Efek Mendaki Gunung untuk Orang yang Sedang Menjalani Life After Break Up

Mahasiswa Universitas Pamulang Prodi Ekonomi Syariah
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Elsea Ramadhani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Belakangan ini, mendaki gunung sering menjadi salah satu pilihan anak muda untuk melewati masa life after break up. Setelah hubungan yang dijalani bertahun-tahun berakhir, ada yang memilih menyibukkan diri, pergi bersama teman-teman, atau mencari suasana baru dengan mendaki gunung. Katanya, biar yang sakit hati nggak cuma hati, tetapi kaki juga ikut merasakan capeknya.
Terdengar lucu, tetapi di balik itu, ada keinginan untuk menjauh sebentar dari rutinitas, kenangan, dan pikiran yang terus kembali kepada orang yang sama. Apalagi ketika hubungan berakhir setelah sekian lama bersama, rasanya bukan cuma kehilangan pasangan, tetapi juga kehilangan kebiasaan dan tempat bercerita.
Namun, sebenarnya bagaimana cara menikmati pendakian ketika pikiran masih dipenuhi urusan hati?
Jangan Jadikan Gunung Tempat untuk Lari dari Perasaan
Mendaki gunung memang bisa menjadi pengalaman yang menyenangkan, tetapi bukan berarti semua masalah akan hilang begitu saja setelah sampai di puncak. Jangan sampai sepanjang perjalanan justru terus memikirkan mantan, membandingkan diri dengan orang lain, atau berharap setelah turun gunung perasaan langsung membaik.
Cobalah menikmati perjalanan tanpa menuntut diri sendiri untuk langsung sembuh. Kalau masih sedih, ya nggak apa-apa. Kamu nggak harus berpura-pura bahagia hanya karena sedang berada di tempat yang indah.
Nikmati Perjalanannya, Bukan Cuma Puncaknya
Kadang, kita terlalu fokus pada tujuan sampai lupa menikmati prosesnya. Begitu juga setelah putus cinta, kita sering terburu-buru ingin melupakan, ingin cepat bahagia, atau ingin membuktikan bahwa kita baik-baik saja.
Padahal, ada banyak hal kecil yang bisa dinikmati selama pendakian, mulai dari bercanda bersama teman, melihat pemandangan, menikmati udara pagi, sampai beristirahat setelah melewati tanjakan yang melelahkan.
Nggak perlu sibuk membuat semuanya terlihat baik-baik saja di media sosial. Sesekali, nikmati saja momennya tanpa harus memikirkan siapa yang akan melihat atau siapa yang ingin dibuat menyesal.
Boleh Sakit Hati, Asal Jangan Lupa Jaga Diri
Ada anggapan bahwa semakin berat perjalanan yang dilewati, semakin mudah pula seseorang melupakan masalahnya. Padahal, mendaki gunung bukan tentang menyiksa diri supaya rasa sakit hati terasa lebih ringan.
Kalau lelah, istirahat. Kalau kondisi tubuh sudah nggak memungkinkan, jangan memaksakan diri hanya demi mencapai puncak. Pastikan juga mendaki bersama teman yang bisa saling menjaga, mengikuti jalur resmi, dan memperhatikan kondisi cuaca.
Ingat, tujuan mendaki adalah menikmati perjalanan dan mendapatkan pengalaman baru, bukan menambah masalah baru. Hati yang sedang berantakan tetap membutuhkan tubuh yang sehat dan pikiran yang aman.
Pulang Bukan Berarti Harus Sudah Melupakan
Mungkin setelah turun gunung, kamu masih teringat orang yang sama. Mungkin lagu yang biasa didengarkan bersama masih terasa menyakitkan, atau kenangan lama masih muncul ketika sedang sendirian.
Itu bukan berarti pendakianmu sia-sia. Kamu nggak harus pulang sebagai orang yang sudah sepenuhnya sembuh. Cukup pulang dengan pengalaman baru, cerita yang bisa dikenang, dan kesadaran bahwa kamu masih bisa menikmati hidup meskipun seseorang sudah nggak lagi menjadi bagian di dalamnya.
Biar yang sakit hati, yang capek kaki. Tapi jangan sampai kaki dipaksa mendaki, sementara hati masih sibuk mencari alasan kenapa semuanya harus berakhir. Sebab, life after break up bukan tentang seberapa cepat kita menemukan pengganti, melainkan bagaimana kita kembali menemukan diri sendiri. Terkadang, kita memang perlu pergi sedikit lebih jauh untuk menyadari bahwa kehidupan yang indah masih menunggu untuk dijalani.
