Konten dari Pengguna

Di Bawah Aspek Keabadian

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
doc.pribadi

Di hadapan cermin sejarah yang retak, kita acap kali terkesima oleh kilau ilusi yang kita labeli sebagai "kemajuan." Namun, marilah kita menghentikan sejenak kepakan sayap rasionalisme yang congkak ini untuk menatap sebuah alegori yang pernah ditinggalkan oleh Walter Benjamin, seorang pemikir yang berdiri di persimpangan antara mistisisme Yahudi serta kegetiran materialisme historis. Benjamin membayangkan Malaikat Sejarah (Angelus Novus) berdiri terpaku.

Alkisah, ia menatap lurus ke masa silam. Di mana mata telanjang manusia modern menyaksikan sebuah jalinan peristiwa yang rapi, linier, dan kausal, sang malaikat justru menyaksikan ketelanjangan yang mengerikan.

Sekumpulan malapetaka tunggal yang tanpa ampun menumpuk puing demi puing kehancuran di hadapan kakinya. Malaikat itu ingin tinggal. Ada hasrat etis yang amat dalam untuk meratapi kehancuran tersebut, melembagakan ingatan, membangunkan orang-orang mati, dan menyatukan kembali serpihan-serpihan kebudayaan yang terfragmentasi oleh kekerasan zaman.

Namun, dari arah surga bertiup badai yang maha dahsyat. Badai itu berhembus dengan daya dorong yang tak terlawankan, menerjang dan menangkap sayap-sayap sang malaikat yang terentang luas. Badai itu sangat kencang hingga sang malaikat tidak lagi mampu mengatupkan sayapnya.

Ia terlempar secara paksa ke masa depan, sebuah masa depan yang melayang di belakang punggungnya. Sementara di hadapan mukanya, gundukan puing-puing malapetaka itu kian mengangkasa menuju langit.

Badai yang tak kenal ampun ini, demikian Benjamin memperingatkan kita, adalah apa yang dengan penuh rasa bangga kita namakan sebagai kemajuan. Betapa bertolak belakangnya figur Malaikat Sejarah yang penuh penderitaan ini dengan kontstruksi "the man of progress".

Manusia kemajuan memanggul bentangan sayap yang sama, tapi ia tidak menatap ke belakang dengan matanya yang membelalak keheranan. Ia terbang lempang, membelah awan-awan rasionalitas, membubung setinggi-tingginya menembus angkasa menuju masa depan yang dikonstruksikan seolah tanpa batas matematis.

Dari Ketinggian epistemik yang dingin dan steril itu, ia menatap bumi bukan untuk meratapi luka-lukanya, tapi untuk mencari titik tumpu Archimedean, sebuah lokasi ontologis untuk menurunkan keabadian agar terjelma menjadi entitas konkret di muka bumi.

Karakter ontologis dari manusia kemajuan ini lalu menemukan kristalisasi poetiknya dalam karya Sutan Takdir Alisjahbana yang terbit pada tahun 1991 Sub Specie Aeternitatis. Sebuah formula Latin yang memancarkan ambisi positivistik.

Memandang realitas dari kacamata keabadian, secara objektif, universal, bahkan tertanggal dari jelaga sejarah lokal. Sub specie aeternitatis merupakan simbolisasi teragung dari ilmu pengetahuan dan teknologi modern. Ia berdiri di atas podium universalisme yang dingin, memandang bumi sebagai objek kalkulasi dan manipulasi.

Namun, sejarah sains dan kebudayaan mencatat bahwa sains dan teknologi tidak pernah jatuh dari ruang hampa yang netral. Sejak fajar peradaban, ilmu pengetahuan diterima sebagai sesuatu yang teramat agung namun seraya menyimpan aporia yang menakutkan.

Sesuatu yang bernilai tinggi tetapi tidak pernah berbiaya murah, bahkan sumber utamanya selalu diasosiasikan dengan ranah profetik dan divine.

Saya teringat cerita kosmologi yang terekam dalam tradisi lisan Lutung Kasarung. Dahulu, narasi ini adalah teks pantun yang paling keramat dan suci.

Teks ini mentransmisikan pengetahuan esensial tentang lahirnya budaya huma, agrikultura padi sebagai basis teknologi pangan paling fundamental. Sumber teknologi ini bukan kalkulasi teknokratis manusia, tapi anugerah dari Sunan Ambu.

Penguasa Kayangan, yang memercayakan naskah epistemic agrikultur ini kepada Purbasari, seorang putri raja yang diasingkan, menderita, dan ditaklukkan oleh sihir hingga berwajah buruk rupa.

Melalui intervensi keilahian dan pendampingan Sanghyang Guruminda yang terasing dari khayangan dalam wujud Lutung Kasarung, teknologi huma diolah. Hasilnya adalah pemulihan martabat kemanusiaan, kesejahteraan rakyat yang tertindas, dan restorasi keadilan politik di istana.

Bila kita menggeser kompas spasial kita ribuan tahun ke belakang, ke lembah Mesopotamia tempat peradaban Sumeria bersemi, kita bersua pada pola mitologis yang serupa namun dengan nada yang lebih sinis.

