The Lived Ontology of Being: Melampaui Kudeta Dopamin & Neuroendokrinologi Cinta

Penggiat Teori Kekuasaan, Post-Modernisme/Positivisme, Filsafat Hubungan Internasional
·waktu baca 30 menit
Tulisan dari Elkata Agustinus Batistuta Atua tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Napas hanya menghidupi kehidupan, tetapi cinta memberi alasan mengapa kehidupan layak dihidupi. Napas berumur sepanjang tubuh. Cinta berumur sepanjang makna. Tubuh dapat mati, tetapi makna selalu menemukan cara untuk tetap hidup.
Elkata A. B. Atua

PROLOGUE
Kali ini risalah yang saya ejawantahkan tidak eksis dari kevakuman ontologis. Ia tidak berangkat dari laboratorium yang steril dari turbulensi realitas, juga tidak hanya bertunas dari etalase perpustakaan yang sesak oleh sedimentasi teori. Ia lahir dari perjumpaan yang repetitif dengan satu fenomena yang bagi saya senantiada menghantui lanskap eksistensi manusia, CINTA.
Mungkin saja risalah ini tidak akan pernah saya lahirkan bila cinta hanya berhenti sebagai ornamentasi puitik. Karena puisi memiliki daya katarsis, namun tidak selalu memiliki kapasitas eksplanatoris. Ia mampu mengguncang afektivitas manusia hingga melahirkan air mata, tapi acap kali gagal menyingkap arsitektur ontologis yang memungkinkan air mata itu memperoleh justifikasi keberadaannya.
Saya justru mulai menulis disaat menyadari bahwa hampir seluruh konfigurasi peradaban manusia bertumpu pada satu kategori konseptual yang paling sering dilafalkan, sekaligus paling jarang dipertanggungjawabkan secara epistemologis, ontologis, dan aksiologis.
Kuriositas ini tidak mula-mula bertunas dari auditorium akademik, laboratorium saintifik, ataupun kanon-kanon filsafat yang telah memperoleh legitimasi sejarah. Paradoksnya, ia justru dipantik oleh sebuah karya fiksional yang berhasil menangkap antinomi paling purba dalam eksistensi saya dengan kejujuran yang bahkan melampaui banyak traktat ilmiah, Naruto.
Melanjutnya seri Konektivitas Kehidupan-Kematian ala Uchiha Itachi, saya coba lahirkan risalah ini. Bila anda mengikuti trajektori sinematik naruto, atau setidaknya menelaah risalah saya sebelumnya, dalam kosmologi shinobi, disana saya mengeksplanasikan bahwa Itachi Uchiha tidak pernah mengartikulasikan cinta sebagai retorika sentimental.
Ia diposisikan sebagai asketisme eksistensial yang menuntut kesediaan memikul seluruh beban kebencian dunia demi menjaga sesuatu yang secara moral melampaui dirinya sendiri. Ia memilih mengorbankan reputasi historisnya agar kebenaran tetap memiliki prospek futuritas. Aksi yang dia ambil membuat saya begitu tertegun.
Sehingga pada titik itulah saya berjumpa dengan sebuah paradoks filosofis yang meretakkan fondasi kognitif saya, bahwa barangkali bentuk cinta yang paling sublim bukanlah memperoleh cinta, melainkan bersedia menjadi objek kebencian agar subjek cintanya tetap memiliki probabilitas untuk hidup. Paradoks itu semakin mendapat bobot intelektual dikala kita melacak mitologi biologis Klan Uchiha.
Dalam kanon Naruto, klan Uchiha dikenali sebagai klan yang memiliki intensitas afeksi paling absolut. Dan justru karena kedalaman afeksi itulah mereka sekaligus memikul probabilitas tragedi yang paling radikal. Ketika seorang Uchiha kehilangan entitas yang menjadi pusat orientasi cintanya atau mengalami trauma emosional yang mencapai ambang singularitas, sistem biologis mereka mengalami mutasi fisiologis yang bersifat luar biasa.
Intensitas afeksi yang mencapai taraf ekstrem melahirkan suatu entitas energi yang disebut chakra khusus, yang lalu merekonfigurasi lintasan neurobiologis menuju organ visual. Rekonfigurasi itulah yang mengaktivasi Sharingan.
Dengan begitu, Sharingan tidak pernah memperoleh genesisnya dari kebencian semata, tapi dari cinta yang mengalami disrupsi ontologis. Kebencian tak lebih dari derivasi sekunder dari cinta yang kehilangan orientasi eksistensialnya. Luka hanyalah medium katalitik, sementara cinta tetap merupakan causa prima yang menopang seluruh struktur ontologis transformasi tersebut.
Yang jauh lebih memikat ialah realitas bahwa konstruksi fiksional yang sama punya korespondensi yang mengejutkan dengan horizon neurosains kontemporer, walaupun tentu tidak dalam bentuk eksistensi chakra ataupun evolusi biologis mata sebagaimana direpresentasikan dalam trajektori sinematik Naruto.
Sepanjang saya menelaah beberapa penelitian neurobiologi (dan eksplanasi yang saya terima dari pasangan saya) memperlihatkan bahwa pengalaman kehilangan terhadap sosok yang dicintai mengaktivasi jejaring limbik, terutama amigdala, hipokampus, serta korteks prefrontal, dan secara simultan memicu rekonfigurasi masif pada sistem neuroendokrin manusia.
Konsentrasi dopamin, kortisol, norepinefrin, oksitosin, dan berbagai neurotransmiter lainnya mengalami reorganisasi neurokimia yang sangat drastis. Bahkan, pengalaman afektif yang mencapai intensitas ekstrem bisa menghasilkan plastisitas neuronal, yaitu transformasi konkret terhadap cara otak mengonstruksi, menghapus, dan merekonstruksi konektivitas sinaptiknya.
Mungkin saja, dunia empirik tidak mengenal Sharingan. Namun dunia tak dapat menyangkal fakta bahwa cinta dan kehilangan memiliki kemampuan merekonstruksi lanskap neurologis manusia, cara manusia mengonstruksi realitas, bahkan cara subjek membentuk identitas ontologisnya sendiri.
Di situlah kuriositas fundamental itu mulai memperoleh bentuknya:l, mungkinkah kisah Uchiha misalnya, sesungguhnya merupakan alegori neurobiologis yang luar biasa? Bahwa cinta yang mencapai intensitas ontologis tertentu selalu melahirkan transformasi terhadap cara manusia memandang realitas.
Dalam Naruto, transformasi itu dimaterialisasikan lewat mata. Dalam kehidupan empiris, metamorfosis itu berlangsung melalui jejaring neuronal, dinamika hormonal, sedimentasi memori, serta konstruksi intersubjektif atas makna. Kendati berbeda medium, keduanya sedang mengafirmasi proposisi metafisis yang identik.
Bahwa cinta tidak pernah berhenti sebagai sekadar keadaan emosional, namun beroperasi sebagai daya transformatif yang mereorganisasi keseluruhan struktur persepsi manusia terhadap dunia. Dari horizon reflektif itulah risalah ini memperoleh legitimasi filosofisnya. Saya sama sekali tidak sementara melakukan reduksionisme biologis dengan menyatakan bahwa cinta hanyalah produk dopamin, oksitosin, ataupun konfigurasi aktivitas neuronal.
