Konten dari Pengguna

Sebelum Aku Berkata "Aku"

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

doc.pribadi
zoom-in-whitePerbesar
doc.pribadi

Sepanjang mempelajari trajektori filsafat, saya kerap bersua pada satu konklusi bahwa kepanikan ontologis filsafat Barat bersumber dari obsesi yang hampir-hampir traumatik terhadap ide tentang Kedaulatan Subjek.

Selama berabad-abad, dari Descartes yang memproklamirkan cogito sebagai fondasi tunggal kepastian, filsafat terbelenggu dalam sangkar narsisisme egologis.

Subjek diposisikan sebagai raja diraja yang menaklukkan seluruh realitas di luar dirinya, mereduksi segala sesuatu yang "Lain" (L'Autrui) menjadi sebatas objek, representasi, atau komoditi konseptual demi memuaskan dahaga sintesis ego.

Di sini, saya berhasrat untuk mengeksplanasikan sebuah pembongkaran atas keangkuhan ontologis tersebut. Risalah ini akan menuntun anda dalam menjejKi pemikiran Emmanuel Levinas untuk menyingkap sebuah kebenaran etis yang selama ini diredam oleh totalitarianisme rasio Barat.

Bahwasannya otentisitas eksistensi manusia tidak pernah ditemukan dalam benteng otonomi yang terisolasi, tapi dalam ketelanjangan tanggung jawab etis terhadap Yang Lain lewat apa yang dikenal sebagai Hasrat Metafisik.

Saya ingin membuka gugatan filosofis ini dengan membedah kebangkrutan gagasan otentisitas dalam tradisi eksistensialisme klasik. Bagi para pemikir seperti Kierkegaard, Nietzsche, bahkan Sartre dan Heidegger, otentisitas (Eigentlichkeit) senantiasa dipahami sebagai bentuk swakelola eksistensial.

Subjek dianggap otentik bilamana ia berhasil membebaskan dirinya dari dekadensi kolektif, keluar dari cengkeraman "publik" atau "Masa" (Das Man), lalu secara heroik merekonstruksi dirinya sendiri lewat kehendak tunggal atau kebebasan mutlak.

Akan tetapi, di balik artikulasi heroik ini, terselubung kekerasan epistemik yang mengerikan. Eksistensialisme modern pada hakikatnya merupakan puncak dari imperialisme ego, sebuah usaha tanpa henti untuk menjadikan diri sebagai episentrum gravitasinya sendiri, di mana orang lain hanyalah cermin tempat ego memantulkan citranya atau musuh yang mengancam kebebasannya (l'enfer, c'est les autres).

Heidegger, misalnya, memposisikan Dasein sebagai pahlawan soliter yang menemukan otentisitasnya saat berhadapan langsung dengan kematian dirinya sendiri (Sein-zum-Tode).

Namun, dalam lanskap Heideggerian ini, dunia pada akhirnya diredam menjadi sebatas struktur alat-alat (Zuhandenheit) dan orang lain ditelan dalam kategorisasi ontologis yang netral. Levinas, sebagaimana yang saya pahami, menunjukan bahwa otentisitas semacam itu adalah sebuah halusinasi ontologis.

Mengidentifikasikan otentisitas dengan otonomi mutlak berarti mengekalkan autisme filosofis. Dikala ego menganggap dirinya sanggup berdiri sendiri, ia sebenarnya sedang melakukan kekerasan terhadap realitas, karena ia memaksa dunia yang pluriform untuk bersimpuh di bawah kategorisasi logos dirinya sendiri.

Pengultusan otonomi ini memproduksi apa yang lalu dikenal sebagai totalitas, artinya sebuah sistem tertutup tempat segala yang asing, unik, dan tak terduga dilarutkan ke dalam "Yang Sama" (Le Même).

Untuk mendekomposisi totalitas ini, penelusuran harus melacak kembali genealogikal bagaimana subjektivitas itu sendiri terbentuk. Pembentukan subjektivitas bukanlah sebuah ledakan kesadaran yang serta-merta, tapi sebuah proses penglepasan diri yang lambat dan menyakitkan dari horor eksistensi yang anonim.

Sebelum ada "Aku", yang ada adalah il y a, keberadaan tanpa subjek, sebuah dentum netral yang mencekam, bagai kebisingan malam yang tidak berwajah dan tidak bertepi. Il y a merupakan pengalaman tentang eksistensi yang telanjang, tanpa jeda, tanpa tempat berselubung, sebuah keabadian yang memenjarakan.

Dalam kondisi il y a, tidak ada kebebasan, yang ada hanyalah keterpaksaan untuk ada. Subjektivitas pertama-tama lahir melalui gerakan hipostasis, atau lompatan ontologis di mana kesadaran memisahkan diri dari dentum anonim tersebut, menciptakan ruang interioritas, serta mengklaim sebuah tempat untuk berdiam.

Subjek mula-mula adalah subjek yang "menikmati" (jouissance). Ia mengonsumsi dunia (makanan, udara, pemandangan) dan mengubahnya menjadi substansi dirinya sendiri.

Dalam lanskap kenikmatan ini, subjek hidup dalam lingkaran egoisme yang naif. Dunia diserap, dicerna, dan diintegrasikan ke dalam interioritas rumah (la demeure). Ego merasa menjadi tuan atas domainnya. Namun, kemandirian ini rapuh dan Ilusif.

Kenikmatan selalu diintai oleh kecemasan akan masa depan yang begitu tak pasti, sebuah kerapuhan yang menandakan bahwa pemenuhan diri melalui penguasaan objek-objek duniawi (besoin atau kebutuhan) merupakan siklus repetitif yang tidak pernah usai.

Ketidakcukupan dari pemenuhan egoistik ini menyingkapkan dikotomi krusial antara Kebutuhan (Besoin) dan Hasrat Metafisik (Désir Mé taphysique). Kebutuhan adalah gerakan melingkar, dimana ego mengalami kekurangan, mencari objek di luar dirinya, mengonsumsi objek tersebut, dan kembali ke dalam dirinya sendiri yang terevaluasi.

Kebutuhan pada dasarnya merupakan watak ekonomi dan totaliter. Ia menolak eksterioritas karena tujuannya adalah memuaskan kepatiran internal. Sebaliknya, Hasrat Metafisik menjadi gerakan linier yang tidak pernah kembali ke asal.

