Mayoran, Seni Berbagi di Pesantren

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
·waktu baca 4 menit
Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pesantren, kebahagiaan kadang tidak membutuhkan restoran, meja makan mengilap, apalagi pelayan berseragam. Cukup nasi, lauk sederhana, beberapa santri, dan sebuah nampan besar. Mereka duduk melingkar, merapatkan lutut, lalu makan bersama. Tradisi itu disebut mayoran. Sebuah peristiwa kecil yang diam-diam mengajarkan sesuatu tentang manusia dan cara hidup bersama.
Mayoran bukan sekadar urusan mengisi perut. Ia merupakan pendidikan yang tidak selalu tertulis dalam silabus, tetapi melekat dalam pengalaman sehari-hari. Santri belajar berbagi tanpa presentasi, berempati tanpa seminar, dan merendahkan hati tanpa sertifikat pelatihan karakter. Rupanya, tidak semua pelajaran membutuhkan proyektor. Sebagian cukup disajikan bersama nasi hangat.
Nampan yang Meruntuhkan Sekat
Di hadapan nampan, gelar sosial mendadak kehilangan selera. Anak orang kaya dan anak petani duduk berdekatan. Santri senior dan santri baru berbagi lauk yang sama. Tidak ada kursi kehormatan untuk mereka yang merasa lebih penting. Nampan menjadi semacam ruang demokrasi, tempat setiap orang belajar bahwa kebersamaan membutuhkan kesediaan berbagi.
Dalam Al-Adab al-Mufrad (Dar al-Basha'ir al-Islamiyyah, 1989), Muhammad ibn Ismail al-Bukhari menghimpun ajaran tentang adab, kasih sayang, dan hubungan antarmanusia. Semangatnya terasa dekat dengan mayoran. Akhlak bukan hanya perkara fasih mengutip dalil, melainkan kesediaan memperhatikan orang lain, bahkan ketika lauk yang tersedia tinggal sepotong tempe.
Tentu, manusia tetaplah manusia. Ada yang tangannya cekatan menjangkau ayam, ada yang sabar menunggu, ada pula yang merasa potongan terbesar merupakan hak alamiahnya. Di sinilah mayoran menjadi ujian karakter. Ilmu tentang kesabaran bisa dihafal semalam, tetapi kesabaran menghadapi lauk terbatas kadang memerlukan latihan bertahun-tahun.
Robert D. Putnam dalam Bowling Alone (Simon & Schuster, 2000) membahas pentingnya modal sosial bagi kehidupan bersama. Dalam skala kecil, mayoran dapat dibaca sebagai latihan membangun kepercayaan dan solidaritas. Santri belajar bahwa hidup bersama bukan sekadar tinggal di bangunan yang sama, melainkan memelihara kepedulian terhadap orang-orang di sekelilingnya.
Namun, jangan buru-buru menganggap setiap makan bersama otomatis melahirkan persaudaraan. Kebersamaan fisik bisa saja menyembunyikan ketidakpedulian. Karena itu, mayoran perlu dirawat sebagai kebiasaan berbagi, bukan sekadar acara makan berjemaah. Jangan sampai semua duduk melingkar, tetapi setiap tangan bekerja sendiri-sendiri, seolah persaudaraan cukup dibuktikan dengan posisi duduk.
Dari Nasi Bersama Menuju Peradaban Cinta
Hadhratus Syaikh KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-Mu‘allim wa al-Muta‘allim (Maktabah al-Turats al-Islami, 1994) menekankan pentingnya adab dalam proses pendidikan, baik bagi guru maupun murid. Nilai-nilai tersebut relevan dengan tradisi mayoran, ketika santri belajar menghormati sesama, berbagi rezeki, menjaga kerendahan hati, dan merawat persaudaraan melalui kebiasaan sederhana.
Tradisi ini juga berdekatan dengan gagasan Paulo Freire dalam Pedagogy of the Oppressed (Continuum, 1970), yang mengkritik pendidikan yang menempatkan manusia sebagai penerima pasif. Mayoran menawarkan pelajaran melalui pengalaman langsung. Santri tidak sekadar mendengar nasihat tentang solidaritas, tetapi menjalani situasi ketika kepentingan pribadi harus berunding dengan kebutuhan bersama.
Tentu, tradisi tidak boleh kebal terhadap kritik. Kebersamaan bukan alasan untuk mengabaikan kebersihan, kecukupan gizi, kondisi kesehatan, atau kenyamanan santri. Mereka yang memiliki kebutuhan makan khusus tetap harus dihormati. Tradisi yang baik bukan tradisi yang memaksa semua orang seragam, melainkan yang menjaga martabat setiap orang di dalam kebersamaan.
Erich Fromm dalam The Art of Loving (Harper & Brothers, 1956) menjelaskan cinta sebagai seni yang membutuhkan pengetahuan, tanggung jawab, kepedulian, dan latihan. Mayoran di pesantren dapat menjadi ruang kecil untuk mempraktikkan semua itu. Cinta tidak cukup diucapkan ketika berpidato. Ia perlu hadir ketika seseorang bersedia menyisakan makanan bagi kawannya.
Kelak, santri meninggalkan pesantren dengan ijazah, pengalaman, dan cita-cita masing-masing. Sebagian menjadi kiai, pejabat, pengusaha, guru, atau petani. Mereka mungkin kelak duduk di meja rapat yang panjang, menghadapi perbedaan kepentingan dan perebutan sumber daya. Di sana, pelajaran mayoran seharusnya tetap berlaku. Jangan sampai yang kuat menghabiskan semuanya, sementara yang lain hanya kebagian aroma.
Sebab, ukuran keberhasilan pesantren bukan semata-mata berapa banyak kitab ditamatkan atau berapa tinggi jabatan yang diraih alumninya. Lebih mendasar dari itu, apakah ilmu membuat mereka semakin peduli kepada sesama. Mayoran sederhana, tetapi pesannya panjang. Peradaban tidak dimulai ketika seseorang berhasil duduk di kursi paling tinggi, melainkan ketika ia bersedia merendahkan diri agar semua orang mendapat tempat.