Sebaliknya, saya juga tidak bermaksud mengangkat cinta ke dalam wilayah mistisisme yang steril dari kritik rasional. Saya justru hendak berdiri di wilayah liminal di antara keduanya. Karena saya yakin bahwa laboratorium sanggup menjelaskan mekanisme kausal mengenai bagaimana cinta bekerja, tetapi hanya filsafat yang sanggup mempertanggungjawabkan mengapa cinta tetap layak diperjuangkan di tengah absurditas eksistensi manusia.
Mungkin saja itulah indikator mengapa manusia senantiasa mencintai walaupun lintasan historisnya tidak pernah berhenti memproduksi kehilangan. Karena pada akhirnya, cinta tidak sekadar menghadirkan sensasi hidup, ia merekonstruksi keseluruhan horizon eksistensial tentang apa yang disebut kehidupan.
Dan dikala horizon itu mengalami transformasi, maka konfigurasi ontologis manusia pun ikut mengalami metamorfosis bersamanya. Saya berkontemplasi, barangkali sharingan hanyalah sebuah konstruksi fiksional. Namun manusia sungguh memiliki sepasang mata yang terus mengalami rekonfigurasi fenomenologis setiap kali hatinya belajar mencintai, kehilangan, memaafkan, dan mengorbankan dirinya demi sesuatu yang melampaui dirinya sendiri. Risalah ini ditelaah untuk menginvestigasi transformasi ontologis tersebut.
Disisi lain, selama elama bertahun-tahun saya mengobsevasi bagaimana manusia yang terlihat rasional bisa kehilangan orientasi hanya karena satu nama. Saya mendapati individu-individu yang begitu tangguh menghadapi brutalitas kehidupan justru ambruk oleh sesuatu yang tak memiliki bentuk material.
Saya mengalami persahabatan bermetamorfosis menjadi permusuhan, keyakinan bertransformasi menjadi keraguan, bahkan proyek-proyek besar kehidupan tertunda hanya karena dinamika yang disebut cinta. Di lingkungan akademik, saya menemukan orang-orang yang mampu mengurai teori politik, ekonomi, dan hukum secara presisi analitis, namun gagap ketika diminta menjelaskan mengapa mereka mencintai seseorang.
Di ruang-ruang digital, saya menyaksikan generasi yang semakin terhubung secara teknologi justru semakin teralienasi secara eksistensial. Banyak yang bercakap tentang cinta, tetapi sedikit yang sungguh-sungguh berupaya menyingkap hakikatnya.
Pengalaman memandang beragam relasi manusia membuat saya gelisah secara intelektual, mengapa sesuatu yang begitu menentukan arah kehidupan manusia justru kerap dipahami secara dangkal? Kenapa cinta hanya direduksi menjadi perkara perasaan, padahal implikasinya mampu mengonstruksi keputusan-keputusan paling fundamental dalam kehidupan seseorang?
Dari kegalauan epistemik itulah lahir hasrat intelektual untuk melacak jejak cinta bukan sebagai romantisme belaka, melainkan sebagai fenomena yang berdiri di persimpangan dialektik atas tiga esensi utama, yakni psikologi, biologi, dan filsafat.
Saya ingin memahami bagaimana hormon dapat memengaruhi kesetiaan, bagaimana pengalaman afektif mengonstruksi identitas manusia, dan mengapa makhluk biologis yang tersusun atas sel, gen, dan neuron tetap mencari sesuatu yang jauh melampaui imperatif bertahan hidup, kebutuhan untuk dicintai dan mencintai.
Oleh sebab itu, tulisan ini bukanlah ikhtiar menghadirkan jawaban final mengenai cinta. Sebaliknya, ia menjadi sebuah pengembaraan intelektual untuk mengajukan berbagai kuriositas yang lebih elementer. Karena semakin lama saya mengamati manusia, semakin saya sadar bahwa cinta mungkin bukan hanya fragmen dari kehidupan manusia.
Bisa jadi, cinta merupakan salah satu modus paling mendalam bagi manusia untuk menafsirkan dirinya sendiri. Bila pada akhirnya risalah ini mampu mengajak pembaca memandang cinta tidak hanya sebagai emosi, tapi sebagai peristiwa eksistensial yang membentuk keseluruhan orientasi hidup manusia, maka kegelisahan yang melahirkan tulisan ini tidaklah sia-sia.
Barangkali tak ada fenomena yang lebih kerap diselebrasikan sekaligus lebih jarang dipahami secara radikal selain cinta. Banyak menulis puisi tentangnya, mendirikan peradaban atas namanya, memantik peperangan karena kehilangannya, bahkan mendestruksi dirinya sendiri demi mempertahankan kontinuitasnya.
Tapi justru karena cinta terlalu intim dengan pengalaman manusia, ia acap kali lolos dari penyelidikan yang sungguh-sungguh reflektif. Cinta lalu korban dari apa yang saya labeli sebagai sentimentalisme epistemologis, yakni keadaan dikala sesuatu dianggap telah dipahami hanya karena ia telah dialami, dirasakan, atau menggetarkan emosi. Modernitas memperdalam kekeliruan tersebut.
Zaman algoritmik memetamorfosiskan cinta menjadi statistik kompatibilitas yang dapat dikalkulasi oleh mesin. Kapitalisme afektif memutasikan relasi menjadi pasar pertukaran validasi yang dikomodifikasi. Media sosial memproduksi simulakrum keintiman yang bekerja seperti narkotika digital, dengan menghadirkan sensasi kedekatan sambil secara simultan menghapus substansi kedalaman.
Manusia lalu hidup dalam paradoks yang nyaris tragikomik. Mereka terkoneksi dengan ribuan individu, namun gagal mengonstruksi kedalaman dengan satu manusia. Mereka punya akses yang nyaris tak terbatas terhadap tubuh manusia lain, tetapi kehilangan kapasitas untuk memahami jiwa yang bersemayam di balik tubuh tersebut.
Pada titik inilah, saya merasa bahwa cinta perlu direbut kembali dari cengkeraman reduksionisme. Karena cinta terlampau kompleks untuk dibelenggu hanya dalam kosakata psikologi, terlampau enigmatik untuk direduksi menjadi impuls neuroelektrik, dan terlampau luhur untuk dijelaskan sekadar sebagai mekanisme reproduksi biologis.
Cinta merupakan teritori dimana neuron bernegosiasi dengan makna, hormon berdialektik dengan moralitas, dan tubuh melakukan perjumpaan dengan metafisika. Kuriositas fundamentalnya tidak lagi mengapa manusia jatuh cinta. Melainkan yang jauh lebih radikal ialah mengapa evolusi biologis menghasilkan makhluk yang tidak pernah puas hanya dengan bertahan hidup, melainkan juga mendambakan untuk dicintai.
Mengapa entitas yang dikomposisikan dari karbon, air, protein, dan arus listrik saraf tiba-tiba mengalami krisis makna ketika seseorang meninggalkannya? Mengapa konfigurasi molekuler dapat mengalami tragedi yang disebut patah hati?.
Semua hal ini membuka khazanah bahwa cinta tidak pernah sekadar urusan afeksi. Ia merupakan persimpangan ontologis dimana psikologi, biologi, dan filsafat saling bertubrukan sekaligus saling menerangi.