Hasrat ini tidak terlahir dari rasa kekurangan (lack), tapi terbit dari kepenuhan yang melimpah. Ia tidak berhasrat untuk memiliki, menguasai, atau mengonsumsi, melainkan berhasrat pada sesuatu yang secara radikal berada di luar jangkauan ego: Yang Tak Berhingga (L'Infini), yang mengejawantah dalam diri Yang Lain (L'Autrui).

Di sinilah letak dentuman filosofis yang paling spektakuler dalam risalah ini yang ingin saya utarakan tentzng epifani Wajah (Le Visage). Wajah orang lain tidak boleh dimaknai sebagai sekadar kompilasi fitur anatomi hidung, mata, atau bibir yang dapat diukur oleh fenomologi persepsi atau dipetakan oleh sains medis.

Wajah merupakan eksterioritas radikal yang menembus seluruh bentuk representasi mental kita. Dikala saya menatap Wajah yang lain, saya sedang dihadapkan pada sebuah ketakberhinggaan yang tidak bisa dijinakkan oleh konsep-konsep saya.

Wajah memecahkan totalitas egois saya. Wajah berbicara, dan perintah pertamanya bersifat mutlak sekaligus an-arkis: "Engkau tidak boleh membunuh!"

Perintah ini tidak datang dari kode moral borjuis atau konsensus sosial yang kontraktual. Perintah ini merupakan disrupsi keberadaan yang melucuti kebebasan naif ego. Sebelum saya sempat berencana, bernalar, atau memilih, Wajah orang lain telah lebih dahulu menginterogasi keabsahan eksistensi saya.

Wajah berlakon sebagai pemutus dominasi egois, menunjukan bahwa kebebasan saya yang tanpa batas selama ini sebenarnya merupakan kebebasan yang sewenang-wenang dan berdarah.

Di hadapan Wajah, ego dipaksa untuk menyadari bahwa posisinya di dunia bukanlah sebagai penguasa tunggal, tapi sebagai tempat berteduh bagi yang lain. Subjek bermetamorfosis dari sebatas penikmat yang mementingkan diri sendiri menjadi Tuan Rumah (l'hôte), pihak yang pintu rumahnya terbuka lebar untuk menerima kedatangan yang tak terduga.

Akan tetapi, pemikiran yang digali dalam risalah ini tidak ingin saya hentikan pada romantisme kesadaran tuan rumah yang bersedia berbagi. Pemikiran ini melangkah lebih jauh ke dalam teritori radikalisasi etis yang hampir gila, sebuah wilayah di mana subjektivitas ditransformasikan menjadi Sandera (l'otage).

Transisi dari karya awal (Totality and Infinity) menuju karya pemikiran matangnya (Otherwise than Being or Beyond Essence) akan menandai pergeseran dari Bahasa kesadaran menuju Bahasa penderitaan, kepasifan radikal, dan ketersanderaan.

Subjek sebagai sandera merupakan pembalikan total dari seluruh fondasi epistemologi Barat. Bila dalam filosofi tradisional subjek dimaknak sebagai agen yang aktif, memiliki kehendak bebas, dan berwenang menetapkan nilai, maka dalam perspektif etis ini, subjektivitas dipahami sebagai kepasifan yang lebih pasif daripada segala kepasifan (passivité plus passive que toute passivité).

Subjek dihinggapi, diinterupsi, dan dianiaya oleh penderitaan orang lain bahkan sebelum subjek itu sendiri sempat mengartikulasikan dirinya sebagai "Aku". Ini adalah bentuk obsesi etis.

Saya bertangung jawab atas orang lain bukan karena saya telah menandatangani kontrak sosial, bukan karena saya merasa kasihan, dan bukan karena saya seorang filsuf moral yang bajik, namun karena eksistensi saya sejak awal sudah terperangkap dan tersandera oleh kehadiran orang lain.

Tanggung jawab ini tentunya bersifat asimetris dan tak tergantikan. Asimetris berarti bahwa saya bertanggung jawab atas Yang Lain tanpa berhak menuntut agar Yang Lain bertanggung jawab balik kepada saya.

Relasi ini tidak berimpu pada asas resiprositas atau transaksional etis. Bahkan bila Yang Lain membenci saya, menyiksa saya, atau mengabaikan saya, hal itu tidak mengurangi seincipun kadar tanggung jawab saya terhadapnya.

Tak tergantikan artinya bahwa ketika orang lain memanggil atau menderita, panggilan itu dialamatkan secara tunggal kepada saya. Tidak ada orang lain yang bisa menggantikan posisi saya untuk menjawab panggilan tersebut. Dalam artian inilah, kata "Aku" (Me voici/Ini Aku) bersua pada makna puncaknya: Aku adalah orang yang tidak memiliki substitusi untuk menanggung beban orang lain.

Inilah konsep Substitusi, klimaks dari metafora etis yang meluluhlantakkan fondasi otonomi Cartesian. Substitusi berarti menaruh diri sendiri di tempat orang lain, menanggung penderitaan orang lain, bahkan menanggung kesalahan orang lain.

Ini bukanlah martirdom yang masokistik atau bentuk pengorbanan diri yang didasari oleh perasaan bersalah yang neurotik, ia adalah syarat ontologis dari apa artinya menjadi manusia. Subjektivitas tidak terbentuk ketika saya berkata "Aku berpikir", tapi disaat saya berkata "Ini Aku, gantikan dia, tanggung penderitaannya."

Eksistensi subjek pada hakikatnya adalah keterbukaan kebertubuhan (sensibility), sebuah kulit yang terkelupas, daging yang rentan terhadap luka, napas yang dihembuskan untuk memberikan kehangatan bagi yang lain. Dengan dekonstruksi yang meremukkan ini, kita dibawa pada perumusan ulang yang radikal tentang apa itu Otentisitas Subjek.

Saya permah mengutarakan bahwa otentisitas bukanlah pencapaian egosentris, bukan pula sintesis dialektis ala Hegel yang menelan segala perbedaan ke dalam Roh Absolut, dan bukan kebebasan eksistensial Sartre yang mandul di mana manusia dikutuk untuk bebas tanpa pijakan etis.

Otentisitas yang sejati merupakan Otentisitas Etis. Seorang manusia menjadi otentik justru dikala ia menanggalkan klaim-klaim otonominya dan membiarkan dirinya ditransformasikan oleh heteronomi etis, panggilan dari luar yang mendisrupsi serta menuntut kepedulian.

