Konten dari Pengguna

Membaca Buku Untuk Adil Gender

Elza Ramona

Elza Ramona

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Elza Ramona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Mari kita mulai tulisan ini dengan me-refresh ingatan kita tentang kata mutiara berikut ini:

“Buku adalah jembatan ilmu”

Sumber: Dokumentasi Pribadi
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Dokumentasi Pribadi

Kita mungkin tidak asing lagi dengan kata mutiara itu. Sama seperti kata mutiara buku adalah jendela dunia. Kata-kata mutiara itu mungkin bagi sebagian kita sudah terlalu jadul (jaman dulu) dan jarang sekali muncul kepermukaan dalam obrolan-obrolan santai sampai obrolan serius kita. Bagi sebagian kita mungkin buku cetak sudah tergantikan dengan canggihnya perangkat yang biasa kita bawa kemana saja. Pada akhirnya buku cetak ini hanya tersimpan rapi dan terkadang sedikit berdebu di rak-rak perpustakaan. Namun, siapa sangka dari benda yang kita sebut buku itulah, kita bisa menemukan pencerahan atas dilema panjang kehidupan. Kehidupan yang jarang kita pertanyakan. Apakah yang kita jalani sudah benar dan tidak ada yang tersakiti? Apakah kita selama ini baik-baik saja menjalani kehidupan? Dengan serentak sebagian kita dengan lantang menjawab “iya”, lalu kenapa kita masih merasa ada yang menganjal pikiran kita, langkah kita, dan hidup kita. Bukankah itu berarti ada yang salah dengan kehidupan dan lingkungan sekeliling kita.

Disinilah pentingnya kita membaca buku sebanyak-banyaknya dan merealisasikannya dalam kehidupan. Indonesia sendiri menempati posisi kedua sebagai negara dengan perpustakaan terbanyak di dunia, dengan jumlah 164.610 perputakaan yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Banyaknya perpustakaan di Indonesia harusnya berbanding lurus dengan minat baca masyarakatnya. UNESCO menyebutkan bahwa tingkat literasi di Indonesia hanya 0,001 persen. Hal itu menunjukkan bahwa dari 1000 orang diseluruh Indonesia hanya satu orang saja yang rajin membaca. Hasil survei yang dilakukan Program for International Student Assessment (PISA) juga menunjukkan angka yang rendah, yang mana Indonesia menempati posisi 62 dari 70 negara dengan tingkat literasi yang tinggi. Artinya Indonesia termasuk 10 negara terbawah tingkat literasinya. Rendahnya minat baca masyarakat dapat menjadi salah satu faktor rendahnya partisipasi dan kurangnya pemahaman masyarakat terkait isu-isu gender. Salah satu penopang terbentuknya lingkungan adil gender menurut saya adalah dari membaca, terutama membaca buku.

Buku "Daras" Untuk Pemula

Buku dapat digambarkan seperti ibu bumi. Ia membantu kita tumbuh dan berkembang. Buku juga membantu menjaga ingatan kita dari ketidakpedulian pada realitas kehidupan. Salah satu buku yang kemudian dapat membuka cakrawala kita tentang kehidupan, khususnya isu-isu gender adalah Analisis Gender dan Transformasi Sosial karangan Mansour Fakih. Bagi kalangan akademisi, aktivis dan orang-orang yang tanggap dan kritis akan isu gender, tentu buku itu tidak asing lagi. Buku itu merupakan buku "daras" yang dapat memberikan pencerahan kepada siapa saja tentang gender dan permasalahan yang mengelilinginya. Kita dapat berkenalan secara langsung dengan adil gender melalui buku itu.