Psikologi memandang cinta sebagai dinamika keterikatan. Neurosains membacanya sebagai orkestrasi neurokimia. Filsafat mempertanyakan signifikansi ontologis yang bersenyawa di dalamnya. Ketiganya bercakap tentang objek yang sama, namun memakai gramatika konseptual yang berbeda.
Problematikannya hadir disaat salah satu bahasa mengklaim dirinya sebagai eksplanasi final. Ketika biologisme menganggap cinta tidak lebih dari permainan dopamin, manusia direduksi menjadi laboratorium berjalan yang mengangkut reaksi kimia. Pada saat romantisisme memandang cinta sebagai takdir metafisik yang sepenuhnya melampaui rasionalitas, manusia tersungkur ke dalam kabut mistifikasi emosional.
Dan dikala psikologi populer mentransformasikan cinta menjadi kompilasi resep hubungan yang siap pakai, kedalaman eksistensialnya menguap menjadi manual teknokratis yang miskin refleksi. Oleh karena itu, memaknai cinta menuntut keberanian intelektual untuk beroperasi melampaui pagar disipliner.
Kita mesti memasuki laboratorium tanpa kehilangan filsafat. Kita harus meneropong hormon tanpa melupakan etika. Kita harus memaknai neuron tanpa mengorbankan kebebasan manusia sebagai subjek yang berpikir dan memilih. Dari lapisan itulah risalah ini memulai ziarah panjangnya.
Dari keyakinan bahwa cinta bukan semata fenomena biologis, bukan sekadar simptom psikologis, dan bukan hanya abstraksi filsafat. Cinta merupakan peristiwa eksistensial tempat ketiganya saling berkutat sekaligus saling menggugat legitimasi penjelasannya masing-masing.
Maka risalah ini akan menelusuri tiga medan besar. Pertama, psikologi cinta melalui teori segitiga Robert Sternberg yang mengeksplanasikan bagaimana keintiman, gairah, dan komitmen membangun arsitektur relasional manusia. Kedua, neuroendokrinologi cinta yang mengungkap bagaimana dopamin, oksitosin, dan mekanisme saraf mengonstruksi pengalaman yang oleh manusia disebut jatuh cinta. Ketiga, filsafat cinta yang berkontemplasi apakah cinta hanyalah produk evolusi biologis atau justru merupakan kemampuan manusia untuk mentransendensi determinasi yang membentuk dirinya.
Karena pada akhirnya, cinta merupakan gelanggang tempat manusia menguji kapasitas kebebasannya. Tubuh mungkin diprogram oleh gen. Otak mungkin dipengaruhi oleh hormon. Tapi manusia tetap memiliki kemampuan untuk mengucapkan kalimat sederhana, aku memilih mencintaimu.
Kalimat itu menjadi bentuk paling subtil dari pemberontakan eksistensial terhadap determinisme biologis. Dan mungkin justru di sanalah keajaiban cinta mengendapkan dirinya. Saat molekul gagal menjelaskan makna, ketika hormon tidak cukup menerangkan kesetiaan, dan ketika seluruh perangkat biologis manusia mencapai ambang keterbatasannya, lalu sesuatu yang lebih besar mulai menampakkan diri.
Hal yang tidak dapat takar oleh laboratorium, tidak dapat direduksi oleh statistik, dan tidak dapat diselesaikan oleh kalkulasi neurokimia, tetapi sanggup mengubah keseluruhan orientasi kehidupan manusia.
Kita menyebut sesuatu itu, CINTA.
SEGMEN I - PSYCHOLOGY
Bila nantinya biologi mempertanyakan bagaimana cinta beroperasi di dalam tubuh, maka lapisan awal psikologi bertanya mengapa manusia senantiasa memburunya sekalipun dengan potensi mengalami luka yang ditinggalkannya. Kuriositas ini terlihat simplistik, namun seyogyanya menyentuh episentrum paradoks antropologis manusia.
Karena tidak ada makhluk lain yang punya kapasitas sedemikian besar untuk mengalami penderitaan emosional sekaligus mempertahankan dorongan untuk kembali mencintai. Seekor rusa yang terluka oleh perangkap akan menghindari perangkap berikutnya.
Seekor burung yang gagal membangun sarang akan mencari lokasi yang lebih aman. Tapi manusia merupakan makhluk yang secara paradoksal senantiasa merepetisi investasinya dalam ranah afeksi sekalipun arsip memoratif biografisnya sarat akan fragmen kegagalan.
Ia patah hati, lalu jatuh cinta kembali. Ia dikhianati, lalu mempercayai lagi. Ia kehilangan, lalu memproduksi horizon harapan yang baru. Saya melihat sebuah objek telaahnya yang paling memikat, bukan cinta sebagai emosi semata, namun cinta sebagai struktur psikis yang membuka khazanah probabilitas manusia agar terus memproduksi makna di tengah posibilitas kolaps emosional.
Selama berabad-abad cinta diposisikan sebagai teritori para penyair, agamawan, dan filsuf. Psikologi kontemporer lalu kemudian melakukan semacam kolonisasi epistemologis terhadap kawasan itu.
Cinta digeser dari altar metafisika menuju laboratorium perilaku. Perasaan yang dulu dianggap sebagai wahyu kini ditakar lewat instrumen statistik. Keintiman yang biasanya dipuja sebagai misteri kini dipetakan sebagai pola keterikatan.
Tapi bahkan setelah ribuan penelitian dilakukan, cinta tetap mengokohkan karakter insubordinatifnya. Ia tidak pernah seutuhnya bersimpuh kepada metodologi. Ia selalu meninggalkan residu misteri yang tidak mampu dieliminasi oleh grafik maupun angka.
Salah satu ikhtiar paling berpengaruh untuk memahami cinta secara sistematis, datang dari apa yang dikenal sebagai Triangular Theory of Love, sebuah teori yang sampai hari ini tetap menjadi salah satu fondasi psikologi cinta modern.
Robert Sternberg mengajukan sebuah proposisi yang pada pandangan pertama terlihat simplistik, dimana cinta dikomposisikan atas tiga elemen utama, yaitu intimacy, passion, dan commitment. Tapi kesederhanaan konseptual itu menyedimentasi kedalaman yang luar biasa. Karena ketiga elemen itu sesungguhnya adalah koordinat psikologis yang membentuk konfigurasi spektrum pengalaman cinta manusia.
Keintiman adalah kedekatan emosional. Gairah menjadi energi ketertarikan. Komitmen merupakan keputusan untuk bertahan. Ketiganya membentuk semacam kartografi afeksi yang mendikte kualitas relasi manusia. Problematikannya, sebagian besar manusia menjalani relasi tanpa pernah memahami kartografi tersebut. Mereka memandang cinta sebagai perasaan spontan yang cukup dipelihara oleh keberuntungan.
Akibatnya, mereka memasuki relasi layaknya pelaut yang berlayar tanpa kompas epistemologis. Mereka berharap tiba di pelabuhan kebahagiaan sambil menolak mempelajari peta eksistensial yang menopangnya.
Di stulah tragedi modern mulai mendapat gelanggang historisnya. Peradaban digital lalu melahirkan generasi yang semakin fasih mengekspresikan emosi tetapi semakin miskin memahami struktur afektifnya sendiri. Orang bisa mengunggah ratusan foto romantis setiap tahun, namun tidak mampu mengeksplanasikan apa yang membuat hubungannya bertahan.
