Konten dari Pengguna

Objek De-Subjektivikasi & Subjek Nir-Eksistensi

Elkata Agustinus Batistuta Atua

Elkata Agustinus Batistuta Atua

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional

·waktu baca 18 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
doc.pribadi

Dalam kontemplasi saya beberapa waktu belakangan, ada hasrat yang bersemayam dalam upaya untuk meradikalisasi ontologi keber-ada-an dengan menggeser titik pijak dari “yang ada” pada “yang tidak ada” sebagai landasan eksistensial. Opus ini menjadi gelanggang kritik bagi pikiran Rene Descartes tentang Cogito Ergo Sum (Aku berpikir, maka Aku ada) & Logika Transendental Imanuel Kant.

Dengan melampaui metafisika klasik yang terbelenggu fetisisme keberadaan, dalam risalah ini saya benamkan tesis bahwa ketiadaan bukan hanya sebatas negasi, tetapi fenomena posibilitas bagi setiap bentuk kehadiran. Eksistensi, dalam lanskap paradigmatik ini, tidak menjadi keniscayaan, ia bermutasi sebagai deviasi logis dari simplisitas nihilistik.

Saya ingin anda mengukuhkan densitas logika, untuk membaca risalah yang “menyesatkan secara produktif” ini. Tertegun dengan mengoperasikan pisau bedah eksplanatif-dialektis, eksplorasi ini dimaksudkan untuk mendekonstruksi nalar bahwa realitas seyogyanya merupakan sistem diferensial yang beroperasi dengan absensi, bukan presensi.

Bila membuka kembali etalase arsipis dan memori kita tentang peradaban pengetahuan (khususnya bagi anda yang menyelami relung filsafat) tentunya tahu, bahwa pilar itu semenjak era klasik sampai kontemporer terjerat dalam obsesi metafisik terhadap “ada”. Tertuang dalam berbagai risalah spektakuler dengan basis analisis yang tajam para pemikir besar, bahkan beberapa risalah saya sebelum ini-pun mencoba mendedahkan konsep dari ada-an ada-an yang korelat (Filsafat Keberadaan).

Namun bila kita mencoba untuk membuka tabir probabilitas, seakan-akan keberadaan menjadi sesuatu yang self-evident, esensi yang tidak perlu dicurigai, senyawa yang tak penting bila dicemaskan. Padahal malah di situlah skandal paradoksalnya. Kita mengafirmasi eksistensi “ada” tanpa interogasi dan otopsi radikal. Berbagai pertanyaan klasik, yang kerap berkutat dalam kognisi saya adalah tentang mengapa ada sesuatu daripada tidak ada apa-apa, yang secara subtil sarat akan bias ontologis.

Frasa ini mengandaikan bahwa “tidak ada” merupakan simptom problematik, sementara “ada” menjadi kondisi default. Padahal bila logika senada kita balik, “tidak ada” merupakan situasi yang secara logika paling hemat, paling simple, serta paling tidak membutuhkan eksplanasi. Disisi lain, “ada” menjadi surplus ontologis, dimana terjadi sebuah pemborosan bahkan erosi metafisik yang menuntut justifikasi.

Dengan begitu, eksistensi tidak menjadi fondasi tapi anomali. Saya ingin mendorong anda masuk dalam proyeksi ontologi absensial, dimana ketidakhadiran (ketidakadaan) berpotensi sebagai fragmen posibilitas. Bila kita mendekonstruksi struktur makna, maka ada satu fakta yang sering diacuhkan, yaitu tidak ada sesuatu pun yang dapat ada tanpa latar ketiadaannya. Inilah senyawa logis yang kerap disepelekan.

Sebuah objek hanya bisa dikenali karena ia berbeda dari yang lain, dan perbedaan itu sendiri merupakan operasi absensial. Ini yang akan saya labeli sebagai Absensialitas Diferensial, suatu kondisi dimana realitas beroperasi bukan karena apa yang ada, melainkan karena apa yang tidak ada di dalamnya. Kehadiran bukan substansi, tetapi efek. Efek dari apa? Dari berbagai dispositif ketiadaan yang saling membatasi.

Dalam horizon yang jauh lebih radikal bisa dikonklusikan seperti ini: “Ada” merupakan ilusi stabilitas dan “Tidak ada” menjadi struktur operasionalnya. Inilah lapisan lain yang ingin saya singkap yakni dekonstruksi “ada”, karena eksistensi menjadi efek deviasi logis. Mari coba lakukan eksperimentasi logis. “Tidak ada” dalam kerangka ini tidak memerlukan eksplanasi.

