Menengadah pada Etika Kesangsian

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 33 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Akhir-akhir ini saya banyak terbenam dalam kontemplasi dan bersua pada konklusi bahwa di tengah kekacauan diskursus publik yang kian banal, kita acap kali terbelenggu dalam delusi verbalisme.
Seseorang diperkenalkan dengan atribut eksotis, dibebani predikat "filsuf," sebuah sebutan yang dalam sejarah pemikiran Barat menuntut kepemilikan atas suatu arsitektur konseptual yang maha-agung, sebuah master narrative yang kokoh, dari Plato, Kant, hingga Hegel.
Banyak yang dengan bangga menyandang gelar itu. Saya adalah seorang pedagog dimana tugas saya semata-mata adalah memprovokasi akal budi, merawat radikalisme berpikir, dan mentransferkan disiplin kecurigaan terhadap segala bentuk absolutisme.
Ketika gairah akademik ini dilayangkan, saya menyambutnya dengan keterpanggilan ekstensial yang membakar. Mengapa? Karena kita sementara berdiri di atas retakan tektonik peradaban bernalar kita.
Kita sementara menyaksikan sebuah pendangkalan epistemik yang begitu masif. Universitas, yang secara etimologis sepatutnya menjadi tempat bermukimnya universitas scientiarum, wahana penjelajahan pikiran tanpa batas, perlahan-lahan sementara bermetamorfosia menjadi ruang klaustrofobik.
Kita sedang mengalami pembusukan internal di mana ruang-ruang kuliah, dari jenjang sarjana, magister, doktor, hingga panggung kemegahan para profesor, bertransformasi menjadi kuil-kuil pemujaan terhadap tafsir partikular diri sendiri.
Akademi, yang dahulunya merupakan benteng dekonstruksi mitos, kini banyak malah memproduksi dan menyembah mitos-mitos baru. Maka, tajuk yang ingin saya dekomposisi dalam risalah ini adalah alarm bahaya yang meraung-raung,
Menengadah Pada Etika Kesangsian. Untuk menyembelih ancaman ini, saya ingin mengejawantahkan lagi prolegomena dari apa yang kita labeli sebagai ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan tidak pernah dirancang untuk memberikan kenyamanan psikologis, apalagi menjanjikan kepastian salvifik.
Barangsiapa mencari kepastian imut yang menenangkan jiwa, jangan masuk ke dalam laboratorium sains, pergilah ke rumah peribadatan atau tempat-tempat retret spiritual. Ilmu pengetahuan merupakan sebuah metodologi kesangsian yang kejam.
Tugas utamanya adalah melatih akal budi untuk berani melihat, berani menyaksikan, dan berani menggugat. Mempertanyakan apa? Segala sesuatu tanpa terkecuali, termasuk di dalamnya mendekomposisi, mendistorsi, dan berkuriositas pada asumsi-asumsi dasar dari iman kepercayaan kita sendiri. Inilah pilar pertama dari manifesto ini.
Sesuatu yang sah dan kokoh dalam sejarah peradaban hanyalah apa yang sudah lolos dari siksaan kesangsian yang terus-menerus.
Bila sebuah ajaran, sebuah teori, sebuah ideologi, atau sebuah dogmatisme agama roboh ketika dihantam oleh palu kesangsian epistemik, maka ia memang pantas untuk hancur dan menjadi puing-puing sejarah.
Sebaliknya, jika ia dibenturkan, diinterogasi dengan radikal, dan selalu diuji oleh penguji yang tak berbelas kasihan, namun ia tetap tegak berdiri, maka di situlah terletak daya tahan kebenaran. Baik itu validitas sains, opinia habitus, ataupun keyakinan transendental, kejujuran eksistensialnya hanya diuji lewat pembenturan.
Pertanyaan reflektif yang selalu berkutat dalam kognjsi saya membuat kita harus menarik ingatan kolektif kita ke sebuah titik krusial dalam sejarah abad ke-20, tahun 1960-an, ketika peradaban manusia saat itu memperingati tragedi pemusnahan massal di Hiroshima dan Nagasaki.
Julius Robert Oppenheimer, arsitek utama Proyek Manhattan yang membidani kelahiran bom atom, berdiri di hadapan publik dengan beban eksistensial yang melumpuhkan. Ketika ditanya mengenai pandangan moralnya atas bencana teknologis tersebut, Oppenheimer tidak mengutip teks-teks filsafat positivisme Barat.
Ia menengadah pada spiritualitas Timur, mengutip sebuah seloka termahsyur dari Bhagavad Gita (tepatnya Bab 11 Seloka 32: "Kalo 'smi loka-ksaya-krt pravrddho") "Aku menjelma menjadi Kematian, Sang Waktu, sang penghancur dunia."
Pernyataan kedua Oppenheimer jauh lebih radikal bagi etika keilmuan, "Sejak bom ini dijatuhkan, para ilmuwan telah mengenal dosa." Ketika membaca hal ini, saya lalu bertanya, apa makna ontologis dari "mengenal dosa" bagi para ilmuwan?
Sebelum Agustus 1945, sains berada dalam kepolosan positivistiknya. Para fisikawan beroperasi dalam menara gading pure science, mengejar kebenaran matematis demi kebenaran itu sendiri.
Akan tetapi, dikala ilmu murni dikompilasi dengan resep tindakan melalui rahim teknologi, sains melompati batas-batas epistemik dan langsung menjelma menjadi mesin penghancur kehidupan. Sains memperoleh praxis yang katastrofik bahkan menuju apokaliptik.
Di sinilah letak dialektika horor tersebut. Ketika ilmu pengetahuan menanggalkan diri dari pertimbangan humanisme dan bertransformasi menjadi teknologi terapan yang telanjang, hidup manusialah yang berada di ambang kemusnahan.
Anda mungkin lalu bertanya, lantas mengapa kita justru ingin mengkhawatirkan nasib ilmu pengetahuan? Apakah ketakutan kita ini berakar pada problem materialistis-struktural, seperti yang saban hari dikeluhkan oleh para teknokrat dan birokrat pendidikan?
Kita kerap mendengar ratapan stereotipikal, dana penelitian Indonesia yang sangat kerdil, fasilitas laboratorium yang uzur, atau kuantitas doktor yang tidak mencapai rasio ideal. Tentu, indikator-indikator teknokratis itu ada benarnya.
Namun, bila kita membedah anatomi demografi kita secara sosiologis, kita akan mendapati realitas yang jauh lebih brutal dan memprihatinkan daripada sebataz urusan anggaran. Saya ingin kita menjejaki struktur angkatan kerja Indonesia berdasarkan data resmi Badan Pusat Statistik (BPS). Realitas demografis kita adalah sebuah skenario keprihatinan yang menampar kesadaran.
Lulusan Sekolah Dasar dan Tanpa Ijazah SD. Menyongkong angka fantastis, yaitu sebesar 47% dari total angkatan kerja. Hampir separuh dari populasi produktif bangsa ini secara fungsional berada dalam tingkat keterpelajaran paling elementer.
Lulusan Sekolah Menengah Pertama, menyumbang sebesar 18%.
Lulusan Sekolah Menengah Atas/Sekolah Menengah Kejuruan, berada pada kisaran 25%.
