Konten dari Pengguna

Di Balik Label Mahasiswa Kupu-Kupu: Cerita Kuliah, Kerja, dan Kewarasan

Elza Ramona

Elza Ramona

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar

·waktu baca 8 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elza Ramona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mahasiswa melakukan kunjungan ke Balai Peslestarian Arsip (Sumber: Dokumen Pribadi)
zoom-in-whitePerbesar
Mahasiswa melakukan kunjungan ke Balai Peslestarian Arsip (Sumber: Dokumen Pribadi)

Di tengah stigma menjadi "mahasiswa kupu-kupu", banyak yang diam-diam bergulat dengan tekanan kuliah, kerja, dan kesehatan mentalnya sendiri.

Berapa banyak dari kita yang pernah merasa bersalah hanya karena tidur siang? Isu kesehatan mental terus menguat dan sering kali dibahas serta dibicarakan oleh berbagai kalangan, tak terkecuali mahasiswa. Entah itu di pelataran kampus, kafe, warung kopi, ataupun angkringan. Isu ini semakin intens dibicarakan ketika kasus bunuh diri di kalangan mahasiswa naik ke permukaan. Berbagai opini bermunculan, menyoroti peristiwa yang jarang sekali eksis di ruang yang sangat publik.

Hal itu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan media sosial yang hampir dimiliki oleh sebagian besar masyarakat Indonesia. Di zaman yang serba "digital" ini, mahasiswa tidak hanya kegandrungan isu kesehatan mental, tapi tanpa disadari sebagian dari mereka pernah mengalaminya.

Kekhawatiran ini bukan tanpa dasar. Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Bareskrim Polri mencatat setidaknya 849 kasus bunuh diri di Indonesia sepanjang Januari-Agustus 2024, dan sekitar 8,8 persen atau 75 kasus di antaranya dialami kelompok usia 17-25 tahun, rentang usia yang beririsan langsung dengan masa kuliah.

Angka itu terus membengkak menjadi 1.455 kasus sepanjang tahun 2024, naik sekitar 100 kasus dibanding tahun sebelumnya, seperti dipaparkan dalam forum diskusi Keluarga Alumni Universitas Gadjah Mada (Kagama) mengenai krisis kesehatan jiwa. Sejumlah kasus dugaan bunuh diri mahasiswa di kampus-kampus besar turut mewarnai catatan itu, mulai dari Semarang, Surabaya, hingga Jakarta, dalam rentang waktu yang berdekatan pada penghujung 2024.

Media sosial menjadi ruang yang aneh sekaligus akrab bagi mahasiswa. Di satu sisi, media sosial menjadi tempat mengeluh dan mencari teman senasib, di sisi lain menjadi tempat membandingkan diri dengan kehidupan orang lain yang terlihat serba baik-baik saja. Istilah seperti "self-love", "healing", atau "burnout" bersliweran di linimasa, kadang sekadar tren ikut-ikutan tanpa benar-benar dipahami maknanya.

Laporan Digital 2025 Global Overview yang dirilis We Are Social bersama Meltwater mencatat pengguna media sosial di Indonesia pada awal 2025 mencapai 143 juta orang, setara 50,2 persen dari total populasi, dengan rata-rata durasi penggunaan media sosial sekitar 188 menit atau lebih dari tiga jam per hari, salah satu yang tertinggi di dunia. Waktu sebanyak itu, yang sebagian besar tersita untuk melihat unggahan orang lain, turut membuka ruang bagi perbandingan sosial yang diam-diam perlahan tapi pasti bisa merenggut rasa percaya diri mahasiswa.

Kuliah dan Kesehatan Mental

Perkuliahan sejatinya merupakan jenjang untuk meningkatkan daya kritis dan pengendalian diri ketika terjun ke masyarakat. Tidak jarang dalam menjalaninya, mahasiswa sering kali mengalami kesulitan. Masalah yang sering dialami adalah ketakutan akan stigma sebagai "mahasiswa kupu-kupu" (mahasiswa kuliah pulang-kuliah pulang), sehingga tidak sedikit mahasiswa kemudian "memaksakan" dirinya untuk menyibukkan diri agar "terlihat" aktif dengan mengikuti berbagai kegiatan ekstra kampus. Tidak jarang mereka memberikan porsi yang lebih besar pada kegiatan kampus daripada kuliah, atau sebaliknya. Mengikuti kegiatan ekstra kampus pun terkadang hanya untuk menitipkan nama dan bahan untuk mengisi portofolio.