Sementara “Ada” membutuhkan sebab, alasan, struktur. Sehingga dari teropong epistemologis, “Tidak ada” merupakan baseline, dan “Ada” menjadi anomaly. Hal ini kemudian bersua pada tesis provokatif, bahwa eksistensi merupakan penyimpangan dari ketiadaan. Bentuk anomalisme ontologis. Keberadaan bukan hukum, melainkan kontradiksi kosmik dalam ruang nihilitas.

Dengan begitu, realitas tidak menjadi sesuatu yang “harus ada”, tetapi sesuatu yang “terlanjur ada”. Kita kerap tidak ingin menjamah logika ketidakhadiran sebagai struktur yang menghilang untuk memungkinkan. Esensi paradoksal primer dari absensi adalah ketiadaan tak pernah muncul, tetapi selalu beroperasi. Ia (saya proyeksikan) seperti fondasi yang harus menghilang agar bangunan dapat berdiri.

Bila ia hadir, maka ia berhenti menjadi fondasi. Apa yang kerap dilabeli sebagai Paradox of Operational Absence. Ini berarti ada pilar penopang hipotesis saya bahwa yang paling menentukan justru tidak tampak, sementara yang tampak justru tidak menentukan. Ini mengeksplanasikan mengapa makna hadir dari perbedaan dan perbedaan muncul dari ketiadaan relasional.

Artinya realitas merupakan permainan simulacral dari sesuatu yang tidak pernah hadir secara utuh. Bila kita selami lebih dalam, maka realitas tidak berupa kumpulan entitas, tetapi ia bermutasi sebagai sistem diferensial dari absensi yang saling berelasi. Tak ada “substansi tetap”, yang ada hanyalah relasi, dikotomi, dan kekosongan yang separatif. Situasi ini memantulkan realitas dimana dunia tidak terdiri dari benda, melainkan dari celah.

Setiap objek menjadi konfigurasi periodikal dari kehampaan serta stabilisasi dari ketidakhadiran yang ditunda. Ketika mengevaluasi kembali, saya begitu tertegun mengapa manusia terobsesi pada keber-ada-an, walaupun dengan potensi kita ditipu olehnya? Ini menguak epistemologi kekeliruan yang bersemayam dalam kognisi kita. Obsesi ini berakar karena kesadaran beroperasi lewat penangkapan bentuk, bukan kekosongan.

Nalar kita tidak dikonstruksi untuk mengenskripsikan absensi, ia hanya dapat menguliti efeknya. Akhirnya, kita menyembah “ada” dan terhanyut bahwa “ada” hanyalah permukaan. Ini memicu ilusi epistemik tentang presensi itu sendiri. Ada anggapan yang kerap berkelindan bahwa realitas disusun dari apa yang nampak, namun nyatanya ia ditentukan oleh apa yang tak nampak.

Bila hipotesis saya ini diterima, maka semua fondasi metafisika klasik akan runtuh. Substansi merupakan ilusi stabilitas, identitas adalah efek diferensiasi, eksistensi menjadi anomali, dan realitas merupakan konstruksi absensial. Ini berarti tidak ada pusat, orbit atau fondasi tetap. Tidak ada “ada” yang murni, yang ada hanyalah dispositif ketiadaan yang saling mengondisikan.

Bila kita menjejaki etalase historis filsafat, kita akan bersua pada satu pola laten, sebuah konspirasi yang secara subtil memihak “ada” sebagai poros kebenaran. Sejak mengafirmasi bahwa “yang ada itu ada, yang tidak ada itu tidak mungkin dipikirkan”, filsafat secara sistemik mengeliminasi ke-tiada-an dari ruang berpikir. Pada lapisan ini, kesalahan pertama terjadi. Tidak pada argumennya, melainkan pada asumsi diam-diamnya.

Parmenides tidak sekadar berbicara tentang “ada”, ia menginstitusikan larangan epistemologis pada ketiadaan. Ketiadaan tak hanya ditolak, namun juga diproduksi sebagai sesuatu yang tidak boleh dipikirkan. Menariknya kita melihat banyak formalisasi dari bias ini. Dalam logika klasik, terdapat Prinsip identitas (A = A) dan Prinsip non-kontradiksi (A ≠ non-A). Kerap kali ini tidak dilihat sebagai bentuk persemayaman kebenaran yang sepihak.