Otonomi adalah ilusi kemandirian yang membutakan, benih dari totalitarianisme politik dan sosial yang berujung pada kamp-kamp konsentrasi dan penindasan atas nama ideologi. Bila otonomi dijadikan berhala, setiap orang di luar diri kita diperlakukan sebagai ancaman atau instrumen.

Sebaliknya, Heteronomi Etis merupakan pengakuan penuh bahwa kebenaran eksistensi saya berada di luar diri saya, pada kepasrahan saya untuk menjawab panggilan Wajah yang menderita. Kebangkitan subjek bukanlah kebangkitan rasio yang menaklukkan, namun kebangkitan kepekaan etis yang tergerak oleh kerentanan Yang Lain.

Sifat dari panggilan etis ini adalah diakronis dan an-arkis. Ia an-arkis karena ia mendahului setiap asal-usul (archē) kesadaran, setiap pilihan bebas, dan setiap prinsip filosofis. Sebelum saya sempat berpikir atau memilih nilai, saya sudah selalu bertengger dalam hubungan etis dengan orang lain.

Panggilan ini diakronis karena ia memecahkan kontinuitas waktu ontologis. Waktu bukan lagi hanya arus linier dari masa lalu menuju masa depan yang dikuasai oleh proyek-proyek ego, tapi waktu sebagai gangguan, sebagai kesepatan untuk pengampunan, harapan, dan keadilan yang senantiasa diperbarui melalui kehadiran orang lain.

Secara tajam, dalam dekonstruksi filosofis ini jug, saya ingin menanggapi bahaya solipsisme etis yang mungkin muncul bila hubungan ini hanya dibatasi pada ranah privat antara "Aku" dan "Yang Lain". Realitas tidak hanya terdiri dari saya dan satu orang lain, ia selalu diisi oleh hadirnya Pihak Ketiga (Le Tiers).

Kehadiran Pihak Ketiga ini mentransformasikan lanskap etis dari hubungan wajah-ke-wajah yang intim menuju ranah Keadilan dan Politik. Di hadapan Pihak Ketiga, kuriositas etis berkembang: Siapa yang harus saya dahulukan? Siapa yang paling menderita?.

Di sinilah rasio, hukum, dan institusi politik menemukan legitimasinya yang sah. Karena acap kali politik dan hukum dipakai sebagai instrumen untuk mengukuhkan kekuasaan atau menjaga keseimbangan egoisme kelompok, padahal harusnya ia menjadi alat yang lahir dari tuntutan etis untuk menimbang dan memberikan keadilan bagi semua Orang Lain yang tidak berwajah langsung di hadapan saya.

Akan tetapi, politik mesti selalu dikoreksi oleh etika. Tanpa ingatan akan panggilan etis dari Wajah yang individual, politik akan dengan sangat mudah merosot menjadi mesin totaliter baru yang mengorbankan manusia-manusia konkret demi abstraksi sistem, ideologi, atau kedaulatan negara.

Krisis peradaban modern adalah krisis ontologis yang berakar pada ketiadaan etika sebagai First Philosophy. Selama bertahun-tahun, tradisi filsafat Barat telah memposisikan metafisika sebagai teori tentang keberadaan, dan meletakkan etika hanya sebagai cabang sekunder, atau sekadar lampiran moralitas praktis yang ditambahkan setelah sistem rasionalitas dan ontologi selesai dibangun.

Akibatnya, etika menjadi mandul, dan menjadi kalkulasi utilitarian atau kewajiban formalistis Kantian yang dingin dan impersonal.

Sumbangan paling radikal dari garis pemikiran ini adalah pembalikan tata hirarki tersebut, Etika adalah Filsafat Utama. Sebelum kita menggugat tentang apa itu 'ada' (Being), sebelum kita memetakan hakikat realitas atau merumuskan metodologi pengetahuan, kita sudah terlebih dahulu berada dalam ikatan tanggung jawab etis.

Ontologi yang tidak didasari oleh etika adalah ontologi kekerasan, ia menjadi logos yang membunuh alteritas, sebuah rasionalisme jahat yang mereduksi keunikan individu menjadi angka-angka statistik atau bahan bakar bagi mesin sejarah.

Kita harusnya disadarkan bahwa otentisitas bukan status yang bisa dicapai lalu dimiliki sebagai piala egosentris. Otentisitas adalah sebuah dinamika yang senantiasa memutus ketaatan kita pada egoisme diri. Ia merupakan keberanian untuk menjadi rentan, kapasitas untuk tergerak oleh kebertubuhan yang terluka, dan kesediaan untuk tersandera oleh kebutuhan sesama.

Dalam dunia yang kian dikuasai oleh hiper-individualisme, algoritma narsisisme, bahkan komodifikasi relasi manusia, pemikiran filosofis ini berdiri tegak bagai sebuah ejekan yang menampar wajah kesadaran modern. Ia mengingatkan kita bahwa kita baru sungguh-sungguh menjadi manusia yang otentik.

Bukan dikala kita berhasil menaklukkan dunia atau menemukan "diri kita yang sejati" dalam keterasingan yang sepi, tapi ketika kita mendengarkan ratapan dari Wajah yang terluka dan dengan rendah hati menjawab: "Ini Aku, tanyakan padaku, aku bertanggung jawab atasmu."

Melangkah lebih jauh ke dalam rerumputan filsafat yang tak terjamah oleh rasionalisme dangkal, kita mesti membedah aspek fenomena kebertubuhan (sensibilité) serta kerentanan fisik yang menjadi medan pertempuran riil antara keberadaan egoistik dan gugatan etis.

Filsafat Barat modern bertindak sangat jahat ketika ia menanggalkan raga dari jalinan etika dan mereduksinya menjadi sekadar res extensa, sebuah mesin biologis yang netral, materi tanpa jiwa yang menunggu untuk dipetakan oleh akal budi Cartesian, atau sebatas instrumen persepsi dalam kerangka fenomenologi Husserlian.

Ini adalah kebohongan epistemik yang amat kolosal. Tubuh manusia adalah titik paling telanjang di mana trauma eksistensial dan tanggung jawab etis bergesekan. Kepekaan kebertubuhan (sensibility) dalam lanskap pemikiran ini dipahami sebagai arena di mana interioritas subjek mengalami kerentanan yang tak terlindungi.

