Jalan Sunyi Menuju Harapan

Sebagai mahasiswi di universitas Pamulang, Tangerang selatan, jurusan pendidikan Ekonomi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Elva Rajandini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Oleh: [Elva Rajandini]
Di sebuah sudut pelosok negeri, anak-anak kecil duduk bersila di atas tanah. Dinding kelas mereka dari bambu, atapnya daun rumbia, dan papan tulisnya mulai retak dimakan usia. Namun, di mata mereka, ada cahaya yang tak bisa dibohongi: harapan.
Harapan bahwa suatu hari nanti, mereka bisa menjadi guru, dokter, atau insinyur. Bukan untuk mengejar status, tapi karena mereka ingin mengubah nasib bukan hanya milik mereka sendiri, tapi juga keluarga dan kampung halaman.
Di kota-kota besar, pendidikan hadir dengan rupa yang berbeda. Gedung sekolah menjulang, fasilitas lengkap, dan akses terhadap teknologi tak terbatas. Tapi ironisnya, kadang justru di tempat itu semangat belajar terkikis oleh tekanan angka, peringkat, dan ambisi tanpa arah.
Pendidikan kita di mana pun dan bagaimana pun bentuknya seharusnya tidak semata-mata soal nilai di kertas. Pendidikan adalah soal menyalakan pikiran, merawat nurani, dan membangun karakter. Ia tidak hanya mengajarkan bagaimana caranya menjawab soal, tapi juga bagaimana cara bertanya. Tidak sekadar menghafal, tapi mengerti. Tidak hanya menjadi pintar, tapi menjadi bijak.
Sayangnya, tidak semua orang mendapat kesempatan yang sama. Ada yang harus putus sekolah karena biaya. Ada yang harus memilih bekerja daripada belajar. Ada pula yang kehilangan semangat karena sistem yang lebih sibuk mengejar ranking daripada menumbuhkan makna.
Tapi di balik semua itu, selalu ada sosok yang menjadi pelita. Guru-guru yang dengan sabar mengabdi, meski gaji tak seberapa. Orang tua yang rela berkorban, walau hidup pas-pasan. Anak-anak yang tetap semangat belajar, walau harus berjalan berkilo-kilo meter menembus hujan dan terik.
Mereka mengingatkan kita bahwa pendidikan bukan hanya urusan sekolah dan kurikulum. Pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Sebab masa depan bangsa tidak lahir dari gedung megah, tetapi dari jiwa-jiwa yang terus belajar, bertanya, dan bermimpi.
Pendidikan sejati tidak mencetak manusia seragam. Ia membebaskan. Ia membentuk manusia yang tahu siapa dirinya, mengerti dunianya, dan siap memberi makna bagi sesamanya.
Jadi, setiap kali kita bertanya apa arti pendidikan, ingatlah: pendidikan adalah nyawa dari harapan. Ia bukan akhir dari perjuangan, tapi awal dari segala kemungkinan.
Artikel ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pendidikan Kewarganegaraan yang diampu oleh Bapak Mawardi Nurullah,S.Pd., M.Pd. Penulisan artikel ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran membaca tentang kondisi dan tantangan sistem pendidikan di Indonesia yang masih banyak menggunakan metode lama dan kurang mengakomodasi kebutuhan perkembangan zaman.
Artikel ini disusun oleh Elva Rajandini, mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Program studi Pendidikan Ekonomi, Universitas pamulang,Tangerang selatan. Diharapkan melalui tulisan ini,pembaca dapat memahami bahwa Pendidikan di Indonesia yang masih banyak menggunakan metode lama dan kurang mengakomodasikan kebutuhan perkembangan zaman.
