Konten dari Pengguna

Membincang Pesantren Mewah

Fahmi Arif El Muniry

Fahmi Arif El Muniry

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi santri di pesantren. Foto: Shutter Stock

Pesantren mewah bukan pesantren yang mepet sawah tetapi pesantren yang fasilitasnya wah. Dulu, pesantren sering dibayangkan sebagai bangunan sederhana di pinggir kampung, barangkali benar-benar mepet sawah. Santrinya tidur berdesakan, belajar dengan penerangan seadanya, dan makan tanpa banyak pilihan. Kini, sebagian pesantren hadir dengan gedung megah, kamar berpendingin udara, ruang belajar digital, hingga fasilitas olahraga. Jika dahulu orang bertanya, “Pesantrennya di mana, dekat sawah?” sekarang pertanyaannya bisa berubah, “Fasilitasnya apa saja?” Zaman memang bergerak. Pesantren yang dulu dikenal karena kesederhanaannya, kini juga dikenal karena fasilitasnya yang wah.

Perubahan itu bukan sesuatu yang perlu dicurigai. Pesantren bukan museum kemiskinan yang harus mempertahankan bangunan rapuh demi menjaga keaslian sejarah. Santri berhak memperoleh ruang belajar yang sehat, tempat tinggal yang layak, makanan bergizi, dan teknologi yang mendukung pembelajaran. Fasilitas yang baik merupakan bagian dari ikhtiar memuliakan ilmu dan orang-orang yang sedang menuntutnya.

Namun, ada pertanyaan yang patut diajukan. Ketika fasilitas semakin mewah, apakah nilai-nilai yang selama ini menjadi ruh pendidikan pesantren tetap terpelihara? Sebab persoalannya bukan pada megahnya bangunan, melainkan pada kemungkinan bergesernya orientasi pendidikan. Gedung boleh menjulang, tetapi karakter santri juga harus bertumbuh. Kamar boleh nyaman, tetapi kemandirian jangan sampai kehilangan tempat.

Fasilitas dan Seni Hidup Nyantri

Pesantren memiliki tradisi mendidik santri melalui kehidupan sehari-hari. Pendidikan tidak berhenti ketika kitab ditutup atau pengajian selesai. Cara makan, menjaga kebersihan, menghormati guru, memperlakukan teman, hingga menyikapi keterbatasan, semuanya merupakan bagian dari proses pendidikan. Santri tidak hanya belajar tentang kehidupan melalui kitab, tetapi juga melalui pengalaman hidup bersama.

Tradisi puasa, tirakat, dan prihatin mengajarkan pengendalian diri, kesungguhan, serta kepekaan terhadap keadaan orang lain. Ketiganya bukan alasan untuk membiarkan santri hidup dalam kesengsaraan. Kesederhanaan juga bukan romantisasi kemiskinan. Ia merupakan latihan agar manusia mampu membedakan kebutuhan dan keinginan, serta tidak diperbudak oleh kenyamanan.

Di dalam tradisi pendidikan pesantren, terdapat nilai keikhlasan, kesederhanaan, kemandirian, persaudaraan, dan kebebasan yang bertanggung jawab. Nilai-nilai itu justru semakin penting ketika pesantren memiliki fasilitas lengkap. Keikhlasan mengingatkan bahwa belajar bukan sekadar transaksi antara biaya pendidikan dan layanan yang diterima. Kesederhanaan mengajarkan bahwa kualitas hidup tidak semata-mata ditentukan oleh kemewahan. Kemandirian menuntut santri mampu mengurus diri dan bertanggung jawab atas lingkungannya.

Persaudaraan mengajarkan bahwa martabat seseorang tidak ditentukan oleh latar belakang ekonomi. Jangan sampai fasilitas mewah justru melahirkan sekat sosial di antara santri. Sementara itu, kebebasan yang bertanggung jawab memberi ruang bagi santri untuk berpikir, berinisiatif, dan mengambil keputusan dengan bimbingan nilai-nilai agama.

John Dewey, dalam Democracy and Education, (The Macmillan Company, 1916), menekankan pentingnya pengalaman dalam proses pendidikan. Gagasan ini relevan bagi pesantren. Santri tidak cukup hanya menerima pengetahuan, tetapi perlu mengalami proses belajar melalui kerja sama, tanggung jawab, dan keterlibatan dalam kehidupan sehari-hari. Fasilitas seharusnya memperkaya pengalaman tersebut, bukan menggantikannya dengan layanan serba tersedia.

Mewah dalam Sarana, Bersahaja dalam Jiwa

Ibn Jama‘ah dalam Tadzkirat al-Sami‘ wa al-Mutakallim fi Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, (Dar al-Basya’ir al-Islamiyyah, 2012), menempatkan adab sebagai bagian penting dalam hubungan guru, murid, dan ilmu. Pendidikan bukan hanya soal pengetahuan dan sarana, melainkan juga pembentukan watak. Adab harus terlihat dalam cara santri menghormati guru, memperlakukan sesama, menggunakan fasilitas bersama, dan menghargai pekerjaan orang lain.

Abdurrahman Wahid, melalui Menggerakkan Tradisi: Esai-esai Pesantren, (LKiS, 2001), mengingatkan kita pada dinamika tradisi pesantren. Tradisi bukan benda mati yang harus dibekukan. Ia dapat bergerak mengikuti perubahan zaman tanpa kehilangan nilai-nilai yang membentuk identitasnya. Karena itu, modernisasi pesantren tidak harus berarti meninggalkan kesederhanaan, sebagaimana menjaga tradisi tidak berarti menolak kemajuan.

Tantangannya adalah memastikan kemajuan sarana berjalan seiring dengan pembentukan manusia. Pesantren boleh memiliki ruang belajar modern, fasilitas olahraga, dan teknologi mutakhir. Namun, santri tetap perlu belajar mengendalikan diri, hidup bersama, bekerja, berbagi, dan memahami kesulitan masyarakat. Kenyamanan semestinya menjadi modal untuk belajar lebih baik, bukan alasan untuk menjauh dari kenyataan hidup.

Peran kiai dan pendidik menjadi sangat penting. Nilai kesederhanaan sulit tumbuh jika hanya dituntut dari santri, sementara keteladanan tidak hadir dalam kehidupan para pendidiknya. Kemandirian sulit dibentuk jika semua urusan selalu diselesaikan oleh orang lain. Pendidikan pesantren bekerja melalui nasihat, pembiasaan, dan contoh nyata.

Pada akhirnya, pesantren tidak perlu memilih antara fasilitas yang wah dan jiwa yang bersahaja. Keduanya dapat berjalan bersama. Yang perlu dijaga adalah agar kemajuan bangunan tidak mengalahkan kedalaman pendidikan, dan kenyamanan tidak mengikis ketangguhan.

Pesantren boleh tidak lagi mepet sawah. Ia boleh berdiri megah di tengah kota, memiliki teknologi canggih, dan menyediakan fasilitas terbaik. Namun, di mana pun berada, pesantren tetap perlu melahirkan santri yang sederhana dalam sikap, mandiri dalam kehidupan, tulus dalam pengabdian, serta beradab dalam memperlakukan sesama. Bangunannya boleh menjulang, tetapi akhlak penghuninya harus tetap membumi. Wallahul musta’an.