Konten dari Pengguna

Analisis Psikologis Fenomena Meremehkan Pendidikan di Media Sosial

Elsa Nurseha

Elsa Nurseha

Mahasiswi program studi pendidikan ekonomi di universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elsa Nurseha tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Meremehkan Pendidikan di Media Sosial: Analisis Psikologi dan Dampaknya bagi Generasi Muda

Seorang siswa terlihat lebih fokus pada ponsel saat guru menjelaskan di kelas, mencerminkan tantangan pendidikan di era media sosial. Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-berbaju-polo-hitam-putih-di-samping-papan-tulis-159844/
zoom-in-whitePerbesar
Seorang siswa terlihat lebih fokus pada ponsel saat guru menjelaskan di kelas, mencerminkan tantangan pendidikan di era media sosial. Foto oleh Pixabay: https://www.pexels.com/id-id/foto/pria-berbaju-polo-hitam-putih-di-samping-papan-tulis-159844/

Media sosial kini bukan hanya tempat berbagi informasi, tetapi juga arena pembentukan opini dan nilai sosial. Di tengah arus hiburan digital, muncul fenomena baru: meremehkan pendidikan. Candaan seperti “belajar tinggi tapi tetap menganggur” atau “nilai bagus tidak menjamin sukses” banyak berseliweran di berbagai platform. Sekilas terlihat lucu, tetapi secara psikologis, pesan tersebut dapat memengaruhi cara generasi muda memandang makna belajar.

Dalam perspektif psikologi pendidikan, fenomena ini dapat dijelaskan melalui teori social learning dari Albert Bandura, yaitu proses belajar yang terjadi melalui pengamatan terhadap perilaku orang lain. Ketika figur publik atau konten kreator menampilkan narasi negatif tentang sekolah dan pendidikan, remaja cenderung meniru dan menginternalisasi pesan tersebut tanpa disadari.

Fenomena ini kemudian menimbulkan academic disengagement, yakni menurunnya minat dan partisipasi siswa terhadap kegiatan belajar. Siswa menjadi mudah bosan, sulit fokus, dan kehilangan motivasi untuk berprestasi. Dalam jangka panjang, hal ini dapat memengaruhi self-esteem akademik dan orientasi masa depan mereka.

Selain itu, muncul pula persepsi keliru bahwa kesuksesan tidak lagi bergantung pada pendidikan, melainkan pada popularitas di dunia maya. Padahal, pendidikan bukan sekadar tentang memperoleh nilai, melainkan membangun karakter, pola pikir kritis, dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.

Untuk mengatasi hal ini, guru dan orang tua berperan penting dalam membangun literasi digital dan pemikiran kritis di kalangan pelajar. Mereka perlu membimbing siswa agar tidak menelan mentah-mentah informasi dari media sosial dan mampu menilai nilai-nilai yang terkandung di dalamnya. Sekolah juga dapat mengambil langkah proaktif dengan memanfaatkan media sosial sebagai sarana edukasi yang kreatif dan inspiratif, bukan sekadar hiburan.

Pada akhirnya, pendidikan tidak boleh kehilangan martabatnya hanya karena narasi negatif di dunia maya. Justru, di era digital saat ini, memahami psikologi di balik perilaku belajar menjadi kunci agar generasi muda tetap mencintai ilmu dan menghargai proses belajar.