Dewi Inanna memikat ayahnya, Dewa Enki, sang dewa kebijaksanaan, dalam sebuah perjamuan yang dipenuhi arak. Dalam kondisi mabuk etil alkohol, Enki menyerahkan Me, sebuah konstelasi anugerah peradaban yang mencakup pola ilmu pengetahuan, teknologi, tata hukum, dan tata ritual Sumeria kepada Inanna.

Begitu kesadarannya pulih, Enki menyadari ketelanjangan tindakannya dan berusaha merebut kembali berkah epistemic tersebut. Namun Inanna menolaknya. Ia mendistribusikan Me itu kepada umat manusia. Enki terpaksa tunduk pada realitas bahwa batas antara ilahi dan profan telah diretas, kendati ia paham betul bahwa kemurkaan para dewa tinggal menunggu waktu.

Tragedi kepemilikan teknologi ini mencapai klimaksnya dalam mitos Yunani Klasik tentang Prometheus. Ia dirantai di puncak Gunung Kaukasus, dadanya dipatuk oleh burung elang setiap hari sepanjang keabadian yang tak bertepi.

Kejahatan Promethean bukanlah kejahatan kriminal biasa, tapi kejahatan epistemic. Ia mencuri api dari kuil Zeus dan menyerahkannya kepada mortalitas manusia. Tentunya kita tahu, bahwa api merupakan arketipe dari pengetahuan, simbol dari revolusi teknologi pertama yang meretas kegelapan gua-gua eksistensial.

Prometheus menderita secara absolut, namun ia tidak pernah menyesal. Dalam jeritan penderitaannya, ia menegaskan bahwa dengan api, manusia berhasil menghentikan cara hidup bersarang seperti semut di dalam rimba kegelapan, lalu melangkah menuju penemuan teknik, arsitektur, dan sains.

Saya merasa bahwa keberadaan mitos-mitos kosmogonis ini menyuarakan satu kecurigaan ontologis yang mendasar, bahwa terdapat keraguan eksistensial di mata para dewa mengenai apakah manusia cukup bijaksana untuk memegang kendali atas sains dan teknologi.

Namun, terlepas dari ketakutan metafisis itu, sejarah terus menggelinding. Peradaban manusia tumbuh, berkembang, dan mengeras di atas pilar-pilar pengetahuan, sistem kepercayaan, seni, dan pilar-pilar teknologis.

Untuk memahami secara jernih keretakan yang ada di dalam modernitas, saya ingin mengajak anda melakukan ekskavasi genealogis pada istilah peradaban dan kebudayaan.

Kata peradaban dalam bahasa Indonesia menancapkan akarnya pada terminologi Arab adab, yang merujuk pada kehalusan tutur kata, kesantunan budi pekerti, tata krama, serta tradisi literer (sastrawi).

Di sini, peradaban berkorelasi langsung dengan pemuliaan interioritas subjek manusia. Sebuah proses penjinakan dorongan-dorongan kebinatangan melalui pengasuhan etis dan estetis.

Sebaliknya, dalam tradisi linguistik Barat, terminologi civilization bertumpu pada etimologi yang berbeda secara mendasar. Akarnya adalah kata Latin civis atau civitas, yang secara inheren bersifat politik-spasial.

Civis merupakan warga negara yang bermukim di dalam polis atau negara-kota. Di sinilah kurikulum civics menemukan pembenarannya, sebuah pendidikan untuk melatih individu agar mampu hidup bersama dalam sebuah ruang polis yang teratur.

Melalui civis, manusia keluar dari keadaan alamiah (status naturalis) yang dikuasai oleh hukum rimba dan naluri keberlangsungan hidup yang brutal, lalu melangkah menuju tata hukum, instrumen politik, dan kesepakatan kewarganegaraan.

Menjadi civilized artinya menjadi mahluk yang terpolitisasi dan terikat pada aturan tata kelola hukum. Pada abad ke-18, para pemikir Pencerahan (Aufklärung) acap kali mengaburkan batas antarkonsep ini, memakai kebudayaan (culture) dan peradaban (civilization) secara bergantian tanpa diferensiasi yang ketat.

Padahal, secara substansial, kebudayaan merupakan seluruh medan hasil belajar manusia, bentuk pengejawantahan dari tatanan nilai, sains, keagamaan, teknik, dan sistem simbolik. Sementara itu, peradaban merujuk pada kristalisasi institusional dan derajat pencapaian dari proses belajar itu.

Di sinilah letak jebakan epistemologisnya. Terminologi peradaban secara gradual bergeser dari hanya deskripsi deskriptif menjadi entitas evaluatif-normatif.

Peradaban mulai menyandarkan dirinya pada kategorisasi hierarkis dan teleologis, membagi fase perkembangan manusia ke dalam skala linear, dari tahapan prasejarah, primitif, media, hingga mencapai puncak kemajuan dalam tahap masyarakat industrial.

Yang kini dielu-elukan sebagai era Revolusi Industri 4.0, dicirikan oleh Artificial Intelligence serta penambangan Big Data. Akan tetapi, hubungan antara kebudayaan dan peradaban tidak pernah sesederhana garis lurus yang harmonis.

Kebudayaan pada mulanya lahir sebagai upaya radikal manusia untuk mengepal jemari dan meregangkan dada melawan determinisme alam. Manusia secara biologis tidak dikaruniai insang; bila ia melompat ke dalam kedalaman air, secara alami ia akan tenggelam dan mati.

