Konten dari Pengguna

Jejak Sang Musafir Dalam Dunia-Dunia Yang Mungkin

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
doc.pribadi

Saya tidak pernah melabeli diri saya sebagai seorang penulis dalam pengertian teknis-profesional yang ajali. Saya juga tidak mengklaim status epigon dari tradisi literer tertentu.

Saya semata-mata menulis, dan dalam ketidaksengajaan yang tekun itu, saya berikhtiar menuliskan apa yang acap kali terabaikan. Risalah ini merupakan sebuah pendedahan atas tumpukan perkara yang sesungguhnya menjadi kontemplasi eksistensial mengenai pekerjaan memunguti ani-ani yang tak kasatmata di tengah hamparan sejarah.

Pekerjaan itu bukan milik mereka yang bertakhta di pusat tata pikir dominan, tapi tugas ontologis seorang musafir. Ada sebuah masa, yang kini kian tererosi oleh kedangkalan zaman, dikala seorang penulis berdiri tegak ibarat seorang musafir yang setia berjaga di batas wilayah, di sudut-sudut yang senyap, di perbatasan antara yang tampak dan yang diselubungkan.

Di perbatasan itulah sang musafir memunguti apa yang diabaikan oleh kerumunan manusia, perkara-perkara yang dalam kalkulasi pragmatis dianggap terlalu remeh untuk ditilik. Pada saat dunia terbenam dalam lelapnya rasa puas dan kepatuhan yang dogmatis, sang musafir bersiaga secara soliter.

Ia ada di sana untuk memberi nama pada yang belum bernama, menyingkap struktur makna yang belum terbingkai dalam narasi kolektif, dan memulihkan martabat eksistensial dari realitas yang dilupakan.

Ada satu hal mesti saya tegaskan secara radikal, bahwa karya literer atau tulisan terbaik tidak pernah lahir dari artikulasi bahasa yang terpoles secara artifisial, tidak pula dari konstruksi kalimat yang tersusun rapi menurut kepatuhan gramatikal yang dingin.

Tulisan yang otentik lahir dari kerapuhan paling elementer daei manusia, memantulkan sebuah keberanian ontologis untuk mengakui bahwa ada hal-hal yang jauh lebih primordial dari ego subjek, lebih mendalam dari sebatas rekonstruksi pengalaman pribadi.

Ada sesuatu di luar sana yang belum terungkap, sesuatu yang meronta dalam kesunyian dan menunggu untuk diceritakan. Hal yang paling mengerisahkan, paling tidak bagi batin saya di era disrupsi teknokratis ini, bukan hanya apa yang mampu diproduksi oleh Artificial Intelegence atau kalkulasi algoritma.

Bukan pula lantaran tantangan di ruang publik yang kian riuh, pelik, dan penuh dengan kebisingan simulakra. Perkara yang sesungguhnya mematikan kemanusiaan kita, adalah apa yang telah dirampas dari memori kita tanpa pernah sempat kita ceritakan.

Ada sublimitas yang hilang dikala pengalaman hidup disimplifikasi oleh mesin. Saya melihat dan mendengar bahwa kini bahwa seorang individu yang sanggup merakit sebuah novel atau cerita anak hanya dalam kurun waktu satu pekan atau satu akhir pekan melalui bantuan algoritma pencetak kalimat, tentu berada pada jarak ontologis yang amat jauh dari seorang sastrawan.

Ia tidak akan pernah merasakan, tidak akan pernah mampu menghayati pergulatan batin, penderitaan, dan keterasingan para penulis yang hanya dibekali sebatang pena dan secarik kertas lusuh di dalam ruang alienasinya.

Saya tidak sedang mengutuk penemuan mesin atau meratapi kemajuan teknologis secara naif-romantis. Akan tetapi, saya meratapi keterasingan yang hadir dikala segala sesuatu menjadi begitu instan dan gampang.

Di tengah kemudahan yang begitu melumpuhkan itu, kita dengan amat mudah melupakan riwayat hidup kita sendiri, sebuah riwayat yang seyogyanya teranyam dari benang-benang ingatan, identitas yang ditempa melalui seluruh jelajah penderitaan, serta rasa gentar yang murni saat menyaksikan petir di langit malam.

