Arab Saudi Mulai Aktifkan Lagi Pipa Minyak, Target Ekspor Akhir Pekan

Arab Saudi mulai mengoperasikan kembali jalur pipa minyak utama yang memungkinkan negara tersebut menghindari Selat Hormuz. Pengaktifan kembali pipa dilakukan setelah jalur tersebut dihentikan awal September akibat serangan drone.
Mengutip Bloomberg, Selasa (23/9), sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut mengatakan Arab Saudi kini meningkatkan tekanan pada pipa East-West dan menargetkan aliran minyak kembali signifikan pada Sabtu. Salah satu sumber meminta identitasnya dirahasiakan karena informasi tersebut belum dipublikasikan.
Sumber lainnya mengatakan Arab Saudi menargetkan ekspor minyak dari jalur tersebut kembali dimulai pada akhir pekan ini. Sejumlah pedagang minyak juga melihat tanda-tanda kapal tanker mulai tiba di Pelabuhan Yanbu, tempat minyak yang dialirkan melalui pipa tersebut diekspor.
Saudi Aramco dan Kementerian Perminyakan Arab Saudi tidak memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Pengoperasian kembali pipa East-West dapat memberikan tambahan pasokan bagi pasar minyak global yang tengah mengalami kekurangan. Harga minyak mentah pada Selasa kembali turun di bawah USD 100 per barel.
Saat pipa tersebut berhenti beroperasi, Arab Saudi mengalihkan kembali ekspor minyak melalui Teluk Persia. Dalam beberapa hari terakhir, jutaan barel minyak terlihat dimuat di terminal besar Ras Tanura.
Dengan kembali beroperasinya jalur East-West, Aramco dapat kembali mengekspor minyak melalui Yanbu. Pelabuhan di pesisir Laut Merah tersebut sebelumnya menjadi titik utama pengiriman minyak Aramco selama perang Iran karena lalu lintas di Selat Hormuz terganggu parah.
Sejumlah pedagang mengatakan Aramco secara informal telah memberi tahu perusahaan penyulingan di Asia bahwa mereka dalam waktu dekat dapat mengambil minyak dari pelabuhan tersebut.
Meski demikian, risiko terhadap jalur pipa masih ada. Kelompok Houthi yang berbasis di Yaman masih melakukan serangan terhadap infrastruktur Arab Saudi.
Sebuah kilang minyak di bagian barat daya Arab Saudi menjadi sasaran serangan. Peringatan serangan udara juga dikeluarkan di Riyadh pada Sabtu, yang menjadi peringatan pertama di ibu kota sejak puncak perang AS-Iran pada Maret dan April.
Pipa East-West memiliki kapasitas pengangkutan hingga 7 juta barel minyak per hari. Sekitar 2 juta barel per hari digunakan untuk memasok kilang-kilang di sepanjang pantai barat Arab Saudi, sedangkan kapasitas lainnya dapat digunakan untuk ekspor.
Setelah mengalami penghentian operasi, pengoperasian kembali pipa membutuhkan sejumlah tahapan. Aramco harus meningkatkan tekanan pada jalur tersebut, kemudian memeriksa integritas struktur dan perangkat seperti katup sebelum aliran minyak dapat dilanjutkan.
Pipa tersebut sebelumnya terkena serangan drone yang diluncurkan dari Irak pada 10 September. Sejak saat itu, Aramco berupaya menghindari stasiun pompa yang rusak untuk memulihkan sebagian aliran minyak.
Bloomberg sebelumnya melaporkan Aramco menargetkan jalur tersebut kembali beroperasi dengan kapasitas penuh dalam waktu sekitar enam minggu. Kecepatan pemulihan akan bergantung pada seberapa cepat perusahaan memperbaiki stasiun pompa yang mengalami kerusakan.
Penghentian pipa tersebut juga berdampak pada pelanggan minyak Arab Saudi di Eropa. Aramco memberi tahu setidaknya dua perusahaan penyulingan Eropa bahwa mereka tidak akan memperoleh alokasi minyak mentah untuk Oktober berdasarkan kontrak jangka panjang.
Perusahaan minyak Polandia, Orlen SA, kemudian mencari pasokan pengganti. Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga sejumlah jenis minyak mentah Eropa. Harga Dated Brent, yang menjadi acuan minyak mentah fisik di kawasan tersebut, sempat menembus USD 130 per barel.
Sementara itu, Aramco meningkatkan pasokan bagi pelanggan di Asia melalui rute yang melewati Selat Hormuz. Perusahaan tersebut telah menjual puluhan juta barel minyak untuk pengiriman bulan ini dan bulan depan, dengan pelanggan mengambil minyak di luar jalur perairan tersebut.
Pada akhir pekan, sebuah supertanker dengan kapasitas hingga 14 juta barel minyak terlihat berada di fasilitas ekspor Arab Saudi di kawasan Teluk, berdasarkan data satelit Sentinel 2 milik Uni Eropa.
Ketika Selat Hormuz hampir tidak dapat dilalui pada awal perang, Arab Saudi dengan cepat mengalihkan rute pengiriman minyak menuju pantai Laut Merah melalui pipa East-West sepanjang 1.200 kilometer yang membentang melintasi Semenanjung Arab.
Minyak mentah kemudian dialirkan menuju Pelabuhan Yanbu. Pasokan melalui jalur Laut Merah tersebut membantu menahan lonjakan harga minyak ketika konflik mencapai puncaknya.