Stigma semacam ini tidak lahir begitu saja. Pandangan itu dibentuk oleh cara pandang bahwa nilai seorang mahasiswa diukur dari seberapa penuh jadwal dan seberapa banyak organisasi yang diikuti, tanpa pernah mempertanyakan apakah kesibukan itu benar-benar bermakna. Akibatnya, tidak sedikit mahasiswa menjalani aktivitas karena takut dicap tidak produktif, dan tekanan itu pelan-pelan menggerus kesehatan mental mereka.

Data survei berskala nasional turut menguatkan gambaran ini. Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) yang digagas Universitas Gadjah Mada bersama University of Queensland dan Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menemukan bahwa satu dari tiga remaja usia 10-17 tahun di Indonesia, setara 15,5 juta jiwa, mengalami setidaknya satu masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir.

Gangguan kecemasan tercatat sebagai yang paling banyak dialami yakni 3,7 persen, disusul gangguan depresi mayor sebesar 1 persen. Meski survei ini menyasar usia remaja, pola serupa lazim terbawa hingga masa transisi ke bangku kuliah, ketika tekanan akademik dan sosial justru semakin kompleks. Sayangnya, menurut peneliti utama I-NAMHS, hanya sedikit dari mereka yang benar-benar mencari bantuan profesional meski akses layanan kesehatan sudah kian diperluas pemerintah.

Sebagian dari mahasiswa kemudian juga rela bekerja nyambi kuliah untuk memenuhi tuntutan tersebut (bukan mereka yang memang secara sadar memilih, dan bukan pula mereka yang bekerja karena tuntutan ekonomi),

demi terhindar dari label "mahasiswa kupu-kupu". Salah seorang perempuan muda, Zulai (24, nama disamarkan), merupakan teman penulis, pernah bercerita bahwa ia sering merasa bersalah ketika sebagian waktunya dihabiskan untuk tidur siang, padahal sebelum-sebelumnya biasa saja.

"Aku itu Mbak, habis bangun itu, merenung dulu, terus kayak ngerasa bersalah gitu. Daripada tidur bisa ngapain gitu. Aku ngerasa kayak gak guna gitu lho, orang pada kerja sibuk ini, sibuk itu, kita cuma tidur-tiduran doang," tuturnya saat bertemu di sebuah warung kopi pada suatu pagi menjelang siang. Padahal, pada saat itu banyak tugas kuliah yang menantinya. Mengerjakan tugas kuliah saja baginya tidak cukup, bisa dibilang tidak membuatnya terlihat "sibuk."

Perasaan itu semakin sering dialami ketika seseorang sering mengecek media sosialnya, melihat status-status temannya yang penuh dengan kegiatan dan "kesibukan." Tak pelak, itu semakin membuatnya mempertanyakan keberadaan dirinya sendiri. "Kok aku kayak gak guna ya?" tanya Zulai pada dirinya sendiri.

Rasa bersalah semacam itu bukan hal aneh. Banyak mahasiswa lain mengalami pola pikir serupa, seperti merasa waktu istirahat harus "dibayar" dengan kesibukan lainnya, atau terus membandingkan pencapaian diri dengan orang-orang di sekitarnya. Jika dibiarkan, pola pikir ini bisa berubah menjadi beban psikologis yang tidak ringan.

Kuliah vs Kerja/Organisasi

Zulai sendiri sempat bingung apakah akan melanjutkan kerja atau fokus kuliah saja, sebab menyambi keduanya sekaligus rasanya tidak mungkin, mengingat jarak antara kampus dan tempat kerjanya di kampung halaman lumayan jauh. Menurutnya, ia harus menghabiskan waktu kurang lebih 5 jam perjalanan dari kampus ke rumah sekaligus tempat kerjanya, jika menggunakan sepeda motor. Sedangkan perkuliahan bisa dibilang berlangsung penuh lima hari, dan jika beruntung bisa menjadi tiga hari saja.

Dilema semacam ini dialami banyak mahasiswa lain dengan versi masing-masing. Ada yang memilih antara kerja paruh waktu dan organisasi, ada yang memilih antara organisasi dan skripsi. Yang sering luput dibicarakan adalah bagaimana proses memilih itu sendiri kerap menimbulkan rasa cemas dan bersalah, seolah apa pun yang dipilih akan selalu terasa kurang.

