Konten dari Pengguna

Di Balik Deru Mesin MotoGP: Bagaimana Mandalika Menggerakkan Ekonomi Masyarakat?

ellensefianingsih

ellensefianingsih

Mahasiswa aktif Universitas Pamulang

·waktu baca 6 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari ellensefianingsih tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pertamina Mandalika International Circuit. (Foto: Dok. Kemenpora) 
zoom-in-whitePerbesar
Pertamina Mandalika International Circuit. (Foto: Dok. Kemenpora) 

MotoGP Bukan Sekadar Ajang Balapan

Penyelenggaraan MotoGP di Sirkuit Internasional Pertamina Mandalika, Lombok, Nusa Tenggara Barat, bukan hanya menjadi hiburan bagi penggemar balap motor, tetapi juga menjadi salah satu kegiatan yang berpotensi menggerakkan perekonomian daerah. Setiap kali ajang ini diselenggarakan, perhatian masyarakat tidak hanya tertuju pada persaingan para pembalap di lintasan, tetapi juga pada peluang ekonomi yang muncul di sekitar lokasi acara. Mulai dari hotel, restoran, penyedia transportasi, hingga pedagang kecil, semuanya berpotensi merasakan dampak dari kedatangan ribuan pengunjung.

Menurut saya, MotoGP Mandalika merupakan peluang yang cukup besar bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa kegiatan olahraga internasional dapat memberikan manfaat ekonomi di luar dunia olahraga itu sendiri. Namun, keberhasilan acara ini seharusnya tidak hanya dinilai dari ramainya penonton atau besarnya perhatian media. Hal yang tidak kalah penting adalah apakah kegiatan tersebut mampu meningkatkan pendapatan masyarakat lokal dan memberikan manfaat yang dapat dirasakan dalam jangka panjang.

Berdasarkan informasi Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, MotoGP Mandalika 2025 berhasil menarik 140.324 penonton selama penyelenggaraan pada 3–5 Oktober 2025. Jumlah tersebut meningkat 15,73 persen dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencatat 121.252 penonton (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, 2025). Peningkatan ini menunjukkan besarnya minat masyarakat terhadap MotoGP Mandalika. Akan tetapi, tingginya jumlah penonton juga perlu dilihat lebih jauh untuk mengetahui seberapa besar manfaat ekonomi yang benar-benar diterima oleh masyarakat sekitar.

Ketika Uang Wisatawan Menggerakkan Ekonomi Lokal

Menurut saya, salah satu hal menarik dari penyelenggaraan MotoGP adalah bagaimana uang yang dibelanjakan wisatawan dapat mengalir ke berbagai sektor usaha. Pengunjung yang datang tentu membutuhkan penginapan, makanan, transportasi, dan berbagai keperluan lainnya. Pengeluaran tersebut menjadi pemasukan bagi pelaku usaha, yang kemudian dapat digunakan kembali untuk membayar karyawan, membeli bahan baku, dan memenuhi kebutuhan operasional.

Sebagai contoh, wisatawan yang membeli makanan di warung lokal bukan hanya membantu meningkatkan penjualan pedagang tersebut. Pendapatan yang diperoleh pedagang juga dapat digunakan untuk membeli bahan makanan dari pemasok, membayar tenaga kerja, atau memenuhi kebutuhan keluarganya. Dari proses tersebut, uang yang awalnya dibelanjakan oleh wisatawan dapat menciptakan aktivitas ekonomi lanjutan. Fenomena ini dikenal sebagai efek pengganda ekonomi atau multiplier effect.

Kajian Bappenas yang diluncurkan pada September 2026 memperkirakan dampak ekonomi penyelenggaraan MotoGP Mandalika 2025 mencapai Rp2,7 triliun hingga Rp4,7 triliun. Perkiraan tersebut mencakup dampak langsung, tidak langsung, dan dampak lanjutan dari aktivitas ekonomi yang berkaitan dengan acara tersebut (Bappenas, 2026). Angka ini menunjukkan besarnya potensi ekonomi yang dapat dihasilkan dari penyelenggaraan olahraga internasional.

Meski demikian, menurut saya, besarnya angka perputaran ekonomi tidak seharusnya langsung dianggap sebagai bukti bahwa seluruh masyarakat telah memperoleh keuntungan yang sama. Nilai dampak ekonomi merupakan gambaran aktivitas ekonomi secara luas, bukan jumlah uang yang seluruhnya masuk ke kantong pedagang kecil atau menjadi pendapatan pemerintah daerah. Oleh sebab itu, penting untuk melihat siapa saja yang memperoleh manfaat dan bagaimana manfaat tersebut tersebar di masyarakat.

Apakah UMKM Benar-Benar Mendapatkan Keuntungan?

Salah satu kelompok yang diharapkan merasakan manfaat dari MotoGP adalah pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kehadiran banyak wisatawan dapat menjadi kesempatan bagi pedagang lokal untuk meningkatkan penjualan, memperkenalkan produk khas Lombok, dan mendapatkan pelanggan baru.