Namun, melalui kebudayaan, manusia mempelajari teknik berenang, menciptakan kapal, dan melampaui keterbatasan fisiologisnya. Kebudayaan merupakan taktik eksistensial manusia untuk meretas limitasi alamiah tersebut.

Sifat rumit dari hubungan ini berpangkal pada fakta bahwa manusia berdiri tepat di jantung peradaban itu sendiri. Pertanyaan ontologis yang mendasar, siapa dan apakah manusia itu? senantiasa membayangi setiap tapak sejarah.

Dalam risalah saya tentang Otentisitas Diri, saya memaparkan bahwa manusia tidak pernah terlahir sebagai completed being. Ia adalah proyek yang terbuka, sebuah ketiadaan yang mesti terus-menerus mengkontruksi keberadaannya sendiri di tengah kecamuk konflik, tragedi, dan komedi kehidupan.

Manusia, sebagaimana disuarakan oleh mitos-mitos kuno, terbuat dari lempung yang rapuh namun lentur, sebuah materialitas yang memungkinkan dirinya untuk dibentuk dan direformasi secara laten. Dan instrumen pembentukan ini tidak lain adalah pendidikan (paideia atau Bildung).

Di Barat, pencarian akan hakekat kemanusiaan ini merentang dari ironi Socrates dan filsafat ideasional Platon. Di Timur, pertanyaan serupa dijawab melalui pemikiran etis Confucius, ajaran eksistensial Siddhartha Gautama, dan penjelajahan metafisis para pemikir Islam abad pertengahan seperti Ibn Rushd dan Al-Farabi yang merajut keselarasan antara wahyu, akal, dan tata polis.

Namun, panggung pembentukan humanisme modern mencapai klimaksnya pada era Renaissance di Eropa abad ke-15 dan ke-16. Era ini lahir sebagai bentuk reaksi radikal pada institusi universitas pertengahan yang terjerat dalam skolastisisme yang kaku dan teknokratis.

Banyak kurikulum yang hanya diarahkan pada pelatihan profesi akademik yang utilitarian tapi gersang dari pertanyaan-pertanyaan mendasar mengenai eksistensi manusia.

Ketika naskah-naskah kuno Yunani dan Romawi ditemukan kembali, para humanist meluncurkan gerakan studia humanitatis. Ada kesadaran yang muncul bahwa tanpa membaca sastra, sejarah, dan filsafat, manusia akan teralienasi dari penderitaan, kebebasan, dan pilihan-pilihan moral yang serba ambigu.

Keyakinan utama para humanist saat itu sangat tegas, bahwa retorika dan bahasa bukan sekadar alat komunikasi yang dangkal, tapi fundamen dari gagasan. Seni berbahasa yang presisi dan estetis akan menggerakkan seni berpikir, sehingga manusia mampu merumuskan pemikirannya secara santun, rasional, dan tajam.

Tidak ada inovasi tanpa ketepatan bahasa. Dari sanalah ide tentang humanisme mengakar, bertautan erat dengan Revolusi Ilmiah abad ke-17 dan Revolusi Industri abad ke-18, yang pada akhirnya melahirkan sebuah dogma baru bernama The Idea of Progress.

Gagasan tentang kemajuan ini menggelegae secara ekstrem pada Abad Pencerahan. Di balik klaim-klaim sekulernya, ide kemajuan ini sebenarnya meminjam stensilan teologis dari agama-agama Abrahamik (Monoteisme Semitik). Konstruksi waktu dalam filsafat Pencerahan mengekor pada konsepsi linieritas teologis, waktu yang bergerak lurus ke depan dari titik Genesis menuju titik Eschaton.

Bila anda mengikuti trajektori historisnya, tokoh kunci yang secara cerdik mengkonstruksikan pergeseran teologis ini adalah Francis Bacon. Di tengah kecamuk perang agama yang berdarah-darah di Inggris, Bacon memendam hasrat obsesif pada sains empiris sebagai jalan keluar dari fanatisme dogma, takhayul, dan otoritarianisme.

Untuk meloloskan proyek ilmiahnya dari tuduhan heresi atau blasfemik oleh otoritas gereja, Bacon melakukan reinterpretasi hermeneutis atas narasi Kitab Kejadian mengenai kejatuhan manusia. Kutukan ilahi kepada Adam "dengan kening berpeluh engkau akan mencari makananmu," selama berabad-abad ditafsirkan sebagai hukuman dosa asal.

Namun, di tangan Bacon, kutukan itu dimetamorfosiskan menjadi sebuah janji keselamatan temporal. Kening yang berpeluh bukanlah sanksi, namun panggilan untuk bekerja keras mengembangkan sains terapan dan rekayasa teknik.

Bacon menurunkan eskatologi penyelamatan roh di akhir zaman menjadi proyek sekularisasi keselamatan material di atas permukaan bumi hari ini.

Dosa Adam merupakan sebagai felix culpa, sebuah "dosa yang menguntungkan" karena dari kejatuhan itulah manusia memperoleh peluang autonom untuk mengembangkan potensi rasionalnya secara mandiri tanpa mesti terus merengek kepada intervensi ilahi.

