Rahasia Salinem: Adakah Sosok Sepertinya Masa Kini?

Dosen Sejarah Peradaban Islam UIN Alauddin Makassar
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Elza Ramona tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Awit dene Gusti Pangeran ingkang kagungan kraton saha wisesa tuwin kamulyan langgeng salaminipun. Amin.”
Doa berbahasa Jawa itu mengalun di sela halaman novel Rahasia Salinem, tepat ketika tubuh Salinem mulai renta dan waktu perlahan menggerogoti tubuh perempuan yang sepanjang hidupnya mengabdi untuk orang lain.
Salinem menua. Tenaganya berkurang. Tubuhnya tak lagi sekuat dulu.
Muncul pertanyaan kemudian adalah adakah sosok seperti Rahasia Salinem di masa kini?
Pertanyaan ini menarik karena Salinem bukan hanya tokoh rekaan. Dalam novel Rahasia Salinem karya Wisnu Suryaning Adji dan Brilliant Yotenega yang diterbitkan ulang oleh Bentang Pustaka pada 2024, Salinem digambarkan sebagai abdi dalem keluarga bangsawan yang hidupnya bersinggungan dengan pergolakan politik, perang, dan perubahan sosial sejak era kolonial hingga masa revolusi di Surakarta. Kematiannya justru membuka jalan bagi Tyo, tokoh utama novel ini, untuk menemukan berbagai rahasia mengenai identitas dan kesetiaan Salinem lewat sepucuk resep pecel warisannya, seperti tertuang dalam sinopsis resmi penerbit.
Nama Salinem tak pernah tercatat dalam sejarah politik Indonesia. Ia bukan pemimpin perang, pejabat, atau tokoh pergerakan. Ia adalah perempuan yang bekerja di ruang domestik dan pengabdian—dan justru di situlah letak pentingnya. Sejarah kehidupan sehari-hari sering dibangun oleh orang-orang yang namanya tak pernah masuk buku sejarah.
Rahasia Salinem dan Kerja Domestik yang Dianggap Tak Kasat Mata
Salinem menghabiskan hidupnya untuk memasak, mengurus rumah, dan menjaga keluarga. Kita terbiasa menyebut pekerjaan sebagai sesuatu yang menghasilkan uang, ada gaji, jabatan, atau penghargaan. Sementara memasak, membersihkan rumah, menjaga anak, atau merawat anggota keluarga yang sakit jarang disebut sebagai “pekerjaan”, padahal semuanya menyita tenaga, waktu, dan keterampilan.
Dapur, dalam konteks novel Rahasia Salinem, bukan sekadar ruang memasak, melainkan ruang tempat sejarah disimpan. Penelitian Amalia Tussyahada dan Priscila Fitriasih Limbong dari Universitas Indonesia yang terbit di jurnal Semiotika: Jurnal Ilmu Sastra dan Linguistik (2022) menunjukkan bahwa pecel dalam novel ini memiliki hubungan erat dengan identitas, sejarah, dan kehidupan sosial tokohnya. Temuan yang lebih baru dari Aninditya Ardhana Riswari dan timnya di Institut Seni Indonesia Surakarta, dipublikasikan di jurnal Prosodi (2025), memperkuat hal itu, yang menyebutkan bahwa pecel dalam novel berfungsi sebagai artefak kultural yang memuat memori kolektif, nilai spiritualitas, dan identitas gender perempuan Jawa.
Pekerjaan Salinem di dapur tidak berhenti sebagai aktivitas domestik semata. Melalui makanan, pengalaman dan identitasnya diwariskan lintas generasi.
Salinem Masa Kini: Ketika Perempuan Lansia Masih Harus Merawat
Jika Salinem hidup di masa sekarang, kita mungkin tak akan menemukannya sebagai abdi dalem keluarga bangsawan. Kita mungkin menemukan sosoknya dalam bentuk lain. Bisa sebagai seorang ibu yang sejak pagi menyiapkan sarapan untuk anak-anaknya, seorang nenek yang menjaga cucu karena anaknya harus bekerja, perempuan lanjut usia yang masih berjualan di pasar, atau perempuan tua yang meski tubuhnya melemah masih merasa bertanggung jawab mengurus rumah.
Wajahnya berubah, zamannya berubah, tetapi pola pengabdiannya bisa saja tetap sama.
Riset Muh Ulil Absor, Peter McDonald, Ariane Utomo, dan Brian Houle yang dipublikasikan di jurnal Asian Population Studies (2024) memperlihatkan gambaran itu secara nyata. Studi terhadap pengaturan perawatan lansia di enam desa di Indonesia ini menemukan bahwa perempuan lanjut usia kerap berada dalam posisi ganda: mereka membutuhkan perawatan, sekaligus menjadi pemberi perawatan bagi anggota keluarganya sendiri. Penelitian ini menyebut besarnya beban kerja perawatan tak berbayar yang ditanggung perempuan lansia sebagai salah satu faktor yang memperlebar ketimpangan gender di usia lanjut.
Masalahnya bukan sekadar bahwa perempuan lansia masih bekerja, melainkan mengapa kerja perawatan perempuan kerap dianggap sesuatu yang alamiah dan tak perlu dihitung. Studi yang sama mencatat bahwa sebagian besar perawatan lansia di pedesaan Indonesia dilakukan di rumah, terutama oleh anggota keluarga perempuan seperti istri, anak perempuan, atau menantu perempuan, dan sangat dipengaruhi oleh relasi keluarga serta norma gender. Sejak kecil, perempuan lebih sering diarahkan untuk mengurus rumah dan memperhatikan kebutuhan anggota keluarga lain. Ketika usia mereka bertambah, pola itu tak selalu hilang. Tubuh menua, tetapi tuntutan sosialnya bertahan.
