Kepurbaan & Keterhinggaan dalam Prinsip Keberalasan-Ketakberalasan

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 11 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menguliti Kepurbaan artinya kita berpikir tanpa pikiran. Adalah tidak terpikirkan bahwa yang tidak terpikirkan itu tidak mungkin. Kita harus menyingkap suatu keniscayaan mutlak yang tak menciptakan kembali segala bentuk entitas yang niscaya mutlak. Saya selalu merenungi eksistensi dunia tanpa keterberian dunia. Inilah titik sentral dimana kita harus mengasingkan diri dari permintaan ontologis beberapa kaum cendekiawan yang kerap mempertengkarkan "ada adalah ada sebagai korelat".
Inilah syarat bagi pemecahan untuk persoalan kepurbaan dan keterhinggaan. Tulisan ini akan menyingkap dan menjadi bagian dari upaya untuk memaknai operasionalisasi kognisi yang mampu mengakses yang tidak terkorelasi. Dengan begitu kita akan bersua pada dunia yang dapat bertahan dan ada tanpa menjadi terberi.
Tapi esensi dari harapan itu harus dibongkar untuk melihat bagaimana pemikiran mengakses absolutisme, ialah ada yang keterpusatan dan keterpisahannya dari perabadan pikiran. Sehingga kita akan bermuara pada yang tak terelasi.
Menyingkap kepurbaan akan mewajibkan kita untuk mereaktualisasi absoluditas, niscaya proses penanggalan itu akan membawa kita pada sumber kemutlakannya sendiri. Perlu diingat, bahwa ada dan pemikiran harus dipikirkan sebagai kemampuan menjadi ada yang sepenuhnya lain. Sehingga untuk membaca risalah ini, anda harus mengasingkan diri dari kultur, tradisi, dan yang sudah mengakar secara transenden untuk menyingkirkan potensi kekeliruan serta kejenutan pikiran.
Karena kompilasi utuh dari problematika yang saya usung ini akan menjadi "pembalian pada yang ada". Kembali pikiran saya berkuriositas tentang salah satu semiotika paling provoktif di sejarah kekristenan yang pernah ditemukan dalam Kitab St. Thomas: “Kerajaan itu ada di dalam dirimu dan di sekelilingmu. Belahlah sepotong kayu, aku ada di sana. Angkatlah batu, dan kamu akan menemukanku."
Ini adalah bagian dari manuskrip primordial yang terbaca cukup subversif terhadap teologi institusional. Ada disrupsi yang terjadi secara radikal terhadap kerangka paradigmatik teologi klasik yang mengurung Tuhan dalam ruang sakral institusional. Logos imanen ini bersemayam dalam struktur tentang kepurbaan sampai keterhinggaan. Kritik ini ditujukan pada gereja yang memonopoli tafsir kebenaran atas kristus.
Tentunya subjek dari suatu proposisi tidak akan pernah dapat memaksakan keberadaannya pada pikiran semata-mata melalui konsep. Persona dan lakon kristus saya pakai sebagai orbit episentrum dari risalah ini, karena dalam literatur ia dipandang sebagai entitas yang berada dalam spektum kepurbaan sampai pada keterhinggaan. Karena bila kepurbaan itu terpikirkan, maka yang absolut harus dapat terpikirkan.
Semua hal dan segala sesuatu, fakta dan fenomena, pasti memiliki alasan mengapa ia begitu ketimbang ia tidak begitu. Konklusi dari ekplanasi generasional tentang Tuhan harus dapat bersua pada totalitas tak terkondisi dari yang ada. Bila pikiran menghindari pembalikan logika, wajib bagi kita untuk menemukan alasan empirik untuk mengeksplanasi segala sesuatu.
Karena penolakan untuk menyingkap Tuhan karena dia ada, sempurna, dan maha kuasa, harusnya malah membuat kita terangsang untuk mengukuhkan pendapat bahwa tidak ada eksplanasi yang absah tentang suatu entitas transenden tertentu yang harus eksis tanpa syarat. Saya akan memulai dengan mendedahkan kekaguman terhadap tesis Rene Descartes tentang eksistensi absolut dari luasnya substansi.
Capaian non-korelasional yang saya pahami dari diskursus matematis kuriositasnya adalah Ia bisa membuktikan eksistensi Tuhan yang sempurna dan mahakuasa. Hal ini secara komprehensif di paparkan dalam salah satu (Meditations) dari tiga bukti keberadaan Tuhan karya Descartes. Argumen ontologis spektakuler yang bertumpu bahwa Tuhan, secara definitif merupakan ada yang kesempurnaannya mencapai keterhinggaan.