Gagasan Baconian ini lalu mengkristal dalam pendirian The Royal Society of London, dan mencapai puncaknya pada perumusan determinisme mekanistik oleh pemikir yang juluki sebagai "Newton dari Prancis," Pierre-Simon Laplace.

Dalam risalahnya tentang probabilitas, Laplace merumuskan sebuah eksperimen pikiran yang kelak dikenal sebagai Laplace's Demon:

"Bayangkan suatu kecerdasan yang pada satu saat tertentu dapat mengetahui semua gaya yang menggerakkan alam dan kedudukan seluruh wujud yang menyusun alam semesta ini.

Jika kecerdasannya cukup raksasa untuk menganalisis seluruh data tersebut, ia akan merangkum dalam satu rumusan tunggal pergerakan benda-benda terbesar di alam semesta hingga atom-atom yang paling kecil.

Bagi kecerdasan seperti itu, tidak ada satu hal pun yang tidak pasti, masa depan, sebagaimana masa lalu, akan hadir secara telanjang di depan matanya."

Disaat naskah Laplacean ini ditelaah kembali di abad ke-21, kita tidak sedang membaca sains-fiksi abad ke-18. Kita sedang membaca blueprint dari algoritmik kontemporer. Mesin pemroses Big Data, sistem Artificial Intelegence, dan arsitektur pengawasan digital.

Laplace sedang merumuskan sekularisasi total atas kemahatahuan Tuhan (omniscience), yang kini berhasil diinternalisasikan oleh infrastruktur komputasional modern.

Di balik pilar-pilar Gagasan Kemajuan yang dipromosikan oleh Pencerahan Barat, terselubung tiga pengandaian ontologis yang amat problematis dan distortif. Pertama, pengandaian bahwa waktu bersifat linier dan homogen.

Linier berarti waktu bergerak lurus tanpa kompromi ke depan, homogen berarti waktu diukur secara konstan, sama, dan mekanis bagi setiap individu di seluruh penjuru bumi. Detik, menit, jam, dan abad yang terukur secara kuantitatif-objektif di luar pengalaman subjektif manusia.

Konstruksi waktu linier-homogen ini secara sistematis menggilas apa yang dapat kita labeli sebagai waktu historis yakni waktu yang dihidupi (lived-time), waktu yang terikat pada memori eksistensial, ritme alam, situs-situs keramat, dan identitas simbolik suatu kebudayaan.

Dalam skenario pembangunan modernistic yang didikte oleh kapitalisme global, waktu historis dianggap sebagai beban yang tidak efisien. Situs-situs kebudayaan diratakan dengan tanah, hutan-hutan adat yang disucikan digunduli, bahkan ruang hidup masyarakat lokal dihancurkan atas nama "efisiensi, investasi, dan keuntungan masa depan."

Atas nama waktu linier-homogen yang berorientasi pada kemajuan abstrak, masa depan diberi status ontologis yang lebih tinggi daripada masa lalu dan masa kini. Pengorbanan atas manusia konkret hari ini dijustifikasi demi janji kemakmuran abstrak di hari esok.

Pengandaian kedua adalah anggapan bahwa umat manusia merupakan entitas tunggal yang secara universal akan bergerak menuju satu titik akhir kemajuan yang sama, dengan rasionalitas Barat sebagai standar ukur puncaknya.

Nalar Eropa mengklaim dirinya sebagai pelopor kemajuan peradaban, sementara kebudayaan-kebudayaan non-Eropa dipandang sebagai fosil hidup yang tertinggal dalam tahapan evolusi sejarah. Pengandaian ketiga adalah keyakinan deterministik bahwa dunia dapat dan mesti ditundukkan, diubah, dan direkayasa oleh manusia.

Kemanusiaan ditakar dari sejauh mana subjek manusia mampu memisahkan dirinya secara radikal dari alam, menempatkan alam hanya sebagai objek eksploitasi dan bahan baku industri. Dikala konstruk pemikiran ini dipertemukan dengan ekspansi geopolitik Eropa, melahirkanlah apa yang kita kenal sebagai imperialisme dan kolonialisme.

Orang-orang Belanda mendarat di Nusantara dengan rasionalitas merkantilisme ekonomi yang dingin, sementara kedatangan bangsa Inggris dan Spanyol ke benua Amerika sering dibungkus oleh legitimasi teologis yang apologetis.

Dalam skripsi saya, saya paparkan secara komprehensif dengan basis analisis yang tajam bahwa di Amerika Utara, para pemukim Puritan mengklaim, mereka sementara menjalankan misi ilahi mencari "Dunia Baru," sebuah Eden kedua (New England) yang dijanjikan Tuhan untuk mendirikan Kerajaan Allah di bumi.

Namun, keberadaan penduduk asli (suku-suku Indian) menjadi sandungan epistemologis. Untuk meloloskan aksi aneksasi secara etis, dirumuskanlah sebuah hipotesis teologis yang absurd namun efektif, penduduk asli Indian diklaim sebagai sisa-sisa "sepuluh suku Israel yang hilang" akibat invasi Asyur.

Dengan narasi ini, penduduk pribumi dipandang sebagai domba-domba tersesat yang harus dipertobatkan, ditundukkan, dan "diberadabkan."