Pemegang Gelar Diploma dan Sarjana (S1/S2/S3), hanya berkisar 10% dari keseluruhan angkatan kerja.
Data statistik pendidikan yang demikian timpang menjadi kendala struktural yang begitu masif bagi siapapun yang memimpikan hadirnya tradisi keilmuan yang kukuh. Bagaimana mungkin kita dapat menyalakan obor ilmu pengetahuan sebagai cahaya penerang di lorong-lorong pencarian eksistensial manusia, bila mayoritas lanskap demografi kita masih berjuang di tingkat literasi dasar?
Ini merupakan hambatan material yang amat nyata. Namun, ketika saya menyusun risalah ini, saya berikhtiar agar tidak akan berhenti pada keluhan sosio-demografis yang dangkal tersebut.
Sebab ada jenis ancaman lain yang jauh lebih berbahaya, lebih terselubung, dan beroperasi secara insidious dalam merusak jaringan otak peradaban kita. Ini menjadi ancaman yang lahir bukan hanya dari ketiadaan dana, tapi dari sebuah neurosis kebudayaan baru, yaitu pemujaan terhadap diri sendiri (narsisisme epistemik) yang diakselerasi oleh era digital.
Ancaman epistemik era kontemporer dipicu oleh fenomena yang sepintas tampak sepele dan tidak berbahaya, kultur selfie. Anda pasti terkejut, mengapa saya memperbincangkan hal yang terlihat sepele ini.
Secara fenomenologis, mengunggah foto diri ke media sosial tidaklah melanggar norma hukum maupun moral. Saya tidak memiliki keberatan etis sama sekali terhadap tindakan tersebut secara individual.
Namun, apabila kita menelaah budaya ini melalui kacamata psiko-sosiologis, praktik mengunggah narsisme diri secara obsesif dan laten ke medan publik digital telah mengubah cara manusia memposisikan dirinya terhadap kebenaran.
Narsisisme visual ini berdifusi dengan struktur teknologi informasi modern, khususnya algoritma mesin pencari dan media sosial. Algoritma digital hari ini dirancang tidak untuk memerdekakan pikiran manusia, tapi demi membangun penjara solipsistik.
Algoritma bekerja seperti Cyclops, raksasa bermata satu yang memotong keberagaman realitas. Mesin ini senantiasa mencatat preferensi kita, merekam jejak klik kita, lalu menyajikan kembali apa yang ingin kita lihat.
Akibatnya sangat fatal, kita hanya dipagari dari gagasan-gagasan yang dianggap tidak relevan, bahkan secara aktif diisolasi dari pemikiran-pemikiran yang berbeda (dissenting opinions). Lingkaran sosial digital kita menyempit menjadi sebuah echo chamber yang pekak.
Dalam ruang gema ini, berlakulah sebuah transformasi epistemik yang sangat berbahaya. Sesuatu yang mulanya hanya berupa preferensi subjektif ("apa yang aku suka"), perlahan-lahan mengkristal menjadi keyakinan dogmatis ("apa yang aku percaya").
Dan dikala keyakinan dogmatis ini diinfuslan pertimbangan-pertimbangan eksternal, seperti tafsir-tafsir keagamaan yang sempit, doktrin-doktrin primordial, atau sentimen tradisional, maka ia mendadak bermutasi menjadi Kebenaran Mutlak ("apa yang benar").
Logika kebenaran telah dibalik secara tragis. Dalam tradisi rasionalisme ilmiah, rumus dasarnya adalah, kita percaya pada sesuatu karena sesuatu itu terbukti benar secara objektif dan metodologis. Tapi dalam era narsisisme teralgoritma ini, rumusnya bergeser menjadi, sesuatu itu menjadi benar semata-mata karena KITA mempercayainya.
Lantas bagaimana dengan keberadaan fakta? Dalam rezim epistemik yang sakit ini, fakta tidak lagi diperlakukan sebagai entitas objektif yang menuntut kepatuhan akal budi. Fakta telah terdegradasi menjadi komoditas plastik yang dapat dicari, dimanipulasi, bahkan diciptakan sesuai pesanan ideologis.
Saya ingin meminjam nama Iwan Gayo, penyusun buku ensiklopedia populer yang sangat di kenal, sebagai sebuah artikulasi metaforis. Jika dulu kita mengenal Buku Pintar Seri Junior, Buku Pintar Seri Senior, atau Buku Pintar Seri Nusantara, maka hari ini peradaban kita secara massal sedang menyusun Buku Pintar Seri Fakta Alternatif.
Di dalam Buku Pintar Seri Fakta Alternatif inilah, segala bentuk pseudo-sains, klaim kebudayaan yang mengidap megalomania, serta konspirasi picisan memperoleh stempel keshahihan pseudointlektual
Candi Borobudur mendadak ditafsirkan sebagai peninggalan sejarah Nabi Sulaiman.
Gerakan Bumi Datar (Flat Earth) bertransformasi dari sebatas lelucon internet menjadi doktrin pseudosains yang dikukuhkan mati-matian dengan manipulasi ayat dan teori konspirasi.
Mitos benua Atlantis yang dalam teks dialektis Plato (Timaeus dan Critias) sejatinya diadopso sebagai metafora allegoris-politologis untuk mengkritik imperialisme Athena, mendadak diklaim secara harafiah bermukim di Selat Sunda atau kawasan Gunung Padang.
Klaim-klaim ajaib seperti penemuan Blue Energy, obat ajaib pemusnah segala penyakit tanpa pengujian klinis, hingga manipulasi sejarah nasionalisme yang childish.
Semua keajaiban fiktif ini mendadak diangkat menjadi fakta yang mesti diakui publik. Fenomena Alternative Facts ini mencapai puncak artikulasi politiknya melalui mulut Kellyanne Conway, penasihat senior Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
Ketika diinterogasi secara intensif oleh media tentang alasan mengapa juru bicara Gedung Putih menyampaikan manipulasi data yang terang-terangan fiktif terkait jumlah massa yang menghadiri inaugurasi Trump, Conway dengan wajah tanpa dosa menjawab, "Kami tidak berbohong, kami hanya menyajikan fakta alternatif" (alternative facts).
Inilah bahasa politik post-truth yang mengerikan. Dalam kosa kata politisi, tidak ada lagi yang dinamakan kebohongan atau dusta. Yang ada hanyalah variasi fakta alternatif.
Setiap orang berhak mengarang faktanya sendiri, mendistribusikannya lewat jejaring algoritma digital, dan memaksakannya sebagai kebenaran publik melalui instrumen kekuasaan atau massa. Di seberang dogmatisme "Fakta Alternatif" ini, eksis sebuah posisi oposisi yang sama merusaknya bagi masa depan ilmu pengetahuan.
Ini adalah posisi relativisme ekstrem yang tercermin dalam figur Hamlet, karakter tragis ciptaan William Shakespeare. Saya menonton Akting dari dua begawan seni berlakon asal Inggris, Sir Ian Mckellen dan Dame Judi Dench, dimana mereka memainkan peranan tersebut.
Dalam kepura-puraan gilanya, Hamlet digambarkan memuntahkan kecemasan eksistensialnya,"There is nothing either good or bad, but thinking makes it so". Tidak ada yang benar dan tidak ada yang salah di dunia ini, semuanya semata-mata bergantung pada bagaimana pikiran kita mengonstruksikannya.