Sebelum subjek sempat memikirkan dunia, subjek telah lebih dahulu merasakan kelaparan (la faim), kesakitan, kehangatan, dan ketakutan. Kelaparan bukan dalam artinya defisit kalori, namun wujud paling murni dari ketidakberdayaan materiil.

Dalam kelaparan, ego dipaksa untuk mengafirmasi bahwa ia terikat pada dunia luar yang profan. Akan tetapi, di sinilah keajaiban etis itu meledak.

Kerentanan kebertubuhan ini menjadi satu-satunya syarat yang memungkinkan lahirnya tindakan memberi. Seseorang yang tidak memiliki tubuh, seseorang yang murni roh rasional seperti malaikat Cartesian, tidak akan pernah bisa memberi.

Karena, memberi bukan sekadar melontarkan ide-ide abstrak, tapi membagikan roti dari mulut sendiri kepada yang menderita. Memberi roti dari mulut sendiri, inilah penjelmaan paling konkret dari konsep Substitusi.

Kepekaan etis adalah kulit yang terkelupas, daging yang terbuka (l'exposition de la chair), yang merasakan sengatan dinginnya penderitaan orang lain bahkan sebelum kesadaran rasional sempat mengambil keputusan.

Disaat orang lain menderita kelaparan atau penindasan, penderitaan itu merembes masuk ke dalam pori-pori kebertubuhan saya, melintasi batas-batas otonomi yang saya bangun dengan susah payah. Saya merasa karena tubuh saya sudah selalu tersandera oleh kerentanan Yang Lain.

Inilah materialisme etis yang mengacak-acak idealisme spekulatif Barat, bahwa etika tidak dimulai dari hukum moral universal di atas takhta langit rasio, tapi dari sekerat roti yang dipindahkan dari tangan yang kenyang ke mulut yang lapar.

Dalam koridor fenomena kebertubuhan ini pulalah, dipahami secara fenomenologis perjumpaan erotis melalui fenomena Belaian (la caresse) dan Keperanakan/Keturunan (fécondité).

Rasio Barat yang voyeuristik selalu memandang Eros sebagai bentuk penaklukan atau pemuasan hasrat egois, sebuah upaya untuk memiliki tubuh orang lain sebagai piala kenikmatan. Tapi, belaian yang sejati memperlihatkan imposibilitas penaklukan itu.

Belaian bukan tindakan memegang, mencengkeram, atau menguasai. Ketika saya membelai yang lain, tangan saya tidak pernah benar-benar "memiliki" apa yang dibelainya, belaian senantiasa meluncur menuju masa depan yang tak terjangkau, menuju sesuatu yang selalu meloloskan diri dari genggaman.

Belaian berhasrat pada sesuatu yang belum ada, pada misteri alteritas yang tidak pernah bisa dijadikan milik pribadi. Inilah erotisme yang terbebas dari dorongan totaliter.

Bentuk sebuah perjumpaan yang merayakan ketidakmungkinan untuk terintegrasi secara sempurna, sebuah hubungan yang mempertahankan keasingan yang dicintai.

Dari relasi erotis yang memelihara alteritas ini hadirlah konsep Keperanakan (fecundité) dan Hubungan Keanak cucuan/Paternitas (paternité).

Pemikiran filosofis tradisional acap kali memandang keturunan sebagai sebatas reproduksi biologis atau perpanjangan dari ego orang tua, bentjk sebuah pencapaian di mana anak dipandang sebagai "milik" atau duplikat dari sang ayah.

Namun bagi saya, anak merupakan representasi dari transendensi dalam imanensi. Anak adalah Saya, tetapi sekaligus secara radikal Bukan Saya. Dalam sosok anak, masa depan ego diputuskan dan dihancurkan sekaligus, anak membebaskan orang tua dari penjara solipsisme masa lalunya sendiri.

Sehingga paternitas hubungan kepemilikan, namjn relasi dengan masa depan yang tidak bisa dikontrol oleh ego orang tua. Melalui anak, subjek mengalami temporalisitas baru yang tidak lagi berporos pada kematian dirinya sendiri

Hal ini mengharuskan pembedahan tajam atas arsitektur waktu dalam ontologi Heideggerian. Bagi Heidegger dalam Sein und Zeit, waktu dipahami secara eksklusif dari sudut pandang Dasein yang soliter. Waktu merupakan struktur kecemasan menuju kematian (Sein-zum-Tode)

Di mana masa depan adalah proyeksi kebebasan Dasein untuk merealisasikan berbagai posibilitas otentiknya sendiri sebelum ia lenyap dalam ketiadaan. Temporalisitas Heideggerian ini bersifat melingkar dan egosentris, masa depan selalu ditarik kembali ke dalam kepentingan Dasein untuk menyelamatkan otentisitas dirinya.

Kematian menjadi peristiwa ontologis tertinggi yang mendefinisikan batas kedaulatan subjek. Namun, pandangan ini ditelanjangi sebagai bentuk solipsisme temporal yang menyedihkan.

Kematian menjadi batas mutlak di mana kebebasan dan kedaulatan ego runtuh secara total. Kematian merupakan misteri yang sama sekali tidak dapat dikuasai oleh rasio atau kehendak. Dan yang lebih krusial, waktu yang sejati tidak dibuka oleh kematian diri sendiri, melainkan oleh Kehadiran Yang Lain (L'Autrui).

Waktu bukan monokronis (waktu milik saya sendiri), tapi Diakroni (diachronie). Sebuah keretakan dalam arus waktu egois yang disebabkan oleh masuknya masa depan orang lain. Masa depan yang sejati tidak menjadi proyek yang saya rencanakan dalam agenda harian saya, ia menjadi kedatangan yang tak terduga (l'inattendu) dari yang lain yang tidak bisa diprediksi oleh kalkulasi rasio saya.

Yang Lain memperbarui waktu, dengan membawa pengampunan atas masa lalu yang membeku dan membukakan masa depan yang tidak terbatas oleh kematian biologis saya. Di sinilah letak Mesianisme Etis.

Harapan mesianik bukan tentang datangnya seorang pahlawan politik di akhir zaman, namun keterbukaan eksistensial dalam setiap momen kini untuk menerima pembaruan etis yang dibawa oleh kehadiran Wajah.

Waktu menjadi berharga karena ia menjadi ruang kesempatan bagi saya untuk menjawab tanggung jawab etis yang tiada henti.