Mereka mengetahui cara memproduksi citra cinta, namun gagal memahami mekanisme cinta. Fenomena ini saya labeli sebagai afeksionisme kosmetik, suatu keadaan dikala performativitas emosional dianggap lebih krusial ketimbang kedalaman emosional itu sendiri.
Hubungan berubah menjadi spektakel. Perasaan bermetamorfosis menjadi komoditas simbolik. Keintiman lalu menjadi kapital afektif. Dan cinta perlahan mengalami erosi substansi ontologisnya. Dalam kerangka semacam itu, konsep intimacy menjadi begitu krusial untuk dipahami. Keintiman tidak sebatas kedekatan fisik. Ia bahkan tidak identik dengan intensitas komunikasi.
Banyak orang bercakap setiap hari namun tidak pernah sungguh-sungguh saling mengenal. Banyak pasangan tidur di ranjang yang sama tetapi hidup dalam kesendirian yang berbeda. Bagi saya, keintiman merupakan kemampuan membuka ruang terdalam diri kepada orang lain tanpa mengalami disintegrasi identitas diri.
Ia menjadi keberanian eksistensial untuk menjadi rentan. Di sinilah terletak problematika yang kerap dihindari manusia modern. Mereka ingin dicintai tetapi takut terlihat sebagaimana adanya, ingin diterima namun sibuk memproduksi topeng, banyak menginginkan keintiman sambil mempertahankan benteng psikologis yang justru membuat keintiman mustahil teraktualisasi.
Lalu hubungan bermutasi menjadi negosiasi antara dua representasi, bukan perjumpaan antara dua manusia. Seseorang jatuh cinta kepada persona, bukan kepada personalitas. Sehingga dikala topeng runtuh, hubungan ikut runtuh. Bukan karena cinta menghilang, tapi karena cinta itu sejak awal tidak pernah sungguh-sungguh hadir.
Psikologi memantulkan bahwa keintiman bertumbuh melalui proses keterbukaan, kepercayaan, dan validasi emosional yang berlangsung secara gradual. Keintiman bukan peristiwa. Ia adalah proses, konstruksi dan sedimentasi. Karena itu keintiman tidak dapat dibeli oleh kemewahan, tidak dapat diakselerasi oleh teknologi, dan tidak dapat dipalsukan oleh pencitraan.
Ia hanya lahir dari keberanian untuk memperlihatkan diri secara utuh. Namun manusia acap kali lebih mencintai citranya daripada dirinya sendiri. Maka ia senantiasa menyunting eksistensinya agar tampak layak dicintai. Ironisnya, semakin sempurna topeng yang dikonstruksikan, semakin sulit seseorang mengalami keintiman yang autentik.
Karena tidak ada seorang pun yang dapat mencintai sesuatu yang tidak pernah ia lihat. Bila keintiman menjadi fondasi emosional cinta, maka passion merupakan energi yang menggerakkan cinta. Passion itu api. Ia adalah dimensi eros yang membuat manusia saling tertarik. Medan magnetisme biologis sekaligus psikologis yang memproduksi sensasi intensitas.
Dalam pengalaman sehari-hari, passion kerap disalahpahami sebagai cinta itu sendiri. Padahal passion hanyalah salah satu komponennya. Kecacatan ini begitu lazim sampai banyak hubungan runtuh karena menganggap gairah sebagai keseluruhan arsitektur cinta. Ketika gairah menurun, orang mengira cinta telah mati.
Padahal yang mati sering kali hanyalah ilusi bahwa cinta harus selalu terasa seperti ledakan. Peradaban hiburan turut mengukuhkan kesalahpahaman tersebut. Film, novel, dan media sosial memproduksi mitologi bahwa cinta sejati harus selalu penuh intensitas. Setiap hari harus terasa luar biasa. Setiap percakapan harus menggetarkan. Setiap pertemuan harus menghadirkan sensasi.
Akibatnya manusia bermutasi menjadi konsumen kebaruan emosional. Mereka mengejar sensasi sebagaimana pasar mengejar produk baru. Hubungan tidak lagi ditakar berdasarkan kedalaman, melainkan berdasarkan kemampuannya menghasilkan stimulasi.
Ketika kebosanan muncul, hubungan dianggap gagal. Padahal kebosanan acap kali bukan penanda berakhirnya cinta. Kebosanan malah dapat menjadi ujian apakah cinta memiliki akar yang lebih dalam daripada sekadar stimulasi emosional. Passion memang penting. Tanpanya hubungan kehilangan vitalitas. Namun bila hubungan hanya dibangun di atas passion, maka akan mengalami apa yang disebut sebagai inflasi afeksi.
Semakin tinggi intensitas yang dicapai, semakin besar kebutuhan untuk memproduksi intensitas berikutnya. Lama-kelamaan hubungan bertransformasi menjadi perlombaan melawan kejenuhan. Dan tidak ada perlombaan semacam itu yang dapat dimenangkan dalam jangka panjang. Karena otak manusia memiliki kapasitas adaptasi yang luar biasa.
Apa yang dahulu terasa menggetarkan, suatu hari akan terasa biasa. Apa yang dahulu terlihat istimewa, perlahan menjadi bagian dari rutinitas. Pada titik inilah komponen ketiga menjadi determinan utama. Komitmen. Sebuah diksi yang dalam kebudayaan kontemporer sering dianggap membosankan. Padahal justru di sanalah kedewasaan cinta menjalani ujian ontologisnya.
Komitmen merupakan keputusan untuk mengukuhkan relasi bahkan disaat gairah tidak selalu berada pada titik kulminasinya. Komitmen menjadi bentuk rasionalitas di dalam teritori emosi. Ia adalah kemampuan mengatakan, “aku memilih tetap tinggal,” disaat seluruh sensasi spontan tidak lagi memberikan kepastian.
Komitmen kerap disalahpahami sebagai penjara kebebasan. Padahal sebenarnya komitmen menjadi manifestasi tertinggi kebebasan. Sebab hanya makhluk bebas yang mampu membuat janji. Hanya makhluk bebas yang mampu memilih kesetiaan. Dan hanya makhluk bebas yang mampu mempertahankan pilihan itu di tengah posibilitas untuk meninggalkannya.
Di sinilah psikologi cinta berpapasan dengan filsafat eksistensial. Pada saar seseorang berkomitmen, ia tidak sementara menggadaikan kebebasannya. Ia sedang mengaktualisasikan kebebasannya dalam bentuk yang paling serius.
Ia sedang berkata pada dunia bahwa tidak semua posibilitas harus diwujudkan. Tidak semua alternatif harus dicoba. Tidak semua godaan harus diikuti. Komitmen merupakan kemampuan manusia memberi limitasi pada dirinya untuk melahirkan makna yang lebih besar.
Tapi tentunya berdasarkan observasi saya, zaman sekarang terlihat alergi terhadap gagasan semacam itu. Budaya konsumerisme mengajarkan bahwa semakin banyak opsi, semakin tinggi kualitas hidup. Logika pasar lalu merembes ke dalam relasi. Pasangan diperlakukan seperti komoditas. Hubungan dipandang seperti kontrak temporer. Kesetiaan dianggap tidak efisien. Komitmen dianggap risiko. Dan cinta bermetamorfosis menjadi investasi afektif yang senantiasa dievaluasi berdasarkan keuntungan emosional jangka pendek.
