Kumparan Logo

12 Negara Batasi Dagang dengan Israel, Harga Minyak Memanas Nyaris USD 100/Barel

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 5 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Maksim Safaniuk/Shutterstock
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi pengeboran minyak. Foto: Maksim Safaniuk/Shutterstock

Serangan Houthi ke fasilitas energi Arab Saudi dan laporan ledakan di Kharg Island, Iran, memicu kekhawatiran gangguan pasokan minyak global, sehingga harga Brent melonjak ke level tertinggi sejak akhir Juli dan nyaris menembus USD 100 per barel.

Di tengah memanasnya situasi geopolitik, Inggris, Prancis, dan 10 negara lainnya juga mendukung pembatasan perdagangan dengan permukiman Israel di Tepi Barat.

Mengutip Bloomberg, Rabu (9/9), harga Brent naik sekitar 1 persen pada perdagangan Selasa dan ditutup mendekati USD 98 per barel. Harga sempat mendekati USD 100 per barel selama sesi perdagangan. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) ditutup mendekati USD 93 per barel, level tertinggi sejak awal Juni.

Kenaikan harga terjadi setelah Arab Saudi mengatakan sejumlah fasilitas energinya menghentikan operasi akibat serangan kelompok Houthi.

Kelompok Houthi yang didukung Iran mengeklaim kembali menargetkan kilang minyak Jazan milik Arab Saudi yang memiliki kapasitas sekitar 400.000 barel per hari, serta sejumlah fasilitas yang memasok kebutuhan pasar domestik.

Pada saat yang hampir bersamaan, kantor berita semi-resmi Iran, Mehr, melaporkan terdengar ledakan di Kharg Island. Wilayah tersebut merupakan pusat utama ekspor minyak Iran sehingga setiap potensi gangguan di kawasan itu sangat sensitif bagi pasar minyak global.

Citra satelit menunjukkan asap keluar dari fasilitas minyak di Abqaiq, Arab Saudi, Senin (27/6/2026). Foto: Uni Eropa/Copernicus Sentinel-2/ REUTERS

Analis Goldman Sachs, termasuk Daan Struyven, mengatakan pasar mulai memperhitungkan kemungkinan perang antara Iran dan AS-Israel berlangsung lebih lama. Goldman Sachs juga menaikkan perkiraan harga minyak dengan asumsi gangguan pengiriman akan terus berlangsung hingga 2027.

“Pasar semakin memperhitungkan konflik Timur Tengah yang berkepanjangan. Risiko terhadap perkiraan harga kami masih secara signifikan mengarah ke sisi kenaikan," katanya.

Serangan terhadap fasilitas energi Saudi menambah kekhawatiran bahwa pasokan minyak dunia akan terus terganggu akibat kombinasi serangan Houthi dan perang Iran.

Persediaan minyak global disebut terus menurun dengan cepat. Pada saat yang sama, harga produk olahan minyak, seperti diesel, melonjak di berbagai negara.

Harga Brent kini telah naik lebih dari 60 persen sepanjang tahun ini. Sementara itu, harga acuan diesel Eropa mendekati USD 200 per barel.

Harga minyak juga terdorong meningkatnya pembelian oleh China, negara pengimpor minyak terbesar di dunia. Kondisi tersebut menimbulkan kekhawatiran bahwa bank sentral harus mempertahankan atau menaikkan suku bunga untuk mengendalikan inflasi.

Harga minyak sempat turun dari level tertingginya setelah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengatakan telah ada kemajuan signifikan dalam pembicaraan dengan Oman mengenai pembukaan jalur transit sementara melalui Selat Hormuz.

Sebelumnya, Iran menyatakan kesepakatan dengan Oman mengenai jalur aman bagi kapal yang melintasi Selat Hormuz sudah hampir tercapai. Namun, ketidakpastian masih tinggi. Iran juga memperingatkan bahwa kapal-kapal tetap menghadapi risiko serangan di sekitar Oman pada jalur yang digunakan Amerika Serikat untuk membantu kapal melintasi selat tersebut.