Jika dianalisis, seluruh sistem ini bertumpu pada stabilitas “ada” sebagai sesuatu yang tetap. Artinya bahkan logika pun tidak netral, ia menjadi ideologi keberadaan. Lalu Rene Descartes hadir dengan cogito-nya, aku berpikir maka aku ada. Tetapi di balik semua itu, terselubung satu lompatan absurd. Dari aktivitas berpikir langsung pada kepastian keberadaan.

Padahal, bila saya radikalkan, “Aku berpikir” malah membuktikan bahwa aku tidak pernah sepenuhnya hadir, karena proses berpikir merupakan indikasi kekurangan, bukan kepenuhan. Namun lalu argumen cogito ergo sum mencoba menyelamatkan situasi dengan membatasi pengetahuan pada fenomena.

Namun ia tetap mengukuhkan struktur fundamentalnya, bahwa sesuatu harus “ada” agar bisa dialami. Sementara mulai mencurigai “ada”, tetapi berhenti di ambang jurang. Descartes berkuriositas tentang Being, namun tidak berani mengafirmasi bahwa “Nothingness is not the shadow of Being, it is it's condition.” Dengan begitu, sejarah filsafat bukan sejarah pencarian kebenaran, tapi menjadi instrumen represif pada ketiadaan.

Untuk terliberalisasi dari belenggu metafisika, kita harus mengonstruksi ulang logika itu sendiri. Ada aksioma absensial baru yang ingin saya ajukan, dimana ketiadaan tidak bisa direpresentasikan, namun selalu terimplikasi. Setiap entitas merupakan efek diferensiasi dari apa yang tidak ia miliki, dan kehadiran adalah pantulan fungsi dari absensi yang terstruktur. Ini menginsinuasikan bahwa sesuatu adalah dirinya karena ia bukan yang lain.

Ada tidak pernah identik dengan dirinya sendiri, karena ia senantiasa ditentukan oleh relasi eksternal yang berubah. Sehingga identitas sama dengan penundaan diferensial. Ini tentunya berimplikasi pada konsekuensi ekstrem, dimana tidak ada entitas yang stabil, tidak ada identitas yang final, dan tidak ada keberadaan yang independen.

Saya senang membangun eksperimen pikiran yang memproyeksikan semesta tanpa kehadiran, dimana tidak ada objek, waktu, maupun ruang. Tentunya pemikir klasik akan berargumen “Itu berarti tidak ada apa-apa.", tetapi dalam kerangka absensial, ini menjadi kondisi paling fundamental.

Sekarang balikkan dengan menambahkan satu entitas. Yang terjadi (secara instan) adalah kemunculan diferensiasi, relasi serta ketegangan ontologis. Itu berarti, kehadiran pertama merupakan gangguan awal terhadap kestabilan nihilitas. Semacam disturbulensi primordial dimana eksistensi menjadi fluktuasi dalam medan ketiadaan. Aspek yang menarik bila secara komprehensif ditelaah, apa yang diabaikan filsafat klasik malah mulai muncul dalam sains modern.

Semacam konvergensi dengan empirisme dalam kekosongan yang produktif. Dalam fisika kuantum Vakum bukan “kosong", ia sarat akan fluktuasi energi. Berbagai kerangka konseptual layaknya quantum vacuum atau zero-point energy, memperlihatkan bahwa “ketiadaan” justru merupakan medan produktif. Tetapi bahkan sains masih terjerat dalam linguistik “sesuatu”, ia belum berani mengambil langkah lebih jauh ke arah ontofisika absensial.

Ini mencerminkan fluktuasi itu sendiri menjadi efek dari struktur ketiadaan. Kini saya akan membawa anda masuk ke teritori paling subversif. Bila realitas beroperasi lewat ketiadaan, maka kekuasaan pun demikian. Ia berkelana melalui absensi. Kekuasaan tidak senantiasa eksis secara eksplisit. Justru ia paling efektif ketika tidak terlihat, tidak diucapkan dan tidak disadari.

Lapisan ini mengintuisikan bahwa ada aspek yang melampauinya. Sebagai penggiat teori-teori kekuasaan, kerap saya menelaah pikiran Foucault yang bercakap tentang kekuasaan yang tersebar. Tapi kini saya ajukan tesis bahwa kekuasaan merupakan absensi yang terstruktur.

