Kumparan Logo

Batu Bara Kalori Rendah Jadi Metanol, Pemerintah Bidik Campuran BBM

kumparanBISNISverified-green

·waktu baca 4 menit

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Wamen ESDM Yuliot Tanjung ditemui usai tabur bunga dalam rangka Hari Pertambangan dan Energi di TMP Kalibata, Jakarta pada Selasa (29/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Wamen ESDM Yuliot Tanjung ditemui usai tabur bunga dalam rangka Hari Pertambangan dan Energi di TMP Kalibata, Jakarta pada Selasa (29/9/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparan

Pemerintah mendorong hilirisasi batu bara berkalori rendah menjadi metanol yang nantinya dapat dimanfaatkan sebagai campuran bahan bakar minyak (BBM).

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengatakan pengembangan hilirisasi tersebut didorong di sejumlah daerah yang memiliki potensi batu bara besar, termasuk Sumatera Selatan dan Kalimantan Timur.

“Yang kita dorong kegiatannya itu ada juga yang di Sumatera Selatan, ada daerah-daerah yang potensi batu baranya cukup besar. Itu terutama kita menggunakan batubara kalori rendah,” kata Yuliot ditemui usai tabur bunga di TMP Kalibata, Jakarta pada Selasa (29/9).

“Jadi metanol itu kan bisa digunakan untuk sebagai pencampuran bahan bakar minyak (BBM),” lanjutnya.

Dia mencontohkan, hilirisasi itu sebenarnya bukan hal baru. Hal ini karena sebelumnya Yuliot juga sudah meresmikan proyek serupa di Kutai Timur, Kalimantan Timur yang ditarget bisa menghasilkan sekitar 2 juta ton metanol per tahun dan berpotensi menghemat devisa hingga Rp 7,1 triliun per tahun.

“Jadi untuk batubara, ini tempo hari kan kita sudah mulai kegiatan investasi batubara menjadi metanol yang di kota timur. Ini saya yang melakukan ground breaking untuk kegiatan itu. Jadi ini ada beberapa yang di Kalimantan Timur itu sudah mulai,” ujarnya.

Sebelumnya, Presiden Prabowo memang sempat menyinggung rencana untuk mengolah batu bara menjadi BBM demi menekan impor. Hal tersebut juga sudah dikatakan oleh Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia yang mengatakan bahwa memang ada rencana untuk mengolah batu bara menjadi BBM.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia di Istana Merdeka, Jakarta Pusat, Kamis (17/9/2026). Foto: Zamachsyari/kumparan

Bahlil menjelaskan rencana itu muncul di tengah gejolak geopolitik yang mengancam pasokan minyak mentah.

“Apa yang ingin saya bawa kepada Presiden Prabowo terkait dengan membuat gas atau minyak lewat batu bara, itu berangkat dari pemikiran bahwa dalam kondisi geopolitik yang tidak menentu, arahan Bapak Presiden Prabowo kepada kami adalah mengoptimalkan seluruh potensi energi yang ada di Indonesia,” ujar Bahlil saat ditemui di Balai Sudirman Jakarta, Senin (21/9).

Bahlil menyebut teknologi hilirisasi batu bara sudah sangat canggih, tidak hanya bisa diubah menjadi gas, namun juga bisa menjadi BBM. Batu bara yang digunakan yakni dengan nilai kalori rendah.

Meski demikian, Direktur Eksekutif Pusat Studi Hukum Energi dan Pertambangan (PUSHEP) Bisman Bhaktiar melihat jika rencana tersebut diimplementasi, hal yang akan menjadi masalah pertama dan harus diatasi adalah nilai keekonomian.

“Kalau soal keekonomian memang yang jadi masalah utama, karena CTL (crude to liquid) itu membutuhkan modal dan investasi yang sangat besar, serta biaya produksinya juga tinggi. Harga per liternya bisa lebih mahal dari BBM minyak bumi, apalagi jika harga crude oil rendah maka pasti akan lebih mahal harga BBM CTL,” kata Bisman kepada kumparan, Senin (28/9).

Meski demikian, persoalan tersebut menurutnya masih bisa diatasi dengan beberapa cara seperti subsidi dan kompensasi secara bertahap, blending dengan BBM, sampai pemberian investasi dan ToT agar biaya produksi CTL bisa turun.

Turut merespons, Direktur Eksekutif IESR, Fabby Tumiwa menjelaskan bahwa memang sebenarnya mengubah batu bara menjadi BBM teknologinya saat ini sudah komersial. Dengan begitu, pemerintah tinggal memilih saja mana teknologi yang akan digunakan.

Secara teknis, terdapat beberapa teknologi yang bisa dipakai yakni Coal Liquefaction (DCL), Fischer Tropsch (FT), atau Coal to Gasoline. Namun, teknologi yang sudah diadopsi oleh China dan Afrika Selatan adalah FT.

Sedangkan untuk keekonomian, hal itu sangat bergantung pada berapa harga batu bara muda yang menjadi bahan baku untuk dicairkan menjadi BBM dan teknologi yang dipakai.

Ilustrasi tambang batu bara. Foto: Shutterstock

Untuk Indonesia, Fabby juga membuat simulasi bahwa produk BBM berbahan batu bara layak di jual jika harga minyak dunia sudah menembus USD 100 sampai 115 barel per barrel.

“Dalam konteks Indonesia, dengan menggunakan teknologi CCS, untuk penggunaan teknologi FT, pada harga batubara USD 22-29 per ton, dengan CCS untuk kapasitas pabrik 50 ribu barrel per hari, harga BBM di pabrik USD 91-125 per barrel. Jadi produk batubara menjadi BBM layak apabila harga minyak dunia berada di USD 100-115 per barrel sehingga setara dengan impor BBM,” kata Fabby.

instagram embed