Akibatnya lahirlah generasi yang sangat terkoneksi namun begitu rapuh. Mereka punya banyak opsi tetapi sedikit kedalaman. Kalau saya sampaikan, "banyak kontak tetapi sedikit keterikatan, banyak percakapan tetapi sedikit keintiman". Sternberg memperlihatkan bahwa kompilasi ketiga esensi ini menghasilkan berbagai bentuk cinta.
Tapi teori itu secara tidak langsung juga memantulkan sesuatu yang jauh lebih elementer. Bahwa cinta bukanlah keadaan statis. Cinta merupakan proses konstruksi psikologis yang terus bergerak. Ia harus dipelihara. Ia harus dipahami, dan dikerjakan.
Dan justru di situlah banyak orang gagal. Mereka mengira cinta adalah hadiah. Padahal cinta adalah kerja eksistensial. Mereka mengira cinta adalah perasaan. Padahal cinta juga merupakan kompetensi afektif. Mereka mengira cinta hadir dengan sendirinya. Padahal cinta sering kali bertahan karena diperjuangkan.
Sehingga psikologi cinta pada akhirnya mengajarkan satu pelajaran fundamental, bahwa manusia tidak kehilangan cinta karena kurang merasakan. Manusia sering kehilangan cinta karena gagal memaknai struktur yang menopangnya.
Dan dikala keintiman, gairah, serta komitmen tidak lagi dipahami sebagai tiga pilar yang saling menopang, cinta berubah menjadi bangunan afektif yang megah pada permukaan tetapi rapuh pada fondasinya. Pada titik itulah banyak hubungan runtuh bukan karena defisit perasaan, melainkan karena surplus ilusi.
SEGMEN II - BIOLOGY
Barangkali tidak ada profanasi yang lebih menyakitkan bagi romantisisme selain penemuan bahwa sebagian besar pengalaman yang dikenal sebagai "jatuh cinta" nyatanya bisa dilacak dengan orkestrasi kimiawi di dalam arsitektur neural otak.
Selama berabad-abad manusia melantunkan cinta sebagai mukjizat metafisis, sebagai takdir transendental, atau perjumpaan dua jiwa yang telah diinskripsikan semesta dalam manuskrip kosmiknya. Lalu laboratorium hadir membawa mikroskop, pemindai saraf, dan kalkulus hormonal, sehingga berkata dengan nada nyaris sarkastik, "Yang kalian sebut takdir itu mungkin tidak lebih dari sekadar dopamin."
Penggalan kalimat itu terdengar brutal. Tapi sains memang kerap beroperasi sebagai mesin dekonstruksi terhadap ilusi kolektif. Ia menginfiltrasi teritori yang selama ini dianggap sakral lalu mendekomposisi lapisan terselubung yang menopangnya.
Ia membuka kap kendaraan yang dipuja sebagai simbol akselerasi dan menunjukkan bahwa di balik kemegahannya hanya terdapat konfigurasi mekanistik yang tunduk pada determinasi hukum fisika. Namun cinta bukan kendaraan. Dan manusia bukanlah automaton biologis.
Di dimensi inilah turbulensi intelektual mulai memperoleh panggungnya. Neurosains mampu mengelaborasi mekanisme cinta, namun belum tentu mampu mengartikulasikan maknanya. Ia dapat memperlihatkan apa yang terjadi ketika seseorang jatuh cinta, tapi tidak selalu mampu mengeksplanasikan mengapa pengalaman tersebut terasa demikian fundamental bagi eksistensi manusia.
Oleh sebab itu, risalah saya tentang neuroendokrinologi cinta tidak boleh dipandang sebagai proyek anulasi terhadap cinta, ia adalah ikhtiar epistemologis untuk memahami bagaimana alam biologis menyediakan infrastruktur ontologis bagi pengalaman yang kemudian diterjemahkan manusia menjadi puisi, pengorbanan, kesetiaan, dan tragedi. Kuriositas fundamennya simplistik.
Apa yang sesungguhnya terjadi ketika seseorang jatuh cinta? Atau kenapa seseorang secara tiba-tiba memusatkan seluruh atensinya kepada satu individu secara obsesif? Mengapa kehadiran seseorang mampu menghasilkan euforia yang tidak proporsional terhadap realitas objektif? Dan kehilangan seseorang dapat terasa sebagai kolapsnya dunia eksistensial?
Respons mula-mula dari ilmu saraf akan memperlihatkan bahwa cinta tidak eksis secara simultan. Ia berkembang melalui tahapan biologis yang berbeda-beda. Helen Fisher, salah satu peneliti paling berpengaruh dalam medan kajian ini, berargumen bahwa cinta secara umum bergerak melalui tiga register utama, yakni lust, attraction, dan attachment.
Tiga fase tersebut bukan sekadar sekuens psikologis. Ia adalah tahapan neurokimia yang melibatkan rezim biologis yang berbeda. Artinya, apa yang dilabeli manusia sebagai cinta seyogiyanya adalah simfoni neurobiologis yang dimainkan oleh hormon, neurotransmiter, dan jejaring saraf.
Fase pertama adalah Lust (Nafsu). Sebuah terminologi yang kerap mendapat delegitimasi moral dalam kebudayaan yang cenderung puritanistik. Padahal secara biologis, lust adalah fondasi reproduktif spesies. Tanpa nafsu, evolusi akan kehilangan salah satu instrumen strategisnya yang paling vital. Tanpa hasrat seksual, sangat mungkin manusia tidak akan bertahan sebagai spesies.
Lust digerakan terutama oleh hormon seks seperti testosteron dan estrogen. Pada segmen ini, otak belum terlalu memperdulikan karakter, visi kehidupan, kedalaman intelektual, ataupun kualitas etis seseorang. Biologi punya prioritas yang jauh lebih elementer. Reproduksi. Kontinuitas genetik. Transfer informasi biologis kepada generasi berikutnya.
Di titik ini manusia kerap kali terlalu percaya diri terhadap superioritas rasionalitasnya. Ia merasa bahwa seluruh keputusannya lahir dari kalkulasi yang matang. Padahal jauh di bawah permukaan kesadaran itu terdapat jutaan tahun sedimentasi evolusioner yang masih beroperasi secara subtil.
Manusia di era kontemporer mungkin mengenakan jas, berdialektika tentang filsafat politik, dan bercakap mengenai demokrasi deliberatif. Tapi serpihan dari dirinya tetap merupakan organisme primordial yang membawa arsip biologis leluhurnya. Di sinilah ironi agung peradaban mendapat bentuknya.
Kita mendirikan universitas, menulis konstitusi, serta mengembangkan kecerdasan artifisial, namun senantiasa dapat kehilangan kejernihan bernalar hanya karena sebuah senyuman. Seakan seluruh pencapaian intelektual umat manusia dapat mengalami penangguhan sementara oleh operasi biologis yang sangat elementer.
Akan tetapi fase lust hanyalah gerbang awal. Setelah itu muncul register yang jauh lebih subversif. Attraction (Ketertarikan). Bila lust adalah undangan biologis, maka attraction menjadi kudeta neurokimia terhadap rasionalitas. Pada segmen inilah dopamin memainkan perannya yang paling spektakuler.bDopamin acap kali dilabeli sebagai neurotransmiter euforia.