Meminjam metafora dari Ben Okri, para penulis sejati adalah mereka yang mengambil rasa takut dan kegetiran hidup itu, lalu menginfuskannya dengan teliti ke dalam botol eksistensi. Bilamana ruang publik menjelma menjadi panggung yang kian rumit dan bising, fenomena itu tidak boleh serta-merta ditafsirkan sebagai ancaman yang melumpuhkan.

Sebaliknya, kebisingan itu menjadi provokasi ontologis, sebuah tantangan radikal untuk memantik kreativitas para penulis. Metafora sang musafir yang terjaga tatkala dunia terlelap meminjam intuisi dasar Ben Okri dalam karyanya, While the World Sleeps.

Okri mungkin tidak secara eksplisit mengaplikasikan diksi "musafir", akan tetapi kita dapat menelaah metafora ini sebagai alegori bagi pikiran yang menolak untuk tertidur.

Dikala mayoritas manusia dengan kepatuhan yang pasif menerima begitu saja konsensus umum, sang musafir memilih untuk tetap berjaga. Berjaga, dalam horizon paradigmatik ini, bukan tindakan fisik biologis semata, ia adalah sebuah sikap batin.

Sikap batin ini merupakan kegelisahan yang bersemayam di dalam diri seseorang persis dikala orang banyak sedang terbuai oleh kepuasan instan. Ini meniadi keberanian untuk meresistensi arus gravitasi sosial ketika massa bergerak menuju satu kutub konformitas.

Ini merupapakan kesediaan ontologis untuk menerima apa yang belum selesai, apa yang mungkin tidak akan pernah bersua pada muara penyelesaiannya, apa yang tidak menyediakan jawaban pragmatis, serta keberanian untuk membuka diri di hadapan misteri.

Perlu saya tegaskan bahwa misteri harus di diferensiasikan secara tegas dari teka-teki. Teka-teki merupakan problematika teknis yang sarat akan instrumen pemecahan, ia bersifat mekanis dan berfokus pada hasil akhir.

Misteri, sebaliknya, adalah horizon yang tak tertutup, sebuah kedalaman yang melampaui kalkulasi teknis. Keterbukaan pada misteri itulah yang menandai proses berpikir yang sejati.

Atas dasar itulah, saya menolak untuk menambahkan kualifikasi "kritis" di balik kata "berpikir", sebagaimana sering dijejalkan dalam diskursus akademis yang dangkal. Mengompilasi kata "kritis" pada kata "berpikir" menjadi sebuah pleonasme yang tak berguna, karena berpikir pada dirinya sendiri sudah merupakan tindakan kritis.

Berpikir merupakan pergerakan akal budi, bukan hanya operasi instrumen nalar diskursif. Lantas, apakah yang dimaksud dengan berpikir? Saya teringat pada sebuah anekdot yang dinisbatkan kepada fisikawan kuantum Niels Bohr.

Bohr, yang dikenal selalu curiga terhadap argumen yang murni formal, matematis, dan mekanistis, pernah menegur koleganya dengan kelakar yang tajam,

Tidak, Anda tidak sedang berpikir. Anda semata-mata sedang berlogika.

Anekdot ini mendekonstruksi habitus epistemik kita yang sering kali mengidentikkan berpikir dengan proses analitis, diskursif, dan kalkulatif, sebuah kepatuhan pada kaidah-kaidah logika formal.

Kita dibelenggu oleh ilusi bahwa semakin cepat seseorang berkalkulasi hingga menemukan solusi teknis, semakin dianggap mahir ia dalam berpikir. Sesat pikir inilah yang melahirkan kepopuleran istilah overthinking di kalangan generasi muda saat ini.

Dalam sebuah forum dialog, saya pernah diminta untuk mengelaborasi fenomena overthinking dalam dialektika bersama rekan saya, dan secara tegas saya menolak ajakan tersebut.

Terminologi overthinking merupakan sebuah kekeliruan konseptual yang fatal. Kata itu hanyalah eufemisme bagi kecemasan psikologis yang berselubung di balik jubah intelektualisme.

Seseorang yang mengklaim dirinya sedang overthinking sesungguhnya tidak sedang berpikir. Ia hanya sedang berputar-putar tanpa akhir di dalam labirin kecemasannya sendiri. Berpikir menjadi perkara yang sama sekali berbeda secara kualitatif.

Memang benar bahwa proses berpikir melibatkan kegelisahan, bahkan eksistensi yang terancam. Akan tetapi, bentuk berpikir yang paling radikal, sebagaimana dikembangkan oleh filsafat kuno lalu kemudian direkonstruksi secara brilian oleh Hannah Arendt, adalah keberanian untuk melangkah ke dalam kesendirian.