Untuk mempertegas ketajaman posisi filosofis ini, saya rasa kita perlu mendekomposisi secara sistematis dua raksasa filsafat moral modern yang acap kali disalahartikan memiliki kesamaan dengan posisi ini, yakni Immanuel Kant dan Søren Kierkegaard. Bagian ini adalah exordium untuk risalah saya berikutnya tentang kontribusi Metafisika terhadap sains, khususnya dalam paradigma kantian.

Di satu sisi, filsafat moral Kantian sering dipuji sebagai puncak dari etika kewajiban (deontologi). Kant merumuskan Imperatif Kategoris yang menuntut agar manusia diperlakukan sebagai tujuan pada dirinya sendiri.

Sekilas, ini terdengar mirip dengan penghormatan terhadap Liyan. Akan tetapi, bila kita bedah hingga ke saraf-saraf epistemiknya, etika Kantian menjadi bentuk imperium rasio yang dingin dan impersonal.

Bagi Kant, saya menghormati orang lain bukan karena keunikan, ketelanjangan, atau penderitaan konkret orang tersebut, tapi karena orang tersebut memiliki Hukum Moral Rasional yang sama dengan yang ada dalam diri saya.

Saya menghormati "rasionalitas universal" yang bersemayam dalam diri orang lain, tidak orang itu dalam ketunggalan eksistensialnya. Etika Kantian merupakan etika otonomi: rasio memberikan hukum bagi dirinya sendiri (auto-nomos).

Dalam sistem ini, Liyan direduksi menjadi instrumen netral bagi pengujian konsistensi logis dari kehendak baik saya sendiri. Bila saya menolong orang lain, saya melakukannya demi mematuhi hukum rasio universal yang ada di dalam kepala saya, bukan karena saya diinterupsi oleh ratapan konkret orang di hadapan saya.

Ini menjadi formalisme etis yang steril. Keunikan Liyan dilenyapkan di atas mezbah universalitas rasio. Sebaliknya, posisi yang dikokohkan di sini mengajarkan Heteronomi Etis yang radikal, bahwa hukum tidak berasal dari dalam rasio saya, ia bermula dari panggil di luar diri saya, dari Wajah menderita yang melarang saya untuk acuh tak acuh.

Tanggung jawab etis bukan kalkulasi logis tentang prinsip mana yang dapat diuniversalkan, namun luka eksistensial yang dipaksakan oleh kerentanan orang lain. Di sisi lain, Søren Kierkegaard menawarkan kritik terhadal rasionalisme melalui eksistensialisme religiusnya.

Dalam karya klasiknya Fear and Trembling, Kierkegaard menganalisis kisah pengorbanan Ishak oleh Abraham sebagai manifestasi dari teleological suspension of the ethical. Bagi Kierkegaard, etika merulalan ranah universal yang terbatas pada aturan-aturan hukum dan masyarakat sosial.

Untuk menjadi individu yang otentik di hadapan Allah (the Single Individual), Abraham harus melompati ranah etis universal itu menuju ranah iman yang religius, yang berada di luar dan di atas etika. Dalam lompatan iman itu, Abraham bersedia mengorbankan anaknya, melanggar hukum moral demi ketaatan mutlak pada perintah Allah yang rahasia dan individual.

Gugatan pada tesis Kierkegaardian ini berlangsung secara sangat keras dan tanpa kompromi. Menseparasikan yang religius dari yang etis, atau menempatkan iman di atas etika melalui suspensi teleologis, menjadi kesalahan filosofis yang amat berbahaya.

Disaat Kierkegaard mengizinkan iman untuk meremehkan atau membatalkan perintah etis demi hubungan privat antara ego dan Tuhan, ia sebenarnya sedang membuka pintu bagi kekerasan religius dan fanatisme absolut.

Tuhan yang memerintahkan pembunuhan atas nama keimanan rahasia adalah berhala ontologis yang mengerikan. Dalam perspektif yang digali di sini, Perintah Tuhan tidak pernah bisa dipisahkan dari Wajah Orang Lain. Suara Tuhan tidak pernah bergema dalam kesunyian solipsistik yang menyuruh seseorang mengorbankan manusia lain.

Suara Tuhan adalah suara yang keluar persis dari ketelanjangan Wajah yang berteriak, "Engkau tidak boleh membunuh!"

Tidak ada suspensi atas etika. Etika bukanlah ranah hukum masyarakat yang dangkal sehingga dapat dilompati demi pengalaman mistis, etika merupakan ruang utama dan tertinggi di mana yang ilahi menyapa manusia.

Transendensi Tuhan tidak ditemukan dalam perjumpaan rahasia individu dengan Sang Mutlak di atas puncak gunung ketiadaan, tapi dalam relasi horizontal dengan sesama yang terasing, janda, yatim piatu, dan orang asing.

Agama yang mengabaikan etika demi hubungan vertikal dengan Tuhan adalah sebuah bentuk kejahatan spiritual yang menyamar sebagai kesucian. Penegasan ini membentang hingga ke dalam ranah politik, hukum, dan tata kelola masyarakat. Kuriositas yang kerap dihembuskan oleh para pengkritik kontemporer adalah, apakah etika yang berpusat pada hubungan radikal antara Aku dan Yang Lain (Face-to-Face) ini tidak akan berujung pada anarkisme etis atau solipsisme moral privat yang tidak berdaya menghadapi struktur kekuasaan negara?

Bagaimana mungkin etika yang begitu halus dan radikal bisa memandu pengadilan, penyusunan undang-undang, atau distribusi keadilan sosial? Di sinilah kita harus menyingkap konsep tentang Pihak Ketiga (Le Tiers) dan transisi tak terelakkan dari Etika menuju Politik.

Dunia ini tidak hanya berisi saya dan satu orang lain. Bila dunia hanya terdiri dari Aku dan Kamu, maka tanggung jawab saya bersifat infinit dan tanpa batas. Saya bisa menyerahkan seluruh eksistensi saya demi memenuhi panggilan satu orang itu.

Akan tetapi, realitasnya, di samping Orang Lain yang sedang saya tatap Wajahnya, selalu ada Orang Lain yang Kedua, yang Ketiga, dan berjuta-juta orang lain yang tidak saya kenal. Pihak Ketiga ini menatap saya melalui Wajah orang yang ada di hadapan saya.

Kehadiran Pihak Ketiga ini memaksa lahirnya Keadilan (Justice). Keadilan memerlukan pembandingan, kalkulasi, penimbangan, dan pelembagaan hukum. Di hadapan banyak orang yang menderita, saya tidak lagi bisa sebatas memberikan seluruh roti saya kepada satu orang pertama yang saya temui tanpa memedulikan orang kedua yang juga sedang kelaparan di pojok jalan.