Data Lansia Indonesia: Mengapa Kisah Rahasia Salinem Semakin Relevan
Persoalan ini menjadi kian mendesak karena Indonesia tengah mengalami perubahan demografi yang cepat—konteks yang membuat pesan novel Rahasia Salinem terasa semakin dekat dengan kehidupan nyata.
Menurut publikasi Statistik Penduduk Lanjut Usia 2024 yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS), data lansia disusun berdasarkan Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Maret 2024 dan Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024, dilengkapi data sekunder dari berbagai kementerian dan lembaga. Publikasi tersebut mencatat sekitar 12 persen atau 29 juta penduduk Indonesia merupakan lansia pada 2024, dan proporsi itu diproyeksikan terus meningkat hingga sekitar 20 persen pada 2045. Hal itu sejalan dengan pernyataan Wakil Menteri Kesehatan Dante Saksono Harbuwono yang mengutip data sensus penduduk serupa.
Angka-angka itu memberi pesan penting, bahwa kita tidak hanya akan makin sering bertemu orang tua, tetapi juga makin sering berhadapan dengan pertanyaan siapa yang merawat mereka.
Jangan Sampai Perempuan Tua Hanya Dikenal dari Jasanya
Di sinilah Rahasia Salinem memberi semacam teguran. Kita sering mengingat perempuan berdasarkan apa yang telah mereka berikan kepada keluarga: ibu dikenal karena masakannya, nenek dikenal karena mengasuh cucu, seorang perempuan tua dikenal karena puluhan tahun menjaga rumah. Identitas mereka melekat pada fungsi yang mereka jalankan untuk orang lain.
Persoalannya, ketika tubuh mereka tak lagi mampu menjalankan fungsi itu, apakah kita masih melihat mereka sebagai pribadi yang utuh atau hanya sebagai seseorang yang sudah tak produktif?
Salah satu bagian paling menyentuh dari Rahasia Salinem adalah bagaimana kematian Salinem justru membuka jalan bagi orang-orang di sekitarnya untuk memahami siapa dirinya. Tyo baru menyadari bahwa Mbah Nem menyimpan sejarah panjang tentang kesetiaan, keluarga, dan pergolakan zaman, setelah perempuan itu tiada.
Bukankah hal serupa sering terjadi di sekitar kita? Kita kerap baru menyadari betapa penting peran seorang ibu, nenek, atau perempuan dalam keluarga, justru ketika ia tak lagi ada untuk melakukannya.
Di tingkat kebijakan, Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) turut menyoroti pentingnya pengakuan terhadap kerja perawatan, baik yang berbayar maupun tidak. Bersama Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) serta Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Bappenas, ILO ikut menyusun Peta Jalan Ekonomi Perawatan (Care Economy Roadmap) 2025-2045, yang salah satu fokusnya adalah layanan bagi lansia. Dokumen ini lahir dari kesadaran bahwa pengasuhan lansia selama ini kerap tak terlihat secara ekonomi, padahal banyak keluarga di Indonesia menghadapi tantangan besar dalam menyeimbangkan pekerjaan dengan tanggung jawab merawat anggota keluarga yang menua.
Jadi, Adakah Sosok Rahasia Salinem Masa Kini?
Salinem masa kini mungkin ada di rumah kita sendiri: seorang ibu, seorang nenek, perempuan yang telah melewati usia produktif tetapi masih bekerja. Ia mungkin tak pernah disebut abdi dalem, tetapi hidupnya penuh pengabdian.
Pertanyaannya kemudian, apakah kita masih menciptakan Salinem dengan membentuk perempuan untuk percaya bahwa mengurus orang lain adalah kewajiban yang harus dijalankan tanpa batas? Dan ketika perempuan itu menua, apakah kita masih menuntutnya untuk terus memberi, sementara lupa bahwa ia juga berhak dirawat?
Riset tentang perawatan lansia di Indonesia menegaskan bahwa persoalan ini tak cukup diselesaikan dengan meminta perempuan untuk “lebih kuat”. Yang dibutuhkan adalah pembagian kerja perawatan yang lebih adil di antara anggota keluarga, didukung sistem sosial yang memadai.
Pesan Rahasia Salinem seharusnya tak berhenti sebagai kisah dalam novel. Ia bisa menjadi cara untuk melihat kembali perempuan-perempuan tua di sekitar kita, bukan sebagai tubuh yang melemah, bukan sekadar orang yang membutuhkan bantuan, dan bukan pula hanya sebagai orang yang telah berjasa. Melainkan sebagai manusia yang berhak beristirahat, dihargai, mengambil keputusan atas hidupnya sendiri, dan menjalani masa tua dengan bermartabat.
Barangkali sudah waktunya kita mengganti pertanyaan. Bukan lagi, “Apakah ia masih bisa merawat kita?” Melainkan, setelah puluhan tahun merawat orang lain, siapa yang sekarang merawat Salinem?
Sebab bisa jadi, Salinem tidak pernah benar-benar pergi. Ia masih ada di sekitar kita. Hanya saja, kita belum cukup lama menoleh untuk melihatnya.