Di tengah kerumunan pasar yang paling bising sekalipun, seorang pemikir tetap mampu masuk ke dalam kesunyian tanpa pernah merasa kesepian. Mengapa demikian? Karena pada saat seseorang berpikir, dirinya mengalami pembelahan ontologis.

Subjek terbelah menjadi dua entitas yang berdialog, Aku dan Diriku. Ini merupakan perjumpaan antara dua pribadi yang berbeda dalam satu kesadaran. Aku yang melontarkan kuriositas eksistensial, dan Diriku yang berjuang merumuskan jawaban sembari melontarkan guatan balik.

Keduanya saling menuntut, saling bersiteru, dan saling menginterogasi. Inilah dialog batin yang paling murni, melahirkan simfoni sunyi yang hanya bisa didengar oleh subjek itu sendiri.

Dalam tradisi filsafat klasik, berpikir berarti menampakkan diri di atas panggung batin sendiri. Di panggung interior itu, ada pelakon dan ada penonton, Aku menjadi pelakon yang diinterogasi, sementara Diriku menjadi penonton sekaligus hakim yang tidak menoleransi kepalsuan.

Dialog batin ini akan bereskalasi menjadi konflik eksistensial yang kekal bila Aku menolak untuk menerima Diriku sebagai teman batin yang jujur. Contoh paling arkais dan eksplisit mengenai konflik batin ini dapat kita temukan dalam drama kemanusiaan karya William Shakespeare, Richard III.

Pertama kali saya dikenalkan pada sosoknya Richard III ketika Begawan Aktor asal Inggris, Sir Ian Mckellen berlakon memerankannya. Saya bersua pada konklusi bahwa Richard III merupakan personifikasi dari kedurjanaan dan kekuasaan yang rakus.

Ketika ia berdiri di hadapan publik dan kerumunan pengikutnya, dengan nada cemooh ia akan berkata: "Apa itu suara hati? Apa itu nurani? Itu hanyalah ilusi yang diciptakan untuk menakut-nakuti para pengecut!" Akan tetapi, tragedi sesungguhnya terjadi ketika kerumunan itu bubar dan Richard III terlempar ke dalam kesunyian kamarnya.

Di sana, dikala tidak ada lagi penonton luar yang memujanya, batinnya terbelah dan menuntut pertanggungjawaban. "Dapatkah engkau hidup damai dengan dirimu sendiri setelah segala kejahatan yang engkau lakukan?" Kuriositas itu bukan tentang kedamaian dengan masyarakat atau hukum formal, namun kedamaian dengan Diriku yang tidak bisa dibohongi.

Dalam rumusan yang lebih elementer, berpikir menjadi aktivitas yang melibatkan keterikatan utuh antara akal, budi, dan rasa, bukan hanha kalkulasi nalar yang kering. Integrasi inilah yang melahirkan apa yang dilabeli sebagai nurani, suara hati, atau signifikansi moral.

Tatanan etis dan politis dari aksi berpikir jarang sekali terlihat dalam situasi ketenangan yang lumrah. Signifikansi itu baru menyeruak secara radikal bilamana manusia dihadapkan pada situasi-situasi batas (Grenzsituationen), kondisi darurat politik di mana subjek dipaksa untuk melakukan refleksi terhadap masa lalu dan menghitung konsekuensi bagi masa depan, jauh melampaui kalkulasi kepentingan pribadi.

Di sinilah letak karakter berpikir yang paling esoteris. Kita tidak pernah bisa mengintip apa yang sesungguhnya bergejolak di dalam benak orang lain, kecuali disaat pikiran itu mengkristal menjadi akso nyata yang menolak untuk berkompromi dengan kejahatan.

Atas dasar inilah Hannah Arendt merumuskan tesisnya yang monumental tentang banality of evil saat mengobservasi persidangan Adolf Eichmann. Kejahatan paling biadab yang difasilitasi oleh Eichmann tidak lahir dari motif pendorong yang demonik atau kebengisan ideologis yang menyala-nyala.

Kejahatan itu terjadi justru karena Eichmann adalah manusia yang tidak berpikir. Ia gagal menyelenggarakan dialog batin dengan dirinya sendiri, tidak ada suara di dalam batinnya yang menolak perintah birokrasi pembunuhan massa.