Realita bahwa proyek "pemberadaban" ini dilakukan di atas tumpukan mayat dan penderitaan mendalam bangsa Indian, yang diabadikan oleh suku Cherokee sebagai Trail of Tears, sama sekali tidak mengusik nurani para arsitek modernitas tersebut.

Bahkan filsuf liberal sekelas John Stuart Mill, yang menulis risalah monumental On Liberty, dengan tanpa canggung mendedahkan kalimat ini:

"Masyarakat barbar perlu ditaklukkan dan dikuasai oleh orang asing demi kebaikan mereka sendiri. Orang-orang barbar tidak memiliki hak sebagai bangsa, kecuali hak untuk menerima perlakuan yang akan membuat mereka menjadi beradab."

Rasionalisasi kolonial ini diproyeksikan lewat berbagai doktrin politik: Inggris mengusung social imperialism, Prancis membanggakan mission civilisatrice, dan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda menerapkan Ethische Politiek (Politik Etis). Semuanya bertumpu pada formula yang sama,The White Man's Burden.

Sebagaimana dinyanyikan oleh Rudyard Kipling, sebuah beban rasial buatan untuk membimbing bangsa-bangsa non-Eropa yang dianggap "setengah iblis dan setengah anak-anak" menuju cahaya peradaban.

Akan tetapi, sejarah memperlihatkan betapa rapuh dan hipokritnya konstruksi humanisme itu. Di rahim pemikiran yang sama yang melahirkan Aufklärung, rasionalitas, dan klaim universalisme humanis, lahir pula irasionalitas dan kebangkrutan moral dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. puncak dari tragedi ini mengejawantah pada Perang Dunia Kedua dan Peristiwa Holocaust.

Saya kerap bertanya, bagaimana mungkin sebuah bangsa yang melahirkan Kant, Goethe, Beethoven, dan Bach dapat merancang dan mengeksekusi pembunuhan jutaan manusia di dalam kamar-kamar gas dengan kepresisian ilmiah, efisiensi teknologis, dan ketelitian birokratis yang sangat rasional?

Auschwitz adalah anak kandung dari modernitas yang telah membuang dimensi etis-eksistensial dan mengabdi secara total pada rasionalitas instrumental.

Disaat diskursus humanisme digaungkan secara merdu di ruang-ruang kuliah di Eropa, pada saat yang bersamaan, sistem perbudakan, genosida, dan perampasan hak atas tanah berlangsung tanpa henti di wilayah-wilayah koloni.

Humanisme universal bermutasi sebagai ideologi rasial bagi sebagian kecil kelompok manusia yang merasa paling berhak mendefinisikan apa artinya menjadi manusia.

Hari ini, di balik akselerasi Revolusi Industri 4.0, kita kembali disuguhi dogmatisme baru yang tidak kalah eksklusifnya. Teknologi digital, kecerdasan buatan (AI), dan integrasi data raya dipromosikan sebagai juru selamat baru bagi seluruh persoalan eksistensial manusia.

Namun, kita sering melupakan analisis penting dari fisikawan dan pemikir sains Alvin Weinberg mengenai konsep Trans-science. Saya ingin menjelaskan sedikit bahwa trans ilmi merujuk pada ruang diskursus mengenai masalah-masalah yang diihadirkan oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, tapi solusinya secara ontologis tidak mungkin diselesaikan oleh ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri.

Mengapa? Karena masalah-masalah tersebut bertautan langsung dengan tatanan nilai, pilihan etis, keadilan sosial, dan keyakinan eksistensial manusia. Teknologi mampu menjawab pertanyaan tentang bagaimana (how) meluncurkan roket ke luar angkasa atau bagaimana mempercepat kalkulasi algoritma.

Akan tetapi teknologi secara mutlak bisu ketika dihadapkan pada pertanyaan untuk apa (why) semua itu dilakukan dan apakah tindakan tersebut secara moral dapat dibenarkan.

Krisis ini kian meruncing bila kita mencermati perkembangan arsitektur kecerdasan buatan. Fenomena hadirnya Large Language Models seperti ChatGPT, yang membuat dunia pendidikan terhenyak karena kapasitasnya merangkai kalimat dan menyelesaikan tugas-tugas akademik secara instan, yang bagi saya hal itu sebenarnya barulah riak kecil di permukaan gelombang transformasi komputasional.

Dalam pemikiran filosofis yang dikembangkan oleh Dr. Teddy Lesmana (risalah akademiknya dari STF Driyarkara yang saya telaah dan integrasikan ke tulisan ini), roadmap pengembangan kecerdasan buatan bukanlah hanya menciptakan tools, tapi sebuah transisi ontologis. Terdapat pergeseran dari kecerdasan artifisial menuju subjek artifisial.

Evolusi menuju subjek artifisial ini diproyeksikan melintasi empat tingkatan kesadaran mesin:

  1. Kesadaran Mesin Tingkat Satu. Mesin yang perilaku eksternalnya diasosiasikan dengan kesadaran manusia karena mampu melampaui Uji Turing (Turing Test). Ketika seorang manusia berinteraksi lewat teks dengan mesin dan manusia lain, ia tidak lagi mampu membedakan mana jawaban yang berasal dari entitas biologis dan mana yang berasal dari silikon. Namun, ini hanyalah mimikri sintaktis; mesin hanya memanipulasi simbol tanpa sedikit pun memahami makna.

