasi yang berbeda. Kepastian mulai mengalami erosi. Batas-batas identitas mulai mengalami pencairan.
Kategori-kategori lama kehilangan kapasitas eksplanatorisnya terhadap realitas. Di tengah kondisi tersebut, maskulinitas hegemonik memasuki krisis ontologis. Ia tidak lagi mampu menyediakan jawaban yang memadai terhadap kompleksitas manusia kontemporer. Ia terlalu sempit untuk menampung pluralitas pengalaman manusia.
Ia terlalu rigid untuk memahami dunia yang cair. Ia terlalu terobsesi pada kontrol untuk memahami kenyataan yang sarat ketidakpastian. Maka yang sedang kita saksikan hari ini bukan sekadar krisis maskulinitas. Yang sedang kita saksikan adalah krisis metafisika maskulinitas. Krisis terhadap fondasi filosofis yang selama berabad-abad menopang keberadaannya.
Dan BTS muncul tepat pada momen historis tersebut. Mereka bukan penyebab krisis. Mereka adalah simptomnya. Mereka adalah penanda bahwa dunia sedang bergerak menuju konfigurasi identitas yang berbeda.
EPILOGUE
Bagi saya kuriositas yang paling krusial bukanlah, Mengapa BTS begitu populer?. Karena esensi itu terlalu superfisial. Pertanyaan yang lebih filosofis adalah “Mengapa dunia membutuhkan BTS?” Jawabannya mungkin terletak pada kelelahan ontologis peradaban itu sendiri.
Peradaban modern terlalu lama menglorifikasi kekuatan hingga lupa memuliakan kemanusiaan. Terlalu lama mengagungkan dominasi hingga lupa menghargai empati. Terlalu lama mengajarkan manusia untuk menang hingga lupa mengajarkan bagaimana menjadi utuh, BTS hadir bukan sebagai solusi final, atau mesias budaya.
Mereka hanyalah sebuah penanda, sebuah simptom dan indikasi bahwa sejarah sementara bergerak, definisi-definisi lama mulai mengalami retakan. Bahkan identitas-identitas yang dahulu tampak kokoh ternyata menyimpan kerapuhan.
Tanggal 13 Juni 2026 menandai tiga belas tahun sejak tujuh anak muda dari Korea Selatan memperkenalkan dirinya kepada dunia dengan nama Bangtan Sonyeondan. Tiga belas tahun yang bagi saya bukan sekadar akumulasi kronologis dalam kalender industri hiburan global. Ia adalah penanda historis atas lahirnya sebuah fenomena yang berhasil menembus sekat musik, melampaui rezim bahasa, mengatasi delimitasi negara-bangsa, bahkan menerobos batas-batas konseptual yang selama ini diadopsi manusia untuk membangun dan memahami identitas dirinya sendiri. Risalah ini didedikasikan tepat pada momentum tersebut. Sebagian orang mungkin menganggap penulisan sebuah risal