Ia mengeksekusi kejahatan dengan efisiensi teknis semata-mata karena ia menghentikan aktivitas berpikir. Pada saat kita berani berpikir, kita seketika disadarkan pada betapa rapuhnya eksistensi diri kita. Berpikir merupakan tindakan yang berbahaya bagi kemapanan.

Trajektori historis peradaban mencatat betapa panguan kecemasan terhadap pikiran yang menetes menjadi tulisan. Buku-buku dibakar, saya melihat berita beberapa waktu lalu karya-karya Romo Franz Magnis-Suseno dan literatur kritis yang kerap disita dan dibakar oleh rezim yang panik.

Baru-baru ini, seorang mahasiswa dari STF Driyarkara, ditangkap hanya karena menyimpan korpus literatur pemikiran kritis mengenai Marxisme dan filsafat sosial. Sokrates tidak pernah meninggalkan satu baris tulisan pun, namun ia dihukum mati dengan racun cemara semata-mata karena ia mengajari kaum muda Athens untuk berpikir, sebuah aktivitas yang mengancam konsensus politik status quo.

Dikala berbincang dengan seorang kolega dari STF Driyarkara, ternyata ada sebuah istilah yang dahulu acap kali terdengar untuk mendeskripsikan sublimasi energi batin yang menggerakkan radar berpikir ini, yakni bonek rasuli (nekat rasuli).

Ini bukanlah agresivitas fisik atau dorongan massa untuk melakukan pengrusakan mekanis, tapi sebuah agresivitas batin yang tidak pernah tenang, semacam radikalisme spiritual dan intelektual yang menolak untuk terpuaskan oleh kebenaran-kebenaran dangkal yang diterima oleh mayoritas.

Karakter bonek rasuli ini memandulkan kemandulan sikap netral. Seorang pemikir yang memiliki bonek rasuli mustahil menjadi netral di hadapan penderitaan sesama. Penderitaan rakyat kecil, penderitaan yang teralienasi serta termajinalkan, menggugat batinnya dengan kuriositas ontologis yang menuntut, ''Apa yang telah engkau lakukan dengan pikiranmu?".

Kendati demikian, berpikir saja tidak pernah memberikan jaminan perubahan material bila ia hanya mendekam sebagai gelembung solipsistik di dalam benak subjek. Persis karena alasan itulah, di era disrupsi informasi ini, pikiran baru menemukan dampak politis dan transformatifnya tatkala ia mendaging menjadi tulisan dan dibaca oleh publik.

Di manakah sesungguhnya posisi sang musafir ketika ia menyelenggarakan proses berpikir itu? Franz Kafka memberikan ilustrasi alegoris yang begitu kuat mengenai sosok tanpa nama yang berada dalam himpitan waktu.

Sosok ini terdorong oleh kekuatan masa lalu menuju masa depan, namun pada saat yang senada, masa depan tidak menyambutnya melainkan menghadang dan mencoba memukulnya kembali ke masa lalu.

Kebanyakan orang memproyeksikan dalam benak bahwa masa depan merupakan daya tarik yang menarik kita ke depan, sementara masa lalu adalah beban yang mendorong. Kafka mendekomposisi ilusi ini.

Masa depan justru bertindak sebagai dinding yang menghadang, mengingatkan kita bahwa subjek memiliki akar yang tak terhapuskan dalam memori. Untuk keluar dari benturan dua kekuatan linier yang mematikan ini, sang subjek membuat trajektorinya sendiri, sebuah garis diagonal.

Di atas lintasan diagonal itulah ia berdiri dengan jarak yang simetris, baik dari masa lalu ataupun dari masa depan. Dari posisi diagonal itulah penilaian eksistensial yang bebas bisa dilangsungkan.

Penulis, dalam wataknya sebagai sang musafir, senantiasa bergerak di atas garis diagonal tersebut tanpa pernah membiarkan dirinya terseret oleh kebiasaan masa lalu atau utopia dangkal masa depan.

Dari sudut perbatasan yang enggan disinggahi oleh kerumunan manusia yang terburu-buru, sang musafir memunguti apa yang telah dibuang.

Guna mengkonkretkan dialektika perbatasan ini, dalam perkuliahan terbuka beberapa waktu lalu yang sempat saya ikut, baik di kelas Kosmologi untuk jenjang Sarjana maupun kelas Filsafat Ilmu untuk jenjang Magister yang diampu oleh Dr. Karlina Supelli, diputarlah sebuah film dokumenter mahakarya Patricio Guzmán yang berlatar di Chile, berjudul Nostalgia de la Luz (Nostalgia untuk Cahaya).

