AS dan China Mulai Perundingan Dagang Jelang Pertemuan Trump-Xi Jinping

Amerika Serikat (AS) dan China memulai perundingan dagang pada Minggu (20/9) waktu New York. Pembicaraan ini digelar beberapa hari sebelum Presiden AS Donald Trump dijadwalkan bertemu dengan Presiden China Xi Jinping di Gedung Putih pada Kamis (24/9).
Perundingan tersebut menjadi bagian dari persiapan menuju pertemuan Trump dan Xi. Kedua negara berupaya mempertahankan sekaligus memperluas kesepakatan gencatan dagang yang selama ini masih rapuh.
Perundingan dipimpin Menteri Keuangan AS Scott Bessent dan Wakil Perdana Menteri China He Lifeng. Pembahasan mencakup sejumlah isu, mulai dari perdagangan dan investasi, kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), hingga perang di Iran.
Sekitar pukul 10.00 waktu New York pada Minggu (20/9), He, Perwakilan Dagang AS Jamieson Greer, serta perunding perdagangan internasional China Li Chenggang tiba di kantor JPMorgan Chase & Co. di kawasan Midtown Manhattan. Lokasi tersebut menjadi tempat berlangsungnya perundingan.
Bessent tiba sekitar pukul 10.30 waktu New York. Kepada wartawan, dia mengatakan berharap pembicaraan antara kedua negara berlangsung konstruktif.
"Saya menantikan dialog yang konstruktif antara kedua negara," kata Bessent dikutip dari Bloomberg, Senin (21/9).
Bessent dan He terakhir kali bertemu langsung di sekitar Seoul sekitar empat bulan lalu, beberapa hari sebelum Trump melakukan kunjungan ke Beijing pada Mei.
Pada Kamis (24/9), Trump dijadwalkan menjamu Xi di Gedung Putih. Kunjungan tersebut akan menjadi kunjungan kenegaraan pertama Xi ke Washington dalam lebih dari satu dekade.
Bahas Perpanjangan Gencatan Dagang
Salah satu agenda utama perundingan adalah kesepakatan gencatan dagang yang sebelumnya membuat AS dan China menurunkan sejumlah tarif serta melonggarkan pembatasan ekspor. Kesepakatan tersebut dijadwalkan berakhir pada November.
AS juga menunda pengumuman tarif baru terhadap sejumlah negara mitra dagang terkait tuduhan adanya kelebihan kapasitas produksi. Pengumuman tersebut akan dilakukan setelah pertemuan Trump dan Xi, menurut sejumlah sumber yang mengetahui persoalan tersebut.
AS dan China juga tengah berupaya menurunkan tarif terhadap sejumlah produk energi dan pertanian AS.
Bloomberg sebelumnya melaporkan langkah tersebut merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk mengurangi hambatan perdagangan terhadap produk senilai sekitar US$30 miliar dari masing-masing negara melalui mekanisme Board of Trade yang diluncurkan awal tahun ini.
AI Jadi Isu Baru dalam Hubungan AS-China
Selain perdagangan, kecerdasan buatan kini menjadi salah satu sumber ketegangan baru antara AS dan China.
Pejabat pemerintahan Trump, lembaga keamanan AS, serta perusahaan-perusahaan teknologi AI di Silicon Valley menuduh perusahaan China secara sistematis mengambil pengetahuan dari model AI AS untuk mengembangkan produk mereka sendiri.
Produk-produk AI China dinilai berkembang cepat dan semakin mempersempit kesenjangan dengan perusahaan AI terdepan di AS.
Namun, Beijing menolak tuduhan tersebut dan menyebutnya tidak berdasar. Pemerintah China juga menyatakan akan mengambil tindakan balasan jika Washington memberlakukan kebijakan yang menargetkan perusahaan AI asal China.
Pejabat China juga menolak seruan sejumlah pemimpin perusahaan teknologi AS agar pengembangan AI diperlambat dengan alasan keselamatan. Kementerian Luar Negeri China bahkan menyebut seruan tersebut sebagai bentuk menebar ketakutan.
Menteri Keuangan AS Scott Bessent sebelumnya memperingatkan bahwa AS menghadapi risiko besar jika China memenangkan persaingan AI.
"Tidak ada hari esok jika China memenangkan perlombaan AI," ujar Bessent dalam pernyataan kepada Axios pekan lalu.
Meski demikian, Bessent mengatakan AS tetap terbuka untuk membahas risiko yang dapat muncul dari perkembangan AI. "Kami terbuka untuk berdiskusi mengenai cara menghindari risiko bersama dan mencegah terjadinya pemisahan sistem antara kedua negara," kata Bessent.
Penasihat Sains dan Teknologi Gedung Putih Michael Kratsios juga mengatakan isu risiko AI akan menjadi salah satu fokus pembahasan dengan China.
"Hal utama yang ingin kami bicarakan dengan mereka adalah bagaimana menghindari risiko bersama. Saya pikir ini adalah sesuatu yang bisa kita bicarakan secara produktif," kata Kratsios kepada Fox News pada Minggu.