Saya dipaksa untuk bertanya, siapa yang menderita lebih berat? Bagaimana cara membagi sumber daya secara adil? Di sinilah rasio, bahasa konseptual, institusi politik, pengadilan, dan tata hukum bersua pada landasan pembenaran eksistensialnya.

Politik itu keharusan etis yang lahir dari tuntutan Pihak Ketiga. Namun, dalam risalah ini, saya ingin memberikan peringatan yang sangat tajam terhadap bahaya yang mengintai dalam setiap sistem politik dan hukum.

Begitu etika diterjemahkan ke dalam hukum, institusi, dan tata negara, ada risiko mematikan bahwa institusi itu membeku menjadi sebuah Totalitas baru. Negara, dengan birokrasinya yang impersonal dan ketatannya yang dingin, sangat mudah lupa akan asal-usul etisnya.

Hukum mulai memperlakukan manusia sebagai kriteria teknis, kategori pajak, angka statistik, atau elemen dari stabilitas nasional. Disaat bal ini terjadi, politik bertransformasi menjadi totalitarianisme dan keadilan berubah menjadi kekerasan legal.

Oleh sebab itu, relasi antara Etika dan Politik tidak boleh bersifat final atau harmonis. Etika mesti bertindak sebagai interupsi prophetik yang terus senantiasa mengganggu, mengritik, dan membongkar keangkuhan politik.

Politik tidak pernah boleh diberi kata terakhir, kata terakhir harus selalu dipegang oleh suara etis dari Wajah individu yang tertindas oleh mesin negara. Tugas filsafat etis bukanlah merancang utopia politik yang sempurna karena setiap utopia metupakan penjara totaliter yang baru.

Tugasnya adalah menjadi suara krisis yang tak pernah bungkam di hadapan setiap ketidakadilan buatan negara.

Dalam konteks inilah konsep Liturgi (liturgie) dieksplorasi sebagai modus tindakan etis-politik yang radikal. Diksi atau terminologi "liturgi" di sini ditanggalkan dari konotasi ritual keagamaan yang sempit. Liturgi dimaknaj dalam arti etimologis aslinya sebagai tindakan publik yang dilakukan tanpa mengharapkan imbalan (œuvre).

Banyak tindakan manusia dalam sistem kapitalisme dan politik modern adalah tindakan transaksional. Saya berinvestasi dengan harapan mendapatkan keuntungan, atau saya berbuat baik agar nama saya dipuji, bisa juga agar saya masuk surga, atau agar saya mendapatkan simpati politik. Ini adalah ekonomi egois.

Sebaliknya, Tindakan Liturgis Etis merupakan gerakan linier yang melepaskan hak atas imbalan. Ia menjadi aksi yang dilemparkan ke masa depan tanpa pernah menuntut investasi itu kembali ke kantong sang aktor.

Seorang pejuang keadilan etis bekerja demi sebuah masa depan yang mungkin tidak akan pernah ia saksikan sendiri hasilnya. Ia menanam pohon etis agar generasi mendatang yang tidak ia kenal dapat berteduh di bawah naungannya.

Inilah otentisitas etis dalam ranah publik, sebuah keberanian untuk bertindak keluar dari kungkungan kalkulasi untung-rugi egoistis, dan menyerahkan eksistensi demi kebaikan yang melampaui rentang hidup biologis sendiri.

Kini saya ingin mengundang anda agar dapat menerobos lebih dalam ke jurang spekulatif yang paling radikal, pembedahan kita kini harus mendekomstruksi imperium terakhir dari rasionalisme Barat, yaitu Linguistik Ontologis.

Kekeliruan filsafat Barat tidak berhenti pada penyekapan realitas di dalam kategori-kategori gagasan murni, ia meluas pada reduksi kebenaran menjadi proposisi tata bahasa. Di sini kita mesti memaparkan pertentangan absolut antara Pengutaraan (Le Dire / Saying) dan Yang Terkatakan (Le Dit / Said).

Seluruh sejarah epistemologi Barat adalah sejarah pembekuan Le Dire menjadi Le Dit. Le Dit adalah sistem kata-kata yang sudah dirapikan, bahasa sebagai tatanan proposisional, tata hukum, doktrin akademis, bahkan teks-teks filsafat yang mengklaim telah mengikat makna dalam definisi yang tak bergeming.

Dalam Le Dit, bahasa bermetamorfosis menjadi mesin totaliter. Kata-kata ditransformasikan menjadi sangkar konseptual di mana realitas diiris-iris, dikatalogkan, dan diberi label supaya dapat dimanipulasi oleh rasio penguasa.

Dikala Liyan terdefinisikan dalam Le Dit, baik sebagai "subjek hukum", "warga negara", "korban", atau sekadar "kategori sosiologis", alteritas radikalnya mendadak menguap. Liyan telah dijinakkan oleh tata bahasa.

Tetapi, di balik kebekuan Le Dit, selalu ada dentum an-arkis dari Le Dire, pengutaraan itu sendiri. Le Dire bukanlah pesan yang disampaikan oleh bahasa, ia adalah peristiwa keterbukaan yang mendahului seluruh isi bahasa.

Sebelum saya mengucapkan sebuah kalimat yang bernilai benar atau salah, tindakan saya menyapa yang lain, tindakan mengarahkan kebertubuhan saya ke hadapan Wajah, adalah Le Dire. Pengutaraan merupakan penyerahan diri secara telanjang tanpa tameng konseptual.

Ia rasa takut dan gentar yang mendahului retorika, dan ketelanjangan suara yang memanggil sebelum kata-kata dibekukan menjadi dogmatisme. Kebangkrutan filsafat analitis dan strukturalisme kontemporer terletak pada kepalsuan asumsi mereka bahwa bahasa hanya terdiri dari Le Dit.

Mereka mengira bahasa merupakan permainan simbolik yang mandiri (self-referential system) tempat makna berputar-putar tanpa pernah menyentuh realitas di luar teks. Ini adalah autisme linguistik. Mereka lupa bahwa setiap Le Dit yang membeku pernah terlahir dari pengorbanan Le Dire, dari kejujuran perjumpaan etis yang tak terbahasakan.

