Konten dari Pengguna

BI-Rate Tetap 5,75 Persen, Haruskah Masyarakat Menahan Belanja?

Elyya Tanjung

Elyya Tanjung

Mahasiswa Pendidikan Ekonomi, Universitas Negeri Jakarta

ยทwaktu baca 3 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elyya Tanjung tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi BI-Rate 5,75 persen dan konsumsi masyarakat. Gambar dibuat menggunakan AI oleh penulis.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi BI-Rate 5,75 persen dan konsumsi masyarakat. Gambar dibuat menggunakan AI oleh penulis.

Bank Indonesia kembali mempertahankan BI-Rate di level 5,75 persen pada September 2026. Kebijakan ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan inflasi di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih tinggi.

Bagi masyarakat, keputusan tersebut mungkin terlihat sebagai angka biasa. Padahal, suku bunga dapat memengaruhi keputusan untuk mengambil kredit, membeli barang secara cicilan, sampai melakukan investasi. Menurut saya, bunga yang relatif tinggi memang bisa membuat sebagian masyarakat lebih berhati-hati dalam membelanjakan uang, tetapi belum berarti masyarakat berhenti berbelanja.

Ketika Bunga Tinggi Membuat Orang Berpikir Dua Kali

Ketika bunga pinjaman tinggi, biaya cicilan juga dapat menjadi lebih besar. Kondisi ini bisa membuat masyarakat menunda pembelian rumah, kendaraan, atau barang lain yang membutuhkan pembiayaan.

Pelaku usaha juga bisa merasakan dampaknya. Biaya pinjaman yang lebih mahal dapat membuat sebagian usaha menunda ekspansi atau pembelian peralatan baru.

Dari sini terlihat bahwa kebijakan suku bunga tidak hanya berkaitan dengan perbankan. Keputusan BI pada akhirnya dapat memengaruhi aktivitas masyarakat dan dunia usaha.

Masyarakat Masih Cukup Optimistis

Namun, data terbaru belum menunjukkan bahwa masyarakat secara umum mulai menahan konsumsi secara besar-besaran.

Survei Konsumen BI mencatat Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) Agustus 2026 sebesar 118,5, naik dari 116,8 pada Juli. Angka di atas 100 menunjukkan konsumen masih berada dalam kondisi optimistis.

Kredit perbankan juga masih tumbuh 13,65 persen secara tahunan pada Agustus 2026. Kredit konsumsi tumbuh 5,07 persen, sedangkan kredit investasi tumbuh lebih tinggi, yaitu 25,11 persen.

Artinya, bunga 5,75 persen belum membuat aktivitas kredit berhenti. Masyarakat dan dunia usaha masih menggunakan pembiayaan, meskipun keputusan mengambil kredit tentu tetap dipengaruhi oleh kemampuan membayar dan kondisi ekonomi.

Jangan Sampai Menjaga Bunga Terlalu Lama

Menurut saya, mempertahankan BI-Rate 5,75 persen saat ini masih bisa dipahami. Inflasi September 2026 tercatat 3,28 persen dan masih berada dalam sasaran BI sebesar 2,5 persen plus minus 1 persen. Namun, BI juga masih menghadapi tekanan terhadap rupiah dan ketidakpastian ekonomi global.

Masalahnya, suku bunga yang terlalu lama berada pada level tinggi dapat membuat masyarakat dan pelaku usaha semakin berhati-hati. Jika konsumsi dan investasi ikut tertahan, pertumbuhan ekonomi juga bisa kehilangan sebagian momentumnya.

Padahal, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 masih tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Pertumbuhan ini perlu dipertahankan, bukan hanya melalui belanja pemerintah, tetapi juga melalui konsumsi masyarakat dan investasi dunia usaha.

Stabilitas Penting, Konsumsi Juga Penting

Menurut saya, keputusan BI mempertahankan bunga 5,75 persen masih tepat untuk saat ini. Namun, kebijakan tersebut sebaiknya terus dievaluasi.

Jika tekanan terhadap rupiah mulai mereda dan inflasi tetap terkendali, BI perlu mempertimbangkan ruang untuk menurunkan suku bunga. Tujuannya bukan sekadar membuat masyarakat lebih banyak berbelanja, tetapi memberikan biaya pembiayaan yang lebih terjangkau bagi rumah tangga dan dunia usaha.

Pada akhirnya, suku bunga bukan hanya angka dalam laporan ekonomi. Di baliknya ada keputusan masyarakat untuk membeli rumah, mengambil kendaraan, mengembangkan usaha, atau justru menunda semuanya. Karena itu, menjaga stabilitas memang penting, tetapi jangan sampai kebijakan tersebut terlalu lama membuat masyarakat dan dunia usaha memilih untuk menunggu.