Penyebutan itu tidak sepenuhnya keliru, tetapi juga tidak sepenuhnya akurat. Dopamin bukanlah sekadar molekul kebahagiaan. Ia lebih presisi bila dipahami sebagai molekul antisipasi. Ia menghadirkan dorongan untuk memperoleh sesuatu. Ia membuat manusia mengejar, berharap dan percaya bahwa kebahagiaan berada sedikit lebih jauh di depan cakrawala.
Oleh sebab itu dopamin tidak beroperasi terutama dikala seseorang mendapatkan apa yang diinginkannya. Ia bekerja jauh lebih kuat ketika seseorang masih berada dalam proses pengejaran. Inilah sebabnya jatuh cinta sering terasa lebih memabukkan daripada memiliki.
Otak menikmati proses pencarian. Ia menikmati ketidakpastian dan probabilitas. Seseorang yang sedang jatuh cinta tidak sekadar memikirkan individu yang dicintainya. Ia memproyeksi keseluruhan kosmos mental di sekeliling figur tersebut. Setiap pesan menjadi peristiwa eksistensial. Setiap tatapan menjadi simbol. Setiap perjumpaan menjadi euforia.
Dunia yang sebelumnya terlihat biasa secara tiba-tiba memperoleh spektrum warna yang baru. Tapi warna itu bukan berasal dari dunia. Ia berasal dari otak. Dopamin bekerja layaknya editor realitas. Ia memperbesar aspek-aspek tertentu dan mengaburkan aspek-aspek lainnya.
Akibatnya individu yang sedang jatuh cinta kerap mengalami apa yang saya labeli sebagai distorsi afektif. Mereka mengagungkan kualitas positif secara berlebihan. Bahkan menangguhkan atensi pada kelemahan yang sesungguhnya cukup nyata. Tak jarang juha menafsirkan sinyal ambigu sebagai indikasi afeksi. Dan mengonstruksikan optimisme yang kerap tidak proporsional terhadap fakta.
Situasi ini mengeksplanasikan mengapa banyak orang lalu berkata, "Aku tidak tahu mengapa dulu aku bisa begitu tergila-gila." Jawabannya simplistik. Karena pada saat itu otak mereka sementara berada di bawah hegemoni dopamin. Dan sebagaimana setiap rezim yang terlampau dominan, ia memiliki kecenderungan otoritarian.
Ia menekan kritik, menangguhkan skeptisisme, melemahkan kapasitas evaluatif, menggeser penilaian objektif dengan antusiasme emosional. Sehingga jatuh cinta acap kali menyerupai pengalaman politik yang ganjil. Rasionalitas tidak sepenuhnya lenyap. Ia hanya mengalami delegitimasi kekuasaan.
Dopamin mengambil alih kedaulatan mental, dan logika dipaksa menjadi oposisi. Dan manusia melabeli keadaan itu sebagai romansa. Yang membuat saya lebih tertarik lagi adalah, penelitian neuroimaging memperlihatkan bahwa aktivitas saraf individu yang sementara jatuh cinta punya keselarasan tertentu dengan aktivitas individu yang mengalami adiksi.
Tentu cinta bukan narkotika dalam pengertian literal. Tapi keduanya mengeksploitasi jalur penghargaan neural yang senada. Oleh sebab itu kehilangan orang yang dicintai tak jarang menghasilkan gejala yang menyerupai sindrom putus zat. Kecemasan meningkat, obsesi muncul, kesedihan menjadi intens.
Pikiran senantiasa kembali kepada objek yang hilang. Inilah yang mengeksplanasikan mengapa patah hati terasa demikian nyata secara fisiologis. Karena ia bukan sekadar metafora sastra. Tubuh sungguh mengalami metamorfosis biologis. Karena otak dan tubuh memang sedang mengalami guncangan neurobiologis yang konkret.
Tapi evolusi tidak menghendaki manusia hidup selamanya dalam keadaan mabuk dopamin. Sistem biologis memerlukan stabilitas. Karena itu fase attraction perlahan memberikan ruang bagi fase berikutnya. Attachment (keterikatan).
Bila dopamin menjadi api, maka attachment adalah rumah. Jika attraction adalah badai, maka attachment adalah pelabuhan. Jika jatuh cinta adalah ledakan, maka keterikatan adalah proyek peradaban. Pada segmen ini, hormon seperti oksitosin dan vasopresin memainkan peran yang jauh lebih dominan.
Oksitosin kerap dijuluki sebagai "hormon pelukan." Namun label tersebut terlalu reduksionistik untuk mengilustrasikan kompleksitas fungsionalnya. Oksitosin merupakan molekul kepercayaan.
Ia nenguatkan rasa aman dan membantu mengonstruksi kedekatan emosional. Ia juga membuat manusia merasa terkoneksi. Dikala seorang ibu memeluk bayinya, ketika pasangan saling menggenggam tangan, pada saat dua manusia mengalami momen kedekatan eksistensial yang mendalam, oksitosin turut berpartisipasi dalam proses tersebut.
Oleh sebab itu keterikatan bukan hanya keputusan psikologis. Ia juga merupakan konstruksi biologis. Tubuh secara aktif berpartisipasi dalam penciptaan hubungan yang stabil.
Saya melihat, sepertnya evolusi memahami bahwa reproduksi semata tidaklah cukup. Anak manusia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mencapai kematangan. Karena itu spesies ini membutuhkan mekanisme yang membuat individu tetap bersama cukup lama untuk membesarkan keturunan.
Artinya, sebagian dari cinta mungkin merupakan taktik biologis untuk menjaga kontinuitas sosial. Namun di titik inilah problematika filsafat mulai memperoleh relevansinya. Bila cinta dapat dieksplansikan melalui hormon, apakah itu berarti cinta hanyalah hormon? Jika kesetiaan tertaut dengan oksitosin, apakah kesetiaan tidak lebih dari sekadar reaksi kimia? Seandainya keterikatan memiliki fungsi evolusioner, apakah makna cinta hanya berhenti pada reproduksi?
Kuriositas sepetti muncul karena manusia sering terjerat dalam kekeliruan kategoris. Mereka mengira bahwa menjelaskan mekanisme berarti menghapus makna. Padahal keduanya berada pada level analisis yang berbeda.
Memaparkan bagaimana piano menghasilkan suara tidak sama dengan menjelaskan mengapa musik mampu membuat seseorang menangis. Kerap saya ilustrasikan, bahwa mengeksplanasikan cara kerja tinta tidak serupa dengan menjelaskan makna sebuah puisi. Dan menjelaskan aktivitas saraf tidak secara otomatis menguak keseluruhan pengalaman manusia.
Neurosains dapat memperlihatkan bahwa dopamin aktif ketika seseorang jatuh cinta. Akan tetali dopamin tidak dapat mengenskripsikan mengapa seseorang tetap setia kepada pasangannya yang sedang sakit. Ia dapat menjelaskan mengapa keterikatan muncul. Tetapi tidak selalu mampu memaparkan mengapa seseorang rela mengorbankan dirinya demi individu yang dicintainya.