Film ini mengambil setting di Gurun Atacama, sebuah lanskap gurun paling gersang di dunia. Di sanalah para astronom dari berbagai belahan dunia mendirikan observatorium raksasa untuk menangkap radiasi cahaya dari bintang-bintang terjauh, cahaya yang sumber fisiknya sesungguhnya telah padam jutaan tahun lalu.

Ketika kita menatap langit malam dengan instrumen teleskopis, kita sesungguhnya tidak sedang melihat masa kini, kita sedang menatap masa lalu. Ingatan kosmik alam semesta tertanam dan terabadikan diawetkan dalam pancaran cahaya tersebut.

Para astronom di Atacama mendedikasikan hidup mereka untuk memunguti jejak-jejak masa lalu kosmos yang nyaris tak kasatmata. Akan tetapi, Patricio Guzmán menyajikan sebuah kontras yang menusuk batin.

Di kaki bangunan observatorium canggih tempat para astronom menatap bintang, di atas gurun tanah yang sama, sekelompok perempuan lansia berjalan dengan menyisir pasir di bawah terik matahari.

Selama puluhan tahun, para ibu ini menggali tanah gurun dengan cetok kecil untuk mencari sepotong tulang belulang dari anak atau kerabat mereka yang dilenyapkan secara paksa oleh rezim kediktatoran militer Augusto Pinochet.

Para ibu ini sementara memunguti jejak-jejak kehidupan manusia yang diacuhkan dan terhapus oleh sejarah resmi negara, namun ekkal dalam memori kasih seorang ibu.

Dua pelacakan ini bergerak dalam skala yang kontradiktif, yang satu mengejar takdir kosmik berjarak jutaan tahun cahaya, sementara yang lain mengejar sisa-sisa material dari tubuh manusia yang dicintai.

Akan tetapi, sebagaimana dirumuskan secara terharu oleh salah seorang astronom dalam film tersebut, Gaspar Galas, kedua kelompok ini sesungguhnya sementara menyelenggarakan pencarian yang identik.

Astronom dan para ibu penggali pasir itu sama-sama merupakan entitas yang berjaga di perbatasan antara yang diketahui dan yang tersembunyi, antara yang telah tiada dan yang belum selesai.

Mereka merupakan pemburu petunjuk yang langka di dalam ruang yang mahaluas, untuk memahami sejarah, baik itu sejarah kosmik alam semesta maupun sejarah penderitaan manusia.

Dari titik perjumpaan seperti itulah lahir apa yang kita labeli sebagai "dunia-dunia yang mungkin" (possible worlds). Dikaa dua pencarian yang terpisah oleh skala epistemis ternyata bertemu di titik perbatasan yang sama dan saling mengenali, pengenalan itu mewujud melalui narasi, lewat skrip yang ditulis oleh sutradara, dengan naskah yang dirakit oleh sastrawan, atau melalui tesis yang disusun oleh pemikir.

Gurun Atacama, sebagai laboratorium paling ilmiah bagi sains astronomi modern, pada momentum yang senada menjadi tanah trauma bagi sejarah kemanusiaan. Guzmán menghadirkan kesaksian penderitaan itu untuk menuntut pengakuan keadilan, sembari mengomparasikannya dengan horizon kosmik yang meliberalisasi.

Seorang penulis yang otentik mengembarakan pikirannya ke dalam dunia-dunia yang mungkin itu, dunia yang sebelumnya tidak terproyeksilan oleh rasionalitas instrumental. Saya teringat bagaimana Miguel de Cervantes merakit Don Quixote, atau bagaimana dongeng Nusantara merawat karakter Si Kancil.

Semua itu merupakan konstruksi naratif yang pada mulanya tampak tidak realistis, akan tetapi memiliki daya ubah untuk mengonstruksi tatanan dunia yang baru.

Di dalam horizon dunia yang mungkin itulah lahir kebebasan radikal, kebebasan untuk memulai sesuatu yang baru (natalitas), sekaligus kebebasan ontologis untuk menolak segala bentuk penindasan.

Pikiran manusia merupakan satu-satunya entitas yang tidak akan pernah bisa dipenjarakan oleh tembok penjara mana pun. Rezim totalitarian sanggup meremukkan tubuh fisik, mendestruksi tulang, dan mengisolasi geografis seorang subjek, tapi mereka tidak akan pernah sanggup memborgol imajinasi.