Misalnya saja, sensor tidak hanya beroperasi dengan melarang, melainkan dengan membuat sesuatu tidak pernah muncul. Begitu juga dengan Ideologi yang tidak semata memproduksi narasi, namun juga menghapus posibilitas berpikir alternatif. Inilah bentuk dominasi hegemonik paling efektif dimana ia tak terlihat agresif atau represif, ada absensi dalam struktur kekuasaan, namun begitu mendisiplinkan.

Pengetahuan sepanjang peradaban dilabeli sebagai akumulasi kehadiran data, fakta, dan informasi. Namun dalam lanskap ini, pengetahuan menjadi efek dari apa yang tidak kita ketahui. Epistemologi kegagalan dimana pengetahuan menjadi produk kekurangan. Realita bahwa kita mengetahui sesuatu karena ada celah, ada kekurangan, ada absensi merupakan kerangka yang tak bisa disangkal.

Tanpa ketiadaan tidak ada pertanyaan, tidak ada pencarian, dan tidak ada pengetahuan. Dalil itu tak jarang dikesampingkan. Padahal landasan dari asal usul pengetahuan itu sendiri merupakan Structured Ignorance. Kita lalu bersua pada titik di mana seluruh bangunan ontologi runtuh. Realitas menjadi ilusi konsistensi.

Apa yang kita labeli “realitas” merupakan stabilisasi temporalis dari diferensiasi yang tidak pernah usai. Artinya, dunia merupakan ilusi yang cukup konsisten untuk dipercaya. Tetapi konsistensi itu rapuh dan vulgar, karena ia bertumpu pada ketiadaan yang terus beroperasi di balik layar.

Kerap kali beberapa risalah saya dinilai kontroversial bagi para pembaca yang jalan pikirnya disumbat oleh kultur, ideologi, dan paradigma usang tak kompatibel dengan relativitas peradaban, padal yang ingin saya ajukan adalah filsafat harus bermetamorfosis secara radikal. Dalam kerangka ini, ia tidak lagi bertugas melacak hakikat “ada", namun mendekomposisi mekanisme ketiadaan yang memungkinkan segala sesuatu tampak ada.

Hipotesis ini bukan hanya perubahan teori, melainkan pergeseran ontologis total dari metafisika kehadiran menuju ontologi absensial. Bila logika klasik dibangun atas dasar kepastian identitas, maka logika absensial sebenarnya dimulai dari kegagalan identitas itu sendiri. Pada dimensi inilah kita memulai dengan satu provokasi metodologis, bahwa logika bukan sistem untuk menemukan kebenaran, melainkan mekanisme yang bertujuan menstabilkan ilusi keberadaan.

Dalam tradisi fisika matematis misalnya, prinsip A = A dipakai sebagai fondasi. Tetapi dalam kerangka absensial, prinsip itu runtuh oleh satu fakta sederhana, A hanya bisa menjadi A karena ia bukan non-A. Dengan begitu, identitas tidak bersifat positif, Ia adalah hasil eksklusi. Kerap kali formulasi pikiran kita masih dibelenggu dalam logika representasional. Kita mesti menjejaj8 lebih dalam menuju apa yang bisa disebut, Logika Negasi Produktif.

Di sini, negasi tak lagi sebatas “peniadaan”, namun justru kondisi produksi makna. Setiap proposisi tidak bertumpu karena dirinya, tetapi karena apa yang ia singkirkan. Sehingga fakta kebenaran bukan korespondensi, dan menjadi stabilisasi dari eliminasi posibilitas alternatif. Ini bersua pada aspek paradoksal, dimana semakin sesuatu tampak pasti, semakin banyak ketiadaan yang disembunyikan di baliknya.

Perlu diingat bahwa semua sistem logika bersifat tidak lengkap dan kepastian hanya bersifat sementara. Saya ingin kita melakukan simulasi pikiran yang ekstrem untuk mengguncang intuisi tentang logika ketiadaan ini. Bayangkan dunia di mana semua identik, tidak ada perbedaan atau variasi. Yang terjadi justru brutal, dunia itu tidak dapat dibedakan dari ketiadaan. Ini terjadi karena tanpa perbedaan, tidak ada informasi.

Tanpa informasi, tidak akan ada realitas. Sehingga siklus eksistensial sendiri pun memerlukan ketiadaan sebagai unsur pembeda. Sekarang bisa proyeksi yang sama kita balikan dimana ada sesuatu yang sepenuhnya hadir tanpa kekurangan, tanpa absensi, dan tanpa celah. Yang terjadi adalah ia tidak dapat dikenali. Karena mekanisme pengenalan memerlukan kontras, bineritas, serta ketidakhadiran.

