Belanja Negara Nyaris Rp 4.000 T Hanya 15% PDB, Menkeu Ungkap Penopang Lain

Menteri Keuangan Suahasil Nazara mengatakan belanja negara yang dialokasikan dalam APBN 2026 hampir menembus Rp 4.000 triliun, namun hanya 15 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Suahasil menyebutkan bahwa total PDB Indonesia saat ini mencapai Rp 25.000 triliun, sehingga belanja negara dalam APBN tersebut hanya menopang sedikit dari total perekonomian nasional.
"Belanja negara itu totalnya tahun ini mungkin sedikit di bawah Rp 4.000 triliun. Namun Produk Domestik Bruto yang diciptakan oleh seluruh perekonomian Indonesia adalah sekitar Rp 25.000 triliun. Berarti yang namanya APBN itu ya mungkin hanya sekitar 14-15 persen," jelasnya saat Danantara TIIF26, Senin (26/10).
Menurutnya, masih ada sumber lain yang menopang perekonomian Indonesia lebih besar selain APBN. Sebanyak 85 persen sisanya berasal dari konsumsi rumah tangga hingga investasi yang digelontorkan perusahaan.
"Pertanyaannya kalau APBN nya 15 persen, 85 persen lagi siapa yang menciptakan? Yang menciptakan itu adalah seluruh masyarakat. Rumah tangga yang melakukan konsumsi, perusahaan yang melakukan investasi, para eksportir yang melakukan ekspor dan juga tentu ada kebutuhan barang impor kita," tutur Suahasil.
Suahasil menegaskan bahwa belanja negara yang nyaris mencapai Rp 4.000 triliun harus digunakan secara intensif sekaligus efisien, sehingga dapat menciptakan efek berganda (multiplier effect) paling tinggi.
Di sisi lain, dia menyebutkan butuh intervensi lain untuk menggenjot penerimaan negara sekaligus pertumbuhan ekonomi. Pada tahun 2027 mendatang, Kemenkeu perlu mengumpulkan Rp 3.400 triliun khusus untuk belanja negara.
Selain untuk menumbuhkan ekonomi, APBN juga digunakan sebagai alat penstabil, di saat gejolak geopolitik meningkatkan harga minyak mentah di kisaran USD 115-116 per barel. APBN juga perlu dijaga tetap sehat dengan defisit yang terukur agar defisit tidak melebihi 3 persen dari PDB. Salah satunya dengan dukungan Danantara Indonesia.
"Sekarang saat ini APBN itu diberikan partner oleh Bapak Presiden, namanya apa? Namanya Danantara. Sehingga ketika ada ide-ide besar mengenai, visi besar mengenai Indonesia, ada 2 tangan yang bekerja.
Tangan pertama adalah APBN, tangan kedua adalah Danantara sebagai investment arms of the Republic of Indonesia," kata Suahasil.
