Perluasan Instrumen Operasi Moneter BI dan Dampaknya terhadap Pasar Keuangan
Tulisan dari Elvira Putri Arini tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Perluasaan operasi moneter Bank Indonesia untuk meningkatkan fleksibilitas pengelolaan likuiditas dan memperdalam pasar keuangan

Bank Indonesia (BI) memperluas jenis surat berharga yang dapat digunakan sebagai underlying dalam operasi moneter dengan memasukkan obligasi dan sukuk korporasi berkualitas tinggi. Kebijakan ini merupakan bagian dari upaya Bl untuk membuat operasi moneter lebih berorientasi pada mekanisme pasar atau pro-market. Langkah tersebut menarik untuk diperhatikan karena operasi moneter tidak hanya berkaitan dengan penetapan suku bunga, tetapi juga dengan bagaimana Bl mengelola likuiditas perbankan dan menjaga agar pasar keuangan tetap berjalan dengan baik.
Berdasarkan data yang disampaikan BI, kebijakan tersebut mulai menunjukkan perkembangan di pesar keuangan. Volume transaksi surat berharga PT SMF di pasar sekunder meningkat cukup besar, dari rata-rata Rp31,9 miliar per hari pada Oktober 2025 menjadi Rp179,9 miliar per hari pada akhir Agustus 2026. Pada periode yang sama, kepemilikan obligasi PT SMF oleh perbankan juga meningkat 18 persen, dari Rp8,69 triliun menjadi Rp10,22 triliun. Peningkatan tersebut menunjukkan bahwa aktivitas perdagangan surat berharga korporasi di pasar keuangan mulai berkembang.
Menurut saya, kebijakan ini dapat dilihat sebagai upaya Bl untuk memperluas instrumen dalam mengelola likuiditas perbankan Selama ini, ketika membahas kebijakan moneter, masyarakat lebih sering mengenal BI-Rate sebagai salah satu instrumen utama. Padahal, BI juga memiliki operasi moneter yang digunakan untuk memengaruhi kondisi likuiditas di pasar uang. Dengan semakin banyaknya surat berharga yang dapat digunakan dalam operasi moneter, Bl memiliki pilihan instrumen yang lebih beragam dalam menjalankan kebijakannya.
Perluasan instrumen tersebut juga dapat memberikan ruang yang lebih besar bagi perbankan dalam mengelola dan menempatkan dananya. Ketika surat berharga korporasi semakin aktif diperdagangkan, pasar sekunder menjadi lebih likuid sehingga bank memiliki lebih banyak pilihan dalam mengelola asetnya. Kondisi ini pada akhirnya dapat membantu memperdalam pasar keuangan Indonesia.
Namun, peningkatan fleksibilitas dalam pengelolaan likuiditas juga perlu disertai dengan pengawasan yang baik. Likuiditas yang lebih longgar memang dapat membantu mendukung kegiatan ekonomi dan penyaluran pembiayaan. Namun, apabila pertumbuhan likuiditas tidak sejalan dengan perkembangan kegiatan ekonomi, kondisi tersebut tetap dapat menimbulkan tekanan terhadap stabilitas harga dan stabilitas keuangan. Karena itu, kebijakan operasi moneter perlu tetap sejalan dengan upaya Bl dalam menjaga stabilitas nilai Rupiah dan sistem keuangan.
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah kualitas surat berharga yang digunakan Ketika obligasi dan sukuk korporasi dimasukkan sebagai underlying dalam operasi moneter, BI perlu memastikan bahwa instrumen tersebut memenuhi persyaratan kualitas dan memiliki risiko yang dapat dikelola. Semakin beragam jenis aset yang digunakan, semakin penting pula penerapan prinsip kehati-hatian agar kebijakan tersebut tidak menimbulkan risiko baru bagi sistem keuangan Dengan demikian, fleksibilitas dalam operasi moneter perlu berjalan beriringan dengan pengelolaan risiko yang baik.
Kebijakan ini juga menunjukkan bahwa pasar keuangan tidak hanya menjadi tanggung jawab Bl, tetapi membutuhkan koordinasi dengan pemerintah dan lembaga terkait, seperti Kementerian Keuangan dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Pasar keuangan yang semakin aktif dapat memberikan lebih banyak pilihan pembiayaan bagi sektor ekonomi. Namun, perkembangan tersebut tetap membutuhkan aturan, pengawasan, dan informasi yang memadai agar kepercayaan pelaku pasar tetap terjaga.
Pada akhirnya, perluasan underlying operasi moneter dapat dipandang sebagai langkah Bl untuk menyesuaikan instrumen kebijakan moneter dengan perkembangan pasar keuangan Indonesia Peningkatan transaksi surat berharga PT SMF dan kepemilikan bank menunjukkan adanya respons positif dari pasar. Namun, dampak kebijakan ini tidak cukup dinilai hanya dari meningkatnya volume transaksi. Hal yang lebih penting adalah apakah kebijakan tersebut mampu membuat pengelolaan likuiditas menjadi lebih efektif, memperdalam pasar keuangan, serta tetap menjaga stabilitas ekonomi. Oleh karena itu, keberhasilan kebijakan ini akan sangat bergantung pada kemampuan BI dalam menjaga keseimbangan antara fleksibilitas operasi moneter, perkembangan pasar keuangan, dan stabilitas nilai Rupiah
Referensi : Bank Indonesia. (2026, 1 Oktober). Perluasan Surat Berharga Korporasi Berkualitas Tinggi sebagai Underlying Operasi Moneter. Siaran Pers No. 28/207/DKom. Departemen Komunikasi Bank Indonesia. Bank Indonesia. (2026). Operasi Moneter. Bank Indonesia.