Dalam jebakan relativisme ini, acuan objektif lenyap tanpa bekas. Bila kognisi kita bergeser ke kiri, kita memvonis sebuah realitas sebagai kejahatan, ketika pikiran kita bergeser ke kanan, realitas yang sama kita puji sebagai kebaikan. Tidak ada titik jangkar (archimedean point).
Dua kutub ekstrem inilah, di satu sisi pemujaan terhadap fakta alternatif yang dogmatis, dan di sisi lain relativisme radikal yang menihilkan standar kebenaran, yang secara sistematis menutup posibilitas bagi ilmu pengetahuan untuk bertumbuh.
Karena, ilmu pengetahuan bergerak di luar garis dikotomi emosional "percaya" atau "tidak percaya", "suka" atau "tidak suka". Misalnya saja bisa saua ajukan pertanyaan sederhana namun mendasar kepada anda, Apakah Anda percaya pada hukum gravitasi? Jika sebuah benda di tangan saya dilepaskan, ia tidak akan melayang secara magis melainkan jatuh menghantam lantai.
Apakah Anda percaya? "Ya, saya percaya karena ada buktinya." Namun, di sinilah letak kekeliruan konseptual masyarakat kita. Sains bukanlah persoalan kepercayaan (belief). Ketika saya menyatakan benda ini jatuh bukan karena gravitasi Newtonian, tapi karena ruang-waktu di sekitar massa bumi mengalami kelengkungan (curved spacetime) sebagaimana dieksplanasikan dalam Teori Relativitas Umum Einstein, kita sedang tidak bertukar dogma iman.
Sains bukan tentang suka atau tidak suka. Seorang ilmuwan sejati acapkali mendapati dirinya harus menerima kesimpulan ilmiah yang paling tidak ia sukai secara personal. Sejarah astronomi menyajikan contoh historis yang begitu monumental mengenai hal ini melalui sosok Johannes Kepler.
Seperti yang saya pemah paparkan di beberapa risalah sebelumnya, Kepler merupakan seorang astronom genius pada abad ke-17, ia seorang penganut misticisme Pythagorean-Platonik yang tegu, dan terobsesi dengan gagasan bahwa Tuhan menciptakan alam semesta berdasarkan harmoni geometris yang sempurna.
Dalam kosmologi zaman itu, bahkan sejak zaman Yunani Kuno, melintasi Aristoteles, Ptolemaios, hingga Nicolaus Copernicus sendiri, sebuah bentuk geometris yang dianggap paling suci dan sempurna adalah lingkaran.
Benda-benda langit, sebagai ciptaan ilahiah yang tidak berani dinoda oleh kelemahan terestrial, diyakini secara absolut harus bergerak dalam lintasan melingkar yang sempurna (uniform circular motion).
Copernicus, betapapun radikalnya revolusi heliosentris yang ia cetuskan, masih mendekam dalam belenggu fisika Aristotelian mengenai orbit melingkar ini. Namun, ketika Kepler memproses data observasinya posisi planet Mars yang ditinggalkan oleh astronom Tycho Brahe, sebuah akumulasi data empiris yang didapat dari pengamatan bertahun-tahun tanpa teleskop, Kepler mendapati ketidakcocokan yang mengganggu.
Data empiris itu secara konsisten menolak model orbit melingkar. Kepler bergulat secara brutal dengan pikirannya sendiri selama delapan tahun. Ia melakukan puluhan ribu kalkulasi matematis yang begitu rumit dan meletihkan secara manual.
Dalam derita intelektualnya, Kepler bahkan menulis sebuah pesan memelas dalam karyanya yang monumental, Astronomia Nova (1609)
"Jika Anda merasa bosan dengan perhitungan matematis yang melelahkan ini, kasihanilah saya yang harus mengulanginya sebanyak tujuh puluh kali!".
Kemarahan akademis meletus. Christian Longomontanus, seorang astronom senior yang juga penganut teologi kosmik, menuduh Kepler sebagai perusak tata langit ilahi. Longomontanus mengecam Kepler karena berani mengganti bentuk lingkaran yang suci dengan bentuk elips yang dianggap cacat dan tidak sempurna.
Kepler tersinggung berat dan meledak dalam amarah yang diabadikan dalam catatannya,
"Bagaimana mungkin aku, seorang pencari kebenaran yang mempersembahkan seluruh hidupku untuk mengagumi keagungan Arsitek Alam Semesta lewat karya Mysterium Cosmographicum, kini dituduh mau mencemari keindahan ciptaan Tuhan dengan kotoran kuda?!"
Mengapa Kepler mengalami penderitaan batin sejauh itu? Karena selisih antara teori orbit melingkar yang ia cintai dengan data empiris pengamatan Tycho Brahe sejatinya sangat tipis, hanya sebesar 8 menit busur (8 arcminutes).
Anda pasti bertanya berapakah besaran 8 menit busur itu dalam realitas visual kita? Cobalah merentangkan tangan Anda ke arah langit malam. Lalu kepalkan, dan julurkan jari kelingking Anda. Lebar ujung jari kelingking seseorang di garis cakrawala mencakup wilayah sudut sebesar kira-kira 1 derajat. Satu derajat itu setara dengan 60 menit busur.
Maka, selisih 8 menit busur yang membuat Kepler tersiksa selama delapan tahun hanyalah setara dengan seperdelapan milimeter ketebalan visual bila diukur di ujung jari kelingking Anda.
Seorang ilmuwan yang dogmatis atau pemuja fakta alternatif akan dengan begitu mudah mengabaikan selisih 1 milimeter kecil itu demi mengukuhkan dogma orbit melingkar. Ia bisa saja berkata, "Ah, ini hanya kesalahan observasi kecil, abaikan saja demi menjaga kesucian teori!"
Tetapi apa yang dilakukan Kepler? Ia memilih setia pada fakta empiris, betapapun fakta itu mendestruksi keyakinan estetis dan spiritualnya. Dalam kerendahan hati epistemik yang luar biasa, Kepler menuliskan kalimat yang sangat indah sekaligus tragis:
"Kebenaran yang aku tolak dan aku buang jauh-jauh selama delapan tahun itu, akhirnya menyelinap masuk secara sembunyi-sembunyi melalui pintu belakang, dengan mengenakan topeng penyamaran."
Kepler bersimpuh pada fakta! Dari ketundukan itulah lahir Hukum Kepler tentang Gerak Planet, yang mengubah sejarah sains untuk selamanya dan membukakan jalan bagi Isaac Newton untuk merumuskan Hukum Gravitasi Universal.
Kepler mengajarkan moralitas tertinggi dalam keilmuan, tentang kesetiaan mutlak kepada fakta realitas. Di sebuah kaos oblong yang pernah saya temui, tertulis sebuah pemeo yang teramat tajam,"Science is not an alternative fact." Sains adalah disiplin kerja yang bertumpu pada fakta objektif, bukan imajinasi ideologis
Kesetiaan kepada fakta kerap kali melahirkan tuduhan dangkal bahwa sains merupakan sebuah doktrin yang dogmatis dan reduksionis, seakan-akan sains menolak secara buta eksistensi realitas metafisik, supranatural, atau fenomena adiduniawi.