Begitu juga dengan teman yang lain, Wulan (24, nama disamarkan), yang lebih memilih melepas pekerjaan demi kelancaran menulis tugas akhir. Jika dipikir-pikir, pekerjaan Wulan yang freelance sebenarnya tidak terlalu membebani bila dilakukan nyambi kuliah. "Gak kerja aja keteteran, apalagi nyusun pas sambil kerja," ujarnya saat ditanya apakah akan melanjutkan bekerja sambil kuliah. Wulan merasa walaupun pekerjaannya freelance, tetap saja menyita banyak waktu dan pikirannya, sehingga tenaganya habis untuk bekerja, dan kuliah yang sedang dijalaninya jadi terganggu serta keteteran.

Keputusan Wulan untuk melepas pekerjaan demi tugas akhir sebetulnya tidak mudah, sebab ada rasa sayang meninggalkan penghasilan. Namun ia memilih memprioritaskan kewarasannya sendiri, memastikan satu hal selesai dengan baik daripada memaksakan dua hal berjalan setengah-setengah. Sebuah pilihan yang membutuhkan keberanian tersendiri, sebab di tengah budaya yang mengagungkan kesibukan, memilih "melambat" sering dianggap kegagalan.

Tirakatan ala Mahasiswa Kupu-Kupu

“Menjadi mahasiswa, kukira, akan seindah foto wisuda yang nantinya dipajang di dinding media sosial.”

Menjadi mahasiswa mempunyai tanggung jawab yang besar, tidak hanya belajar di dalam kelas dan mengandalkan materi dari dosen. Tentu kita tidak bisa begitu saja memandang jelek, buruk, atau tidak baiknya mahasiswa kupu-kupu. Dalam artian, tidak bisa melihat dari satu sisi saja, misalnya hanya dari ikut dan bergabungnya mahasiswa ke organisasi tertentu. Tentu tidak.

Label "kupu-kupu" itu sendiri lebih banyak lahir dari kacamata orang lain ketimbang dari kesadaran mahasiswa yang bersangkutan. Ada anggapan bahwa hanya aktivitas yang "terlihat" yang layak dianggap sebagai bentuk keseriusan menjalani masa kuliah, padahal tidak semua proses harus terlihat ramai untuk bisa disebut bermakna.

Menarik sebenarnya apa yang dilakukan mahasiswa kupu-kupu. Mereka tidak hanya sekadar pulang setelah selesai perkuliahan, tapi ada yang diam-diam sedang mereka bangun. Konsistensi mengerjakan tugas kuliah dengan baik, membaca buku, menulis artikel ilmiah dan artikel populer, belajar bahasa asing, dan tidak jarang juga membangun hubungan sosial yang sehat dengan masyarakat sekitar.

Kegiatan-kegiatan semacam itu jarang menghasilkan sertifikat atau dokumentasi yang bisa dipamerkan, sehingga sering luput dari perhitungan sebagai "pencapaian". Padahal justru di situlah konsistensi yang sesungguhnya diuji agar mengerjakan sesuatu bukan untuk dilihat orang lain, melainkan untuk pertumbuhan diri sendiri.

Mahasiswa kupu-kupu tidak melulu tentang mereka yang hanya terlihat oleh mata sebagai kuliah-pulang-kuliah-pulang saja. Kini, tidak sesederhana itu kita melihatnya. Ada perkembangan positif yang diberikan mahasiswa semacam ini. Di ruang kuliah pun mereka tidak asal datang, ada bekal bacaan yang mereka bawa sebelum kelas dimulai. Ini yang barangkali mestinya dilihat pada mahasiswa kupu-kupu ini.

Pada akhirnya, baik yang sibuk berorganisasi, yang menyambi kerja, maupun yang memilih pulang setelah kuliah, semuanya sedang mencari cara masing-masing untuk bertahan waras di tengah tuntutan dari berbagai arah. Jejaring kewarasan yang sesungguhnya barangkali bukan soal seberapa banyak kegiatan yang diikuti, melainkan seberapa jujur seorang mahasiswa terhadap batas kemampuannya sendiri, dan seberapa berani ia berhenti sejenak ketika memang dibutuhkan, tanpa harus merasa bersalah karenanya.