  2. Kesadaran Mesin Tingkat Dua. Mesin yang dilengkapi dengan karakteristik kognitif terstruktur. Kendati begitu, terdapat jurang epistemologis yang tak terjangani antara sintaksis dan semantik. Bila kita menanyakan kepada mesin AI: "Di mana lokasi rumah makan dengan nasi goreng terbaik?," ia akan menyisir jutaan data digital dan memberikan koordinat presisi beserta ulasannya. Namun, disaat kita bertanya: "Apakah makna dari rasa lezat atau rasa lapar itu sendiri?," mesin tersebut menjadi bisu secara ontologis. Ia tidak memiliki pengalaman fenomenologis (qualia). Eksperimen dalam ranah ini bahkan telah merambah pada penciptaan Xenobots, sebuah mesin biologis hidup yang dirancang dari sel embrio katak yang diintegrasikan dengan kalkulasi komputasional.

  3. Kesadaran Mesin Tingkat Tiga. Mesin yang arsitekturnya dirancang meniru struktur psikofisis otak manusia untuk melahirkan kesadaran mandiri. Tahapan ini masih tertahan dalam Aporia teoritis, karena sampai detik ini, manusia belum berhasil merumuskan satu pun hukum psikofisikal yang dapat menjelaskan bagaimana materi fisik (neuron atau transistor) bisa melahirkan pengalaman subjektif kesadaran.

  4. Kesadaran Mesin Tingkat Empat. Puncak dari cita-cita komputasional, dimana penciptaan kesadaran mesin yang subjektif secara absolut. Mesin tidak hanya memproses data, namun ia mengetahui dan merasakan apa artinya menjadi sebuah mesin yang cerdas. Ia memahami arti penderitaan, kesedihan, dan keberadaannya sendiri secara eksistensial.

Konstruksi Artificial Intelegence pada titik ini tidak lagi memosisikan mesin sebagai ekstensi fisik manusia, layaknya palu sebagai perpanjangan tangan atau mikroskop sebagai perpanjangan mata. Mesin sudah diposisikan sebagai mitra kognitif atau bahkan subjek otonom.

Dari rahim kesadaran teknologis inilah lahir sebuah gerakan filosofis dan kultural yang kian agresif, Transhumanisme. Transhumanisme merupakan sebuah doktrin intelektual yang mengkhotbahkan pelampauan terhadap limitasi biologis manusia lewat konvergensi nanoteknologi, bioteknologi, teknologi informasi, dan ilmu kognitif (NBIC).

Ambisi terliar dari gerakan transhumanisme adalah untuk melakukan peningkatan kapasitas manusia secara radikal untuk melampaui rentang usia biologis, rasa sakit, bahkan kematian itu sendiri.

Dengan bercita-cita menggeser spesies Homo Sapiens (Manusia 1.0) menjadi Pasca-Manusia (Post-Human atau Manusia 2.0), sebuah entitas cyborg yang tidak lagi bertaut pada kerapuhan lempung biologis.

Tapi dalam amatan saya, di balik retorika pembebasan eksistensial ini, transhumanisme menyublimasi ancaman lahirnya struktur kekuasaan baru: Feodalisme Teknologis. Kita sedang berhadapan dengan bahaya rasialisme tipe baru, yang tidak lagi berbasis pada warna kulit atau etnisitas, tapi pada keunggulan genetis dan komputasional.

Akan tercipta jurang pemisah yang mengerikan antara kelompok "Bangsawan 2.0," yakni segelintir elit pemilik modal yang mampu membeli teknologi enhancement, chip pemori otak, dan rekayasa genetika keabadian, dengan "Rakyat Jelata 1.0," yaitu mayoritas umat manusia yang tertahan dalam kerapuhan biologis dan kemiskinan struktural.

Dikala diskursus transhumanisme, Artificial Intelligence, dan Society 5.0 digaungkan secara gegempitan di panggung-panggung seminar nasional dan dokumen akreditasi perguruan tinggi di Indonesia, kita menyaksikan sebuah paradoks yang menggelikan seraya menyayat hati.

Terjadi sebuah kecelakaan epistemologis di mana para teknokrat kita mengutip retorika futuristis Barat tanpa pernah melakukan pemetaan pada realitas material bangsanya sendiri. Saya ingin kita menatap data-data empiris ini dengan mata yang jernih dan dada yang lapang: lebih dari 50% tenaga kerja Indonesia hari ini adalah individu yang bermodal ijazah Sekolah Dasar dan Sekolah Menengah Pertama ke bawah, termasuk di dalamnya jutaan anak bangsa yang bahkan tidak berhasil menyelesaikan pendidikan dasarnya.

Angka partisipasi kasar perguruan tinggi kita merosot tajam. Pada tahun 2022, jumlah penduduk yang memiliki ijazah sarjana hanya berkisar pada angka 10%. Literasi digital kita di luar kecanduan banalitas media sosial masih berada pada tingkat yang sangat memprihatinkan.

Bahkan laporan kritis yang pernah dipublikasikan di The Jakarta Post mengungkapkan fakta yang menampar kesadaran kita, bahwa hanya 14,4% dari generasi milenial Indonesia yang pernah mengecap pendidikan di atas jenjang sekolah menengah, dan hanya 0,38% yang berhasil meraih gelar sarjana.