Di atas tanah pengasingan Pulau Buru yang brutal, Pramoedya Ananta Toer sanggup melahirkan karya tetralogi yang begitu monumental. Dalam kurungan pengasingan yang sepi di Ende dan Bengkulu, Soekarno melahirkan berbagai risalah politik yang membakar serta naskah-naskah drama yang melampaui zamannya.

Penulis yang benar-benar hadir, penulis yang mampu menelaah tanda-tanda zaman dan karyanya meninggalkan bekas yang mengubahkan bukanlah sosok yang selalu menggengam jawaban pasti terhadap seluruh problematika.

Ia bukan pembuat konten yang suaranya paling nyaring di media sosial, yang memuntahkan potongan-potongan argumen pendek nan dangkal untuk mengejar akumulasi likes dan views. Mereka yang bising di media sosial itu mungkin menulis, tetapi mereka bukan penulis dalam pengertian ontologis yang kita diskusikan.

Penulis yang sejati adalah mereka yang berani mengambil jeda, menarik diri dari kerumunan, dan berseteru dengan pikirannya sendiri di dalam kesunyian sebelum ia keberanian berbicara kepada dunia.

Saya melihat karakter seperti ini bersemayam dalam Guru guru saya, Arthuur Jeverson Maya dan Adrianus Lengu Wene terkhusunya. Mereka adalah subjek yang siap memikul tekanan pasar dan membiarkan imajinasinya bertaut jauh sebelum dunia siap untuk menyimaknya.

Saya tidak dapat memprediksi secara presisi seperti apa wujud dunia yang akan lahir dari rahim karya-karya para penulis yang setia berkuriositas di tengah kegelapan zaman ini.

Namun, saya meyakini satu hal, bahwa dunia yang mungkin itu mewujud dalam ketabahan para ibu di Gurun Atacama. Ada seorang ibu yang menggali pasir gurun itu selama 28 tahun tanpa kenal lelah, hanya untuk menemukan sepotong kecil tulang ibu jari anaknya.

Dunia yang mungkin tidak lahir dari komitmen instan yang dilakukan sekali saja, ia tidak lahir dari aksi yang suam-suam kuku. Dunia yang mungkin lahir dari keberanian eksistensial untuk kembali berkali-kali ke tempat yang sama, ke sudut yang diacuhkan oleh kekuasaan dan tidak dilirik oleh mayoritas.

Dari ketekunan yang pada mulanya tampak sia-sia itulah, karya-karya besar dan dunia baru yang lebih adil akan dikonstruksikan. Adapun tentant akselerasi teknologi informasi dan Artificial Intelehence yang hari ini menguncang peradaban, hal itu sesungguhnya hanyalah satu babak dari artikulasi mesin.

Penggunaan istilah "mesin berpikir" untuk merujuk pada teknologi hari ini bagi saya adalah sebuah kekeliruan ontologis. Algoritma tersebut paling tepat dilabeli sebagai "akal imitasi", karena ia sama sekali tidak memiliki akal budi, dan proses yang menjalankannya jelas bukanlah aksi berpikir.

Kepanikan eksistensial semacam ini bukan barang baru dalam lintasan peradaban manusia. Berabad-abad yang lalu, ketika Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak berkecepatan tinggi, dunia sarat akan disrupsi yang tidak kalah dahsyat.

Sebelum era Gutenberg, Kitab Suci dan teks-teks pemikiran menjadi monopoli sekelompok kecil elite klerus, lantaran setiap naskah harus disalin menggunakan tangan melalui proses kaligrafi yang memakan waktu berbulan-bulan.

Ketika mesin cetak menghancurkan monopoli itu, gagasan terdistribusi dengan kecepatan yang tidak terkendali. Reformasi Agama di Eropa dan skisma sejarah yang mendemarkasikan Katolisitas dan Protestanisme berutang besar pada efisiensi mesin cetak Gutenberg.

Lebih dari itu, kritik politik yang sebelumnya hanya berani dibisikkan di ruang-ruang gelap, tiba-tiba menjelma menjadi ratusan lembar pamflet yang beredar di pasar-pasar kota.

Bila disrupsi hari ini terasa begitu mengagetkan, hal itu disebabkan oleh daya jangkau dan kecepatannya yang tanpa batas.