Sebagai buku "daras", hal-hal yang dibahas dalam buku Analisis Gender dan Tranformasi Sosial tidak jauh-jauh dari definisi konsep gender dan permasalahan yang timbul disebabkan perbedaan gender, kemudian dibahas juga gerakan transformasi yang dilakukan oleh perempuan, dan hegemoni maskulinitas serta kelahiran gerakan perempuan. Tidak ketinggalan pembahasan analisis gender dan tafsir agama juga menjadi bahasan khusus dalam buku ini. Tinjauan struktural terhadap buruh perempuan juga dibahas, selanjutnya buku ditutup dengan pembahasan tentang emansipasi kaum perempuan sebagai sebuah refleksi dan agenda mendesak. Meskipun Analisis Gender dan Transformasi Sosial termasuk buku teori, akan tetapi bahasa yang digunakan penulis sangat mudah dipahami dan dicerna. Kita sebagai pembaca langsung bisa menangkap apa yang ingin disampaikan penulis.

Buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial dapat dikatakan masterpeacenya Mansour Fakih. Lewat buku itu kita kemudian berani mentransformasi kehidupan kita. Tidak hanya sekedar transformasi tetapi juga mereformasi pandangan kita dalam menjalani kehidupan. Membaca buku masterpeace yang didalamnya menyuarakan adil gender di tengah-tengah budaya patriarki menjadikan kita lebih mencintai tubuh kita seutuhnya dan menerima atas segala yang ada padanya, memahami hak kita sebagai perempuan, dan mencintai dunia disekeliling kita.

Kegiatan membaca adalah nyata membuka cakrawala. Buku adalah jendela dunia bagi kita semua, sampai kapan pun tak akan pernah lekang. Ia abadi bersama narasi-narasi kebaikan dalam setiap untaian kata-kata yang disampaikan oleh penulis dalam bukunya. Kita bisa menemukan pemahaman tentang gender dan permasalahannya dari buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial milik Mansour Fakih. Sebelumnya mungkin bagi sebagian kita, gender adalah kata asing yang datang dari barat dan tidak terlalu penting untuk menjadi perhatian. Dulu anggapan bahwa problematik gender hanya untuk aktivis-aktivis permpuan, pun tak luput mampir di kepala dan biarkanlah mereka saja yang sibuk dengan itu, “saya buat apa ikut-ikutan terlibat” kira-kira begitulah argumen andalannnya.

Ketika membaca buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial, kita seperti tercerahkan. Apa yang kita baca dan kita konsumsi ternyata sangat relate dengan keadaan yang selama ini kita alami. Kita mungkin tidak pernah menyadari dan tidak pernah mencoba untuk memahaminya dengan membaca. Ternyata permasalahan gender tidak bisa hanya didukung komponen-komponen tertentu, apalagi kita sebagai perempuan yang justru sering mendapatkan perlakuan tidak adil dari budaya patriarki. Membaca buku Analisis Gender dan Transformasi Sosial niscaya bisa mengantarkan angin segar bagi kehidupan kita sebagai perempuan. Buku itu mampu menjadikan kita lebih aware pada diri sendiri sebagai perempuan dan lingkungan disekeliling kita. Mencintai diri kita sebagai perempuan dan tidak terjebak pada narasi-narasi budaya patriarki yang menyudutkan perempuan. Buku yang pertama kali terbit tahun 2008 itu, masih sangat relevan sebagai bacaan wajib bagi kita untuk mengetahui seluk-beluk gender.

Sebuah Refleksi

Kembali kita mengingat kata mutiara yang lahir dari masa lampau, buku adalah gudang ilmu. Melalui buku, kita semua, termasuklah saya didalamnya belajar tentang kesetaraan, keadilan, dan ketersalingan. Belajar tentang bagaimana melihat perempuan sebagai manusia. Yang mana memanusiakan manusia masih sangat sulit bagi sebagian kita, apalagi manusia itu bernama perempuan. Lewat buku sekiranya kita bisa belajar tentang itu. Memanusiakan manusia untuk menjadi manusia. Manusia yang adil gender. Dengan membaca buku kita membuka batas-batas yang selama ini diberikan patriarki pada perempuan. Mengutip semangat dari Berdikari Book dengan slogannya yang sangat khas, membaca adalah melawan. Melawan keterpinggiran kita dari dunia yang sejatinya milik bersama. Melawan ketertindasan yang sering kali dilakukan dunia patriarki pada kita, perempuan. Melawan dominasi kuasa yang dibangun patriarki sejak dulu kala.