Jika kesempatan ini dimanfaatkan dengan baik, MotoGP dapat membantu memperluas pasar usaha masyarakat yang sebelumnya hanya bergantung pada pembeli lokal.

Namun, saya berpendapat bahwa peluang tersebut belum tentu dapat dinikmati oleh seluruh pelaku UMKM secara merata. Pedagang yang memiliki lokasi strategis atau mendapatkan akses ke area ramai pengunjung mungkin memiliki kesempatan penjualan yang lebih besar dibandingkan dengan pedagang yang lokasinya jauh dari pusat kegiatan. Selain itu, keterbatasan modal, biaya sewa tempat, persaingan usaha, dan kemampuan memenuhi permintaan konsumen juga dapat memengaruhi keuntungan yang diperoleh.

Karena itu, penyelenggaraan MotoGP sebaiknya tidak hanya berfokus pada kelancaran acara dan peningkatan jumlah pengunjung. Pemerintah daerah serta pihak penyelenggara juga perlu memastikan bahwa masyarakat lokal mempunyai kesempatan untuk terlibat secara langsung. Dukungan berupa tempat berjualan yang terjangkau, promosi produk lokal, pelatihan usaha, dan kemudahan akses bagi UMKM dapat menjadi langkah untuk memperluas manfaat ekonomi.

Bagi saya, keberhasilan MotoGP akan terasa lebih berarti apabila masyarakat tidak hanya menjadi penonton di daerahnya sendiri, tetapi juga menjadi bagian dari kegiatan ekonomi yang tumbuh karena acara tersebut.

Jangan Sampai Manfaat Ekonomi Hanya Berlangsung Sesaat

Hal lain yang menurut saya perlu diperhatikan adalah keberlanjutan ekonomi setelah MotoGP selesai diselenggarakan. Selama acara berlangsung, permintaan terhadap penginapan, makanan, transportasi, dan berbagai jasa pendukung dapat meningkat. Namun, ketika pengunjung mulai meninggalkan Mandalika, aktivitas usaha yang sebelumnya ramai berpotensi kembali menurun.

Jika perekonomian masyarakat hanya bergantung pada beberapa hari penyelenggaraan MotoGP, manfaat yang diperoleh tentu belum cukup untuk menjamin peningkatan kesejahteraan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, Mandalika perlu terus dikembangkan sebagai destinasi wisata yang menarik sepanjang tahun, bukan hanya ketika perlombaan berlangsung.

Menurut saya, pemerintah dan pelaku usaha dapat memanfaatkan popularitas MotoGP untuk memperkenalkan potensi wisata Lombok yang lain, seperti pantai, kuliner tradisional, kerajinan lokal, dan kebudayaan masyarakat. Wisatawan yang datang untuk menonton balapan dapat didorong untuk memperpanjang masa tinggal dan mengunjungi tempat lain di sekitarnya. Dengan demikian, peluang pendapatan masyarakat tidak hanya bergantung pada penjualan tiket atau keramaian di sekitar sirkuit.

Di sisi lain, evaluasi terhadap dampak ekonomi juga perlu dilakukan secara terbuka. Selain melihat jumlah penonton dan estimasi perputaran ekonomi, penting untuk mengetahui perkembangan pendapatan UMKM, kesempatan kerja bagi penduduk setempat, serta sejauh mana usaha lokal terlibat dalam rantai pasok penyelenggaraan acara. Data tersebut dapat membantu menilai apakah manfaat MotoGP benar-benar dirasakan secara luas atau masih terkonsentrasi pada sektor dan kelompok usaha tertentu.

Kesimpulan

Pada akhirnya, saya memandang MotoGP Mandalika sebagai peluang ekonomi yang besar, tetapi peluang tersebut tidak akan memberikan manfaat maksimal tanpa pengelolaan yang tepat. Peningkatan jumlah penonton dan besarnya estimasi dampak ekonomi merupakan indikator yang menarik, tetapi keduanya bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Hal yang lebih penting adalah bagaimana aktivitas tersebut dapat meningkatkan pendapatan masyarakat, membuka kesempatan kerja, dan memperkuat usaha lokal.

MotoGP seharusnya tidak hanya meninggalkan kenangan tentang persaingan para pembalap di lintasan, tetapi juga memberikan dampak positif bagi kehidupan masyarakat di sekitarnya. Pemerintah, penyelenggara, dan pelaku usaha perlu bekerja sama agar manfaat ekonomi tidak berhenti ketika bendera finis dikibarkan. Dengan dukungan yang tepat, Mandalika dapat memanfaatkan ajang internasional ini sebagai salah satu jalan untuk membangun perekonomian daerah yang lebih kuat dan berkelanjutan.

Sebab, pada akhirnya, keberhasilan sebuah acara besar bukan hanya tentang seberapa ramai penontonnya atau seberapa besar uang yang berputar, melainkan juga tentang seberapa banyak masyarakat yang dapat merasakan manfaatnya.