Pancasila Dihafal, Aturan Dilanggar, Fenomena ‘Hypocrite Citizenship’

UNIVERSITAS PAMULANG DESAIN KOMUNIKASI VISUAL S1
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Elsa Kurniasari tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap peringatan hari besar nasional, garis waktu (timeline) media sosial kita mendadak memerah-putih. Foto berlatar bendera, unggahan kutipan tokoh bangsa, hingga dokumentasi upacara bendera bertebaran di mana-mana. Di atas kertas dan di layar kaca, nasionalisme kita tampak begitu membumbung tinggi.
Namun, begitu sirene seremoni selesai dan kita kembali ke ruang publik, pemandangan berbanding terbalik justru terjadi.
Orang yang sama yang baru saja khidmat menyanyikan lagu kebangsaan, tanpa ragu menerobos lampu merah, membuang sampah sembarangan, atau meramaikan kolom komentar dengan ujaran kebencian.
Fenomena ini melahirkan satu pertanyaan reflektif: Mengapa begitu banyak dari kita yang terjebak dalam Hypocrite Citizenship (Kewarganegaraan Hipokrit)?
Ketika Nasionalisme Berhenti di Ruang Kelas
Sejak sekolah dasar, kita dilatih menghafal lima sila Pancasila di luar kepala. Kita diajarkan berdiri tegap saat pengibaran bendera dan menghafal nama-nama pahlawan nasional.
Namun, ada rantai yang terputus antara menghafal nilai dan menerapkannya dalam etika publik.
Dalam studi kewarganegaraan, kualitas seorang citizen sejatinya diukur dari active citizenship sejauh mana tindakan sehari-harinya berkontribusi pada ketertiban dan keberadaban lingkungan sekitar.
Sayangnya, nasionalisme di Indonesia kerap disempitkan sekadar formalisme. Selama seseorang ikut upacara, memakai batik, atau memasang bendera di depan rumah, ia merasa sudah menjadi warga negara yang ideal.
Padahal, di balik kepatuhan simbolis itu, ada krisis kesadaran etika publik yang amat mendasar.
3 Gejala 'Hypocrite Citizenship' di Sekitar Kita
Kewarganegaraan hipokrit tidak selalu berbentuk pelanggaran hukum berat seperti korupsi. Sering kali, gejala ini hadir dalam perilaku harian yang kita anggap maklum:
1. Patuh Hanya Saat Diawasi (Opportunistic Compliance)
Lampu merah dipatuhi jika ada Polantas. Helm dipakai jika ada razia. Sampah dibuang pada tempatnya jika ada kamera CCTV. Ketika pengawasan absen, rasa tanggung jawab sosial ikut menguap.
2. Garang di Medsos, Abai di Dunia Nyata
Di ruang digital, netizen begitu cepat menghujat ketidaktertiban publik. Namun di dunia nyata, orang yang sama kerap enggan mengantre dengan sabar, menyerobot trotoar jalan, hingga malas memilah sampah rumah tangga.
3. Nasionalisme Reaktif dan Musiman
Kita mudah terbakar emosi ketika budaya lokal diklaim negara lain atau saat tim nasional berlaga. Namun, rasa "cinta tanah air" itu mendadak hilang saat diminta menjaga fasilitas umum atau membayar kewajiban pajak dengan jujur.
Mengubah Paradigma: Dari "Hafal" Menjadi "Hadir"
Indonesia tidak kekurangan orang yang hafal Pancasila atau pandai berpidato soal kebangsaan. Yang sangat kita butuhkan hari ini adalah warga negara yang konsisten dalam tindakan-tindakan kecil.