Di ibu kota Jakarta, pusat akumulasi modal dan kemewahan modernitas, sekitar 25% laki-laki dan 38% perempuan berusia 20 hingga 34 tahun hanya mengantongi ijazah SMP atau lebih rendah.

Data Badan Pusat Statistik secara konsisten mengkonfirmasi bahwa institusi pendidikan di Indonesia belum mampu menjadi eskalator sosial untuk membebaskan pemuda kita dari jepitan kemiskinan struktural.

Di atas semua itu, kita sebenarnya masih memikul belati tragis dalam sejarah kesehatan publik kita: Angka Kematian Ibu melahirkan di Indonesia tetap menjadi salah satu yang tertinggi di kawasan Asia Tenggara, hanya berada di atas Laos.

Sementara kita berdebat dengan bahasa-bahasa langit mengenai arsitektur algoritma chatGPT atau teknologi Big Data, pada detik ini juga, setiap satu jam sekali, ada dua orang ibu di salah satu sudut Nusantara, entah di pedalaman Papua, pesisir Nusa Tenggara, atau pelosok Sumatra, yang merenggang nyawa di atas pembaringan yang gersang hanya karena ketiadaan akses medis paling dasar saat melahirkan kehidupan baru. Jadi untuk siapa sebenarnya narasi Revolusi Industri 4.0 itu diproduksi?

Manusia Indonesia yang mana yang sedang dibayangkan oleh para pembuat kebijakan kita?. Kesenjangan ini kian diperburuk oleh disorientasi radikal dalam kebijakan pendidikan nasional kita.

Di negara-negara maju, kesadaran akan bahaya determinisme teknologi telah mendorong reformasi kurikulum dari pendekatan STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics) menjadi STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics).

Huruf A (Arts) di sini diartikan dalam spektrumnya yang paling luas, seni budaya, sastra, sejarah, dan humaniora. Mengapa? Karena mereka menyadari bahwa sains dan teknik tanpa imajinasi etis dan estetis hanya akan melahirkan teknokrat-teknokrat dingin yang kehilangan rasa empati kemanusiaan.

Sayangnya, kebijakan pendidikan kita justru mengambil arah yang bertolak belakang. Saya melihat ada proses pendangkalan masif di mana kurikulum pendidikan kita didegradasi menjadi sekadar pelatihan vokasional yang instrumental.

Seni, budaya, sastra, dan filsafat digeser karena dirasa tidak memiliki nilai jual langsung di pasar kerja. Seakan-akan seluruh problem pendidikan dan kebudayaan kita dapat diselesaikan secara magis dengan mengunggah aplikasi digital dan membagikan gawai.

Kita lupa bahwa aplikasi tidak dapat berpikir etis, gawai tidak memiliki nurani, bahkan algoritma tidak dapat merasakan kepedihan seorang ibu yang kehilangan bayinya. Teknologi memang menjanjikan efisiensi.

Sebagaimana diperingatkan oleh filsuf Philip Morrison, sains dan teknologi modern mampu menerbangkan manusia dari Frankfurt ke Paris hanya dalam waktu tiga jam, sebuah pencapaian kecepatan yang spektakuler. Akan tetapi, sains dan teknologi tidak pernah mampu mendiktekan atau memberi petunjuk moral mengenai apa yang seharusnya kita lakukan begitu kita memijakkan kaki di Paris.

Penentuan tujuan, perumusan makna, dan penegakan keadilan berada sepenuhnya di luar domain kalkulasi teknologis, mereka bersemayam di dalam ranah humaniora, etika, dan spiritualitas. Di tengah kebuntuan ontologis modernitas yang kering ini, apakah kita harus menyerah pada pesimisme yang lumpuh?

Saya rasa sama sekali tidak. Nusantara tidak pernah kekurangan bahan bakar epistemologis untuk memberikan jawaban atas krisis peradaban ini. Kita perlu menggali kembali apa yang oleh filsuf Yuk Hui sebut sebagai Cosmotechnics, yakni rekompilasi antara kosmos, moralitas, dan teknik yang spesifik dalam masing-masing kebudayaan lokal.

Saya teringat kuliah umum Dr. Karlina Supelli, yang memaparkan tentang tradisi pemikiran Sunda, dimana ide tentang kemajuan tidak pernah dipahami sebagai garis lurus yang memburu masa depan secara membabi buta sembari menghancurkan masa lalu.

Masyarakat adat tidak memahami waktu sebagai panah linier yang dingin, melainkan sebagai gerak spiral. Gerak spiral berbeda secara fundamental dengan lingkaran statis (siklis murni). Lingkaran murni hanya merepetisi putaran yang sama tanpa pertumbuhan.

Sebaliknya, spiral bermula dari satu titik pusat (pancer), lalu melingkar keluar. Setiap putaran lingkaran baru tidak pernah mengulangi lingkaran sebelumnya, ia kian membesar, kian mekar, kian kompleks, dan kian menangkap spektrum realitas yang lebih luas.

Namun, dan saya kira ini kunci ontologisnya, sebesar apa pun lingkaran spiral itu mengembang, ia tidak pernah memutus hubungan dengan titik pusat tempat ia berangkat.