Arus Minyak di Hormuz Turun Separuh

CEO Vitol Group, Russell Hardy, mengatakan pasar produk minyak olahan semakin menunjukkan tanda-tanda kekurangan pasokan.

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: La Terase/Shutterstock

Menurutnya, sekitar 2 juta barel minyak per hari dari Timur Tengah telah hilang dari pasar. Gangguan lainnya berasal dari Rusia, yang kehilangan sekitar 2 juta barel per hari akibat serangan drone Ukraina.

"Diperkirakan arus minyak yang melewati Selat Hormuz saat ini sekitar 10 juta barel per hari, atau sekitar separuh dari volume sebelum perang," terangnya.

Namun, dia mengatakan angka tersebut sulit dipastikan dan jumlah minyak yang melewati jalur tersebut tidak selalu sama setiap hari.

Sementara itu, impor minyak mentah China menguat pada Agustus. China meningkatkan pembelian minyak dari kawasan Teluk Persia sekaligus mencari pasokan dari sumber lain.

Peningkatan pembelian tersebut memungkinkan China mengekspor lebih banyak produk minyak olahan, yang sedikit membantu meredakan tekanan di pasar global.

Kepala Riset Pepperstone Group, Chris Weston, menggambarkan situasi konflik Timur Tengah yang terus berubah.

“Kita telah melihat begitu banyak perubahan sejak akhir Februari, dan setiap kali kita merasa situasinya akan mencapai suatu titik penyelesaian, semuanya kembali berantakan. Kita kembali hampir ke titik awal," jelasnya.

12 Negara Dukung Pembatasan Perdagangan Permukiman Israel

Di tengah meningkatnya ketegangan di Timur Tengah, ada 12 negara yang menyatakan dukungan terhadap pembatasan perdagangan dengan permukiman Israel di Tepi Barat yang diduduki. Mereka adalah Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Irlandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia, dan Inggris.

Dalam pernyataan bersama, para menteri luar negeri negara-negara tersebut mengatakan akan menerapkan atau mendukung pembatasan terhadap perdagangan barang dari permukiman yang dianggap ilegal berdasarkan hukum internasional.

“Hari ini, Kanada, Denmark, Finlandia, Prancis, Islandia, Irlandia, Norwegia, Polandia, Portugal, Spanyol, Swedia dan Inggris menegaskan niat mereka untuk menerapkan pembatasan nasional dan/atau mendukung pembatasan Eropa terhadap perdagangan barang dari permukiman yang ilegal menurut hukum internasional," tulis pernyataan bersama dikutip dari Aljazeera.

Militer Israel memblokir jalan saat warga Palestina (tidak terlihat dalam gambar) memprotes pembangunan permukiman di dekat Hebron, di Tepi Barat yang diduduki Israel, 19 Juni 2026. Foto: REUTERS/Mussa Qawasma

Inggris juga mengumumkan akan melarang impor barang dari permukiman Israel di Tepi Barat. Menteri Luar Negeri Inggris Ed Miliband mengatakan Inggris tidak bisa lagi hanya mengecam ketidakadilan dan penderitaan tanpa mengambil tindakan.

“Hari ini kami menolak untuk hanya menjadi penonton atas penderitaan lebih lanjut dan penghancuran solusi dua negara.”

Keputusan tersebut mendapat respons keras dari Israel. Menteri Luar Negeri Israel Gideon Saar menyebut tuduhan Inggris sebagai kebohongan dan mengatakan Israel akan menutup konsulat Inggris di Yerusalem Timur yang diduduki sebagai tindakan balasan.

Sementara itu, Amerika Serikat menyatakan tidak akan mengikuti sanksi perdagangan yang dipimpin Inggris. “Jelas, kami tidak akan melakukan apa yang dilakukan Inggris," kata Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio.

Kedua perkembangan tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik di Timur Tengah tidak hanya berdampak pada keamanan kawasan, tetapi juga mulai memberikan tekanan terhadap pasokan energi, harga minyak, inflasi, serta hubungan perdagangan antarnegara.

instagram embed