Sebelum kita melangkah ke analisis tentang batas-batas ilmu pengetahuan, kita mesti membedah terlebih dahulu bagaimana sains mengonstruksikan eksplanasinya terhadap realitas melalui hukum-hukum deskriptif dan analisis kausalitas.
Sains tidak hanya berhenti pada level deskripsi fenomenologis (mencatat apa yang terjadi). Sains terobsesi untuk menjawab kuriositas yang jauh lebih mendalam, Mengapa (the why question) suatu gejala itu muncul?.
Mari kita gunakan sebuah analogi ontologis. Coba proyeksikan dalam imajinasi anda, sebuah pohon raksasa tumbang di tengah perawan hutan hujan Kalimantan. Bila kita berada di lokasi kejadian dan menyaksikan pohon itu tumbang, maka peristiwa itu masuk ke dalam pengalaman empiris kita.
Namun, bagaimana jika pohon itu tumbang ketika tidak ada satu pun manusia atau instrumen pengukur yang berada di sana untuk mengamatinya? Apakah kita akan secara naif bersua pada konklusi bahwa peristiwa tumbangnya pohon itu tidak pernah terjadi?
Saya kira, di sinilah kita harus mendiferensiasikan antara lapisan empiris (apa yang teramati oleh indera) dengan lapisan aktual (peristiwa yang benar-benar terjadi di dalam realitas material, terlepas dari ada atau tidaknya pengamat).
Tugas ilmu pengetahuan adalah menembus lapisan aktual tersebut untuk membongkar mekanisme kausalitas yang mendasarinya. Namun, dalam masyarakat yang miskin tradisi ilmiah, kapasitas untuk membedakan antara kausalitas sejati (true causation) dengan korelasi kebetulan (spurious correlation) acap kali mengalami kelumpuhan total.
Ambil contoh yang paling simplistik sehari-hari. Wajah para remaja acapkali dipenuhi jerawat. Pada saat yang sama, remaja sangat gemar mengonsumsi es krim atau cokelat. Tiba-tiba lahir sebuah konkluso populer yang dangkal, "Jangan makan cokelat atau es krim, karena cokelat dan es krim menyebabkan jerawat"
Di sini terjadi kerancuan berpikir serta logika falasi. Orang mengacaukan antara hubungan kausalitas yang teruji secara dermatologis dengan sekadar asosiasi simultan.
Ada begitu banyak variabel laten yang menyebabkan timbulnya jerawat, mulai perubahan hormon pubertas, stres, genetika, hingga higiene kulit yang sama sekali tidak ada hubungannya secara langsung dengan konsumsi kakao.
Keteledoran analisis pada kasus jerawat mungkin hanya berimplikasi pada hilangnya kenikmatan memakan cokelat bagi anak remaja. Namun, ketika kerancuan kausalitas ini terjadi dalam skala kebijakan publik, akibatnya bisa menjadi sangat mematikan.
Lihat saja kepanikan anti-vaksin yang merebak di berbagai belahan dunia beberapa tahun lalu, termasuk di Indonesia. Ratusan orang tua secara masif menolak pemberian vaksinasi kombinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) kepada anak-anak mereka.
Penolakan ini sebagian digerakkan oleh dogma keagamaan yang picik, namun sebagian lain dipicu oleh penyebaran berita bohong (hoax) yang direplikasi secara laten lewat jejaring media sosial. Dari manakah muasal narasi ilmiah-palsu yang mengoneksikan antara vaksinasi dengan sindrom autisme ini berasal?
Narasi ini berakar dari sebuah makalah riset tunggal yang terbit pada akhir tahun 1990-an oleh Andrew Wakefield. Makalah tersebut belakangan terbukti memanipulasi data klinis, mengalami konflik kepentingan finansial yang parah, dan akhirnya secara resmi dicabut (retracted) oleh jurnal medis bereputasi The Lancet yang menerbitkannya.
Yang paling krusial dalam metodologi sains, adalah tidak ada satupun penelitian independen di seluruh dunia yang mampu mereplikasi (replicate) atau merepetisi hasil penelitian Wakefield tersebut dengan metodologi yang sahih.
Prinsip replikabilitas (kemampuan sebuah eksperimen untuk diuji kembali secara konsisten oleh pihak lain di manapun dan kapanpun) merupakan jantung dari keandalan ilmu pengetahuan.
Tanpa replikabilitas, sebuah klaim riset tak lebih dari sekedar dongeng subjektif. Namun, karena masyarakat modern lebih cenderung menyukai cerita konspiratif ketimbang ketelitian ilmiah, narasi palsu ini senantiasa direpetisi, direplikasi oleh ketakutan publik, dan dijustifikasi oleh isu-isu moralis-agami, seperti tuduhan kandungan unsur haram dalam proses manufaktur vaksin.
Kerumitan data ilmiah akhirnya dikalahkan oleh simplifikasi gampangan yang mematikan masyarakat. Krisis epistemik ini tidak hanya terjadi di jalanan atau grup obrolan digital, ia telah merembes masuk secara mengkhawatirkan ke dalam lingkungan persekolahan dan institusi perguruan tinggi.
Saya ingin mengangkat sebuah contoh kasus empiris yang pernah dikirimkan oleh Panitia Gita melalui surat undangan mereka, sebuah karya penelitian dari seorang siswa sekolah menengah atas yang sepintas sangat mengharukan.
Siswa ini merancang sebuah eksperimen botani sederhana, ia menanam kecambah kacang hijau pada media tertentu, memberinya air, meletakkannya di bawah sinar matahari, lalu mengobservasi proses pertumbuhannya menjadi tauge.
Namun, variabel bebas yang diujikannya sangat unik, ia memperdengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Quran kepada kelompok tanaman tersebut. Hasil eksperimen siswa tersebut mencatat angka pertumbuhan yang positif, dimana tanaman yang diperdengarkan lantunan ayat suci tumbuh lebih cepat ketimbang kelompok kontrol.
Namun, saya ingin mengutip penggalan laporan agar kita telaah konklusi dan rekomendasi yang dituliskan oleh siswa tersebut:
"Jika Anda ingin mendapatkan pertumbuhan yang lebih baik terhadap sebuah tanaman, terutama kacang hijau, maka bacakanlah Al-Quran. Karena memang Al-Quran mampu memberikan pengaruh terhadap pertumbuhan tanaman, sama saja seperti pengaruh Al-Quran terhadap manusia. Karena memang Al-Quranlah nikmat untuk seluruh makhluk ciptaannya dan alam semesta."
Mari kita bedah teks di atas dengan teropong epistemologi secara dingin dan cermat!. Dalam paragraf tersebut, terdapat penggunaan struktur logika implikasi material. Bila X (dibacakan Al-Quran), maka Y (pertumbuhan tanaman terakselerasi).
Terdapat sebuah lompatan epistemik (epistemological leap) yang begitu jauh, dari fakta eksperimen yang sifatnya lokal-spesifik melompat ke pembuat eksplanasi teologis universal.
Eksperimen ini juga mengharukan karena menunjukan semangat seorang siswa muda yang ingin berlatih metodologi ilmiah, namun pada momentum yang senada didorong oleh sebuah motivasi spiritual yang sangat luhur, yaitu keinginan untuk membuktikan kesaktian kitab sucinya lewat instrumen sains.