Hari ini, siapa pun yang membaca sedikit informasi dapat mendadak mengklaim dirinya sebagai wartawan atau penyebar kebenaran. Implikasi paling mematikan dari disrupsi digital ini adalah merebaknya kabar hoax, disinformasi, dan kabar yang meracuni tatanan epistemik publik hingga kian sulit dikendalikan.

Namun, sebagaimana saya pahami mengenai alih fungsi instrumen ani-ani menjadi sabit, dan kini menjadi mesin pemanen otomatis dalam Revolusi Hijau, disrupsi teknologis selalu memusnahkan tatanan nilai kultural. Saya mengalami sendiri fakta ini secara empiris.

Saya tumbuh di lingkungan agraris; ayah dan kakek saya memiliki sepetak tanah di pedesaan. Sebelum masuknya modernisasi teknokratis, seluruh sistem produksi padi didasarkan pada tradisi barter dan solidaritas komunal.

Dalam pandangan kosmologis masyarakat Tanimbar tradisional, ada sebuah tabu ontologis, kita tidak boleh memperjualbelikan apa yang menjadi hajat hidup orang banyak. Beras dan nasi merupakam pengejawantahan dari keberkahan Ubila'a, ia tidak boleh dijadikan komoditas pasar yang dingin.

Pada masa itu, para ibu, pemuda, dan anak-anak menyumbangkan tenaga mereka dalam proses panen mengelilingi tanah dengan ani-ani, lalu mereka menerima imbalan berupa beberapa umbi-umbian melalui sistem barter.

Dr. Karlina Sipelli juga berbagi pengalamannya ketika ia masih menjadi mahasiswa di Bandung, nilai kosmologis yang sama berjejak secara intuitif, di kantin Salman ITB atau warung-warung makan tradisional, nasi dan teh hangat seringkali tidak dihitung sebagai komponen yang harus dibayar secara terpisah.

Nilai itu telah melekat dalam pemuliaan atas makanan. Mitos-mitos keramat seperti Dewi Sri yang dilantunkan melalui pantun-pantun Jawa juga selaras dengan ini.

Disrupsi teknologis dan kapitalisme di era kontemporer menghancurkan seluruh habitus luhur ini. Kebiasaan barter, penghormatan pada alam, dan tatanan sosial berbasis solidaritas disapu bersih oleh kalkulasi efisiensi mesin dan kesepakatan pasar.

Maka, kuriositas tentang apakah refleksi ini masih relevan untuk dipercakapka, jawabannya adalah mutlak relevan. Setiap kali ada transformasi fundamental yang merombak seluruh struktur hidup, cara berpikir, dan pandangan kita terhadap dunia dan perubahan itu lebih sering membawa ketidakadilan sosial ketimbang kebaikan maka perbincangan filsafat tentang hal ini bukan hanya pantas, tapi wajib hukumnya untuk terus digelorakan.

Di sisi lain, dimensi yang ingin saya utarakan dalam risalah ini juga adalah, kita harus memahami bahwa bahasa dan kata-kata merupakan organisme yang hidup. Bahasa tumbuh secara dinamis.

Sebuah kata yang pada mulanya terikat pada fakta biologis tertentu, misalnya kata "virus", bisa mengalami perluasan makna ketika diterapkan pada fenomena sosial atau digital yang menyebar dengan cepat ("viral"). Pergeseran makna kata semacam ini menjadi hal yang normal dalam dinamika kebahasaan.

Akan tetapi, disrupsi yang kita temui hari ini bukanlah sebatas permainan wacana atau rekayasa linguistik. Disrupsi ini menjadi realitas material yang berdampak langsung pada tubuh-tubuh manusia.

Kita menyaksikan bagaimana ribuan pekerja kehilangan mata pencaharian dalam semalam, dicopot dari martabat pekerjaannya karena korporasi memilih untuk menggantikan peran mereka dengan mesin atau sistem otomatisasi. Disrupsi ini tidak menjadi gelembung kosong konstruksi kata, ia adalah trauma riil yang menimpa kehidupan konkret.

Dalam khazanah intelektual untuk menutup risalah ini, saya acapkali menaruh rasa iri, bukan dalam konotasi dengki, tetapi sebuah kecemburuan estetis, terhadap para sastrawan. Para sastrawan menikmati derajat kebebasan kreatif yang luar biasa, sebuah kebebasan yang kerap kali diharamkan bagi para ilmuwan akademis.

