Bikin Laper Antara Hiburan Kuliner dan Etika Programming Media Penyiaran

Mahasiswi - Ilmu Komunikasi Universitas Pamulang
ยทwaktu baca 4 menit
Tulisan dari Elovani Sembiring tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Program kuliner di televisi tidak hanya menjadi tontonan untuk menghibur penonton. Di dalamnya juga terdapat informasi mengenai makanan, menu, harga, hingga tempat makan yang dapat memengaruhi ketertarikan penonton untuk mencoba makanan atau mengunjungi restoran yang ditampilkan. Salah satu program yang menarik untuk diamati adalah Bikin Laper.
Melalui tayangannya, Bikin Laper menggabungkan unsur kuliner dan hiburan. Reaksi pembawa acara ketika mencicipi makanan menjadi salah satu daya tarik karena dapat membuat penonton ikut merasakan suasana yang ditampilkan. Namun, di balik hiburan tersebut, terdapat hal yang perlu diperhatikan, yaitu bagaimana informasi mengenai makanan dan tempat makan disampaikan kepada penonton.
Ketika pembawa acara memberikan komentar mengenai rasa makanan, misalnya mengatakan bahwa suatu makanan sangat enak, komentar tersebut merupakan pengalaman atau pendapat pribadi. Selera setiap orang tentu berbeda sehingga pendapat pembawa acara tidak dapat dianggap sebagai fakta yang berlaku untuk semua orang.
Selain komentar mengenai makanan, informasi seperti harga, lokasi tempat makan, menu, dan informasi lainnya juga perlu disampaikan secara benar. Hal ini penting karena penonton dapat menggunakan informasi dari tayangan sebagai pertimbangan sebelum mengunjungi tempat tersebut.
Program kuliner juga memiliki kemungkinan mengandung unsur promosi. Restoran atau produk makanan yang ditampilkan dapat memperoleh keuntungan dari eksposur di televisi. Karena itu, program perlu memperhatikan batas antara memberikan informasi kepada penonton dan kepentingan komersial.
Jika dilihat dari sisi etika programming media penyiaran, sebuah program tidak hanya dituntut untuk menarik perhatian penonton, tetapi juga memiliki tanggung jawab dalam menyampaikan informasi. Kreativitas tetap diperlukan agar program menarik untuk ditonton, tetapi kreativitas tersebut perlu disertai dengan tanggung jawab.
Salah satu hal yang penting adalah akurasi informasi. Informasi yang bersifat fakta perlu dipastikan kebenarannya sebelum ditayangkan. Hal ini dapat diterapkan pada informasi mengenai nama restoran, alamat, harga, menu, maupun informasi lain yang diberikan kepada penonton.
Selain itu, fakta dan opini juga perlu dibedakan. Dalam program kuliner, opini pembawa acara merupakan bagian dari hiburan dan pengalaman pribadi. Ketika pembawa acara mengatakan bahwa suatu makanan memiliki rasa yang sangat enak, pernyataan tersebut merupakan pendapat pribadi dan bukan fakta yang berlaku untuk semua orang.
Dari sisi kepentingan komersial, programming media juga dapat menghadapi persoalan ketika kepentingan bisnis bertemu dengan etika. Salah satu contohnya adalah hidden advertising, yaitu ketika unsur promosi terdapat dalam sebuah tayangan tetapi tidak terlihat secara jelas sebagai iklan. Hal seperti ini perlu diperhatikan agar penonton tetap dapat membedakan antara informasi dan promosi.
Agar program seperti Bikin Laper tetap menarik sekaligus memperhatikan etika, tim produksi dapat melakukan beberapa hal. Pertama, melakukan verifikasi informasi sebelum tayangan diproduksi dan ditayangkan. Informasi mengenai harga, lokasi, menu, dan informasi lainnya perlu dipastikan sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Kedua, membedakan fakta dan opini. Pembawa acara tetap dapat memberikan komentar secara spontan dan menghibur, tetapi komentar tersebut perlu dipahami sebagai pengalaman pribadi. Sementara itu, informasi faktual harus disampaikan berdasarkan data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Ketiga, menjaga transparansi terhadap unsur promosi. Jika terdapat kerja sama atau kepentingan komersial dengan suatu pihak, penyajiannya sebaiknya tidak membuat penonton kesulitan membedakan antara informasi program dan promosi.
Keempat, melakukan evaluasi secara berkala. Tim produksi dapat mengevaluasi isi program, baik dari segi informasi, etika, maupun respons penonton. Penerapan etika tidak hanya berupa aturan tertulis, tetapi juga membutuhkan pelatihan, diskusi, jalur komunikasi, dan evaluasi secara berkala.
Selain itu, lembaga penyiaran juga perlu memperhatikan aturan penyiaran yang berlaku. Di Indonesia, Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) memiliki peran dalam mengawasi isi siaran dan P3SPS menjadi salah satu acuan bagi lembaga penyiaran dalam menjaga isi program agar sesuai dengan nilai moral, norma kesopanan, dan kepatutan publik.
Hal tersebut penting bagi program kuliner karena restoran atau produk yang ditampilkan dapat memperoleh keuntungan dari eksposur televisi. Karena itu, tim produksi perlu memastikan bahwa tayangan tetap memberikan informasi yang wajar dan tidak hanya menonjolkan sisi positif suatu produk atau tempat demi kepentingan promosi.
Pada akhirnya, Bikin Laper merupakan program kuliner yang menggabungkan informasi dan hiburan dalam satu tayangan. Konsep tersebut membuat penonton dapat memperoleh informasi mengenai makanan dan tempat kuliner dengan cara yang lebih santai dan menarik.
Namun, program seperti Bikin Laper tetap perlu memperhatikan etika programming, terutama dalam hal akurasi informasi, perbedaan antara fakta dan opini, serta keseimbangan antara kepentingan hiburan dan komersial.
Menurut saya, konsep kuliner dan hiburan yang dimiliki Bikin Laper tetap dapat dipertahankan dengan melakukan verifikasi informasi, memberikan batas yang jelas antara opini dan fakta, serta menjaga transparansi terhadap unsur promosi. Dengan demikian, program tidak hanya menarik untuk ditonton, tetapi juga dapat memberikan informasi yang bermanfaat dan membangun kepercayaan penonton.