Karena pada dimensi tertentu manusia mulai mentransendensi biologi yang melahirkannya. Di sinilah cinta menjadi menarik. Ia lahir dari tubuh, tetapi tidak berhenti pada tubuh. Ia berakar pada biologi, tetapi berkembang secara kultural. Ia dimulai oleh hormon, namun dapat berujung pada pengorbanan moral. Dan mungkin justru di situlah kemegahan manusia memperoleh pembuktiannya.
Bahwa makhluk yang dibentuk oleh gen ternyata mampu menghasilkan kesetiaan yang melampaui kepentingan genetiknya sendiri. Bahwa organisme yang digerakkan oleh hormon mampu memproduksi makna yang tidak dapat direduksi menjadi hormon.
Nyatanya konstelasi neuron mampu melahirkan puisi dan reaksi kimia mampu menghasilkan pengorbanan, bahkan materi mampu melahirkan cinta. Namun sebelum filsafat mendedahkan argumentasinya tenranf bagaimana semua itu mungkin terjadi, saya kira kita harus terlebih dahulu memasuki teritori yang lebih radikal, yakni pertanyaan mengenai ontologi cinta itu sendiri.
Apakah cinta merupakan kebutuhan psikologis? Apakah ia kebajikan moral? Ataukah ia keterampilan eksistensial yang dapat dipelajari? Mungkinkah cinta adalah bentuk tertinggi emansipasi manusia untuk keluar dari penjara narsisisme dan egoitasnya sendiri?. Di sinilah kita memasuki medan pemikiran filsafati, arena dimana cinta tidak lagi dipahami sebagai emosi pasif, tapi sebagai seni eksistensial yang menuntut disiplin, pengetahuan, keberanian, dan kesediaan untuk menjadi manusia secara utuh
SEGMEN III - PHILOSOPHY
Setelah psikologi mengkartografi arsitektur afeksi dan neuroendokrinologi mendekonstruksi mesin biologis yang beroperasi di baliknya, kali ini saya mencoba menginfuskan esensi filsafati yang hadir membawa interogasi jauh lebih mengusik ketenteraman intelektual.
Filsafat tidak merasa cukup hanya mengetahui bagaimana cinta berlangsung. Filsafat hendak menyelidiki apa seyogyanya makna ontologis dari cinta itu sendiri. Sehingga seluruh keteduhan saintifik mulai mengalami guncangan epistemik.
Karena ilmu pengetahuan kontemporer kerap sarat akan kapasitas mengeksplansikan mekanisme tanpa sanggup menerangkan signifikansi. Ia dapat menguraikan bagaimana jantung berdenyut, tetapi tidak mengapa kehidupan patut diperjuangkan. Ia dapat menjelaskan aktivitas neuronal ketika seseorang menangis, tapi tidak mengapa kesedihan memiliki bobot eksistensial.
Ia dapat mengalkulasi gelombang otak seseorang yang sedang jatuh cinta, tetapi tidak mampu menakar alasan mengapa satu kesetiaan lebih bernilai daripada seribu kemungkinan pengkhianatan. Filsafat memasuki teritori yang tak dapat dijangkau oleh instrumen mikroskopik.
Ia menggugat esensi teleologi, mempertanyakan signifikansi. Dan di dalam interrogasi-interogasi itulah cinta bermutasi dari sekadar pengalaman menjadi problem ontologis. Apa sesungguhnya cinta? Apakah cinta merupakan emosi? Apakah cinta merupakan kebutuhan? Apakah cinta merupakan kebajikan? Apakah cinta merupakan lintasan menuju kebenaran? Ataukah justru cinta adalah konstruksi ilusif terbesar yang pernah diproduksi spesies manusia guna menghibur dirinya dari absurditas eksistensi?
Kuriositas ini telah menghantui kesadaran manusia selama ribuan tahun. Dan salah satu figur paling menentukan yang meletakkan fondasi refleksi tersebut adalah Sokrates. Menariknya, Sokrates sendiri nyaris tidak pernah mempercakapkan cinta sebagai sentimen romantik sebagaimana dipahami dunia modern.
Bagi Sokrates, cinta tidak terutama bertaut dengan relasi kepemilikan seseorang atas orang lain. Cinta merupakan gerak ontologis jiwa menuju sesuatu yang dipersepsikan sebagai kebaikan. Dengan kata lain, manusia mencintai karena ia menyadari dirinya belum utuh. Ia mencintai karena terdapat defisit dalam dirinya atau terdapat horizon yang hendak dicapai.
Sehingga cinta tidak lagi dipahami sebagai kondisi kepenuhan, ia justru lahir dari ketidaklengkapan. Manusia mencintai karena ia mengalami kekosongan eksistensial, hal itulah yang menggerakkan dirinya. Dalam dialog Symposium, yang ditulis oleh Plato, cinta atau eros dilustrasikan bukan sebagai dewa yang sempurna, ia menjadi entitas yang berada di antara defisiensi dan kelimpahan. Eros senantiasa menghendaki, mencari, dan tidak pernah final. Gagasan ini tentuny sangat radikal.
Karena modernitas senantiasa mengajarkan bahwa cinta adalah titik terminus. Seakan seseorang hanya perlu menemukan pasangan yang tepat lalu seluruh problem kehidupan akan terselesaikan. Mitos ini senantias direproduksi tanpa henti oleh industri hiburan.
Film berakhir ketika dua tokoh akhirnya bersatu. Novel selesai ketika dua individu berhasil dipersatukan. Narasi berhenti tepat ketika kehidupan yang sesungguhnya baru akan dimulai. Akibatnya masyarakat diasuh dengan fantasi bahwa menemukan cinta adalah telos utama kehidupan.
Padahal bagi filsafat, menemukan cinta bukanlah akhir perjalanan. Ia justru inaugurasi dari pekerjaan yang jauh lebih berat. Karena cinta yang gagal berkembang akan mengalami pembusukan menjadi kepemilikan, dimatangkan dan akan bermetamorfosis menjadi ketergantungan. Cinta yang gagal dipahami akan berubah menjadi obsesi.
Maka bagi Sokrates, eros yang autentik bukan sekadar ketertarikan terhadap tubuh. Ia menjadi tangga transendensi menuju pemahaman yang lebih tinggi tentang keindahan. Manusia mula-mula tertarik pada tubuh seseorang. Lalu ia belajar mengapresiasi keindahan jiwa, keindahan pengetahuan dan keindahan kebajikan. Hingga akhirnya mencapai pemahaman mengenai keindahan itu sendiri.
Cinta, dalam artian ini, merupakan pedagogi jiwa. Ia merupakan proses transfigurasi, bukan sekadar perasaan. Akan tetapi, dalam amatan saya, peradaban kontemporer bergerak ke arah yang kontradiktif. Alih-alih memakai cinta untuk memperluas cakrawala kesadaran, manusia justru memakai cinta untuk menyempitkan semesta kehidupannya.
Relasi menjadi instrumen kepemilikan. Pasangan menjadi aset psikologis. Kesetiaan diterjemahkan sebagai mekanisme pengawasan. Keintiman diterjemahkan sebagai perangkat kontrol. Dan cinta perlahan bermetamorfosis menjadi kolonialisme afektif.
Inilah yang dapat kita labeli sebagai posesivisme afektif. Sebuah kondisi dikala cinta kehilangan orientasi etisnya dan berevolusi menjadi proyek dominasi. Paradoksnya, semakin besar hasrat untuk menguasai, semakin kecil probabilitas cinta untuk bertahan.