Bagi seorang ilmuwan, ruang kebebasan itu hanya ada pada fase kontemplasi sebelum ia menuangkan gagasannya. Begitu ia memegang pena untuk menulis naskah ilmiah, ia langsung diikat oleh rezim metodologis, ketataan teoritis, kelengkapan empiris, dan sistematika penulisan yang ketat.

Kendati demikian, dikotomi antara sains dan sastra seyogyanya tidak boleh dipandang secara absolut. Pada titik-titik ketersinggungan tertentu, kedua disiplin ini bertemu dalam keindahan.

Naskah ilmiah yang ditulis dengan kedalaman filsafat yang saya bacs tak jarang memiliki estetika sastrawi yang memikat. Karya-karya filsafat besar kerap dirakit menggunakan model naratif sastra yang memungut keindahan bahasa tanpa kehilangan ketajaman analitisnya.

Sebaliknya, proses kreatif sains pun memerlukan imajinasi radikal yang tidak jauh berbeda dari proses pembuatan puisi. Sehingga, saya ingin menyampaikan metafora "rahim" yang tidak boleh dimaknai sebagai tempat persembunyian yang pasif atau ruang eskapisme dari kenyataan sosial yang keras.

Rahim merupakan tempat persemaian ontologis, sebuah ruang di mana sesuatu yang baru dikandungkan untuk kemudian dilahirkan ke dunia lewat penderitaan persalinan. Berhenti sejenak, mengambil jeda, dan masuk ke dalam rahim kesunyian batin adalah syarat mutlak untuk sanggup berpikir.

Akan tetapi, tujuan akhir dari eksistensi di dalam rahim itu adalah kelahiran. Kita harus menjadikan tindakan menulis bukan sebagai rahim tempat menyelubungkan kecemasan, tapi rahim untuk melahirkan gagasan-gagasan subversif yang mengubahkan peradaban.

Keberanian untuk melahirkan gagasan ini berakar pada bagaimana imajinasi dibentuk sejak masa kanak-kanak. Ketika saya masih kecil, cita-cita saya amat sederhana. Saya begitu kagum pada sosok pendeta dan guru, dan saya bercita-cita untuk menjadi seorang pengajar.

Namun, Wali Kelas saya di SMP, seorang figur yang mengetahui kebandelan saya, melakukan sebuah tindakan yang mengubah arah hidup saya. Ketika saya membuat kegaduhan di kelas, hukuman yang ia jatuhkan bukan pukulan fisik, tapi hukuman untuk pergi ke perpustakaan dan membaca naskah-naskah sastra Indonesia.

Wali kelas itu menginstruksikan penjaga perpustakaan untuk menyodorkan berbagai buku karya sastra kepada saya. Dari sanalah imajinasi saya mendobrak batas-batasnya.

Saya adalah anak alam, menghabiskan masa kecil dengan berkelama di perkebunan desa, menerjang gelombang, dan membiarkan kaki ditempeli penuh dengan debu. Pengalaman inderawi di alam terbuka itu bertaut harmonis dengan dunia cerita dan dongeng rakyat yang saya baca di perpustakaan.

Imajinasi tidak pernah tumbuh dari jejalan informasi yang mekanis, tapi dari kebebasan untuk terintegrasi dengan realitas dan mendengarkan narasi-narasi primordial. Narasi lokal, seperti cerita-cerita rakyat yang dilantunkan di pedalaman desa di Nusantara, merupakan deposit imajinasi yang membimbing cita-cita manusia.

Apabila hari ini kita bertemu dengan seorang anak yang bercita-cita secara bersahaja, tugas kita jangan membentengi imajinasinya dengan dogma-dogma keberhasilan teknokratis, tapi menantangnya untuk melampaui batas-batas yang ada.

Dan cara terbaik untuk mengasuh imajinasi anak-anak adalah dengan membiarkan mereka bermain secara bebas. Dari aktivitas bermain itulah imajinasi ontologis tumbuh. Atas dasar itulah, saya menolak keras kebijakan pendidikan yang membebani anak-anak sekolah dasar dengan pekerjaan rumah yang menumpuk.

Tugas utama seorang anak, terutama di wilayah pedesaan, adalah bermain dan menyatu dengan alamnya. Membebani mereka dengan instruksi mekanis sejak dini adalah sebuah kejahatan terhadap masa depan imajinasi humanis kita.