Sehingga konklusinya adalah kehadiran total setara dengan imposibilitas epistemologis. Eksperimen penghapusan bertahap misalnya. Ketika anda mengambil satu objek, lalu menghapus semua atributnya satu per satu. Timbul kuriositas tentang kapan ia berhenti menjadi dirinya?. Nyatanya, tidak ada titik pasti. Ini adalah efek karena identitas bukan substansi, melainkan dispositif relasional. Dan konektivitas itu bergantung pada absensi yang mengelilinginya.

Beberapa paragraf sebelumnya saya sempat menyingung tentang ontofisika absensial yang berkutat secara relasional dengan fisika modern (yang tanpa sadar telah mengonfirmasi intuisi absensial). Bila membaca teori medan kuantum, terminologi “vakum” bukan kosong, ia penuh fluktuasi. Tetapi hal ini harus ditelaah secara radikal, bahwa bukan karena ada sesuatu di dalam vakum, namun karena ketiadaan itu sendiri tidak stabil.

Fluktuasi kuantum memperlihatkan bahwa “tidak ada” tidak pernah benar-benar diam, ia selalu berpotensi menjadi “ada”. Inilah bentuk instabilitas ontologis ketiadaan. Ketiadaan bukan nol statis, tapi medan posibilitas dan gelanggang potensial. Tetapi bahkan fisika pun masih terbelenggu dalam terminologi “energi”, “partikel”, “medan”. Ia belum berani mendeklarasikan bahwa semua itu hanyalah efek dari diferensiasi ketiadaan. Inilah lapisan dimana kuantum menjadi Metafisika Terselubung.

Berbagai fenomena seperti superposisi, insertaniti, dan entanglement mengindikasikan bahwa realitas tidak stabil. Tapi dalam lanskap paradigmatik absensial ketidakpastian bukan kekurangan data, ia menjadi struktur dasar (baseline) realitas. Artinya, dunia bukan tidak pasti karena kita tidak tahu, melainkan karena ia memang tidak pernah sepenuhnya ada.

Indikator alternatif yang ingin saya dedahkan pada risalah ini adalah eksistensi epistemologis barat yang berlandaskan asumsi bahwa dunia dapat dienskripsikan dan kebenaran dapat diraih. Akan tetapi asumsi ini tergoncang dikala kita mengafirmasi bahwa realitas merupakan diferensiasi ketiadaan. Dalam tradisi filsafat, kita hanya mengetahui fenomena. Namun bahkan argumen pakar seperti Imanuel Kant masih mengukuhkan bahwa ada sesuatu yang “mendasari”.

Sementara dalam lanskap ini (bila anda sanggup mendekomposisi maknanya), tidak ada fondasi, hanya efek dekonstruktif dari subjek pengetahuan. Subjek dipuja sebagai episentrum kesadaran.Tapi bila kita radikalkan, subjek menjadi efek dari diferensiasi dan produk dari ketiadaan. Ia bukan observer netral, tapi konfigurasi temporal dari absensi kebenaran sebagai stabilitas sementara.

Kebenaran tidak menjadi esensi yang dijumpa, namun senyawa yang distabilkan dengan instrumen penghapusan alternatif atau penekanan posibilitas lain. Sehingga kebenaran bermutasi sebagai Managed Absence. Sepanjang sejarah kita semua pasti mengakui bahwa kekuasaan yang paling efektif bukan yang terpantul di retina, tetapi yang (begitu subliminal) tidak disadari, tidak digugat, tak dipertanyakan.

Tapi dalam lanskap ini ada esensi radikal yang tak dijamah yakni kekuasaan merupakan absensi yang diorganisir. Politik ketiadaan untuk mendominasi lewat penghapusan. Kekuasaan beroperasi tidak dengan memaksa hadir, tapi dengan mencegah sesuatu muncul. Ide yang tidak pernah diajarkan dan narasi yang tidak pernah diizinkan memantulkan erasure ontologis, bukan represi simplistik.

Selaras dengan hal itu, ideologi juga tidak hanya memproduksi makna, namun juga menciptakan kekosongan tertentu. Sesuatu secara intensional tidak boleh diisi. Sehingga, yang tidak bisa kita konklusikan merupakan serpihan kekuasaan paling absolut. Pada akhirnya, kita memandang ontologi bukan lagi cabang filsafat abstrak. Ia menjadi instrumen kritik paling radikal terhadap realitas itu sendiri, dimana konsep keber-ada-an menjadi efek ideologis.

