Roan, Seni Mengabdi di Pesantren

Khodim Pesantren Laku Luhur Al Mahabbah Demak
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Fahmi Arif El Muniry tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di pesantren, ada pelajaran yang tak selalu tercetak dalam kitab dan tak memerlukan pengeras suara. Namanya roan. Saat santri menyapu halaman, menguras kamar mandi, atau merapikan asrama, mereka sedang belajar sesuatu yang kadang luput dari ruang kelas, yakni hidup bersama tanpa terus menghitung siapa paling berjasa.
Roan sering tampak sederhana, bahkan terlalu sederhana bagi zaman yang gemar mengukur keberhasilan dengan sertifikat, panggung, dan jabatan. Padahal, sebatang sapu dapat menguji watak lebih jujur daripada pidato panjang. Di hadapan sampah, gelar tidak banyak membantu. Yang dibutuhkan ialah kesediaan membungkuk, bekerja, dan menuntaskan urusan bersama tanpa banyak alasan.
Tradisi ini bukan sekadar membuat lingkungan bersih. Roan melatih santri mengenali bahwa ruang bersama menghadirkan tanggung jawab bersama. Kamar yang nyaman bukan semata hasil kerja petugas, melainkan buah kepedulian penghuninya. Pesantren menjadi rumah pendidikan ketika setiap orang ikut merawatnya, bukan hanya menikmati fasilitas lalu mengeluh ketika keadaan tak sesuai harapan.
Al-Raghib al-Isfahani dalam al-Dhari‘ah ila Makarim al-Shari‘ah (Dar al-Salam, 2007) membahas pembentukan akhlak sebagai jalan menuju kemuliaan manusia. Semangat itu terasa dalam roan, ketika nilai tidak berhenti sebagai nasihat. Santri mempraktikkan kesabaran, ketekunan, dan kepedulian melalui pekerjaan kecil yang manfaatnya langsung dirasakan bersama dalam kehidupan sehari-hari.
Namun, jangan buru-buru menganggap setiap roan pasti mendidik. Kerja bersama dapat kehilangan makna jika dijadikan hukuman, bahan mempermalukan, atau dibebankan secara tidak adil. Pengabdian bukan nama halus bagi eksploitasi. Tradisi yang sehat menjelaskan tujuan, membagi tugas secara wajar, serta menjaga martabat setiap santri tanpa pengecualian dan penghinaan.
Dalam Adab al-Dunya wa al-Din (Dar Maktabat al-Hayat, 1986), al-Mawardi menghubungkan keteraturan hidup dengan adab dan tanggung jawab. Roan memberi bentuk nyata pada gagasan itu. Disiplin bukan sekadar patuh ketika diawasi pengurus, melainkan kesediaan menjaga kebersihan bahkan ketika tak seorang pun mencatat siapa yang bekerja di halaman.
Mengabdi Sebelum Memimpin
Di masyarakat, orang kerap berlomba menduduki kursi pimpinan, tetapi tidak selalu bersedia mengangkat kursi setelah rapat selesai. Roan menyodorkan sindiran yang tak perlu pengeras suara. Sebelum memerintah orang lain, santri belajar bahwa pekerjaan sederhana tetap harus dikerjakan, bukan dilempar kepada mereka yang dianggap kurang penting.
Matthew B. Crawford melalui Shop Class as Soulcraft (Penguin Press, 2009) mengingatkan nilai pengetahuan yang tumbuh dari kerja tangan dan keterampilan nyata. Sapu, cangkul, dan kain pel bukan lawan kecerdasan. Ketika bekerja, santri belajar membaca keadaan, menyelesaikan masalah, dan memahami bahwa gagasan baik perlu diwujudkan dalam tindakan nyata.
Roan juga dapat menjadi latihan demokrasi sehari-hari. Tugas dibagi, kesepakatan dijaga, dan hasil dinikmati bersama. Jika satu orang terus bekerja sementara yang lain bersembunyi di balik alasan, ketidakadilan segera terlihat. Karena itu, pengurus perlu memberi teladan, bukan hanya meniup peluit seolah sedang memimpin pasukan yang tak boleh bertanya.
Bell Hooks dalam Teaching to Transgress (Routledge, 1994) menempatkan pendidikan sebagai praktik yang membebaskan dan melibatkan manusia secara utuh. Roan akan lebih bermakna jika santri diajak memahami alasan di balik kebiasaan, bukan sekadar disuruh bergerak. Refleksi setelah bekerja mengubah rutinitas menjadi pengalaman yang sungguh mendidik dan membekas.
Richard Sennett dalam The Craftsman (Yale University Press, 2008) menelusuri hubungan antara keterampilan, ketekunan, dan mutu kerja. Pesan roan sejalan dengan gagasan itu. Merawat halaman bukan pekerjaan remeh apabila dilakukan dengan kesadaran. Peradaban sering tumbuh bukan dari kemegahan bangunan, melainkan dari kebiasaan menjaga yang telah dimiliki bersama.
Pada akhirnya, roan mengajarkan bahwa ilmu perlu turun ke tanah dan adab mesti terlihat dalam tindakan. Santri boleh bercita-cita menjadi ulama, pejabat, pengusaha, atau pemimpin masyarakat. Namun, apa pun kelak jabatannya, ia sebaiknya tetap ingat cara memegang sapu. Sebab, mengabdi bukan pekerjaan sebelum sukses, melainkan ukuran kemanusiaan sejati.