Otentisitas etis menuntut kita agar terus-menerus meretakkan Le Dit, merobek burokratisasi bahasa, demi membiarkan kejutan Le Dire kembali menginterupsi kepastian-kepastian doktrinal kita.

Setiap kali sebuah sistem politik atau filosofis menyatakan bahwa "semua masalah telah terjelaskan", di situlah Le Dire dari mereka yang tertindas berteriak menembus dinding-dinding sistem yang angkuh tersebut.

Dari keretakan linguistik ini, kita menuju salah satu teritori paling esoteris namun menentukan, yaitu fenomena Jejak (La Trace) dan temporalisitas an-arkis (le passé an-archique). Fenomenologi klasik yang dipelopori oleh Husserl dan disempurnakan oleh Heidegger senantiasa berasumsi bahwa kebenaran hadir dalam fenomena yang dapat diamati dan direpresentasikan oleh kesadaran (phenomenon of presence).

Bagi mereka, yang ada adalah apa yang menampakkan diri di dalam kesadaran kini (Präsenz). Namun, bagaimana kita bisa membicarakan yang ilahi, yang transenden, atau yang lain tanpa menjatuhkannya menjadi sekadar objek persepsi?

Di sinilah konsep Jejak beroperasi meremukkan fondasi fenomenologi presensi tersebut. Liyan tidak pernah hadir secara utuh di hadapan saya seakan-akan ia adalah barang pameran di museum kognitif saya. Kehadiran Liyan merupakan kehadiran dari sebuah ketidakhadiran (the presence of an absence).

Liyan melintas dalam dunia saya bagaikan jejak yang ditinggalkan oleh sesuatu yang telah berlalu sebelum kesadaran saya sempat mencatatnya. Jejak bukanlah tanda (sign). Tanda dalam semiotika berarti sesuatu yang menunjuk pada objek terwujud (seperti asap menunjuk pada api).

Sebaliknya, Jejak menunjuk pada suatu masa lalu yang tidak pernah menjadi masa kini bagi saya. Panggilan etis yang membebani eksistensi saya tidak terikat pada sebuah peristiwa sejarah di mana saya pernah menandatangani persetujuan atau kesepakatan rasional.

Tanggung jawab etis saya bersifat an-arkis, ia berasal dari sebelum waktu konseptual dimulai, dari sebuah masa lalu yang begitu dalam sehingga tidak ada memori kesadaran yang mampu menjangkaunya. Maka dari itu, ketakberhinggaan tidak pernah bisa ditangkap sebagai objek doktrin atau metafisika dogmatis.

Ketakberhinggaan hanya meninggalkan jejaknya di satu-satunya tempat di alam semesta, yakni pada ketelanjangan dan kerentanan Wajah Liyan. Mencari yang ilahi di luar perjumpaan etis dengan manusia yang menderita adalah usaha yang sia-sia dan tersesat dalam kebohongan mistik.

Tuhan tidak menampakkan diri sebagai kekuatan ontologis yang mahabesar yang memamerkan kemegahan-Nya. Tuhan "meninggalkan jejak-Nya" dikala Ia melangkah mundur untuk memberikan ruang bagi kebebasan etis manusia, dan jejak itu bergetar dalam ratapan mereka yang terpinggirkan.

Siapa pun yang mengaku menyembah Tuhan tetapi menginjak-injak Wajah sesamanya sedang menyembah proyeksi egonya sendiri yang menyamar sebagai dewa. Eksplanasi seperti ini menuntut pembongkaran tajam atas salah satu ilusi ontologis yang paling dipuja oleh tradisi konservatisme filsafat, ilusi tentang Heimat atau "Kekerasan Berakar" (the violence of rootedness).

Heidegger, dalam fase pemikirannya tentang Gelassenheit dan kebumian (Erdhaftigkeit), memuji betapa krusialnha manusia untuk "berakar" di dalam tanah kelahirannya, mendiami sebuah tempat, menyatu dengan bahasa ibu dan tradisi luhur leluhur.

Bagi Heidegger, alienasi dan homelessness merupakan penyakit eksistensial modernitas. Di sini kita harus memuntahkan racun filosofis itu dengan determinasi yang tanpa ampun. Berakar pada tanah, memuja klaim-klaim pribumisme ontologis, dan mengagungkan wilayah kepemilikan adalah benih primordial dari fasisme dan kekerasan rasial.

Disaat ego mendefinisikan dirinya berdasarkan tanah yang ia pijak dan dinding rumah yang ia bangun, ia secara otomatis menciptakan kategori "Orang Asing" (L'Étranger) sebagai ancaman yang harus diusir atau dihancurkan.

Heimat Heideggerian merupakan benteng egoisme kolektif yang menolak eksterioritas. Otentisitas etis tidak pernah ditemukan dalam keberakaran, tapi dalam Pengasingan Radikal dan kondisi sebagai Pengembara. Subjek yang etis merupakan subjek yang tidak pernah memiliki rumah yang aman dari serbuan panggilan kemanusiaan.

Subjektivitas yang otentik terbentuk ketika pintu la demeure (rumah tinggal) diruntuhkan dan interioritas ego dibiarkan terpapar oleh angin dingin yang membawa suara orang asing. Saya memproyeksikan bahwa Abraham, dalam tradisi pemikiran ini, menjadi figur utama yang melampaui Odysseus.

Odysseus melakukan perjalanan jauh hanya untuk kembali ke kampung halamannya di Ithaca, kembali ke titik asal egoisme dan kepemilikannya. Ini adalah gerakan lingkaran ontologis yang mandul.

Sebaliknya, Abraham pergi meninggalkan tanah airnya, menanggalkan semua kenyamanan keberakarannya, menuju ke sebuah negeri yang tidak pernah ia ketahui sebelumnya, tanpa pernah kembali.

Gerakan Abrahamik merupakan sebuah pengembaraan tanpa akhir menuju Liyan yang tidak pernah bisa dijadikan milik pribadi. Maka, otentisitas bukanlah tentang "menemukan jati diri" dalam buaian tradisi atau tanah air, namun tentang kesediaan eksistensial untuk menjadi orang asing di tanah sendiri, menjadi subjek yang senantiasa terus terusik oleh kehadiran orang-orang terbuang.

Kini, mari kita bawa pisau bedah filosofis ini untuk menguliti salah satu monster terbesar abad ke-21, Tekno-Kapitalisme dan Algoritma Totaliter. Bila di masa lalu kekerasan ontologis dilakukan melalui tank-tank militer dan kawat berduri kamp konsentrasi, hari ini kekerasan yang sama beroperasi dengan sangat halus melalui arsitektur Big Data dan Artificial Intelligence.

