Ada Potensi AS-Iran Damai dan Rapat The Fed, Begini Proyeksi Rupiah Pekan Ini
ยทwaktu baca 3 menit

Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan masih akan bergerak fluktuatif pada pekan ini, seiring pelaku pasar mencermati hasil rapat bank sentral AS Federal Reserve (The Fed) dan perkembangan kesepakatan damai antara AS dan Iran.
Global Markets Economist Maybank Indonesia Myrdal Gunarto mengatakan pelemahan rupiah pada awal Juni dipicu keluarnya modal asing (capital outflow). Namun, pada pekan lalu rupiah kembali menguat seiring masuknya aliran modal ke pasar saham, surat utang negara, hingga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). Selain itu, kenaikan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) menjadi 5,5 persen turut menopang penguatan rupiah.
"Kalau tren penguatan yang terjadi ya level Rp 17.682 itu kemungkinan bisa, walaupun untuk resistennya ini agak lebar ya bisa ke Rp 18.221 lagi," ujar Myrdal kepada kumparan, Senin (15/6).
Menurutnya, penguatan rupiah pada pekan lalu juga ditopang oleh masuknya devisa hasil ekspor yang cukup besar. Kondisi tersebut mendorong banyak eksportir mengonversi valuta asing ke rupiah sehingga nilai tukar kembali menguat ke bawah level Rp 18.000 per dolar AS.
Meski demikian, Myrdal menilai arah pergerakan rupiah pada pekan ini masih dipenuhi ketidakpastian, terutama terkait perkembangan perjanjian damai AS-Iran, termasuk potensi pembukaan kembali akses Selat Hormuz.
"Kalau misalkan memang Selat Hormuz jadi dibuka, saya rasa inflow akan masuk semakin deras ke pasar keuangan Indonesia," ungkapnya.
Keputusan The Fed dan BI Pengaruhi Nasib Rupiah
Selain perkembangan geopolitik, Myrdal mengatakan sejumlah agenda ekonomi pada pekan ini akan menjadi penentu arah rupiah, terutama keputusan suku bunga acuan The Fed dan Bank Indonesia.
"Kita berharap rapat The Fed tidak ada perubahan kebijakan kenaikan suku bunga ya, dan keputusan Amerika terkait dengan perjanjian damai dengan Iran juga bisa berlangsung lebih cepat realisasinya sehingga The Fed juga memiliki proyeksi angka untuk suku bunga," jelasnya.
Ia berharap The Fed mempertahankan, atau bahkan menurunkan, suku bunga acuan agar indeks dolar AS tidak semakin menguat terhadap mata uang lainnya. Hal serupa juga diharapkan dari hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia yang digelar pada pekan ini.
"Kita harapkan juga BI Rate tidak ada perubahan juga untuk yang periode saat ini, apalagi nilai tukar rupiah kita juga kuat," imbuhnya.
Sementara itu, pengamat pasar uang Ariston Tjendra mengatakan pergerakan rupiah pada pekan ini juga akan dipengaruhi perkembangan penandatanganan kesepakatan damai AS-Iran.
Menurutnya, jika perdamaian kedua negara terealisasi, pembukaan Selat Hormuz berpotensi menurunkan harga minyak mentah dan meredakan tekanan terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut dapat meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko, termasuk rupiah.
"Pekan ini penguatan berpotensi ke arah Rp 17.500 (per dolar AS)," kata Ariston.
Berdasarkan data Bloomberg, rupiah di pasar spot pada Jumat (12/6) ditutup di level Rp 17.860 per dolar AS, menguat 0,72 persen setelah sempat menembus level di atas Rp 18.200 per dolar AS pada 4 Juni 2026.
Di sisi lain, pengamat pasar uang dan komoditas Ibrahim Assuaibi memprediksi indeks dolar AS (DXY) masih berpotensi menguat pada pekan ini dengan level support di 99,100 dan resistance di 100,700.
"Kemudian resistennya di USD 100,700. Jadi masih ada indikasi bahwa indeks dolar Amerika itu akan kembali menguat di level USD 100,700," ujar Ibrahim.
Menurutnya, terdapat dua faktor utama yang akan memengaruhi pergerakan indeks dolar AS, harga minyak mentah, dan emas pada pekan ini, yakni dinamika geopolitik di Timur Tengah dan keputusan suku bunga The Fed.
"Presiden Amerika Serikat pada Sabtu mengatakan bahwa kesepakatan damai dengan Iran dijadwalkan akan ditandatangani pada hari Minggu. Isi dari perdamaian ini adalah pembukaan Selat Hormuz akan dibuka setelah ada penandatanganan," tuturnya.