Berbagai yang kita anggap “nyata” merupakan hasil stabilisasi dari sistem absensi tertentu. Dengan kata lain, realitas merupakan ideologi yang berhasil menyelubungi ketiadaannya sendiri. Terjadi subversi secara total. Satu-satunya bagi saya yang menjadi kekurangan dari ontologi absensial, melakukan hal yang berbahaya, dimana ia tidak mengganti sistem dan membongkar posibilitas adanya sistem itu sendiri.

Disadari atau tidak, kita bermuara pada konklusi yang tidak nyaman. Bahwa ketiadaan bukan kekurangan, Ia adalah struktur dan mesin diam yang menghasilkan dunia. Dan eksistensi, hanyalah kebetulan yang terlalu lama dipercaya sebagai kebenaran. Ini menjadi paradoks paling brutal, bahwa yang paling nyata malah menjadi yang tidak pernah hadir.

Realitas bukan kepastian, ia adalah diferensiasi tanpa landasan. Dengan begitu, filsafat harus berhenti berkuriositas tentang “apa yang ada?”, dan mulai bertanya “bagaimana ketiadaan beroperasi sehingga sesuatu tampak seakan ada?”. Mutasi transformasional ini diperlukan.

Risalah ini menfungsikan proses ekskavasi radikal pada fondasi ontologis “subjek” dalam tradisi filsafat modern, trajektori epistemiknya dimulai dari cogito Cartesian sampai pada arsitektur transendental Kantian. Dengan mengoptimalkan logika refleksivitas hingga titik implosifnya, saya berikhtiar untuk mendedahkan argumen bahwa “subjek” tidak pernah hadir sebagai entitas murni, tetapi senantiasa terjatuh menjadi objek dalam setiap upaya representasi dirinya.

Dengan begitu, subjek tidak menjadi episentrum kesadaran, namun implikasi struktural dari linguistik, dikotomi simbolik, serta mekanisme refleksi. Konsekuensi ontologisnya akan ekstrem bila subjek tidak pernah hadir, maka pengalaman realitas kehilangan pemiliknya. Realitas terjadi tanpa pemilik, tanpa poros, tanpa “aku”. Sehingga saya berhasrat ingin mengusulkan bahwa kesadaran bukanlah milik subjek, tetapi medan diferensial tempat subjek hanyalah residu.

Bila melihat lintasan historis filsafat kontemporer, dimulai dengan sebuah klaim yang terlihat simplistik tetapi sebenarnya problematik secara ontologis, aku berpikir, maka aku ada. Deklarasi ini bukan sebatas proposisi epistemik, namun sarat akan bias ontologis tentang eksistensi subjek sebagai poros kesadaran. Tapi, di sinilah letak belenggu pertama. Dikala “aku” dipikirkan, ia sudah menjadi objek dari pikiran itu sendiri. Sehingga, setiap refleksi diri menjadi pengkhianatan terhadap kemurnian subjek.

Subjek tidak pernah hadir sebagai subjek, ia senantiasa datang terlambat sebagai objek. Maka kita memasuki sebuah paradoks, bahwa subjek hanya ada sejauh ia tidak dipikirkan. Namun bila tidak dipikirkan, ia tidak bisa diketahui. Lalu subjek menjadi sesuatu yang hanya eksis dalam ketidakhadirannya. Inilah yang kerap dilabeli paradoks ontologis refleksivitas.

Dalam risalah saya tentang Logika Ketiadaan, ada argumen yang saya ajukan dimana René Descartes mencoba menyelamatkan kepastian dengan memposisikan subjek sebagai fondasi yang tak tergoyahkan. Tetapi, cogito Cartesian merupakan sebuah performativitas, bukan deskripsi ontologis. Cogito/Being bukan menemukan subjek, ia malah memproduksi efek subjek lewat aspek linguistik.

Ini berarti, “Aku berpikir” bukan bukti keber-ada-an subjek, namun produksi linguistik yang mensimulasikan keberadaan. Pola laten senada juga terpancar dari hipotesis Immanuel Kant yang mencoba menghindari belenggu empirisisme dengan mengusulkan “aku transendental” sebagai kondisi posibilitas pengalaman. Tapi, bahkan di sini pun lahir kontradiksi. Subjek transendental merupakan syarat pengalaman, namun ia sendiri tidak bisa menjadi objek pengalaman.