Saya tidak punya niat untuk melecehkan keandalan niat luhur siswa SMA tersebut. Namun, di sinilah letak kegagalan fatal dari para guru pembimbing atau dosen pendamping akademisnya.
Seorang pembimbing wajib mengajarkan sebuah batas epistemik yang paling mendasar. Betapapun luhurnya sebuah keyakinan iman atau motivasi spiritual pribadi, keyakinan tersebut tidak boleh diselundupkan masuk sebagai variabel scientific explanation.
Apakah bias motivasional seperti ini hanya terjadi di tingkat sekolah menengah? Sama sekali tidak.
Sejarah sains memotret bagaimana motivasi rasialis di abad ke-19 memanipulasi disiplin Antropologi Fisik melalui pengukuran volume tengkorak (craniometry) demi menghasilkan justifikasi keilmuan palsu bagi doktrin white supremacy dan kolonialisme.
Akibat dari manipulasi sains demi agenda ideologis seperti ini selalu melahirkan tragedi kemanusiaan yang mengerikan. Tentu, menerapkan standar kritik seberat ini pada siswa SMA mungkin bagi anda terdengar berlebihan.
Namun, bagaimana bila fenomena ini terjadi di tingkat mahasiswa, calon-calon intelektual yang seharusnya sudah terlatih dalam disiplin berpikir rigoros?
Mari kita cermati dua penelitian sejajar yang dilakukan oleh mahasiswa di institusi perguruan tinggi di Jawa Tengah dan Jawa Timur beberapa tahun lalu. Para mahasiswa ini mencoba menguji variasi stimulus audio terhadap laju pertumbuhan tanaman. Mereka membagi perlakuan menjadi beberapa kelompok sampel audio:
Kelompok yang diperdengarkan musik klasik (Mozart/Beethoven).
Kelompok yang diperdengarkan musik dangdut.
Kelompok yang diperdengarkan musik rock/heavy metal.
Kelompok yang diperdengarkan murrotal (lantunan indah bacaan Al-Quran).
Hasil observasi empiris memperlihatkan data yang senada, yaitu eberadaan gelombang suara (frekuensi audio) memang memberikan stimulus mekanis yang mempengaruhi laju pertumbuhan sel tanaman.
Kelompok yang diperdengarkan murrotal Al-Quran dan musik klasik menunjukkan laju pertumbuhan tercepat, dangdut berada di urutan tengah, sementara kelompok musik rock menunjukkan laju pertumbuhan paling lambat.
Sampai pada tahap akumulasi data empiris bahwa perubahan frekuensi gelombang suara mempengaruhi laju mekanis pertumbuhan sel tanaman, tidak ada problematika yang dihadapi sama sekali.
Itu merupakan data fisik yang valid dan dapat diekplanasilan lewat mekanisme biophysics (bagaimana tekanan gelombang akustik mentransduksi sinyal pada dinding sel tumbuhan).
Namun, bencana akademis meletus dikala sang mahasiswa melangkah ke tahap pembuatan konklusi untuk menjawab the why question (mengapa hal itu terjadi). Sang mahasiswa secara ajaib menyimpulkan dalam skripsinya:
"Tanaman yang diperdengarkan lantunan Al-Quran tumbuh paling cepat KARENA tanaman tersebut memiliki KECERDASAN SPIRITUAL. Musik klasik tidak dapat melatih kecerdasan spiritual tanaman sebagaimana halnya kitab suci."
Sancta Simplicitas! Dari manakah konsep "Kecerdasan Spiritual Tumbuhan" ini diimpor?Ketika saya menelusuri asal-usul terminologi ini, saya menemukan fenomena epistemik pembusukan digital, terminologi itu ternyata dikutip secara mentah-mentah dari artikel-artikel populer di internet yang saling menyalin (cut-and-paste) tanpa pernah melalui proses peer-review akademis yang sahih.
Satu-satunya acuan yang dipakai adalah sebuah buku populer yang mengklaim bahwa seorang ilmuwan telah membuktikan bahwa tumbuhan bertasbih. Saya tidak sedang menyangkal probabilitas teologis bahwa seluruh materi di alam semesta bertasbih kepada Penciptanya dalam pengertian metafisis.
Yang sedang saya gugat secara radikal adalah penyelundupan kategori teologis menjadi penyebab biologis. Bila mahasiswa itu mengklaim bahwa musik klasik kalah efektif dibanding murrotal karena musik klasik tidak mengandung kecerdasan spiritual, saya tentu berhak menginterogasi metodologinya.
Musik klasik karya siapa yang diputar? Apakah ia memutar komposisi sakral Pergolesi, Monteverdi, atau Mass-in-B-Minor karya Johann Sebastian Bach yang sarat dengan puji-pujian spiritual transendental?
Itulah salah satu sample dari banyaknya peristiwa yang bisa membuat kita melihat betapa dangkalnya tradisi literatur di perguruan tinggi kita. Para mahasiswa mengambil acuan bukan dari karya-karya primary source yang diuji secara akademis, tapi dari sirkulasi mitos digital.
Mereka mengacaukan antara Pengetahuan Ilmiah (Scientific Knowledge) dengan Pengetahuan Religius (Religious Knowledge). Pengetahuan religius tidak memerlukan prosedur induktif-deduktif, tidak membutuhkan uji komparatif, dan tidak membutuhkan bukti empiris material, ia bertumpu pada lompatan iman (leap of faith) dan pengalaman eksistensial.
Sebaliknya, Pengetahuan Ilmiah wajib tunduk pada prosedur kaji-ulang yang ketat. Apakah ini berarti ilmu pengetahuan lebih agung ketimbang agama? Sama sekali tidak. Justru sebaliknya, ilmu pengetahuan berada pada posisi yang jauh lebih rendah dan terbatas.
Ilmu pengetahuan merupakan sebuah usaha yang serba terbatas. Mari kita gambarkan sebuah sketsa ontologis: Alam semesta ini adalah sebuah realitas yang maha-luas, sebuah ketakterhinggaan yang batas-batasnya tidak pernah kita ketahui secara pasti.
Di dalam samudra realitas yang tak bertepi itu, sains hanyalah sebuah kotak kecil, sebuah lingkaran terisolasi bernama Batas Metode Ilmiah. Ada sebuah konsensus historis yang tidak tertulis namun bersifat absolut, bahwa sains hanya dapat beroperasi pada teritori di dalam batas ruang dan waktu.
Sains hanya berhak mengkaji fenomena-fenomena yang terjadi di dunia material dan mengeksplanasikannya memakai mekanisme serta proses-proses yang ada di dalam dunia itu sendiri.
Latar belakang lahirnya batas epistemik ini dapat kita lacak kembali pada era Galileo Galilei pada abad ke-16. Ketika Galileo hendak mendirikan Filsafat Alam (natural philosophy) sebagai disiplin yang mandiri dari teologi skolastik, ia merumuskan sebuah demarkasi yang sangat terkenal, yaitu demarkasi antara Kualitas Primer dan Kualitas Sekunder.
Kualitas Primer adalah segala sesuatu yang dapat ditakar secara kuantitatif-matematis (panjang, tebal, berat, bentuk geometris, jari-jari, dan kecepatan). Inilah wilayah kerja sains.