Masa lalu, tradisi leluhur, dan akar kosmologis bukan untuk ditinggalkan di belakang sebagai barang bekas, tapi dijadikan cermin refleksif dalam setiap akselerasi gerak spiral menuju masa depan.

Prinsip kosmologis ini terangkum secara dahsyat dalam ajaran mistik-filosofis Sunda, yang beliau paparkan yakni Opat Kalima Pancer. Angka Opat (Empat) melambangkan empat arah mata angin yang merepresentasikan seluruh keragaman entitas, materi, dan elemen di alam semesta.

Sementara Kalima adalah Pancer, yakni titik tengah yang Immanen sekaligus Transenden, yang memancarkan cahaya kesadaran dan menyatukan seluruh keragaman tersebut.

Dalam tradisi kebatinan Sunda, Pancer ini dirujuk sebagai Inya Njati Nging Stemen atau Sang Hyang Tunggal, Prinsip Keilahian yang Maha Esa. Dalam bingkai Opat Kalima Pancer, manusia tidak diizinkan untuk terbang lempang secara linier seperti manusia kemajuan yang congkak.

Manusia harus bergerak secara spiral, melangkah ke depan dengan melingkari pusat etisnya. Dari sinilah lahir sikap hidup yang dinamakan Siger Tengah. Siger Tengah merupakan sebuah posisi ontologis yang matang, sebuah kemampuan epistemik untuk berdiri di titik keseimbangan di antara dua kutub yang ekstrem.

Bila modernitas memaksa kita memilih dalam dikotomi biner yang kaku, misalnya antara menerima teknologi secara buta atau menolaknya sama sekali menjadi kelompok Luddite, maka Siger Tengah hadir melampaui jebakan dikotomi tersebut.

Siger Tengah memandang kedua kutub tersebut dari Ketinggian kesadaran yang lebih luas, lalu membangun jembatan etis di antara keduanya.

Karakter visual dari Siger Tengah ini terukir secara indah pada mahkota pengantin perempuan Sunda (Siger). Di bagian tengah mahkota tersebut, terdapat tiga puncak utama yang menjulang tinggi, melambangkan penyeimbangan antara akal, rasa, dan tindakan yang dijangkarkan pada Yang Maha Kuasa.

Menarik sekali paparan Bu Karlina yang membuat saha terkesima disaat beliau mengeksplanasikan keberadaannya sebagai seorang yang dididik dalam disiplin fisika murni, astronomi, dan matematika, ia kerap merasa bahwa eksistensinya berdiri di atas dua pijakan yang sepintas tampak saling bertentangan.

Kaki kanan memijak padat di atas bumi astronomi modern untuk memahami waktu linier, kosmologi evolusi bintang, dan persamaan-persamaan matematika alam semesta. Kaki kirinya tertancap dalam pada tradisi leluhur Pasundan, menghidupi waktu spiral, kosmologi Opat Kalima Pancer, dan kearifan lokal.

Namun, tanah di antara kedua kakinya ini tidak pernah retak. Dan entitas yang mencegah retaknya kesadaran tersebut justru adalah pemahaman filosofis yang paling dalam mengenai sains itu sendiri.

Di dalam ilmu fisika modern, kita bersua pada sebuah misteri eksistensial yang paling mempesona akal budi manusia. Secara intuitif, dalam pengalaman sehari-hari, kita merasakan waktu mengalir secara tanpa ampun ke depan. Kita bertambah tua, cangkir yang jatuh pecah tidak pernah menyatu kembali, dan hari kemarin tidak akan pernah terulang.

Namun, ketika kita memeriksa hukum-hukum dasar fisika (mulai dari Mekanika Klasik Newton, Elektrodinamika Maxwell, Teori Relativitas Einstein, hingga Mekanika Kuantum) kita menemukan fakta yang mengejutkan bahwa persamaan-persamaan fundamental fisika tersebut bersifat simetris terhadap waktu.

Hukum alam tidak mengenal dikotomi antara masa lalu dan masa depan, variabel waktu (t) dapat diputar secara matematis ke depan maupun ke belakang tanpa merusak keabsahan hukum tersebut.

Waktu, sebagaimana pernah diakui oleh Albert Einstein dalam duka atas kematian sahabatnya Michele Besso, hanyalah sebuah ilusi yang dipertahankan secara gigih oleh kesadaran manusia.

Jika waktu dalam skala kosmik menyimpan ketidakpastian ontologis yang sedemikian rumit, lalu atas dasar apa kita begitu congkak menyembah dogma kemajuan linier yang menghancurkan harkat kemanusiaan?.

Di hadapan badai digitalisasi dan arsitektur algoritmik hari ini, yang acap kali membutakan mata batin kita dengan kehebohan media sosial dan ilusi konsumerisme, kita dipanggil untuk melakukan satu tindakan eksistensial yang radikal dengan mengasah kembali cermin batin kemanusiaan kita.

Kita mesti berani menarik jarak dari kebebalan teknokratis untuk kembali berkuriositas tentang hal-hal paling elementer. Untuk apa seluruh kecanggihan teknologi ini jika ia gagal menghentikan kematian seorang ibu di pelosok desa? Untuk apa kecerdasan buatan diciptakan jika ia justru mengikis empati kita terhadap sesama manusia yang menderita?