Dengan kata lain, subjek adalah kondisi yang tidak bisa hadir dalam kondisi yang ia ciptakan. Sehingga yang lahir bukan solusi, tapi pengabadian paradoksal. Perlu disadari bahwa setiap kontemplasi diri memiliki struktur: Ada “aku” yang berpikir dan Ada “aku” yang dipikirkan. Konektivitas relasional antara keduanya merupakan refleksi. Problematikanya adalah “Aku yang berpikir” tidak pernah bisa ditangkap tanpa menjadi “aku yang dipikirkan”.

Ada mekanisme keruntuhan dimana subjek bermetamorfosis menjadi objek. Dengan begitu, subjek senantiasa tergelincir menjadi objek. Ini bersua pada apa yang bisa kita labeli sebagai “Efek Cermin Ontologis”, kondisi di mana setiap upaya melihat diri sendiri hanya berefek bayangan, bukan esensi. Subjek menjadi seperti mata yang mencoba melihat dirinya sendiri tanpa cermin. Mustahil.

Saya ingin melakukan dekonstruksi radikal untuk anda. Bila subjek tidak pernah hadir secara ontologis, maka dari mana ia berasal? Jawabannya adalah bahasa. Esensi linguisik memprouksi ilusi poros lewat struktur gramatikal, “Aku” sebagai subjek kalimat, Predikat sebagai tindakan, dan Objek sebagai dunia. Tapi menurut saya struktur ini mengelabui. “Aku” bukan entitas, ia adalah posisi dalam kalimat.

Dengan begitu, subjek merupakan fungsi sintaksis, bukan realitas ontologis. Ini akhirnya bersua pada tesis radikal, bahwa tidak ada subjek yang bercakap, yang ada hanyalah bahasa yang berbicara melalui posisi “aku”. Untuk menembus kebuntuan ini, perlu dipahami bahwa eksistensi hanya mungkin dalam ketidakhadirannya.

Terjadi refleksivitas implosif dimana kesadaran diri mendestruksikan posibilitas keberadaan subjek murni. Sehingga stuktur bahasa menghasilkan ilusi keberadaan. Eksistensi tanpa pemilik, di mana pengalaman terjadi tanpa subjek yang memilikinya. Ini adalah dimensi paling radikal secara filosofis.

Bila subjek merupakan ilusi, maka Siapa yang melihat? Siapa yang merasakan? Siapa yang sadar?. Jawaban radikalnya, Tidak ada “siapa”. Pengalaman tidak memerlukan pemilik. Kesadaran tidak membutuhkan subjek. Kesadaran merupakan medan, bukan orbit. Sehingga saya ingin berargumen bahwa, alih-alih memandang kesadaran sebagai milik subjek, kita bisa memahaminya sebagai medan diferensial fenomenal.

Di mana tidak ada pusat, tidak ada pemilik, dan tidak ada “aku”. Yang ada hanyalah arus pengalaman yang saling berelasi tanpa identitas tetap. Subjek lalu bermutasi menjadi efek turbulensi dalam medan ini. Konsekuensi dari argumen saya ini sangat ekstrem, bahwa Subjek bukan mati, ia hanya tidak pernah lahir. Begitu juga dunia tidak “dialami”, ia terjadi.

Diri kemudian tak lebih dari subtansi, melainkan narasi. Instuisi komunal kerap merasa “aku ada” karena habitus linguistik, dan ilusi kontinuitas memori, serta struktur sosial yang menuntut identitas. Akan tetapi semua itu adalah konstruksi. Yang kita labeli sebagai “aku” merupakan efek stabil dari ketidakstabilan.

Layaknya hantu, subjek tidak pernah hadir namun selalu terasa. Ia menjadi implikasi retroaktif dari sistem. Sehingga manusia tidak pernah menjadi subjek dari pengalamannya, melainkan efek dari sesuatu yang bahkan tidak membutuhkan kita untuk terjadi. Saya kerap berkuriositas tentang bagaimana dengan kesadaran sebelum refleksi terjadi?

Secara intuitif, kita merasa ada pengalaman yang “langsung”, pra-reflektif. Misalnya rasa sakit, sensasi warna, dan emosi spontan. Kita mengira ini merupakan bukti bahwa subjek hadir sebelum bahasa. Tetapi, di sinilah belenggu yang mutlak. Kesadaran pra-reflektif tidak membuktikan adanya subjek, malah memperlihatkan bahwa pengalaman bisa terjadi tanpa struktur “aku”.