Bagian ini akan saya lanjutkan pada risalah berikutnya dengan analisis pikiran Kantian. Apa itu Kecerdasan Artifisial dalam kacamata dekonstruksi ini? AI menjadi puncak sublimasi dari Le Dit yang terpisah secara total dari Le Dire.

Ia merupakan mesin yang mengunyah triliunan data manusia (baik itu perilaku, hasrat, rasa takut, kebiasaan) lalu menguantifikasikannya ke dalam matriks probabilitas statistik. AI adalah manifestasi paling sempurna dari reduksi Liyan menjadi Yang-Sama.

Bagi algoritma, tidak ada keunikan, yang ada hanyalah pola behavioral. Tidak ada kepribadian radikal, yang ada hanyalah klaster data. Keunikan eksistensial manusia dimutasikam menjadi profil konsumen atau sasaran manipulasi politik.

Di era digital, Wajah manusia mengalami dehumanisasi lapis kedua. Ia dipadatkan menjadi vektor pengenalan wajah demi kepentingan pengawasan negara atau monetisasi korporasi.

Ketersanderaan etis tergeser oleh ketersanderaan algoritmik. Kita dibelenggu oleh kecanduan dopamin yang dirancang khusus oleh sistem untuk menjerat kesadaran kita dalam sangkar narsisisme digital. Ini adalah fasisme epistemik jenis baru,Tekno-Fascisme.

Dalam sistem ini, kemampuan manusia untuk mengalami kepekaan etis secara fisik perlahan-lahan dimatikan. Kontak antar-tubuh yang rentan, tempat di mana roti dibagikan dari tangan yang kenyang ke mulut yang lapar, digantikan oleh transaksi digital yang steril dan impersonal.

Kita bisa menyaksikan kejahatan kemanusiaan yang dahsyat di layar ponsel kita sembari mengunyah makanan cepat saji tanpa merasakan sebersit pun trauma eksistensial, karena media digital sudah menyaring ketelanjangan Le Dire menjadi tontonan visual yang menghibur dalam Le Dit.

Filsafat etis yang radikal mesti menjadi alat sabotase untuk kenyamanan tekno-kapitalis ini. Ia harus menyerukan kembalinya "Tubuh yang Terluka" ke dalam medan politik. Keadilan digital adalah ilusi bila ia tidak didasari oleh kesadaran bahwa di balik setiap baris data yang diproses oleh server-server raksasa, ada manusia konkret yang kehidupannya sedang dikikis oleh mesin penguasaan ontologis.

Lewat seluruh dekomposisi yang mendalam ini, kita bersua pada simpul pemikiran yang saling mengintegrasikan. Otentisitas bukanlah sebuah takhta yang bisa diduduki lalu dirayakan dengan rasa puas diri. Begitu seseorang merasa bahwa dirinya sudah menjadi "subjek etis yang otentik", di detik itu pula ia jatuh kembali ke dalam dosa kesombongan egologis.

Otentisitas etis adalah sebuah proses dekonstruksi diri yang tiada henti. Ia meupakan kewaspadaan eksistensial yang senantiasa menguji apakah tindakan baik kita benar-benar lahir dari ketundukan pada Liyan, ataukah sekadar bentuk terselubung dari pencarian kebanggaan egoistik.

Setiap sistem etika yang mencoba membakukan morality menjadi daftar aturan formal adalah perkeliruan yang fatal. Menjelang epilog gugatan kritis ini, mari kita arahkan pandangan kita pada lanskap zaman modern di mana narsisisme digital dan teknologi tekno-kapitalis telah mencapai puncaknya.

Kultur kita hari ini adalah klimaks kemenangan dari "Yang-Sama" atas "Yang-Lain". Lewat media sosial dan algoritma personalisasi, manusia modern hidup dalam echo chamber yang dirancang khusus untuk memantulkan kembali selera, ideologi, dan narsisisme mereka sendiri.

Kita tidak lagi bertemu dengan keasingan Liyan, kita hanya bersua dengan duplikat dari diri kita sendiri yang telah disaring oleh algoritma kapitalis. Wajah manusia telah direduksi menjadi cermin narsistik (layar selfie) atau objek konsumsi visual (piksel di atas layar kepingan kaca).

Kita menggeser wajah-wajah manusia di layar ponsel kita dengan ketabahan yang dingin, mereduksi penderitaan, keunikan, dan panggilan etis mereka menjadi konten media yang dinilai berdasarkan jumlah likes atau ketertarikan visual.

Ketiadaan kontak fisik dan penghilangan jarak metafisik dalam ruang sibernetik telah melumpuhkan kemampuan manusia untuk mengalami kepekaan etis.

Ketika Wajah direduksi menjadi citra digital, perintah "Engkau tidak boleh membunuh" kehilangan daya ledaknya, digantikan oleh apatisme massal dan kekerasan verbal yang merajalela di balik kerahasiaan anonimitas digital.

Peradaban kini sedang membusuk dari dalam justru karena ia berhasil secara spektakuler mengonsolidasikan otonomi ego sembari membunuh kapasitasnya untuk tersandera oleh penderitaan sesama.

Kita memuja kebebasan individu, hak-hak egosentris, dan kenyamanan personal, tetapi kita telah kehilangan syarat mutlak untuk menjadi otentik, yaitu keberanian untuk membiarkan kebebasan kita diinterupsi oleh kebertubuhan orang lain.

Risalah ini saya jadikan sebagai provokasi eksistensial yang membakar. Otentisitas adalah sebuah trauma etis, kenyataan bahwa kita tidak pernah bisa tidur dengan tenang selama masih ada orang lain yang kedinginan di luar pintu rumah kita.

Subjek yang otentik adalah subjek yang retak, subjek yang terkelupas kulit egosentrisnya, subjek yang tidak lagi bertanya "Siapa aku?", tapi dengan gemetar dan penuh keberanian menjawab panggilan sejarah di hadapan penderitaan Liyan, "Ini Aku, utuslah aku, aku bertanggung jawab atasmu."

Di luar jawaban etis ini, seluruh filsafat hanya menjadi retorika tanpa jiwa, sebuah tumpukan jargon akademis yang membusuk di perpustakaan, mandul dari daya pembebasan manusia.