Konten dari Pengguna

Cashless Society: Makin Mudah, Makin Konsumtif?

Elsa Setiawati

Elsa Setiawati

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi universitas Pamulang

·waktu baca 2 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elsa Setiawati tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Cuma Rp20 ribu.” Kalimat sederhana ini mungkin sering muncul ketika seseorang membeli kopi, makanan, ongkos transportasi, atau barang yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan. Di tengah perkembangan cashless society, membayar kini cukup dengan memindai QRIS atau menekan layar ponsel. Yang berubah bukan hanya cara membayar, tetapi juga pengalaman kita ketika mengeluarkan uang. Bank Indonesia mencatat volume transaksi pembayaran digital mencapai 16,07 miliar transaksi pada triwulan II 2026, tumbuh 36,88% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara transaksi QRIS tumbuh 100,12%. Kemudahan ini tentu memberikan banyak manfaat, tetapi sekaligus menghadirkan pertanyaan: ketika uang tidak lagi terlihat secara fisik, apakah kita menjadi lebih mudah mengeluarkannya?

ilustrasi masyarakat di era Cashless Society.
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi masyarakat di era Cashless Society.

Uang digital: praktis, tetapi ada efek lain

Penelitian dalam Journal of Retailing pada 2024 menganalisis 392 ukuran efek dari 71 penelitian mengenai metode pembayaran dan pengeluaran konsumen. Hasilnya menemukan adanya cashless effect, yaitu kecenderungan konsumen membelanjakan lebih banyak ketika menggunakan pembayaran nontunai dibandingkan uang tunai. Namun, efek tersebut tergolong kecil dan dipengaruhi oleh situasi konsumsi serta kondisi ekonomi. Artinya, uang digital bukan penyebab tunggal perilaku konsumtif. Ada faktor lain yang ikut berperan, seperti:

  • Promosi dan cashback yang membuat barang terlihat lebih menarik untuk dibeli.

  • Kemudahan transaksi yang mengurangi hambatan ketika ingin berbelanja.

  • Kebiasaan dan kontrol diri dalam mengatur pengeluaran.

  • Lingkungan sosial yang dapat mendorong seseorang mengikuti tren konsumsi.

Masalahnya bukan ketika seseorang menggunakan QRIS atau dompet digital untuk membayar kebutuhan. Masalah mulai muncul ketika kemudahan tersebut membuat batas antara “butuh” dan “ingin” menjadi semakin tipis. Seseorang yang awalnya tidak berencana membeli sesuatu bisa saja berubah pikiran karena mendapatkan diskon atau cashback. Akhirnya, bukan kebutuhan yang menentukan pembelian, tetapi kesempatan untuk mendapatkan promosi. Di sinilah masyarakat perlu lebih sadar bahwa harga murah tidak selalu berarti pengeluaran yang diperlukan.

Pada akhirnya, yang perlu dikendalikan bukan teknologinya

Pembayaran digital tetap memiliki manfaat besar bagi masyarakat. Transaksi menjadi lebih cepat, praktis, dan dapat digunakan oleh berbagai jenis usaha. Karena itu, menganggap uang digital sebagai penyebab masyarakat menjadi konsumtif tentu terlalu sederhana. Teknologinya tidak perlu dihindari, tetapi cara menggunakannya perlu lebih bijak. Sebelum menekan tombol bayar, konsumen dapat membiasakan diri bertanya: Apakah saya benar-benar membutuhkan barang ini? Apakah saya membelinya karena kebutuhan atau karena promosi? Apakah pengeluaran ini sesuai dengan anggaran saya? Pertanyaan sederhana tersebut penting karena di era ketika transaksi hanya membutuhkan beberapa detik, keputusan untuk membeli juga dapat terjadi tanpa banyak pertimbangan. Uang digital boleh membuat pembayaran semakin mudah, tetapi jangan sampai membuat kita semakin sulit mengatakan “tidak perlu membeli”.