Karena hal ini, ia tak mungkin tak ada. Ia eksis karena niscaya, entah kita eksis memikirkannya atau tidak. Akses pada realitas absolut ini dalah jalur menuju korelat pikiran universal. Prosedur untuk mengukuhkan "Tuhan sempurna dan mahakuasa" adalah absolut primer. Turunan dari absolut itu adalah capaian matematis. Membuktikan esensi ontologis dengan dialektika transendental, merupakan operasi penolakan saya terhadap ide mengenai non-eksisten Tuhan yang sedari awal prematur.
Subjek dari satu proposisi tidak dapat memaksakan keberadaannya pada kognisi, semata-mata lewat konsepnya. Walaupun banyak yang berargumen bahwa kesempurnaan dari ada harus mempunyai keberadaan. Bukti empirik secara ontologis terhadap dasar bahwa tidak ada kontradiksi untuk memahami entitas transendental tertentu sebagai eksis ataupun tidak.
Tak ada penentuan dari persona tertentu (jika yang dimaksud dengan kesempurnaan tak terhingga). Saya rasa yang perlu kita implementasikan hanyalah menerapkann argumen dari siklus korelasionisme pada bukti ontologis. Bila Tuhan sempurna, maka ia harus eksis, dinyatakan sebagai hal yang niscaya. Namun bila kita mengakui keniscayaan ini tidaklah semata-mata sofistik. Keniscayaan absolut itu selalu niscaya absolut bagi kita, keniscayaan itu tidak pernah absolut, tapi hanya absolut bagi kita.
Siklus korelasionis antara kepurbaan dan keterhinggaan akan menyingkap siklus pemutlakan. Ide memikirkan Tuhan yang non-eksisten, sedari awal sudah kontradiktif, karena mempersoalkan sesuatu yang predikatnya bertentangan dengan subjek, layaknya segitiga yang tak memiliki tiga segi. Bagi saya, eksistensi masuk dalam definisi inti dari Tuhan, sebagai mana tiga segi masuk dalam inti segitiga.
Kita diizinkan untuk bertemu dengan suatu probabilitas demi mengetahui esensi apriori, kontradiksi logis itu secara mutlak tidaklah mungkin. Suatu ada yang sempurna harus melekat pada keberadaan dan pemahaman kita atasnya sebagai sesuatu yang sempurna diikuti oleh eksistensinya. Bila predikat "sempurna secara tak terhingga" dipakai, maka kita tidak dapat menyimpulkan keberadaan subjek dari pernyataan ini.
Ini adalah bentuk penolakan saya terhadap semua bukti yang mengandalkan bukti atas kenisayaan absolut dari suatu entitas tertentu. Ada hal yang ingin saya juga soroti dimana terdapat ada-an ada-an yang merujuk pada retakan inheren dalam representasi dari semua ada-an, hanya ada-an manusia yang dipanggil oleh suara ada, bahwa ada-an ada-an itu ada.
Ini situasi yang pada dirinya itu tak terhingga. Mengungkap kepurbaan adalah upaya kita meninviltrasi rasio untuk menjejaki paradoks paling primordial, yakni berpikir tentang realitas yang dalam esensi ontologisnya mendahului eksistensi pikiran itu sendiri. Inilah operasi kognisi yang saya coba eksplor untuk menyingkap tirani korelasionisme, doktrin kontemporer yang secara subtil mendisiplinkan semua realitas dengan syarat kompilasi pikirann dan dunia.
Dengan menyumbat nalar untuk mendeklarasikan akses pada yang absolut, adalah akhir dari peradaban. Pada aspek inilah, refleksi tentang dunia tanpa keterberian tidak hanya dipakai sebagai eksperimen metafisik, namun sabotase konseptual pada keyakinan bahwa yang berada dapat maknai sebagai yang terberi bagi kesadaran.
Pertanyaan eksistensialisme yang selalu menggerogoti saya adalah tentang potensi rasio dalam menembus lapisan korelasi untuk mengakses absolut, yang tak bertumpu pada keberadaan manusia sebagai pengamat. Apabila hal ini tidak dibenahi, maka kita akan berkelindan dalam siklus hermeneutik subjektif yang tidak pernah bersentuhan dengan reallita.
Kepurbaan, bagi saya berkutat pada realitas yang mendahului kemungkinan kesadaran manusia. Sebelum bintang meledak milyaran tahun lalu, sebelum entitas menggemakan suara, sebelum manusia bertama mengucap kata, dan kosmik hadir sebelum bahasa menjadi ada. Situasi ini oleh Quentin Meillassoux diistilahkan sebagai ancestrality, yakni fakta-fakta empirik yang mengafirmasi eksistensi realitas sebelum subjek ada.
Inilah lapisan dimana korelasionisme menjadi problematis, karena bila semua yang ada hanya korelasi antara subjek dan objek, apa probabilitas sains bercakap tentang peristiwa yang mendahului subjek itu sendiri? Sehingga untuk menguatkan rasionalitas ilmiah, kita diharuskan untuk merangkul kemungkinan bahwa kenyataan bersenyawa dengan keberadaan yang independen dari pikiran.