Sementara Kualitas Sekunder, merupalan perapan subjektif yang pada masa itu belum dapat diukur secara presisi (rasa harum kopi, keindahan warna kecokelatan, cita rasa, dan kenikmatan).
Seiring berjalannya waktu, sains memang berkembang sehingga realitas tidak lagi diperlakukan secara materialis naif. Fisika modern mengajarkan bahwa materi, massa, dan energi dapat saling bertukar bentuk melalui persamaan relativistik (E=mc^2).
Akan tetapi, prinsip dasar Galileo tetap berlaku. Sains tidak memiliki peralatan metodologis untuk mengukur keberadaan entitas di luar ruang dan waktu. Di sinilah letak dua karakter epistemik utama ilmu pengetahuan yang harus kita tegaskan kembali.
Pertama adalah corak sekuler ilmu pengetahuan. Sekularisasi dalam konteks keilmuan bukan sebuah ideologi politik yang memusuhi agama. Sekularisasi epistemik merupakan kesanggupan akal budi untuk berpikir secara limitatif pada ranah dunia ini dan mencari paparan ilmiah yang berasal dari dalam dunia ini.
Segala sesuatu yang menjadi tanggung jawab manusia dan dapat diselesaikan oleh manusia, wajib diselidiki dan diselesaikan dengan mempergunakan daya-daya rasional serta variabel-variabel eksplanatif terestrial.
Seorang ilmuwan yang jujur tidak diperbolehkan "meminjam" variabel transendental dari luar dunia (deus ex machina) untuk menutupi kemalasan analisis ilmiahnya. Dikala kita dengan gampang meminjam penjelasan supranatural dari luar dunia untuk mengejawantahkan fenomena alamiah, maka pada detik itu juga nalar kita mengalami kelumpuhan.
Akal budi bertabrakan dengan tembok pemutlakan. Mengapa banjir bandang meluluhlantakkan sebuah provinsi? Mengapa tanah longsor mengubur kawasan pemukiman?Bila kita dengan gampang menjawab, "Ah, itu semua terjadi semata-mata karena Takdir dan Kehendak Tuhan sebagai hukuman atas dosa manusia," maka riset ekologis berhenti.
Kita menjadi buta untuk melacak adanya kejahatan deforestasi masif, kebijakan tata ruang yang koruptif, serta perusakan lingkungan oleh oligarki industri. Dialog publik menjadi mati karena argumen keagamaan dipakai untuk memutihkan dosa kejahatan ekologis.
Yang kedua, perlu saya tegaskan bahwa ilmu pengetahuan, secara metodologis, wajib bersikap agnostik. Apakah Tuhan itu ada atau tidak ada? Apakah malaikat dan roh halus itu eksis? Itu sama sekali bukan urusan ilmu pengetahuan.
Sangat krusial bagi kita untuk membedakan antara Sikap Pribadi (Personal Attitude) seorang ilmuwan dengan Tuntutan Metodologis (Methodological Constraint) Ilmu Pengetahuan. Seorang ilmuwan secara pribadi boleh saja menjadi seorang penganut teisme yang sangat taat, seorang Kristen, Muslim, Hindu, atau seorang ateis radikal.
Namun, ketika ia melangkah masuk ke dalam laboratorium sains, ia harus menanggalkan preferensi teologis pribadinya di luar pintu.
Sains tidak memiliki eagle's view yang berkapasitas memandang seluruh kebenaran metafisik semesta dari atas secara absolut. Sains bertindak layaknya seorang pekerja tambang yang merayap di dalam lorong gelap dengan lentera kecil bernama metode ilmiah.
Sains tidak menyangkal posibilitas adanya Pengetahuan Intuitif, pengetahuan mistik, atau pengetahuan wahyu yang diperoleh para nabi. Sains tidak menyangkalnya karena sains sadar diri, ia tidak memiliki instrumen metodologis untuk menguji atau memvalidasi klaim-klaim metafisik tersebut.
Apabila sains membiarkan klaim iman masuk tanpa pengujian metode, maka keandalan sains akan hancur runtuh. Kepercayaan teologis semata-mata tidak akan pernah bisa memprediksi presisi cuaca, mengkalkulasi ketahanan jembatan, atau merancang antibiotik untuk membasmi mutasi bakteri.
Meteorologi memang tidak selalu presisi memprediksi hujan karena sistem atmosfer bumi amat kompleks (chaotic system), akan tetali meteorologi beroperasi dengan pemodelan matematis berbasis data alamwi, bukan dengan nubuatan magis yang menuntut kepatuhan mati.
Jika seperti itu sifat elementer dari ilmu pengetahuan, lantas di manakah letak ancaman yang sesungguhnya? Mari kita bedah dua bentuk kejahatan intelektual yang sedang mengepung peradaban kita hari ini.
Di dalam dunia akademik Barat, lahir sebuah aliran yang dikenal sebagai Konstruktivisme Sosial yang radikal. Kelompok ini memandang sains dengan teropong skeptisisme yang dekade. Bagi mereka, tidak ada yang dinamakan metode ilmiah yang handal, karena ilmu pengetahuan tidak pernah menemukan kebenaran objektif, namun semata-mata memproduksi konstruksi tekstual.
Apa itu atom? Apa itu heliks ganda DNA? Apa itu gravitasi Newtonian? Kaum konstruktivis radikal akan menjawab,"Oh, itu semua hanyalah konsensus politik berbahasa di antara para ilmuwan Barat berkulit putih!".
Maka, untuk menilai keabsahan sebuah teori ilmiah, kita tidak perlu melihat uji laboratoriumnya, cukup tanyakan kuriositas sosiologis, Siapa yang paling diuntungkan secara finansial dan politik jika teori ini diterima sebagai kebenaran? Apakah korporasi farmasi? Kapitalisme global? Atau ekspansi imperialisme Barat?.
Bagi saya, pandangan konstruktivis radikal yang berakar dari relativisme ekstrem ini bukan sebatas kekeliruan secara teoritis, akan tetali sebuah penghinaan terhadap rasa kemanusiaan kita.
Bagaimana mungkin saya dapat memaparkan tragedi kemanusiaan di Hiroshima dan Nagasaki, bila atom yang menjadi dasar fisika nuklir pembentuk bom tersebut hanyalah sebuah "konstruksi tekstual" atau permainan wacana?
Jika atom hanya klaim tekstual, lantas mengapa ratusan ribu nyawa manusia di Hiroshima menguap menjadi abu dalam hitungan detik ketika bom itu meledak?! Di manakah tanggung jawab etis para ilmuwan dan teknolog bila sains direduksi menjadi retorika kebudayaan?.
Sains menjadi absolut mustahil untuk dijalankan bila orang terjerumus ke dalam kubangan relativisme ini. Dampak sosialnya begitu katastrofik. Ambil contoh kritik dari beberapa antropolog relativis di India yang menyesali pelaksanaan kampanye vaksinasi cacar secara massal oleh pemerintah.
Mengapa mereka menyesalinya? Karena menurut analisis antropologi relativis itu, pembasmian penyakit cacar melalui vaksinasi massal telah menyebabkan tradisi pemujaan masyarakat terhadap Dewi Sitala (dewi yang diyakini menguasai penyakit cacar) menjadi punah.