Karena cinta bernafas karena kebebasan. Dikala kebebasan mati, cinta perlahan turut mengalami kematian bersamanya. Pemikiran Erich Fromm memperoleh relevansi yang luar biasa. Melalui magnum opusnya, The Art of Loving, Fromm mengajukan kritik yang hingga hari ini terasa semakin menusuk.
Menurut Fromm, problematika primer manusia kontemporer bukanlah ketidakmampuan menemukan individu yang tepat untuk dicintai. Masalah utamanya adalah ketidakmampuan mencintai. Kalimat ini tampak simplistik. Namun sesungguhnya ia menjadi dakwaan filosofis terhadap keseluruhan kebudayaan modern.
Manusia menghabiskan sebagian besar energinya untuk mencari pasangan ideal. Ia menghabiskan waktu untuk memperindah dirinya, memperbaiki citra, meningkatkan daya tarik, mengoptimalkan kemungkinan diterima. Namun hampir tidak pernah bertanya, apakah aku sendiri memiliki kapabilitas untuk mencintai?
Kuriositas ini nyaris menghilang dari kesadaran kolektif. Karena dunia konsumsi sudah mengajarkan bahwa cinta merupakan sesuatu yang harus diperoleh, bukan sesuatu yang harus dipelajari. Akibatnya lahirlah generasi yang sangat ingin dicintai tetapi tidak pernah menjalani asketisme mencintai.
Manusia yang mahir memburu atensi tetapi tidak cakap memberikannya. Mereka yang mendambakan validasi namun kesulitan memberikan penghargaan. Generasi yang menalar relasi berdasarkan apa yang diterima, bukan apa yang dipersembahkan.
Fromm melihat simtom ini sebagai konsekuensi logis kapitalisme modern. Pasar tidak hanya menjual komoditas. Ia juga memperdagangkan identitas. Manusia belajar memandang dirinya sebagai objek pertukaran. Mereka menilai diri berdasarkan nilai tukar sosial. Penampilan menjadi investasi. Kepribadian menjadi strategi pemasaran. Relasi menjadi transaksi.
Maka cinta perlahan bertransformasi menjadi pasar afeksi. Hubungan berubah menjadi bursa saham emosional. Popularitas menjadi mata uang. Status menjadi kapital simbolik. Daya tarik menjadi instrumen investasi. Dan manusia sibuk melakukan spekulasi afektif sambil menamakannya cinta.
Fromm beroposisi pada logika itu secara fundamental, karena baginya cinta bukan objek. Cinta adalah kapabilitas. Bukan sesuatu yang dimiliki, namun sesuatu yang dijalankan. Tidak menjadi kondisi pasif, ia adalah aktivitas kreatif. Di sinilah muncul salah satu gagasan paling krusial dalam filsafat cinta modern.
Cinta adalah seni. Dan sebagaimana setiap seni, ia menuntut disiplin. Karena tidak ada satupun individu yang tiba-tiba menjadi pianis hanya karena menyukai musik. Tidak ada individu yang menjadi filsuf hanya karena gemar membaca kutipan-kutipan filsafat.
Demikian pula tidak ada individu yang menjadi pecinta yang baik hanya karena memiliki sentimen romantis. Mencintai membutuhkan latihan, kesadaran, pengetahuan, dan kedewasaan. Tetapi masyarakat kini kerap menghindari proses tersebut. Mereka menginginkan hasil tanpa disiplin. Seakan sebuah kedalaman bisa eksis tanpa refleksi.
Berhasrat untuk menciptakan relasi yang sehat tanpa membangun karakter yang sehat. Akibatnya hubungan menjadi rapuh. Sedikit konflik dianggap katastrofi, sejumput ketidaknyamanan dianggap indikasi ketidakcocokan, perbedaan dianggap legitimasi untuk meninggalkan.
Padahal cinta yang matang justru tercipta karena kapasitas menghadapi ketidaksempurnaan. Karena tidak ada manusia yang sempurna. Yang ada hanyalah manusia yang terus mengupayakan pertumbuhan dirinya. Fromm bahkan berargumen bahwa cinta autentik senantiasa mengandung empat elemen fundamental, diantaranya perhatian, tanggung jawab, penghormatan, pengetahuan.
Perhatian artinya kepedulian aktif terhadap kehidupan orang lain. Tanggung jawab berarti kesiapan merespons kebutuhan eksistensial individu yang dicintai. Penghormatan adalah pengakuan atas kebebasan dan singularitas dirinya. Pengetahuan merupakan ikhtiar untuk memahami siapa dirinya secara mendalam.
Keempat esensi ini memantulkan realitas bahwa cinta autentik tidak pernah identik dengan kepemilikan. Justru sebaliknya. Cinta menjadi tindakan yang memungkinkan orang lain menjadi dirinya sendiri. Bagi saya, cinta bukan terutama mengenai menemukan seseorang yang sempurna. Cinta adalah kemampuan untuk keluar dari penjara ego.
Karena cinta ingin memahami, sedangkan ego ingin menguasai. Cinta ingin memerdekakan. Ego takut kehilangan. Oleh sebab itu cinta menjadi pengalaman etis sekaligus eksistensial. Ia menuntut keberanian untuk melampaui dirinya sendiri.
Dan mungkin itulah alasan mengapa cinta demikian sulit. Bukan karena manusia kekurangan perasaan. Tapi karena manusia sering terlalu penuh oleh dirinya sendiri. Ia ingin dicintai tanpa mempelajari seni mencintai. Ia ingin dipahami tanpa mengupayakan pemahaman. Ia ingin diterima tanpa melatih penerimaan. Ia ingin kesetiaan tanpa membangun karakter yang layak dipercaya.
Maka krisis terbesar cinta modern sesungguhnya bukan krisis pasangan. Bukan krisis teknologi. Atau krisis komunikasi. Melainkan krisis karakter. Krisis manusia yang begitu terlena mengonstruksi citra hingga lupa mengonstruksi jiwa. Hasrat yang menguasai teknik relasional namun kehilangan kebijaksanaan relasional. Ingin mengetahui cara menarik atensi tetapi gagap merawat cinta.
Di sinilah filsafat cinta mencapai kulminasinya. Ia mengingatkan bahwa cinta bukan sesuatu yang terjadi pada manusia. Cinta menjadi sesuatu yang harus dikerjakan oleh manusia. Karena ia bukan emosi yang datang dan pergi seperti cuaca. Ia adalah keputusan moral, disiplin eksistensial, dan seni menjadi manusia.
Justru karena itulah cinta tidak pernah dapat direduksi menjadi dopamin, oksitosin, ataupun statistik psikologis. Karena dikala manusia memilih untuk tetap mencintai walaupun tidak ada keuntungan yang dijanjikan, dikala ia tetap setia meskipun memiliki kesempatan untuk pergi, ketika ia tetap memberi meskipun tidak selalu menerima, maka sesuatu yang lebih besar daripada biologi sedang beroperasi.
Sesuatu yang oleh filsafat disebut sebagai kebebasan. Dan di sanalah cinta memperlihatkan dirinya bukan sekadar sebagai pengalaman emosional, melainkan sebagai salah satu manifestasi tertinggi keberanian manusia untuk mentransendensikan dirinya sendiri.