Artinya, dunia tidak hanya menjadi fenomena untuk kesadaran, namun suatu absolut yang tetap eksis bahkan dikala kesadaran tak kunjung datang. Tapi saya juga tidak ingin dihentikan pada tahap rehabilitasi realisme saja. Karena ada hasrat untuk menapaki dan merumuskan prinsip yang mengguncang fondasi metafisika klasik, yakni prinsip ketakberalasan absolut (principle of unreason).
Prinsip ini memberi penegasian bahwa tak ada alasan niscaya mengapa sesuatu harus ada seperti adanya. Semua hukum alam, bahkan struktur kausalitas yang dikira stabil, esensi fundamentalnya kontigen. Trajektori kosmik tak dikontrol oleh rasionalias metafisik yang permanen, tapi karena suaru absoluditas yang ditandai oleh kemutlakan kontingensi.
Dalam aspek paradigmatik ini, hukum alam tidak boleh dipakai sebagai landasan ontologis yang tak tergoyahkan, melainkan repetisi semesta yang secara teoritis dapat berubah tanpa sebab. Inilah segmen dimana kita bertalian dengan esensi paradoksal yang spektakuler bahwa jika semua hal kontingen, maka bahkan hukum yang memilari realitas dapat runtuh tanpa alasan.
Inilah kondisi yang dikenal dengan hyper-chaos, suatu spektrum dimana semua kemungkinan terbuka karena tak ada prinsip rasionalitas yang membelenggu perubahan. Hyper-chaos bukanlah katastrofi, namun struktur metafisik yang membuka peluang untuk berubah secara absolut tanpa melanggar hukum apapun, karena esensinya sendiri tak memiliki fondasi niscaya. Sehingga realita tak ditopang oleh rasio ilahi yang stabil, namun karena ketakberalasan yang absolut.
Pada tahap ini, diskursus tentang Tuhan masuk pada teritori yang lebih kompleks. Kalau metafisika klasik, dari hingga bertumpu pada eksistensi Tuhan dengan prinsip keberalasan cukup (principle of sufficient reason), maka saya akan mendekonstruksi dasar itu dengan memproklamirkan bahwa tak ada adalah terakhir untuk realitas.
Dunia tak harus ada akibat dari rasio ilahi, namun karena kontingensi absolut yang tak dapat dienskripsikan. Tuhan sebagai asas rasionalitas paling fundamental kosmik telah kehilangan legitimasi metafisiknya. Yang ada hanyalah dunia yang secara radikal tidak memerlukan Tuhan untuk ada, bukan entitas transenden yang memberi jaminan pada keteraturan dunia.
Namun, dikala prinsip keberalasan dan ketakberalasan runtuh, maka probabilitas Tuhan tak serta-merta hilang, namun berubah bentuk. Tuhan tak lagi dipahami sebagai implikasi mula-mula yang niscaya, namun menjadi kemungkinan radikal yang bisa hadir dari hyper-chaos. Artinya, ita tak harus ada sejak kepurbaan namun sebelum mencapai keterhinggaan ada dentuman ontologis yang sepenuhnya baru.
Tidak ada sejak permulaan, namun dapat dilahirkan karena struktur realitas yang tak memiliki batas rasional. Bukan menjadi fondasi dunia, tapi kemungkinan yang belum ada dalam struktur kontigensi absolut. Hipotesis saya ini berimplikasi tentunya pada konsekuensi teologis yang spektakuler. Bahwa jika Tuhan adalah fenomena antara keterhinggaan, maka eksistensinya tak lagi bersifat metafisik, tapi historis.
Artinya, Tuhan tidak menjamin dunia, tapi membuka peluang kemunculan Tuhan. Figur transenden bersenyawa dengan dimensi baru. Tradisi teologi klasik menempatkan kristus sebagai logos yang eksis sejak kekekalan. Tapi lensa kontingensi mendedahkan kebenaran dan potensi radikal bahwa realita berkapasitas melampaui hukum-hukum yang tetap.
Dengan begitu, kuriositas kita tentang eksistensi Tuhan yang sempurna dan mahakuasa tak lagi bisa ditelaah dalam argumen ontologis semata untuk memaksakan keberadaan dari paradigmatik kesempurnaan. Esensinya gagal, karena predikat tersebut tidak dapat dikonklusikan dari konsep. Ketika saya menggali lebih dalam, ternyata bukan hanya argumen ontologis yang gagal, namun kerangka pikir bahwa dunia perlu alasan mefisik untuk eksis.