Inilah absurditas relativisme budaya yang kebablasan. Apakah kita demi menjaga "keaslian budaya" lantas mesti membiarkan ribuan anak mati mengenaskan oleh wabah penyakit yang bisa dicegah oleh sains? Apakah kita demi menghormati "otonomisasi budaya" lantas harus menjustifikasi praktik mutilasi genitalia perempuan?
Relativisme radikal, ketika ditarik ke ujung logisnya, akan bermutasi menjadi mesin pembunuh kemanusiaan berkedok toleransi budaya. Di ujung kutub yang berseberangan, bersemayam ancaman yang jauh lebih familiar dalam lanskap sosiologis kita, yakni Fundamentalisme Agama yang Dogmatis.
Gerakan ini berangkat dari sebuah pemosisian epistemik yang begitu keras. Tidak ada sumber pengetahuan yang sahih di muka bumi ini kecuali yang tertulis secara eksplisit dalam teks-teks kitab suci.
Komitmen paling fundamental gerakan ini sepintas terlihat luhur, yaitu hendak mengokohkan nilai-nilai moral transendental yang melampaui keterbatasan manusia. Akan tetapi, gerakan ini bermetamofosis menjadi petaka pemikiran ketika para penganutnya tidak lagi mampu membedakan antara Kebenaran Mutlak (Ontologi) dengan Pengetahuan Manusia tentang Kebenaran Mutlak tersebut (Epistemologi).
Mari kita buat dikotomi filosofis yang amat krusial ini. Kebenaran pada Dirinya Sendiri (Truth per se / Ontologi) adalah sesuatu yang mutlak, transendental, dan bermukim di ranah ilahiah.
Pengetahuan tentang Kebenaran (Knowledge of Truth / Epistemologi), menjadi upaya manusia yang serba terbatas, penuh dosa, dan terikat oleh konteks kebudayaan untuk memahami kebenaran tersebut.
Dikala seorang fundamentalis menyelaraskan antara Kebenaran dengan Tafsir Manusia terhadap Kebenaran, maka pada saat itulah ia terjerumus ke dalam dosa kesombongan epistemik yang paling mengerikan. Ia menyembah tafsir kepalanya sendiri seakan tafsir itu adalah Tuhan itu sendiri.
Kerancuan ontologis-epistemologis ini mirip sekali dengan retorika dangkal para politisi busuk di negeri ini. Seorang politisi ternama pernah dengan tenang bersuara di publik, "Jika tidak ada KPK, maka bubarkan saja! Tidak ada korupsi kok!".
Perhatikan keblingeran logis dari politisi tersebut. Adanya kejahatan korupsi merupakan sebuah fakta ontologis (terjadi pencurian uang rakyat di lapangan). Sementara KPK adalah instrumen epistemologis (lembaga yang dirancang untuk menyelidiki dan memberitahukan pengetahuan tentang keberadaan korupsi tersebut kepada publik).
Menurut logika soplok politisi itu, bila lembaga investigasi (epistemologi) dibubarkan, maka kejahatan korupsi (ontologi) otomatis dianggap tidak pernah ada. Ini adalah pemikiran yang sangat infantikal.
Hal yang persis sama terjadi pada kelompok fundamentalis agama. Dalam perspektif fundamentalisme, iman tidak lagi dimaknai sebagai tanggapan eksistensial-pribadi seseorang yang merasa disapa oleh Yang Ilahi dalam kerendahan hati, tapi dipahami secara mekanis sebagai ketaatan buta pada perintah-perintah tekstual.
Agama direduksi menjadi soal kepatuhan dogmatis. Masyarakat dituntut untuk patuh, dilarang bertanya, dan diharamkan untuk melakukan kewajiban riset ilmiah. Apabila situasi ini dibiarkan membusuk, maka ilmu pengetahuan, baik itu fisika, kimia, biologi, maupun linguistik, antropologi, dan humaniora, akan mati secara perlahan.
Kenapa? Karena dalam kacamata fundamentalisme, tidak boleh ada kritik. Setiap upaya untuk melakukan dekonstruksi linguistik terhadap teks, setiap riset antropologis atas konteks sejarah kitab suci, atau setiap penelitian biologi evolusi akan langsung dituduh sebagai bentuk penistaan, tindakan tidak pantas, dan dosa besar yang mengancam keselamatan jiwa.
Sains, sebagaimana telah saya tegaskan, tidak serta-merta membuahkan kearifan (wisdom). Sains tidak secara otomatis memproduksi manusia yang berbudi luhur. Dari rahim sains yang dingin dapat lahir bom atom, senjata pemusnah massal, bakteri pembunuh massal, dan instrumen pengawas totalitarian.
Lantas, bila sains tidak menjamin kearifan, mengapa kita harus bertarung mati-matian untuk mempertahankan keberadaannya? Karena di dalam proses pencarian sains yang setia, jujur, dan berliku, tersembunyi sebuah himpunan etika moral yang amat adiluhung, Epistemic Values.
Setidaknya ada tiga pokok indikatoris yang ingin saya tegaskan. Pertama, seorang ilmuwan dilatih untuk jujur melaporkan apa yang ada, bukan apa yang ingin ia lihat. Ia tidak boleh memalsukan sampel data demi memenuhi ambisi ideologis atau pesanan sponsor.
Kedua, sains merupakan satu-satunya institusi manusia yang secara sukarela menyediakan dirinya untuk disalahkan jika ditemukan bukti baru yang lebih sahih. Sains merayakan kritik sebagai bahan bakar kemajuan.
Ketiga, dalam menulis sebuah risalah ilmiah, ketergantungan obsesif pada kutipan otoritas ("menurut si A", "menurut si B", "menurut si C") tanpa ada keberanian untuk melahirkan sintesis pemikiran mandiri adalah sebuah simptom kemandulan intelektual.
Sains menuntut keberanian seseorang untuk berpikir dengan kepalanya sendiri. Sayangnya, nilai-nilai epistemik yang begitu luhur ini sedang didestruksi secara konseptual oleh Sistem pendidikan nasional kita sendiri.
Mari kita bedah secara kritis kekacauan konseptual dalam kurikulum pendidikan kita, khususnya pada formulasi Kompetensi Inti 1 (K-1) yang diterapkan secara seragam dari tingkat Pra-Sekolah, Sekolah Dasar, Sekolah Menengah Pertama, Sekolah Menengah Atas, hingga perguruan tinggi (S1, S2, S3). Apakah isi dari formulasi K-1 tersebut?
Para Guru dan Dosen tentunya sangat menghafalnya, karena instrumen akreditasi institusi dipatok dari sana, Penghayatan dan Pengamalan Agama sebagai Tolok Ukur Utama Kompetensi Pendidikan. Di sinilah letak kerancuan kognitif yang begitu fatal.
Kurikulum nasional kita telah mengompilasi secara serampangan antara Kompetensi Intelektual-Ilmiah dengan Kompetensi Karakter-Spiritual. Seorang mahasiswa bisa saja memiliki tingkat kesalehan ritual yang sangat tinggi, rajin beribadah, dan santun secara moral, namun pada saat yang sama kemampuan analisis logisnya sangat hancur, metodologi risetnya kacau-balau, dan ia percaya bahwa bumi itu datar.