Bila dilacak secara ekstrem, ketika rasa sakit terjadi, tidak ada “aku” yang terlebih dahulu mengklaimnya. Klaim “aku sakit” senantiada datang setelah sensasi itu sendiri. Itu berarti, “aku” merupakan efek retroaktif dari pengalaman. Subjek tidak mendahului pengalaman, ia diproduksi setelah pengalaman, sebagai narasi penjelas.

Dengan begitu, “Aku” bukan pelaku pengalaman, melainkan juru bicara yang datang terlambat. Bila subjek kita posisikan sebagai efek retroaktif, maka konfigurasi struktural dari waktu juga runtuh. Kita secara konvensional berargumen bahwa spektrum periodikal terdiri dari masa lalu, sekarang, dan masa depan. Akan tetapi dalam struktur kesadaran, kita mengalami sesuatu, lalu menafsirkannya, dan hal itu bersua pada produksi “masa lalu” sebagai cerita. Itu berarti masa lalu bukan sebab, ia adalah hasil konstruksi. Ini menghasilkan konsep Temporalitas-Inversif.

Di mana masa depan (interpretasi) malah melahirkan masa lalu (makna pengalaman). Implikasi radikalnya adalah identitas tidak berasal dari masa lalu. Masa lalu justru dikonstruksi untuk menopang ilusi identitas. Dengan begitu, kita tidak memiliki sejarah, namun senantiasa merepetisi sejarah untuk mengafirmasi ilusi diri.

Sepanjang trajektori peradaban ini, subjek difungsikan sebagai titik referensi “aku di sini” atau “dunia di luar sana”. Akan tetapi bila subjek runtuh, maka koordinat ini ikut lenyap. Kita masuk ke kondisi di mana tidak ada pusat, tidak ada perspektif absolut dan tidak ada “dalam” dan “luar”. Realitas menjadi medan tanpa koordinat stagnan.

Jika argumentasi senada kita tarik ke level material, Ilmu saraf mengeksplanasikan bahwa keputusan dibuat sebelum kita sadar. Aktivitas otak mendahului kesadaran terhadap niat. Hal itu berarti, “Aku memutuskan” adalah ilusi. sebenarnya yang terjadi adalah otak memproses, lalu kesadaran mengklaim hasilnya. Ini mengukuhkan tesis Subjek sebagai Epifenomena Naratif. Ia bukan penyebab, namun cerita yang muncul setelah proses biologis terjadi.

Bila individu sebagai subjek runtuh, maka kolektivitas juga ikut goyah. “Rakyat”, “bangsa”, “komunitas”, semua merupakan agregasi dari subjek-subjek. Jika subjek tidak ada kolektivitas menjadi ilusi tingkat lanjut. Seperti yang kita tahu, struktur sosial merupakan simulasi yang stabil secara repetisi sinkronik.

Saya ingin bergeser sedikit dengan melontarkan argumen kontrobersial, bahwa perangkat arsitektur teologi klasik (baik dalam monoteisme Abrahamik maupun metafisika Barat) berporos pada dua asumsi implisit Ada Subjek Absolut (Tuhan) dan Ada subjek relatif (manusia) yang berelasi dengan-Nya. Akan tetapi kita telah menghancurkan subjek manusia.

Kuriositasnya sekarang, apa yang terjadi pada Tuhan bila kita berkutat pada hipotesis bahwa subjek tidak pernah ada?. Bagi saya, Tuhan tidak lebih dari proyeksi struktural. Jika “aku” merupakan efek linguistik, maka “Engkau” (Tuhan) menjadi implikasi relasional dari struktur yang senada.

Relasi “Aku" dan :Engkau” bukan dua entitas, namun diferensiasi internal dalam sistem simbolik. Artinya, Tuhan bukan entitas transenden, tapi efek diferensial dari struktur yang memproduksi posisi “yang absolut”. Tuhan bukan “ada”, ia menjadi fungsi yang membuat keberadaan tampak memiliki pusat.

Jika tidak ada subjek, tidak ada yang berdoa, percaya, atau mengalami kehadiran ilahi. Maka, Tuhan sebagai pribadi kehilangan medium eksistensinya. Tuhan personal adalah refleksi hiperbolik dari subjek manusia. Sehingga saya pun bersua pada kebenaran yang menginterupsi paradigma konvensional. Apakah kita perlu menghancurkan subjek, menghancurkan Tuhan, menghancurkan realitas, menghancurkan logika, lalu akhirnya menghancurkan posibilitas untuk mengatakan bahwa semua itu hancur. Tidak ada kesimpulan. Tidak ada penutup. Karena bahkan “akhir” mengandaikan struktur waktu.