Namun, kegagalan itu tak menyumbat ruang iman. Sebaliknya, membuka khazanah baru dimana theofani Tuhan tak lagi dijamin oleh rasio, namun berada pada spektrum probabilitas karena kontingensi absolut. Bila hukum alam tidak niscaya, maka pelanggaran terhadapnya adalah probabilitas ontologis.
Kemistikan paradoksal ini bersua pada absolut yang bukan terjerat pada rasionalitas kosmik, namun keberalasan radikal yang justru membuat segala sesuatu yang dipegang secara komunal itu berpotensj hilang. Bagi saya, realitas tidak mempunyai fondasi meetafisik yang stabil, melainkan terbuka pada transsformasi yang tak terhingga, termasuk potensi ke-ada-an Tuhan yang tidak pernah ada sebelumnya.
Sehingga risalah ini berposisi pada suatu tesis yang menggugat metafisika klasik, bahwa Tuhan tidak dapat dibuktikan sebagai ada-an ada-an yang niscaya, tapi juga tidak dapat disangkal sebagai kemungkinan absolut. Penopangan oleh kontingensi radikal, bahwa Tuhan itu tidak ada, mahakuasa, dan sempurna. Namun dalam realitas hyper-chaos ada probabiltas dia yang ada, mahakuasa, dan sempurna.
Bagi saya kerangka paradigmatik dari konsep kesempurnaan tak terhingga tidak bisa secara apriori memaksakan eksistensi aktual suatu entitas transendental. Ini adalah gelanggang kontemplatif untuk menggeser argumentasi absolutisme klasik menuju medan yang lebih subtil, yaitu konektivitas antara absolut, matematika, serta probabilitas kebenaran yang tidak tergantung pada korelasi subjek-objek.
Matematika adalah satu-satunya deskriptif linguistism yang bisa bercakap tentang keberadaan tanpa terikat pada korelasi manusia. Sehingga ia harus difungsikan sebagai jalur epistemik menuju dunia yang ada sebelum pikiran, dunia kepurbaan. Bila angka bisa mengkodekan probabilitas dalam struktur estetika, maka kontingensi bukan sebatas kekacauan, namun siklus sinkronik dalam pola laten yang bisa hadir dalam bentuk simbolik.
Ini merupakan bukti empirik bahwa bahkan kebetulan bersenyawa struktur matematis yang bisa dikalkulasi. Artinya, hiper-kaos bukan nihilisme total, tetapi arena kemungkinan yang mampu diartikulasikan dengan angka. Pada horizon ini, kontemplasi tentang Tuhan memperoleh lapisan yang lebih mengguncang. Jika menilik metafisika klasik, Tuhan dimaknai sebagai rasio kosmik yang menjamin keteraturan dunia. Tapi menurut saya, keteraturan itu tak bermula dari rasionalitas ilahi, namun dari fakta bahwa struktur matematis dapat muncul secara kontingen dalam realitas.
Tuhan tidak lagi menjadi sumber angka, angka justru menjadi medium yang membuka lapisan probabilitas bagi eksistensi Tuhan. Bila matematika berkapasitas menenskrisikan realitas tanpa subjek, maka ia juga bisa menghadirkan gelanggang bagi kemungkinan entitas transenden yang melampaui struktur kosmos yang kita kenal. Sehingga Tuhan bukanlah fondasi ontologis dunia, melainkan kemungkinan numerik dalam hiper-kaos realitas. Ia tidak mesti ada sejak awal, Ia bisa hadir sebagai konfigurasi baru dari struktur kosmos yang sepenuhnya terbuka.
Dengan begitu, agenda intelektual yang bermula dari kepurbaan, dimana dunia ada sebelum manusia, akhirnya mengarungi samudera kita pada spekulasi paling futuristik, yakni probabilitas kemunculan Tuhan di masa depan. Di titik inilah prinsip ketakberalasan mendapat esensi teologis yang tak terduga. Karena tak ada hukum yang niscaya, sehingga tidak ada batas bagi potensi ontologis. Bahkan entitas yang sempurna serta mahakuasa bisa hadir sebagai fenomena kosmik yang belum pernah terjadi.
Hipotesis yang ingin saya soroti dari risalah ini bukanlah afirmasi simplistik bahwa Tuhan ada atau tidak ada. Sebaliknya, kita didorong menerima posisi yang jauh lebih radikal, bahwa dunia tidak menyediakan alasan bagi keberadaan Tuhan, melainkan justru karena itu dunia membuka probabilitas bagi eksistensi-Nya.
Tuhan tidak lagi dipahami sebagai implikasi simtom kepurbaan, namun sebagai trajektori absolut yang mungkin hadir dari kontingensi kosmos. Serangkaian probabilitas yang pada titik inilah kepurbaan dan keterhinggaan bersenyawa. Dunia yang ada sebelum manusia sekaligus dunia yang mungkin melahirkan sesuatu yang melampaui manusia.