Apakah orang semacam ini layak diluluskan sebagai Sarjana Sains semata-mata karena nilai K-1 (pengamalan agamanya) bernilai A? Ini merupalan pendangkalan akademis yang luar biasa. Pendidikan nasional kita gagal mendiferensiasi mana ruang untuk melatih kerohanian dan mana ruang untuk mengasah pisau analitis akal budi.
Masyarakat kita akhirnya dimanjakan oleh bujukan-bujukan surgawi yang infantil, "yang penting Anda patuh, jangan banyak bertanya, ikut saja dawuh guru/tokoh, taat, dan menjadi anak yang saleh".
Maka yang tercipta bukanlah komunitas ilmuwan yang kritis, tapi sekumpulan domba intelektual yang berputar-putar dalam ketertutupan pemikiran mereka sendiri. Mereka menjadi panik, marah, dan meledak dalam histeria kebencian ketika berhadapan dengan perbedaan tafsir.
Lihat saja dinamika sosial-politik yang meletus di Jakarta dan berbagai wilayah Indonesia belakangan ini. Bagaimana massa dengan begotu mudah diprovokasi kebenciannya hingga membakar ruang publik, tanpa peduli bahwa ada tafsir linguistik, analisis hermeneutika, dan pertimbangan ilmu bahasa terhadap ucapan seseorang yang sedang dipersoalkan.
Pintu ilmu pengetahuan ditutup rapat-rakan, pakar linguistik diabaikan, dan amuk massa yang emosional diangkat menjadi hakim kebenaran.
Bahkan di dalam dinding perguruan tinggi, dekadensi ini sudah mencapai taraf yang mengerikan. Di sebuah universitas ternama di negeri ini, seorang dosen bergelar Doktor pernah secara terbuka merekomendasikan agar Teori Evolusi Darwin dihapuskan dari kurikulum pengajaran Biologi semata-mata karena dianggap bertentangan dengan tafsir harfiah teks keagamaan.
Fenomena ini begitu masif hingga Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI) merasa perlu turun tangan secara resmi untuk mengirimkan surat teguran akademis. Bilamana di benteng terakhir perguruan tinggi saja para doktor sudah takut pada teori ilmiah, maka ke mana lagi peradaban ini akan menyandarkan masa depannya?.
Saya ingin mengakhiri risalah akademis ini dengan sebuah imbauan eksistensial yang provokatif. Ilmu pengetahuan tidak pernah menjanjikan kepastian. Apabila Anda masuk ke dunia perguruan tinggi untuk mencari kepastian absolut yang menenangkan jiwa, Anda telah salah melangkah.
Sebagai calon-calon ilmuwan dan peneliti yang sedang merayap di lorong-lorong pencarian, bersetialah dengan kejam kepada kejujuran ilmiah dan kesetiaan mutlak kepada fakta. Belajarlah dari pergulatan para pemikir besar.
Ketika kita bergulat secara mendalam dengan kognisi, sebagaimana yang dilakukan oleh para filosof, peneliti, dan sahabat-sahabat akademis sepanjang trajektori sejarah, kita tidak akan tumbuh menjadi manusia yang sombong dan takabur.
Sebaliknya, kita justru akan gemetar. Kita gemetar karena kita mendapati diri kita sedang berdiri di hadapan Tembok Realitas yang maha-tebal, maha-gelap, dan tidak ada satu pun manusia di muka bumi ini yang tahu seberapa tebal sesungguhnya tembok misteri tersebut.
Kebenaran ilmiah bukan sebuah benda padat yang bisa kita genggam, kita kandangkan, lalu kita klaim sebagai milik pribadi kita selamanya. Kebenaran ilmiah itu seperti hantu yang berkelibat di kegelapan, ia memancarkan sekilas cahaya, memberi petunjuk arah, namun ia tidak akan pernah bisa dijerat atau dipenjara oleh dogma-dogma manusia.
Sains pada dirinya sendiri tidak akan memberikan kearifan hidup. Yang memberikan kearifan adalah kesetiaan eksistensial untuk terus menjejaki lorong-lorong gelap, melintasi medan pemikiran yang terjal dan berliku, demi mendekati cita-cita kebenaran itu.
Sebagaimana telah saya perlihatkan melalui contoh politisi busuk di atas, ada dikotomi radikal antara keberadaan kebenaran dengan bagaimana kita mengetahui kebenaran tersebut. Dalam sains, kita tidak pernah bisa mengklaim secara absolut bahwa kita telah mencapai Kebenaran Mutlak yang final.
Namun, dikala sebuah masyarakat memilih untuk menutup semua probabilitas kritik, melarang dekonstruksi tafsir, dan mendeklarasikan bahwa kebenaran empiris wajib tunduk pada tafsir harfiah kitab suci, maka pada saat itulah sains dibunuh secara perlahan.
Mengapa? Karena kebenaran religius yang dogmatis tidak memiliki langkah-langkah metodologis untuk menguji validitas kebenaran ilmiah. Membenturkan keduanya secara naif hanya akan merusak keluhuran agama sekaligus menghancurkan kecerdasan sains. Inilah pokok yang selalu saya utarakan dan ejawantahkan dalam risalah ini.
Di perguruan tinggi kita hari ini, ada semacam penyakit intelektual yang sangat kronis: orang sering mengacaukan antara Nalar (Logic) dengan Akal Budi/Proses Berpikir (Thinking Process).
Nalar, itu hanyalah sebuah instrumen mekanis untuk menarik konklusi yang logis dari silogisme premis-premis. Nalar bisa sangat dingin, kaku, dan silau oleh premisnya sendiri. Sementara akal budi (Berpikir), adalah sebuah aktivitas kemanusiaan yang maha-luas.
Berpikir melibatkan ingatan historis (memory), kepekaan emosional, pertimbangan etis-moral, kesadaran akan masa lalu, kecemasan masa kini, dan imajinasi akan masa depan.
Maka, jangan heran kenapa di berbagai universitas, akademisi yang pemikirannya paling kaku, paling terobsesi pada tafsir harfiah yang dogmatis, dan paling tidak toleran terhadap perbedaan, acapkali lahir dari disiplin ilmu-ilmu murni atau teknologi.
Karena proses pendidikan mereka direduksi hanya untuk mengasah nalar mekanis yang hitam-putih (1 atau 0, benar atau salah secara silogistis), tanpa pernah dilatih menggunakan akal budi yang sarat akan nuansa kemanusiaan. Inilah tantangan peradaban yang berada di pundak anda sekalian.
Apakah Anda akan berdiam diri dan membiarkan pembusukan epistemik ini senantiasa berlangsung? Apakah Anda akan membiarkan kelompok-kelompok obscurantis yang bersiaga menyerang siapa pun yang mencoba membuka pintu ketertutupan ini merusak masa depan kebudayaan kita?
Tradisi ilmiah di Indonesia masih begitu muda, sangat rapuh, dan kini berada di ambang destruksi oleh kepungan narsisisme digital, fakta alternatif, dan fundamentalisme dogmatis.
Apabila kita tidak merawat integritas akal budi ini dengan radikalisme berpikir, maka ilmu pengetahuan di negeri ini akan mati dan tergeser oleh peradaban pemuja mitos baru. Tugas kita hanya satu, yakni berani menyaksikan, berani meragukan, dan bersetia pada cahaya kebenaran.
